KISAH TENTANG MEMPERJUANGKAN IMPIANKU

Semua orang memiliki impian, tetapi tidak semua orang bisa menggapai impian mereka masing-masing. Begitu juga dengan aku, seorang anak desa yang berjuang mati-matian untuk meraih perguruan tinggi impiannya dan beasiswa yang diinginkannya.

Kisah itu berawal pada masa pandemi 2019. Awal mula impian itu muncul ketika aku mulai aktif bermain Twitter(yang saat ini sudah berubah nama menjadi X). Aku bertemu banyak teman online untuk membahas demo pada saat itu. Mereka dari berbagai kalangan usia. Ada yang sudah kuliah, masih sekolah, dan sudah bekerja. Para mahasiswa yang demo itu dengan berani dan lantang mengeluarkan aspirasi masing-masing. Aku berpikir mereka sangat hebat dan keren. Dan munculah impianku untuk ingin berkuliah. Padahal waktu duduk di bangku SD dulu, aku hanya ingin lulus sekolah terus bekerja di luar negeri. Dari situ aku mulai mencari bakat dan minat ku untuk menentukan jurusanku. Dan mulai mencari kampus mana yang memiliki potensi baik untuk aku mencari ilmu dan lulus nanti. Aku memilih arsitektur dan teknik sipil di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

Seperti yang kita semua tau, ITS Surabaya merupakan salah satu PTN yang memiliki peminat yang banyak dan masuk line up PTN 10 terbaik di Indonesia. Awalnya aku sangat pesimis, tetapi setelah bertemu dengan beberapa teman di twitter yang sama-sama para pejuang PTN, aku jadi lebih bersemangat dan berani untuk memperjuangkannya.

Aku mulai mencari banyak informasi dan mulai belajar untuk mempersiapkan tes-tes nya. Di kelas 10 dan 11 aku fokus belajar dan berusaha untuk mendapat nilai sempurna. Tetapi, dikarenakan pada saat itu merupakan baru percobaan masuk sekolah tatap muka setelah 2 tahun online, semua nilai murid di sama ratakan. Tentu itu membuat aku kecewa. Aku sudah berusaha dan berjuang untuk nilaiku, tetapi harus disamakan nilai dengan mereka yang tidak berjuang. Aku mulai pasrah di jalur SNMPTN(SNBP). Dan ternyata dugaanku benar, aku dinyatakan tidak lolos pada jalur SNBP.

Di samping itu, aku juga mulai mempersiapkan materi-materi dan latihan soal untuk tes UTBK yang pada saat itu berubah menjadi nama menjadi SNBT. Aku mencari di Twitter dan Instagram. Aku juga berlangganan aplikasi belajar seperti pahamify dan ruang guru. Ku akui, aku terlalu keras dengan diriku sendiri pada saat itu. Tidur hanya 2-3 jam sehari dan waktu keseharian ku habis dengan belajar. Hingga, di 1 bulan pertama aku jatuh sakit. Tetapi itu tidak membuatku menyerah, aku mulai berjuang lagi dengan belajar. Hingga hari tes pun tiba, aku yang berasal dari Madiun harus pergi ke Surabaya saat itu, meskipun bukan hal baru untuk aku datang ke Surabaya, tetapi saat itu aku merasa datang dengan rasa ragu dan ketakutan. Aku hanya memiliki 2 jawaban, antara berhasil dan gagal.

Tanggal 11 Mei 2023 aku tes di Kampus A Universitas Airlangga. Aku bahagia bisa keliling dan bertemu teman baru disana. Kami saling menyemangati satu sama lain. Di dalam ruang tes aku merasa gugup, hingga semua rumus di otakku hilang. Aku pasrah dengan semua soal yang aku kerjakan. Aku berdoa agar diberi kelancaran dan hasil memuaskan.

Selama menunggu pengumuman, aku mulai mempersiapkan berkas-berkas untuk beasiswa dan mengisi waktu dengan pergi ke perpustakaan kabupaten. Aku tidak lupa untuk berdoa agar di beri kemudahan untuk bisa lolos. Aku juga mencoba untuk mencari beasiswa-beasiswa lain dan lomba-lomba untuk mengisi waktu luang dirumah.

Hari pengumuman pun tiba. Tepatnya di jam 3 sore. Aku mempersiapkan kartu peserta UTBk. Aku membuka pengumuman dengan gugup. Dan kekecewaan yang entah keberapa kalinya muncul lagi. Aku gagal lagi untuk kali ini. Aku merasa menjadi manusia paling gagal didunia, dibumi ini. Aku merasa semua hanya mengecewakan. Selama 2 bulan lebih aku mengurung diri di rumah, hidup dengan penuh putus asa, kegagalan, dan kekecewaan. Aku menghilang dari dunia sosmed dan menjauh dari teman-teman ku. Malu rasanya untuk bertemu mereka. Simbah dan bapak yang selalu ada untukku untuk menguatkan. Aku adalah tipe manusia yang sekali gagal semua akan terasa sia sia. 2 bulan itu yang harusnya bisa aku gunakan untuk mencari opsi agar tetap bisa berkuliah, tetapi aku tidak menggunakannya. Aku terus berlarut dalam kesedihan. Hingga akhirnya di bulan ke 3 aku memberanikan diri untuk membuka diri dan sosmed. Berani untuk keluar rumah dan bertemu teman-teman ku. Aku juga mulai mencari kampus untuk aku bisa tetap berkuliah dan bisa dijadikan validasi untuk tidak diremehkan keluargaku. Aku memutuskan berkuliah di Universitas Terbuka. Mungkin bisa dibilang aku terlalu gegabah untuk mengambil keputusan. Aku juga mulai kerja di Surabaya untuk mengisi waktu luang dan agar terhindar dari stres. Aku mulai menjalani hari-hariku dengan duniaku yang tidak sesuai dengan impian dan plan ku.

Di tahun 2024 ini, aku sedang memperjuangkan beasiswa untuk bisa berkuliah di kampus swasta dengan jurusan yang aku inginkan. Saat ini juga aku juga sudah mulai membuat plan-plan baru untuk impianku di masa depan. Dan berusaha untuk tidak putus asa dan menyerah apabila ada kekecewaan yang menghampiriku lagi.

Sekarang aku mulai menyadari, bahwa kegagalan yang diberikan kepada kita adalah salah satu cara Allah untuk menjagaku dari suatu keadaan yang akan membuatku merasa salah langkah. Karena pada dasarnya Allah telah memberikan rencana yang lebih indah untukku, seperti kehidupan yang aku jalani saat ini. Sekian untuk kisahku ini.



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.