Aku nanti bisa jadi apa ya? Apakah aku juga bisa sukses seperti orang hebat di luaran sana? Apakah aku bisa membanggakan kedua orang tuaku ? Beberapa pertanyaan tersebut, sudah mulai menggema di kepala ku sejak SD. Takut, ragu, dan bimbang selalu terjadi padaku setiap kali mencoba melangkah. Tak tau benar atau salah langkahku ini. Aku hanya tau, aku melakukan hal yang aku suka dan aku mampu. Tak terpikir sebelumnya untuk mendobrak tembok pembatas kemampuanku. Lagi-lagi karena takut gagal, takut mengecewakan orang terdekatku. Namun, semuanya berubah. Sejak awal SMA, aku mencoba menemukan sesuatu yang baru dalam diriku. Apasih yang bisa aku lakukan lagi? Adakah sesuatu yang menarik di luar sana? Aku mulai mecoba untuk menguji adrenalin ku dengan mengikuti beberapa kegiatan di SMA. Awalnya gugup, karena aku tidak tau apa. Tapi, aku berpikir itu wajar, karena aku juga baru masuk SMA.
Banyak sesuatu menarik yang ku temui. Bukan hanya sebatas melakukan hal baru, tapi perubahan pola pikir dan bertatap muka dengan segala jenis sifat manusia menjadi sorotan sendiri bagi ku. “Hai, aku Wira”, tiga patah kata yang ku ucapkan pada orang baru. Gugup, tapi semakin lama aku semakin percaya diri. Sesuatu baru yang ku ikuti, ternyata memang memberikan dampak besar bagi diriku. Bak aungan singa, api semangat dalam diriku berkobar. Aku berani untuk menembus batas ku. Semakin banyak hal baru yang ku temui, dan aku merasakan bahwa aku lebih berkembang dari sebelumnya.
Kali ini cukup berbeda. Aku mencoba hal yang lebih menantang. Aku memberanikan diri untuk ikut lomba esai. “Akhhhh, apasih ini, sulit banget. Ga ah, gamau lanjut pokok!”. Aku mulai frustasi. Namun, orang tuaku mengatakan,”Kalau kamu bisa memulai, kamu pasti bisa mengakhirinya”. Ucapan ibu menyadarkanku,”Oh iya, keputusanku sendiri untuk ikut lomba ini, berarti aku harus bertanggung jawab dan melakukan yang terbaik”. Dari situlah aku kembali semangat untuk mengikuti lomba esai. Tak hanya mentalku yang di uji, kesabaran dan kekompakan tim juga di uji. Namun, aku dan tim berpikir bahwa kami bisa menyelesaikan esai ini, dan tetap melanjutkan meskipun dengan mesoh-mesoh.
Hari demi hari berlalu, tim aku berhasil lolos ke final dan akan melakukan final hari ini. Aku berdoa kepada Allah, semoga diberi kelancaran dan kemudahan. Tak lupa, aku juga meminta restu kedua orang tuaku. Alhamdulillah, aku dan tim telah presentasi dan aku merasa puas dengan presentasi yang telah ku lakukan. Semua berjalan lancar. Sampailah di pengumuman pemenang. “Dag…dug…”, degup jantungku semakin cepat. Lagi-lagi aku takut gagal. Aku dan tim meyakinkan diri bahwa tim kami menang. “Dan sebagai juara 1, The Winner of Essay Competition Semarak FIKES Universitas Muhammadiyah Jember 2023 atas nama, Wira Aji Lukmana”, ucap MC yang suaranya keluar dari speaker laptop. Aku dan tim berhasil menang, mendapatkan juara 1. Aku sangat bahagia, kali ini aku berhasil. Aku sangat berterima kasih kepada Allah, karena telah memberi anugrah ini kepadaku. Akhirnya aku bisa membahagiakan kedua orang tua dan guruku.
Tak terasa, aku sudah kelas 12. Aku bertekad untuk kuliah, agar cita-citaku sebagai scientist dapat tercapai. Namun, tak sedikit orang yang berkata,”Kamu mah ga bisa kuliah. Uang dari mana coba?”,”Kamu kan orang ga mampu, mana bisa kuliah! Wong apa-apa sekarang harus pakai uang!”. Hal tersebut tak menyurutkanku untuk bisa kuliah, namun menjadi bahan bakar untuk menyalakan kobaran api semangatku. Tapi aku percaya, bahwa akan ada rezeki untukku saat kuliah nanti.
Banyak perlombaan dan organisasi yang aku ikuti. Dengan kemampuanku, aku mendapatkan amanah untuk menjadi ketua di 3 organisasi dan sekretaris di 2 organisasi. Banyak ilmu dan previleg yang aku dapatkan. Tak hanya itu, setiap menjuarai lomba pasti mendapatkan sertifikat. Nah, sertifikat itu bisa digunakan untuk mengikuti seleksi masuk PTN malalui jalur SNBP (Nilai rapor dan sertifikat).
Tak kerasa sudah memasuki waktu pendaftaran SNBP. Aku bingung, kampus mana dan jurusan apa yang aku pilih. Aku konsultasi kepada guru BK, orang tua, dan kakak kelas. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya aku memilih jurusan Biologi dan memilih kampus yang ada di Malang, dan salah satu kampus yang ku pilih termasuk dalam top 10 kampus terbaik di Indonesia, namun bukan kampus impianku. Banyak orang yang bilang aku ga realistis, karena dengan nilaiku yang pas-pasan, tapi memilih kampus top, dapat menyebabkan aku tidak lolos. Namun, tekadku bulat. Aku tidak apa-apa gagal, asalkan aku pernah mencobanya. Intinya, aku harus kuliah di kampus top. Bukan semata-mata karena nama kampus tersebut, tetapi fasilitas, proses belajar mengajar, dan lingkungan kampus top menjamin diriku untuk berkembang dan menembus tembok pembatas yang ada padaku sekarang.
Waktu terus berjalan. Rasa gelisah, takut tidak lolos, takut mengecewakan orang tua, terus menyelimuti diriku. Tapi, aku selalu berusaha berpikir positif, bahwa aku bisa lolos. Tibalah di hari pengumuman SNBP, tepatnya di pukul 15.00 pada 26 Maret 2024. Jantung terus berdetak semakin kencang, tangan mulai berkeringat, hati mulai gelisah, takut yang keluar warna merah. Setelah mengumpulkan keberanian untuk membuka, dan ya, yang keluar warna cinta, alias warna merah yang menandakan bahwa aku tidak lolos SNBP. Aku langsung pucat, tidak nangis sih (berusaha kuat), tapi ya kecewa banget. Merasa sangat mengecewakan kedua orang tua dan guru. Namun, kedua orang tuaku tetap menyemangati dan meyakinanku untuk percaya, bahwa aku bisa lolos di jalur UTBK. Namun, disisi lain, banyak orang yang mengatakan,”Kok peringkat 1 ga lolos?”,”Kok kamu ga lolos sih? Padahal peringkat di bawahmu banyak yang lolos lhoo!”,”Siapa suruh ambil kampus top, ujung-ujungnya ga lolos kan”. Aku hanya diam. Aku percaya, bahwa jalanku memang bukan di SNBP, tapi di jalur seleksi lain. Aku juga percaya, bahwa rencana Allah adalah rencana terbaik dari jutaan rencana yang aku buat. Allah akan memberikan ku waktu dan tempat kuliah yang cocok untuk aku.
Setelah tidak lolos SNBP, aku baru sadar bahwa persiapanku untuk mengikuti SNBT, jauh dari kata cukup. Aku hanya memiliki waktu 1 bulan untuk belajar, dan mulai beli buku untuk belajar UTBK. Namun tak hanya itu, aku juga bergabung dengan grup belajar SNBT di salah satu media sosial dan menonton video pengajaran gratis di Youtube. Tapi, di 2 minggu pertama aku terlalu mengentengkan, bahwa pelaksanaan UTBK masih lama. Tiba-tiba aku menyadari, bahwa sisa waktu 2 minggu tidak cukup untuk mempelajari semua materi UTBK. Cukup menyesal, tapi dengan sisa waktu yang ada, aku memaksimalkan belajarku dengan niat dan rasa ingin lolos UTBK yang sangat besar. Aku turut ikut try out gratis yang diadakan oleh platform belajar, agar dapat menilai kemampuanku, sejauh mana sih pengetahuan dan kemampuanku untuk mengikuti SNBT.
Tak terasa, hari pelaksanaan UTBK telah tiba. Aku mendapatkan jadwal hari kedua, sesi 2, tepatnya di 2 Mei 2024. Aku terus menghubungi ibu untuk meminta doa. Tak henti-hentinya aku terus berdoa, supaya diberi kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan soal UTBK. Aku pun memasuki ruangan pengerjaan UTBK. Rasa gelisah mulai muncul, berkolaborasi dengan sentuhan udara dingin dari AC yang membuat suasana semakin tegang. Tapi, aku harus mengerjakan soal UTBK penuh dengan percaya diri. Namun, kepercayaan diriku sedikit menurun dan semakin gelisah, karena di salah satu subtes masih ada yang belum di kerjakan, namun waktunya sudah habis. Aku makin gelisah. Dan tiba-tiba,”Teeeeeet”, suara bel berbunyi yang menandakan waktu pengerjaan seluruh subtes UTBK telah selesai. Saat itu, aku langsung merasa lebih rileks dan sedikit tenang, tidak menyangka aku bisa melewati tahap ini.
Setelah mengerjakan test, aku langsung pulang. Sesampainya di rumah, aku bercerita kepada kedua orang tuaku terkait situasi dan kemampuanku saat mengerjakan soal UTBK. Orang tuaku selalu menyemangatiku dan berkata,”Kamu sudah melakukan yang terbaik. Jangan lupa terus berdoa dan sholat tahajjud. Pasti Allah akan membantumu”. Aku pun mengamalkan apa yang kedua orang tuaku katakan.
Hari demi hari terus berjalan. Tak terasa, sudah menginjak tanggal 13 Juni 2024, dan ya, benar, hari itu adalah hari pengumuman kelulusan UTBK. Seperti biasa, pengumumannya jam 15.00 WIB. Sebelum membuka pengumuman, aku sholat terlebih dahulu, agar dapat menerima dengan lapang dada apapun hasil UTBK ku. Namun, kali ini aku membuka pengumuman ini sendirian, karena ibuku takut aku tidak lulus lagi. Aku memberanikan diri untuk membuka pengumuman, dan,”Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih”, itu hal yang pertama kali aku ucapkan ketika mengetahui bahwa aku lulus UTBK, lalu aku berlari menuju ibuku sembari berkata,”Aji lulus, buk. Alhamdulillah, bisa lulus di pilihan 1”. Ibuku yang mendengarnya pun sangat senang. Bude dan tante ku yang rumahnya berdempetan, mengira bahwa teriakan ku dan ibuku adalah menandakan kebakaran. Ternyata tidak, teriakan ku adalah teriakan kebahagiaan dan aku juga memberi tau mereka bahwa aku lulus UTBK. Mereka turut senang. Tak lupa, aku memberitahu ayah ku juga. Ia baru pulang kerja. Ayahku merasa sangat bahagia dan terharu atas keberhasilan ku. Aku juga mengabari guru dan teman-temanku bahwa aku lulus UTBK di pilihan 1, dan kampus tersebut memiliki peringkat yang lebih tinggi dan reputasi yang lebih baik dibandingkan kampus pilihanku ketika SNBP.
Akhirnya, aku bisa membuktikan, bahwa aku bisa menembus batas ku. Aku bisa menempuh pendidikan di kampus impianku, dengan kualitas pendidikan yang tidak perlu diragukan lagi. Aku bisa memecahkan perspektif orang yang menganggap bahwa anak orang tidak mampu, tidak bisa kuliah. Aku merasa hebat karena tekadku tidak goyah, juga bisa membayar dan membuktikan semua perkataan orang padaku, bahwa aku tidak salah berani mengambil kampus top sebagai tempatku belajar dan aku lolos di kampus impianku. Di titik itu, aku merasa sekali, bahwa aku bisa menembus tembok pembatas diriku dan akan menembus tembok pembatas lainnya.
Dari pengalamanku, aku belajar bahwa kekuatan tekad, niat, usaha, dan doa, sangat berpengaruh pada kesuksesanku. Aku juga sadar, jika duniamu ingin lancar, maka kejarlah akhirat, otomatis duniamu akan diberi kelancaran oleh Allah SWT.
Wira Aji Lukmana
Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

