Halo, namaku Zahra Taqi Nabila, atau sering juga di panggil taqii . Sejak kelas sembilan SMP aku sudah memiliki ambisi yang sangat besar untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Saat itu aku sudah membayangkan betapa bangganya jika aku berhasil di terima di salahsatu Perguruan Tinggi Negri (PTN) ternama di Indonesia. Bukan hanya tentang statusnya yang prestisius, tetapi juga dengan keyakinan bahwa aku bisa mengembangkan potensi-potensi terbaik di dalam diriku. Namun, perjalanan menuju Impian itu tidaklah mudah.
Setelah lulus SMP, aku melanjutkan pendidikanku ke pesantren modern, di mana selain mempelajari pelajaran umum, aku juga mendalami pelajaran agama yang lebih khusus. Akibatnya aku harus membagi fokus antara keduanya agar bisa di jalani dengan seimbang. Saat itu akses untuk mendapatkan informasi tentang perguruan tinggi sangatlah terbatas karena aku terikat peraturan tidak boleh memegang gadget. Meski begitu aku tidak menyerah. Di tengah keterbatasan, aku terus berjuang untuk mencari informasi lewat lab.komputer yang ada di sekolah.
Ketika aku duduk di kelas 10, aku fokus mempertahankan nilai rata-rata rapotku karena aku ingin bisa menjadi siswa eligible. Aku juga banyak mengikuti lomba-lomba di sekolah seperti Kompetisi Sains Madrasah (KSM) bidang kimia,lomba pidato dan lain lain karena aku berfikir itu semua bisa menjadi penunjang prestasi untuk aku bisa mengikuti Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP).Waktu berjalan begitu cepat, ketika itu pengumuman siswa eligible di sekolah. Dan tidak menyangka aku masuk ke dalam siswa eligible di peringkat ke-4. Saat itu perasaanku sangat senang karena harapanku bisa menjadi siswa eligible pun terwujud. Akhirnya akupun segera mengabari orang tuaku tentang kabar itu,mereka ikut senang dan mendukung segala keputusanku tentang jurusan yang ingin aku pilih.
Dengan berbagai pertimbangan aku pun memilih Universitas Sebelas Maret dan Univesitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai pilihan di SNBP. Di samping itu aku juga mendaftar di Universitas Pertahanan RI , Poltekes Surakarta,Poltekes Bandung lewat jalur prestasi .Hanya doa dan tawakal yang bisa aku lakukan pada saat itu,rasa gelisah,overthinking setiap hari saat menunggu pengumuman hasil itu. Namun, Ketika waktu itu tiba,aku di dihadapkan dengan kenyataan pahit. Semua tidak membuahkan hasil yang baik. Aku dinyatakan TIDAK LOLOS di semua universitas yang aku tuju pada saat itu .
Kegagalan itu sempat membuatku sangat down terlebih lagi dengan keadaanku yang jauh dari orang tua. Tetapi aku tidak ingin menyerah begitu saja,masih ada banyak peluang untuk sukses. Walikelas dan guru BK ku juga memberikan nasihat dan semangat agar aku bisa bangkit. Akhirnya tidak patah semangat aku memulai menyusun strategi untuk mempersiapkan Seleksi Nasional berdasarkan tes (SNBT). Aku mulai belajar dan Latihan soal – soal SNBT secara mandiri lewat buku dan youtube yang aku tonton di lab Komputer setiap hari. Aku juga mengikuti bimbingan belajar khusus SNBT setiap pulang sekolah untuk mendukung persiapanku mengikuti SNBT nanti. Setiap hari aku tidak berhenti berlajar soal-soal SNBT, mengikuti banyak try out SNBT,meskipun akses nya sangat terbatas.Semua itu aku lakukan demi mengejar mimpi yang sudah tertanam sejak lama.
Setelah waktu berjalan begitu singkat tibalah waktunya hasil belajar yang aku usahakan setiap hari di uji di SNBT. Aku memilih Universitas Padjadjaran sebagai pilihan di SNBT.Ketika itu aku di antar abiku untuk pergi ke lokasi SNBT. Sebelum aku pergi ummiku berkata “ Dek yang tenang yaa ngerjainnya serahin semuanya sama Allah ,apapun hasilnya itu yang terbaik buat kamu,ummi bangga sama kmu!!” perkataan itu seakan membuat aku lebih semangat dan optimis. Meskipun begitu, kenyataan berbicara lain. Hasil yang aku dan orang tuaku harapkan tidak kunjung datang. Aku Kembali mendapatkan kegagalan untuk masuk PTN lewat jalur SNBT.
Aku sempat merasa sangat kecewa dengan keadaan. Tetapi,orang tuaku meyakinkanku bahwa ini yang terbaik. Tidak berhenti sampai disana, aku pun mencoba lagi untuk mendaftar jalur mandiri tapi lagi lagi mendapatkan penolakan. Setiap malam aku menangis karena merasa apa yang aku perjuangkan sia-sia. Namun ,aku mulai berfikir meskipun usaha dan perjuanganku tidak membuahkan hasil yang diinginkan,aku masih memiliki jalan lain. Karena aku yakin, Ketika satu pintu tertutup maka ada 1000 pintu yang akan terbuka.
Akhirnya aku mencoba bangkit dan mendaftar lagi di salahsatu Universitas swasta terbaik yang di juluki kampus “Smart Military”. Tidak di sangka akhirnya aku dinyatakan LOLOS di sana. Aku sangat bersyukur karena semua kegagalan yang aku dapatkan memberikan aku banyak sekali pelajaran,salasatunya aku bisa lebih menghargai proses .Mungkin dengan aku masuk universitas yang sekarang ini akan membawaku ke kesempatan baru yang lebih luar biasa yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Inilah awal perjalananku merajut sebuah kesuksesan di jalan yang tak pernah aku duga.
Remember this:
“failing is normal, because failure is the best lesson as a experience is the best teacher.”
Thanks!!!!!

