PERJUANGAN MENUJU PUNCAK CITA

Saya terlahir di kampung terpencil dan dibesarkan oleh orang tua yang peduli akan pendidikan. Seberat apapun resikonya, sesakit apapun perjalanannya, seterjal apapun kondisinya, pendidikan itu penting. Pendidikan itu mesti diusahakan. Dalam kehidupan ini, terdapat momen-momen dimana kita berada di perempatan jalan. Kita harus menentukan arah jalan dan apa konsekuensi dari arah yang kita pilih.

Ketika berada di bangku Sekolah Dasar, saya telah disadarkan akan pentingnya pendidikan untuk mimpi yang besar. Namun, pada saat itu, saya belum memahami secara intens mengenai perkuliahan. Tetapi pada saat itu, saya memahami bahwa belajar itu penting untuk menjadi orang yang pintar. Sehingga saya jadikan itu motivasi yang dapat membangkitkan rasa semangat dalam belajar dan menyadari bahwa saya harus naik kelas dengan nilai yang baik demi melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Sampai di penghujung masa di Sekolah Dasar, saya harus melawan rasa rindu, karena akhirnya saya disekolahkan di  pondok pesantren yang tidak ada dalam wishlist yang saya rencanakan. Hal itu tentu berat bagi saya karena harus beradaptasi di dunia baru dan tantangan baru bagi saya yang sulit beradaptasi. Di sisi lain, ada harapan orang tua yang mereka selipkan dalam diri saya. Hingga akhirnya, saya terpaksa sekolah di pondok pesantren sampai saya sadar, mengapa saya harus di sana, di pondok pesantren.

Memasuki dunia pesantren yang sangat menantang, tidak jarang saya menangis di sela-sela kesibukan sebagai seorang santri dan seorang pelajar. Beban yang bukan hanya didapatkan di sekolah tetapi juga di pesantren. Keterbatasan fasilitas, Jarak yang jauh dengan orang tua dan keluarga, homesick, rasa capek dengan segala kegiatan yang padat, dipaksa untuk mencapai target, dan lingkungan yang tidak selamanya peduli pada diri saya adalah tantangan yang sangat luar biasa yang pernah saya alami. Dan saya jadikan itu motivasi dan pelajaran sebagai guru terbaik untuk saya meraih cita di masa depan. 

Sampai akhirnya memasuki dunia SMA, saya menyadari bahwa impian untuk mewujudkan kuliah di PTN bukanlah perkara yang mudah. Disinilah saya dihadapkan dengan momen persimpangan jalan yang menantang dan dipenuhi ketidakpastian. Dan momen itu hadir ketika saya harus memutuskan untuk mengejar cita-cita melanjutkan pendidikan di PTN. Perjalanan ini bukan hanya tentang sebuah mimpi, tetapi juga bagaimana saya melewati rintangan di tengah perjalanan yang sangat menentang dan dipenuhi ketidakpastian. Saya harus hebat. Saya harus bisa menggapai PTN yang saya mimpikan dengan tidak mengesampingkan kewajiban saya sebagai santri dan pelajar. 

Mempelajari soal-soal, mencari informasi mengenai PTN, mengikuti beberapa kegiatan lomba, mendiskusikan soal yang tidak dipahami, melakukan latihan soal hingga larut malam, menepikan rasa malas, dan disertai semangat dalam beribadah dan bangun di waktu yang nyaman untuk tidur, tiada lain saya lakukan untuk mencapai satu tujuan yang jelas: meraih mimpi untuk menjadi bagian dari PTN yang saya mimpikan. Hal itu saya jadikan tolak ukur sejauh mana saya siap menghadapi hari besar itu.

Selain beban akademik, saya juga dihadapkan dengan harapan yang besar dari keluarga. Orang tua dan keluarga saya, dengan segala keterbatasan mereka, selalu menyemangati dan memberi dukungan yang maksimal. Namun, di balik dukungan itu, saya tidak bisa menepikan rasa takut yang bersembunyi di balik perasaan saya. Takut akan mengecewakan mereka, takut tidak sesuai dengan ekspektasi, dan takut jika perjuangan saya tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkan. Memasuki kelas 12, saya sangat bersyukur karena bisa menjadi siswa terpilih dalam siswa eligible di sekolah. Saya mempersiapkan semuanya dengan maksimal. Namun, takdir berkata lain. Saya berpikir bahwa Allah ingin melihat saya berusaha lebih keras lagi dan Allah ingin mengetahui seberapa kuatkah saya. Hingga pada akhirnya, di akhir kelas 12 yang penuh dengan ujian akademik sekolah dan pesantren yang luar biasa sangat menantang, saya selipkan belajar di waktu yang padat itu dan meningkatkan semangat beribadah serta saya pasrahkan semua urusan saya kepada-Nya. Saya yakin bahwa takdir-Nya adalah yang terbaik. Meskipun hari-hari dijalani dengan tangis dan lelah, tetapi pada akhirnya saya berhasil menyelesaikan semua tantangan di masa SMA ini, Kecuali satu hal yang masih abu-abu.

Saya dihadapkan dengan ujian masuk perguruan tinggi jalur SNBT. Ruangan yang dingin itu terasa panas dan menyesakkan. Saat itu, saya pasrahkan kembali semuanya kepada Allah dengan lisan yang tidak berhenti berdoa dan mengucap basmalah. Saat semua soal itu muncul, ujian ini bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga menguji adrenalin dalam diri saya, seberapa tenang saya dalam menghadapi tekanan. Melihat kanan dan kiri, semua orang sedang berusaha dan bersaing. Suara detak jantung dalam diri saya terasa sangat berisik. Namun, saya berusaha untuk tenang. Jam, menit, detik, seakan cepat berlalu. Tibalah dimana saya telah mengirim seluruh jawaban yang telah diisi dengan penuh perjuangan.

Detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan terasa lama di akhir-akhir penantian setelah ujian. Sampai tibalah saatnya pengumuman. Di pondok pesantren, saya membuka pengumuman itu serentak dengan teman-teman. Suasana yang mencekam dan hati yang tidak karuan membuat kami merasa takut. Dan di sisi lain, keluarga saya mempertanyakan hasil apa yang saya dapatkan. Setelah teman-teman saya melihat hasil yang kurang memuaskan, saya pasrahkan semuanya dan saya berdoa lagi, dan lagi. Mata yang terpejam ketika saya menekan tombol, membuat saya kaget karena teriakan yang dikeluarkan dari mulut teman saya, “AAAA!!! SELAMATTTTT, RISYFAA!!!”. Dan ternyata, di layar kecil itu, tertera hasil yang selama ini saya dambakan dan saya perjuangkan–Nama saya yang tercantum sebagai satu-satunya siswa dari sekolah saya yang masuk PTN impian dengan jalur SNBT.

Tangis bahagia yang saya rasakan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Rasa syukur bertubi-tubi saya panjatkan kepada Allah. Semua jerih payah, tetesan tangis dan keringat, kini sudah terbalaskan. Kebahagiaan yang terpancar dalam wajah orang-orang yang menyayangi saya adalah hadiah terbesar bagi perjuangan saya, terutama kedua orang tua saya, mereka adalah hadiah terbaik yang pernah saya miliki.

Meskipun saya telah berhasil melewati satu langkah besar dalam hidup saya, saya sadar bahwa ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal perjuangan dalam perjalanan yang lebih panjang. Dunia perkuliahan akan menyajikan tantangan baru yang lebih tajam dan lebih sengit. Keberhasilan saya dalam meraih PTN impian merupakan bukti bahwa tidak ada usaha yang menghianati hasil dan dengan tekad dan usaha yang sungguh-sungguh, tidak ada yang mustahil untuk dicapai.

 

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.