MENJEMPUT MIMPI DI KAMPUS IMPIAN

MENJEMPUT MIMPI DI KAMPUS IMPIAN

Oleh Almeyda Kurniawati

Namaku Nia. Aku terlahir dari seorang perempuan hebat yang membuatku menjadi kuat dan dari laki-laki yang tak kalah hebat sehingga membuatku selalu bersemangat. Aku dibesarkan dalam keluarga yang sedikit keras dan tegas. Hal itu membuatku menjadi perempuan yang selalu mempunyai ambisi untuk mencapai segala sesuatu yang aku inginkan dan tidak pernah mau berhenti sebelum selesai. Menurutku keluargaku adalah segalanya bagiku. Ayahku, bernama ahmad, bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan ibuku, Bu Fatimah, seorang penjahit rumahan dan selalu mengajarkanku pentingnya pendidikan. Meskipun hidup sederhana, keluargaku selalu bahagia dan penuh cinta.

Pada tahun 2018, ketika aku duduk dibangku kelas 5 MI, sebuah tragedi yang menghantam keluargaku. Di waktu sore hujan deras yang mengguyur, ayahku yang sedang berjalan pulang berkerja. Langkahnya hati-hati menghindari genangan air di trotoar yang licin. Mendadak dari arah belakang, ada sepeda motor melaju kencang tanpa kendali. Dalam sekejap, motor itu menabrak ayahku dengan keras, membuatnya terjatuh dan terpental ke aspal yang dingin. Hujan terus mengguyur, menyamarkan tangisan orang-orang di sekitar yang segera berkerumun, namun nyawa ayahku tak tertolong lagi. Kabar duka itu menghancurkan hati ku dan ibuku. Sejak saat itu, hidup keluargaku berubah drastis. Seorang anak yang merindukan kehadiran ayahnya kembali adalah hal yang wajar, tetapi ibuku selalu berusaha menghibur dan menguatkanku. Meskipun sulit, keluargaku mencoba bangkit dan melanjutkan hidup dengan sisa-sisa harapan yang ada.

Namun, cobaan tidak berhenti di situ. Dua tahun kemudian, pada tahun 2020, ketika aku duduk dibangku kelas 8 MTS, dunia dilanda pandemi Covid-19. Situasi dan kondisi semakin sulit bagi keluargaku. Ibuku, yang sejak lama mengidap penyakit diabetes semakin memburuk kesehatannya. Meskipun telah berusaha mendapatkan perawatan, keterbatasan fasilitas dan ketakutan akan pandemi membuat keluargaku tidak dapat berbuat banyak. Pada bulan Juli 2020, ibuku meninggal dunia setelah lama berjuang melawan penyakitnya. Aku saat itu menjadi yatim piatu di usia yang sangat muda. Duka yang mendalam kembali menyelimuti pikiranku. Dalam waktu dua tahun, Aku kehilangan kedua orang tuaku yang sangat aku cintai. Meski begitu, Aku tidak menyerah pada kesedihan yang dilanda padaku. Aku berusaha tegar dan melanjutkan hidup, meskipun tanpa kehadiran kedua orang tuaku. Dukungan dari teman-teman, guru, dan kerabat membuatku tetap bertahan. Aku menyadari bahwa kehidupan memang penuh dengan ujian, tetapi aku harus kuat untuk bisa melewati semuanya.

Pada saat aku berusia 17 tahun, duduk di bangku kelas 12 SMK di pinggiran kota. Aku mengambil jurusan akutansi, bidang yang sejak lama menarik perhatianku. Di balik kecintaanku pada angka-angka, aku juga menyimpan impian besar, aku ingin melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur beasiswa ataupun jalur lainnya. Namun, jalan menuju impian itu tidaklah mudah, terutama karena aku berasal dari keluarga yang sederhana. Kedua orang tuaku telah meninggal dunia beberapa tahun lalu, meninggalkanku dalam asuhan nenek yang sudah tua dan sakit-sakitan. Setiap pagi, Aku bangun lebih awal untuk membantu nenekku menyiapkan dagangan kecil yang dititipkan diwarung-warung. Meskipun hidup dengan penuh keterbatasan, aku tidak pernah menyerah. Aku harus memiliki mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar bisa meraih kehidupan yang lebih baik. Walaupun banyak tantangan yang harus dihadapi, semangatku tidak pernah surut. Aku yakin bahwa dengan kerja keras, doa, dan dukungan dari keluargaku, aku bisa mencapai apa yang aku cita-citakan. Impian ini tidak hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga sebagai bentuk rasa terima kasihku kepada nenekku yang telah merawat dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang.

Di sekolah, aku juga memiliki keterampilan dalam mendesain poster menggunakan aplikasi canva. Teman-temanku sering kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas yang berbau ngedit, dan mereka pun sering meminta bantuanku. Aku senang bisa membantu mereka, dan sebagai tanda terima kasih mereka, biasanya mereka memberiku uang sebesar dua ribu rupiah untuk setiap desain yang aku buat. Meskipun jumlah uang yang aku dapatkan tidak seberapa, aku tetap merasa bersyukur. Uang itu aku tabung sedikit demi sedikit untuk keperluan sekolah atau membantu nenekku membeli bahan-bahan untuk membuat gorengan. Melalui usaha kecil ini, aku belajar bahwa kerja keras dan keikhlasan akan selalu membuahkan hasil yang baik, meskipun tidak selalu dalam bentuk materi.

Di sekolah, Aku dikenal sebagai siswi yang lumayan pintar didunia pendidikan akutansi, tidak hanya dalam hal akademis saja, tetapi juga dalam hal disiplin dan tanggung jawab. Guru-guruku sering menjadikanku contoh bagi teman-teman sekelasku. Meskipun demikian, Aku tidak pernah merasa diriku istimewa. Aku selalu mengingat dan juga menanamkan diri bahwa pencapaian yang diraihku adalah hasil dari kerja keras dan doaku. Cita-citaku untuk masuk PTN semakin memacu semangatku untuk terus belajar dan bersaing. Setiap hari sepulang dari sekolah, aku meluangkan waktuku untuk belajar tambahan di rumah. Aku menyadari bahwa untuk mendapatkan beasiswa, harus bersaing dengan banyak siswa-siswi lain yang juga memiliki impian yang sama. Kadang-kadang, rasa lelah dan putus asa datang menghampiriku, terutama ketika aku memikirkan bagaimana sulitnya mencapai impian itu tanpa dukungan finansial. Namun, setiap kali aku teringat senyuman orang tuaku dalam kenangan, aku menemukan kembali kekuatan untuk terus berjuang meraih mimpiku.

Sekolah Tinggi Ekonomi Indonesia Universitas Muhammadiyah Gresik

Aku tidak hanya fokus pada pelajaran di sekolah. Aku juga aktif mencari informasi tentang beasiswa dan mengikuti berbagai lomba nonakademik yang bisa menambah poin prestasiku. Setiap kali ada kesempatan, aku mengikuti bimbingan belajar yang diadakan secara gratis di sekolah atau di komunitas sekitar. Meski terbatas dalam hal keuangan, aku selalu berusaha maksimal dalam segala hal yang aku lakukan. Aku tahu bahwa tidak ada jalan pintas untuk meraih impian. Hari demi hari berlalu, dan ujian akhir semakin mendekat. Aku semakin memfokuskan diriku pada tahap persiapan. Aku tau bahwa nilai ujian sangat berpengaruh pada peluang untuk mendapatkan beasiswa. Setiap malam, aku duduk di meja belajarku, mengulang materi pelajaran sambil berdoa agar diberi kemudahan. Meski sering kali merasa cemas, aku tidak pernah lupa untuk menjaga kesehatanku agar tetap fit dalam menghadapi ujian.

Saat ujian tiba, aku menghadapinya dengan penuh keyakinan. aku tahu bahwa diriku telah berusaha sekuat tenaga, dan sekarang saatnya untuk menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Meskipun ada beberapa soal yang sulit, aku tidak membiarkan rasa panik menguasaiku. Aku ingat nasihat nenekku, “Jangan takut, Nak. Lakukan yang terbaik, buktikan bahwa kamu mampu menuju Impian mu itu dan biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya, hasil Tuhan pasti memberikan jalan terbaik untuk menentukan mu nak” Setelah ujian kelar, aku harus menunggu beberapa minggu untuk mengetahui hasilnya. Waktu ini menjadi saat-saat yang penuh ketidak pastian bagiku. Namun, Aku tidak membiarkan kekhawatiran menghalangi semangatku. Aku tetap bekerja keras, membantu nenekku, dan menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran beasiswa. Aku juga berdoa lebih khusyuk, berharap agar tuhan memberiku jalan terbaik.

Akhirnya, hari pengumuman tiba. Dengan hati berdebar, aku membuka hasil ujianku. Hasilnya cukup memuaskan, dan aku memenuhi syarat untuk mendaftar beasiswa. Aku merasa sedikit lega, tetapi aku tau bahwa tantangan sebenarnya baru saja dimulai. Aku harus bersaing dengan ribuan siswa-siswi lain dari seluruh negeri untuk mendapatkan tempat di PTN impiannya. Aku tidak mau menyerah, dan aku harus melanjutkan proses pendaftaran dengan penuh semangat. Saat tahap wawancara beasiswa, aku menceritakan perjalanan hidupnya dengan jujur. Aku bercerita tentang kehilangan orang tuaku, perjuanganku untuk tetap bersekolah, dan impianku untuk mengubah nasib keluargaku melalui pendidikan. Para pewawancara terkesan dengan tekad dan menyemangatiku. Mereka melihat bahwa di balik sosok gadis muda ini, terdapat kekuatan luar biasa yang tidak mudah dipatahkan.

Beberapa minggu kemudian, kabar baik itu datang. Aku diterima di PTN impianku dengan beasiswa penuh. Mendengar berita itu, aku dan nenekku menangis bahagia. Ini adalah hasil dari doa dan kerja keras ku selama ini. Aku merasa bahwa langkah pertamaku menuju masa depan yang lebih baik telah dimulai. Meski perjalanan masih panjang, aku yakin bisa menghadapinya dengan tekad yang sama. Hari-hari pertama di kampus menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagiku. Aku menghadapi lingkungan baru yang menantang, bertemu dengan kawan-kawan baru yang berbeda daerah. Namun, Aku tetap rendah hati dan fokus pada tujuanku. Aku tau bahwa beasiswa ini adalah kesempatan emas bagiku yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku bertekad untuk mempertahankan prestasiku dan membuktikan bahwa aku layak mendapatkan semua ini. Di kampus, aku selalu aktif mengikuti perkuliahan dan terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi. Aku tahu bahwa pengalaman di luar kelas juga penting untuk pengembangan diriku. Aku sering mengingatkan diriku sendiri bahwa aku berada di posisi ini bukan hanya untuk diriku sendiri tetapi juga untuk orang tuaku yang telah tiada, untuk nenekku yang selalu mendukung, dan untuk semua orang yang telah mempercayaiku.

Meskipun kuliah di PTN adalah salah satu impianku, aku sadar bahwa perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada saat-saat di mana aku merasa lelah dan terbebani oleh tugas-tugas yang menumpuk. Namun, aku tidak pernah menyerah. Aku selalu berusaha menemukan keseimbangan antara akademik dan kehidupan sosial lainnya. Setiap kali merasa putus asa, aku harus kembali mengingat tujuan awalku dan semangatku kembali menyala. Setiap semester berlalu, aku terus menunjukkan prestasi yang gemilang. Aku selalu mendapatkan nilai yang baik dan aktif dalam berbagai kegiatan kampus. Aku menjadi salah satu mahasiswa yang diandalkan oleh dosen-dosen. Di tengah kesibukan kuliah, Aku juga tidak lupa mengunjungi nenekku yang tinggal di kampung halaman setiap kali libur. Aku selalu membawa kabar baik dan sedikit uang dari hasil kerja paruh waktuku di kampus. Setelah empat tahun berlalu, aku berhasil menyelesaikan studiku dengan predikat cum laude. Saat wisuda, nenekku hadir dengan wajah bangga. Aku tau bahwa momen ini bukan hanya milikku, tetapi juga milik nenekku yang telah berjuang bersama selama ini. Aku dan nenekku saling berpelukan, menikmati kebahagiaan yang telah lama aku impikan.

Tidak lama setelah wisuda, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan akuntansi ternama. Di sana, aku terus menunjukkan kinerja yang baik dan menjadi contoh bagi rekan-rekannya. Aku tidak hanya bekerja keras, tetapi juga selalu berbagi ilmu dengan yang lain. Aku merasa bahwa kesuksesanku bukan hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk memberi manfaat bagi orang lain. Setiap kali ada waktu luang, aku sering kembali ke sekolah lamaku untuk berbagi cerita dan motivasi dengan adik-adik kelasku. Aku ingin mereka tau bahwa ada impian yang terlalu tinggi untuk dicapai, asalkan ada kemauan dan usaha. Aku juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, membantu anak-anak yang kurang mampu untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Kini, aku telah mencapai banyak hal yang dulu hanya ada dalam mimpiku ini. Namun, aku tidak pernah lupa dari mana aku berasal. Aku tetap rendah hati dan selalu mengingat bahwa semua ini adalah hasil dari kerja keras, doa, dan dukungan dari orang-orang yang mencintaiku. Aku yakin bahwa masa depanku masih penuh dengan peluang dan tantangan, dan aku siap untuk menjalankan setiap kesempatan yang datang. Aku adalah bukti bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan, selama kita tidak pernah berhenti berjuang.

Pesan:

“Menjemput mimpi di kampus impian adalah langkah pertama menuju masa depan yang penuh harapan. Di sinilah semangat, kerja keras, dan ketekunan berbaur menjadi satu untuk mewujudkan cita-cita yang selama ini kita dambakan.”

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.