Cahaya Sang Bintang

Karya : Alfin Nihayatul Islamiyah

Menjadi dewasa ternyata berat ya. Aku harus berteman dengan kegagalan berkali-kali hingga rasanya mati rasa ketika tulisan merah itu muncul di depanku. Aku masih mensemogakannya hingga hari ini. Ketika aku sudah menyelesaikan pendidikanku di tempat baru yang sudah empat tahun aku huni.  Terkadang aku masih iri dengan mereka yang dengan mudah masuk kampus impianku itu. Aku sadar setiap orang dengan usahanya masing-masing, tapi apa tidak bisa melirikku sedikit saja? Aku hanya ingin singgah sebentar. Aku hanya ingin menyelesaikan sarjanaku ditempat impianku yang sudah aku usahakan dari awal aku masuk SMA. Tapi, aku tetap menyerah di akhir percobaan kedua. Aku tidak ingin mengusahakannya ketiga kalinya sejak aku di terima di tempat ini. Tempat yang membuatku berkembang pesat dan aku bangga dengan diriku yang sekarang.

Aku Alissa. Mahasiswi tingkat akhir dalam masa tunggu tanggal wisuda. Menjadi donatur tetap di kampus ini tidak membuatku menyesal. Aku bangga berlari membersamainya hingga akhir pendidikanku. Dukungan penuh dari segala arah untuk membuatku berkembang sedemikian rupa.

‘Kampus impianmu tidak akan bisa menjaminmu bercahaya.’ Aku masih mengingatnya, saat aku pertama kali mencari dukungan atas depresi yang aku alami awal masuk ke kampus ini. Aku datang untuk berkonsultasi tentang perasaanku yang masih tak tenang meskipun hampir menginjak semester dua.

Aku tidak bisa tidur dengan nyaman, aku berpikir bahwa jika aku masuk ke kampus ini artinya aku tak akan kembali mengusahakan kampus sebelah. Aku akan berdamai dengan diriku sendiri yang saat itu sulit sekali untuk paham kondisku yang tak ingin mengusahakannya lagi.

 ‘Alissa, sang bintang tak akan kehabisan cahaya hanya karena dia sendirian di tempat gelap. Bahkan sinarnya itu bisa membuat takjub semua orang. Jika kampus impianmu itu menyala terang, kamu hanya cahaya kedua di sana. Jika kamu di langit malam maka kamu bisa menjadi satu-satunya cahaya di tempat itu.’ 

Aku sadar, hari itu menjadi hari yang paling aku banggakan. Aku memilih menghuni langit malam agar aku bisa bercahaya. 

Awal masuk kuliah di tempat ini, aku tak memiliki harapan apapun. Tujuanku saat itu, aku harus kuliah tahun ini dimanapun tapi sesuai dengan rumpun impianku. Aku sadar, aku terlalu keras kepala mengusahakan banyak hal hanya untuk obsesi kampus itu. Kampus yang letaknya saat ini berseberangan dengan tempat kuliahku. Setiap kali aku lewat di depan kampus itu aku selalu meneteskan air mata.

‘Sebaik apa anak-anak yang berada di dalam sana hingga aku tertolak dua kali tanpa aba-aba? Apa do’aku yang kurang? Apa usahaku yang hanya setengah-setangah? Usahaku yang ke berapa agar aku bisa berada di sana? Andai hari itu tetap mengusahakannya apakah di kesempatan ketiga aku akan berhasil?’

Aku tak pernah absen sekalipun untuk mengikuti kegiatan di kampus impianku meskipun masih SMA, sejak aku memberanikan diri mengusahakannya. Aku tahu tantanganku berat, aku tahu hanya orang hebat yang bisa berhasil, aku tak pernah mangkir berdo’a pada Tuhanku, aku tak pernah bolos bimbel meskipun harus bimbel tiga kali sehari, ikut psikotes hampir setiap bulan dan hasilnya? Sesuai dengan rumpun ilmu yang sedang aku usahakan. Tahu perasaanku waktu itu?

‘Sepertinya aku akan berhasil kan?’ itulah yang berbisik di otakku. 

Ada banyak dukungan disekitarku, baik materi, doa, dan pelukan hangat disela kesibukanku. Jadi, bisa membayangkannya kan? Betapa hancurnya aku ketika percobaan kedua masih gagal saat itu. Entah karena kepercayaan diriku yang tumbuh subur hingga membuat usahaku menjadi longgar waktu itu, atau karena aku yang tak bisa berada di sana karena jika dipaksakan aku tak akan mampu bersaing dengan bintang-bintang lain di tempat itu.

“Mau mandiri saja?” Tanya bundaku saat aku duduk sendirian di teras rumah.

“Bun, aku sedang meraih bukan membeli impianku.” Sungutku marah karena semua orang dari awal menawariku tentang jalur masuk yang tidak pernah terlintas dalam benakku. Aku tak ingin memberatkan orang tuaku, walaupun mereka mampu untuk mengabulkan impian anaknya. Tapi, tetap saja bagiku itu berlebihan untukku yang hanya terobsesi dengan kampus itu. Mereka tahu perjuanganku dari awal, betapa aku menginginkannya, tapi aku sadar saat ini aku sedang gelap mata.

“Jalur apapun tidak masalah jika harus menyembuhkan luka kan?”

“Aku memang merasa usahaku sia-sia, tapi itu hanya perasaanku sekarang, aku mungkin akan paham nantinya saat aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Ini hanya tentang waktu. Aku harus bisa melawannya bukan mendukungnya sesuai dengan alur cerita di otakku sekarang. Aku tahu, mandiripun tidak akan mudah tapi masih ada peluang. Bunda sudah menghabiskan banyak biaya untuk semuanya, jadi aku tak akan membeli impianku sebesar itu jika memang aku tak di takdirkan di sana.”

“Alissa, aku tidak masalah berapapun harganya kamu meraihnya. Kamu tidak sedang membeli impianmu. Itu adalah salah satu usaha kita untuk meraihnya. Salah satu bentuk usahanya adalah mencoba semua jalur yang ada.”

Aku tak pernah menangis di depan orang tuaku, tapi hari itu aku melakukannya. Aku tahu pemikiranku salah tentang membeli impianku. Tapi, orang tuaku mengusahakan semuanya dari awal aku ikut berbagai acara di kampus itu hingga aku mendaftar sebagai mahasiswanya dan pada akhirnya aku tetap gagal. 

Ternyata kegagalan itu selesai di sana. Ketika aku sudah masuk kampus baru yang tak pernah ada di dalam list perjalananku semuanya menjadi mudah, aku tahu takdir itu ada, dan Tuhanku Maha Tahu apa yang sedang aku usahakan tak akan sia-sia jika aku mengikuti alurnya.

Selama empat tahun di tempat ini, aku sadar duniaku yang aku semogakan dulu terjadi. Menjadi mahasiswa berprestasi, mengikuti banyak lomba di semua tingkat baik nasional hingga internasional. Aku tetap bisa menjadi diriku sendiri dan menikmati dunia perkuliahan itu. Aku tak pernah merasa tertekan, ujian aku kerjakan dengan tenang, dan praktikum lulus tanpa remidi. Ternyata memang semudah ini jika memang sudah takdir. Aku usahakan sedikit ternyata anugerahnya tidak kira-kira. Andaikan aku usahakan sekeras aku mengusahakan kampus impianku, akan menjadi seperti apa anugerah yang Tuhanku berikan padaku?

“Kalau gak bisa masuk kampus impian waktu sarjana, mau mencoba magister di sana?” Tanya bundaku. Setelah aku berhasil melewati semua tantangan dalam empat tahun masa perkuliahanku.

“Bunda masih mau aku mengusahakannya?”

“Terserah, kalau mau lanjut di sana aku persilahkan.”

“Aku akan lanjut magister dan doktoral di tempat lain lalu mendaftar menjadi guru besar di sana. Kalau ada kesempatan boleh do’anya bun, biar aku jadi rektor sekalian. Aku tahu ini terlalu tinggi. Tapi aku sedang mengarang cerita sebaik mungkin agar membakar semangatku.”

 

Kalau kita berusaha dan tak sampai pada impian, mungkin sudah waktunya menyerahkan alur cerita kepada sang pemilik semesta. Biar Tuhan yang mengaturnya sedemikian rupa dan kita tetap bahagia mengambil peran di dalamnya. –Fn2024



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.