KETANGGUHAN SERTA DETERMINASI PERJUANGAN PEMUDA  DESA MERAIH PRESTASI DI TENGAH TANTANGAN HIDUP.

Dia adalah Nur Ikhsan Prakoso lahir di Sanggau pada 29 Januari 2006,Ia tumbuh dalam keluarga yang sederhana dengan kondisi yang penuh tantangan.Bapaknya seorang kuli bangunan dan buruh tani hanya lulusan SD.Sementara ibunya seorang memiliki Pendidikan sederajat.Sejak kecil ia sudah menghadapi kehidupan yang keras,tanpa adanya privilege berupa finansial.Tapi ia punya privilege doa seorang ibu.

Sejak Sd ia menjadi korban bullying bahkan hampir ingin mengakhiri hidup.Selama 12 tahun mendapatkan perundungan,tidak jarang ia mendapatkan pukulan bahkan pernah di hentakan kepala hingga bengkak.Ia tidak menjadikan itu sebagai penghalang langkahnya untuk tumbuh maju.Ia tumbuh menjadi pribadi yang Tangguh berkat pengalaman pahitnya itu sebagai pendorong untuk terus maju.

Setelah lulus SMA,ia terpaksa untuk gap year karena tidak ada biaya untuk melanjutkan perguruan tinggi.Ia kerja di Perusahaan retail bekerja hingga 12 jam sehari.Menghadapi beban kerja yang sangat berat tidak jarang ia,masalah menambahkan beban pikiran anak 17 tahun itu.Di Tengah tantangan itu ia harus membagi waktu antara bekerja dan belajar,sering kali mengorbankan Kesehatan fisiknya yang sering terganggu.

Namun,di Tengah kerasnya kehidupan,ia tidak pernah berhenti berusaha,ia menhadapi kegagalan pertama dalam dunia Pendidikan tinggi.Ia tidak bisa melanjutkan langsung ke universitas.Namun dengan ketekunannya ia berhasil mendaftar di Universitas Terbuka jurusan ilmu hukum pada tahun 2023,meskipun harus menjalani masa sulit saat melaksanakan OSMB,termasuk tidur di masjid saat kegiatan dan tidak jarang di usir karena kondisi finansial yang terbatas.Situasi tersebut tidak membuat ia putus asa,ia berkerja terus bekerja di Alfamart sebagai seorang barista dan crew store dan berhasil lolos di Universitas Tanjung Pura Program studi agribisnis.Walaupun tidak mendapatkan beasiswa KIPK,Sayangnya ada kabar kurang baik diawal kebahagianya menjadi seorang mahasiswa baru UNTAN bapaknya jatuh sakit.Nur Ikhsan Prakoso tetap melanjutkan studi nya dengan menjadi penjoki tugas dan doa ibu tentunya.

Di Tengah segala tantangan,ia mendapatkan motivasi dalam dirinya dan yang kuat dari ibunya sebagai figur penting yg selalu mendukung dan memberinya kekuatan dalam menghadapi kesulitan.Selain itu,semangat dan determinasi yang datang dari dirinya sendiri mendorong ia untuk tidak menyerah dengan keadaan.

Gagal dua kali mengikuti seleksi sekolah kedinasan IPDN Impian ia tidak kehilangan harapan.Ia tetap optimis dan menyiapkan planner untuk masa depan mengikuti program beasiswa Bank Indonesia  dan melanjutkan Pendidikan magisternya di luar negeri menggunakan LPDP program.Bagi ia,satu hal yang pasti: mimpi-mimpinya tidak akan hancur selama ia tidak menyerah.Prinsip ini menjadi dasar motivasinya untuk berjuang.

“Bangkit Dari Keterbatasan,Bukan Berarti Tidak Bisa Berprestasi.Jangan Biarkan Mimpi Itu Mati Begitu Saja Karena Ia Tidak Pernah Mati -nurikhsanp”



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.