MEMBENTUK KARAKTER : TANTANGAN DAN PROSES PENGEMBANGAN DIRI

Muhammad Abdul Aziz

Terlahir dari keluarga yang haus Pendidikan, membuat saya menjadi pribadi yang ambisi ingin bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain melalui Pendidikan. Untuk meraihnya adalah hal yang sulit dan menantang juga membutuhkan semangat yang besar. Saya Muhammad Abdul Aziz, seseorang yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, jiwa penasaran yang tinggi, ambisi yang selalu naik, dan seseorang yang bercita-cita agar bisa bermanfaat bagi orang lain. Ketika SD saya dalah seseorang yang pendiam, sangat menutup diri dari dunia dan tidak mau bersosialisasi karena diselimuti ketakutan yang luar biasa. Ketika itu, sedikitpun saya tidak berani untuk berteman, bahkan sering mendapatkan ejekan dan buly-an dari orang-orang sekitar. Akan tetapi saya tetap teguh akan pendirian saya agar bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain, walaupun orang itu pernah membuly saya. Sebenarnya saya dapat afirmasi dari beberapa guru, bahwa saya adalah siswa yang cerdas dan pintar, serta selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta. 

Diselimuti rasa ketakutan dan trauma yang luar biasa akan pergaulan, akhirnya saya bisa dan berani untuk berteman dan bersosialisasi, sehingga saya menemukan teman yang dimana dia mengajarkan saya untuk terus berani dan menjadi pria kecil yang kuat. Sesuai nama saya, Muhammad Abdul Aziz yang memiliki arti Muhammad hamba yang maha kekal, nama ini adalah doa untukku dari seorang ayah agar menjadi seseorang yang kuat, bukan hanya fisik, tapi materi, mental, dan agama. Setelah sekian lamanya 6 tahun saya memberanikan untuk bergaul sehingga saya sudah terbiasa dalam bersosialisasi, Hal ini terbukti di masa SMP, disaat saya bertemu dengan seorang teman yang pintar sekali dalam matematika. Bermodalkan sedikit materi dari SD dan kecerdasan logika matematika. Kemampuan saya terstimulus disini, ketika bergaul dan berteman dengan seseorang, seiring berjalannya waktu saya sudah terbiasa untuk berbicara di depan umum layaknya seorang pemimpin. 

Saya dipercayakan untuk menjadi seorang wakil KM, jabatan itu yang saya inginkan, walapun tidak bisa menjadi KM saya bisa menjadi wakilnya dan itu memotivasi saya untuk terus berkembang. Kemudian sudah mulai dipercayakan mengikuti lomba-lomba seperti olimpiade Matematika, itu perlombaan pertama yang saya ikuti. Senang rasanya jika sudah dekat dengan seorang guru, kemudian dipercayai untuk menjadi seorang wakil km dan mengikuti perlombaan. Semu aitu berawal dari, individu yang berpikir kritis dan banyak bertanya di kelas. Dimasa SMP, saya anggap saya sudah mulai berkembang baik dari aspek pergaulan maupun prestasi. SMP adalah masa dimana saya berlomba-lomba untuk mengejar prestasi bersaama teman-teman walaupun ada beberapa lembaran harian saya yang belum lengkap seperti, adanya kegagalan. Kegagalan adalah hal biasa yang dirasakan oleh seseorang yang sedang berkembang dan berproses. Dari kegagalan itu, saya mengevaluasi yang kurang dan mengembangkan yang baik. 

Setelah sekian lamanya 3 tahun di SMP, saya hendak melanjutkan ke SMA yang bekerja sama dengan Jepang. Saya ingin sekali bisa meneruskan study saya ke luar negeri terutama Jepang. Akan tetapi hal itu tidak bisa diwujudkan karena terhalang izin orang tua. Pada saat yang bersamaan saya direkomendasikan oleh orang tua saya untuk melanjutkan study ke Pondok Pesantren. Rekomendasi ini saya tolak secara langsung, walaupun saya suka dan haus akan ilmu, saya masih mengingat akan trauma pergaulan itu. Sehingga yang saya takutkan ketika di Pondok Pesantren adalah pergaulannya, “apakah disana benar-benar tidak akan ada buly”. Saya memberanikan dan menantang diri untuk mengikuti rekomendasi itu, masalah pergaulan saya yakin bisa diatasi. Secara bersamaan saya khawatir mengenai materi dan modul yang diajarkan di Pondok Pesantren, karena saya tidak mempunyai basic dalam hal agama. Saya tidak menyukai pelajaran Pondok Pesantren, tapi saya yakin apapun yang tidak disukai saya pasti baik untuk saya. Akhirnya saya menuruti rekomendasi dari orang tua.

Beberapa minggu pertama saya mulai terbiasa dengan peraturan dan lingkungan Pondok Pesantren, tapi ketika ada test keagamaan saya merasa sayas tidak bisa, tapi saya berpikir “Salah tidak apa-apa karena saya sedang belajar”. Di pertengahan tahun ajaran, saya mulai merasakan kenegatifan dalam bergaul juga, saya merasa seperti dibuly oleh kakak kelas saya bahkan teman seangkatan sendiri. Karena say mulai terbiasa untuk mengatasi hal ini, saya merasa I Don’t Care, selaginya tidak menurunkan harga diri saya dan tdak mencelaka-kan saya, saya akan bersikap I Don’t care karena merespond lalat seperti mereka hanya membuang waktu. Jika orang itu mencelaka-kan saya dan menurunkan harga diri saya, saya tidak bisa tinggal diam, saya lawan walaupun ada beberapa yang luka. Dari banyaknya tantangan ketika di Pondok Pesantren, saya merasa malam untuk belajar Agama, seiring berjalannya waktu saya hijrah dan mendapatkan hidayah. Saya mulai terbiasa dan cinta terhadap pelajaran di Pondok Pesantren terutama ilmu Bahasa Arab dan kitab. Sehingga saya mulai dipercayai oleh ustadz untuk mengajarkan Al-Quran dan kitab kepada adik kelas. 

Sebagaiman yang telah diketahui Bersama, jika kita sudah mendapatkan ridho guru dan orang tua, jalan kita menuju kesuksesan akan mudah. Hal itu saya rasakan dan membuat saya termotivasi Kembali. Selain di Pondok Pesantren, di Sekolah saya juga aktif baik prestasi maupun sosisal. Sama halnya waktu di SMP, awal masuk masih tahap orientasi masa adaptasi karena sistematika saya dalam bergaul adalah 0-100, yakni biasa di awal dan exicited I pertenggahan dan akhir. Saya dipercayai mengikuti Olimpiade Kimia petama Se-Provinsi Banten, walaupun tidak menjuarainya saya mendapatkan beberapa pengalaman berhaga, kemudian saling mengennal antar daerah. Kedua kalinya saya di percayai mengikuti OSN (Olimpiade Sains Nasional) bidang kimia, alhamdulilah saya lulus dan berhasil wakili sekolah juga daerah ke Tingkat provinsi. Selain sains nasional, saya dipercayai mengikuti KSM (Kompetisi Sains Madrasah), di sini pengalaman berhaga  saya dapatkan seperti mengerjakan soal fisika dalam bentuk soal menggunakan Bahasa Arab dan Inggris. Sebenarnya saya suka di bidang matematika sebagai terusan dari SMP, tetapi disini saya diajari mengenai sains sehingga saya mulai menggeluti sains terutama kimia. 

Tidak mudah rasanya untuk mengembangkan diri sendiri karena harus berhadapan dengan berbagai massalah dan tantangan, salah satunya adanya orang yang tidak suka atas prestasi kita. Hal ini merupakan sebuah kewajaran, setiap kita naik daun pasti ada saja yang tidak suka bahkan berusaha untuk menjatuhkan. Saya adalah seseorang yang memiliki antusias dan optimisme tinggi sehingga tantangan tersebut saya lalui dengan lancer, alhamdulilah. Seseorang yang memiliki tipe karir investigate dan conventional juga memiliki kecerdasan interpersonal, intrapersonal, logika matematika, dan lingustik di atas 50% akan cocok menjadi seorang psikologi, researcher, dan dosen/guru. Sebuah anugrah dan nikmat terbaik dari Allah, kecerdasan yang saya miliki. Sebenarnya semua manusia itu cerdas, ada beberapa kecerdasan menurut howard gardner salah satunya kecerdasan interpersonal, hendaknya semua manusia itu bersyukur kepada sang maha pencipta.

Sesuatu yang tidak saya sukai, yaitu sekolah dan di Pondok Pesantren ternyata itu yang terbaik untuk saya. Mempunyai keinginan yang kuat untuk melanjutkan belajar ke jenjang lebih tinggi, saya sangat antusias dan bersemangat untuk mencari info terkait pembukaan pendaftaran. Bukan hanya mencari lewat internet saja, saya bertanya kepada guru-guru bahkan saya bertanya dan meminta nasehat kepada Ustadz saya untuk prodi dan kampus yang cocok. Akhirnya saya menemukan sesuai passion saya, yaitu UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prodi Pendidikan Kimia. Mencari kampus basic Islam untuk melanjutkan Pendidikan Islam saya dan prodi Pendidikan kimia untuk melanjutkan kemampuan saya dalam logika matematika. Awalnya saya masuk eligible siswa di sekolah karena saya di UIN, saya direkomendasi oleh guru saya untuk mengikuti jalur SPAN-PTKIN agar teman-teman yang lain bisa mengambil di jalur SNBP. Ketika memulai pendaftaran saya memilih UIN Sunan Gunung Djati Bandung prodi Pendidikan Kimia no 1 kemudian Pendidikan matematika sisanya sayamengambil jurusan keagamaan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Ketika pengunguman tepatnya setelah ujian kelulusan  dan pertengahan bulan Ramadhan, saya tidak lolos jalur SPAN-PTKIN. Disitu saya belajar untuk sabar dan mengikhlaskan juga bersyukur, saya yakin pasti saya mendapatkan Pendidikan kimia itu. Akhirnya saya meminta saran Kembali kepada orang tua dan kepada Ustadz, mereka menyarankan untuk mengikuti test UM-PTKIN. Ketika hendak ujian, saya mendapat nasehat dari nenek agar menjaga wudhu dan memperbanyak membaca istighfar dan sholawat ketika mengerjakan. Karena ilmu itu Cahaya dan letak nya ilmu itu dihati, ilmu akan sulit masuk jika hati itu kotor. Setelah sekian lama tepatnya di hari Jum’at setelah ashar, pengunguman kelulusan UM-PTKIN di umumkan, akhirnya aku bisa mendapatkan kampus impian dan prodi favorit aku. 

Setelah diterima di kampus impian, aku sedikit kaget dengan materi yang dibawakan di perkuliahan sedikit berbeda. Bukan hanya materi, soal pergaulan juga berbeda sangat jauh, kemudian jam mata kuliah yang tidak sistematis. Di perkuliahan saya aktif dalam materi, pergaulan, dan lomba-lomba yang bertujuan untuk mengevaluasi materi aku. Ada beberapa achievement yang aku dapatkan selama masa perkuliahan seperti video dokumenter pengabdian terbaik, 3 besar pengabdian terbaik, 5 besar mahasantri berprestasi, beberapa medali sains dan keislaman. Semangat dan antusias yang tinggi mendorong saya agar terus mengembangkan diri sendiri, baik dari aspek sosialisasi maupun materi. Saya belajar dari kegagalan serta kesalahan terus mengembangkan diri dan mengabaikan kenegatifan dari orang-orang.

Kunci sukses adalah ridho orang tua dan ridho guru, dengan kedua itu kita bisa mendapatkan ridho Allah. Selain harus mendapatkan ridho Allah, kita juga harus berhubungan baik dengan teman, baik itu lebih tua dari kita maupun lebih muda dari kita. Selain ridho orang tua dan guru, kita juga harus optimis, ikhtiar, dan tawakal kepada yang maha kuasa. Sesuatu yang kita suka belum tentu baik untuk kita dan sesuatu yang tidak kita suka bisa jadi baik untuk kita. Dari semua kejadian yang saya alami, saya belajar untuk bersyukur dan bersabar, menyerahkan semuanya kepada Allah. Di dunia ini ada sesuatu yang bisa kita kendalikan dan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan seperti hasil akhir dan kesuksesan. Ambisi dibutuhkan untuk terus berjuang dan meraih kesuksesan, tetapi jangan sampai ambisi itu menjadi obsesi dan egois yang tak berujung, seseorang harus mengendalikan dan memanage nya agar tidak membahayakan Kesehatan seseorang. Jika ingin mencapai kesuksesan harus mempunyai komitmen yang besar dan kuat agar bisa bertahan.

Seseorang membenci orang lain karena dua hal, pertama dia tidak suka karena pencapaian orang itu, kedua karena ia tidak suka dengan dirinya sendiri. Lembaran yang paling penting untuk upgrade diri adalah ketika gagal bahkan down cobalah untuk mengingat tujuan awal. Mungkin ini adalah doa guru saya, dimana guru saya berdoa semoga saya menjadi seseorang yang paham sains dan  agama. Jadi ridho guru dan ridho orang tua sangat dibutuhkan untuk meraih kesuksesan.    

  



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.