Di lingkungan kampus, penampilan sering kali menjadi bagian dari identitas mahasiswa. Mulai dari pilihan sepatu, tas, gadget, hingga jam tangan, semua dapat mencerminkan gaya dan karakter seseorang. Sebuah postingan yang beredar di media sosial mengangkat fenomena ini dengan cara yang ringan dan menghibur, yakni mengaitkan merek jam tangan dengan mahasiswa dari berbagai kampus swasta di Indonesia.

Mahasiswa dengan Gaya Elegan: Patek Philippe

Dalam postingan tersebut, beberapa kampus swasta seperti Universitas Trisakti, Universitas Katolik Parahyangan, BINUS University, Universitas Pelita Harapan, Universitas Pertamina, dan Universitas Kristen Petra diasosiasikan dengan Patek Philippe, salah satu merek jam tangan mewah asal Swiss.

Pilihan ini menggambarkan citra mahasiswa yang identik dengan gaya hidup premium, elegan, dan berkelas.

Kesan Mewah dan Sporty: Omega

Sementara itu, mahasiswa dari kampus seperti Universitas Indonesia Internasional (UII), Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Bina Nusantara Malang, Universitas Tarumanagara, dan beberapa kampus lainnya digambarkan memakai Omega.

Omega dikenal sebagai jam tangan premium yang memiliki desain sporty namun tetap eksklusif, sehingga dipilih sebagai simbol mahasiswa dengan kesan modern dan mapan.

Simbol Prestise: Rolex

Pada bagian lain, mahasiswa dari Swiss German University (SGU), Universitas Pelita Harapan (kampus tertentu), Universitas Ciputra, London School of Public Relations (LSPR), dan Universitas Islam Indonesia dikaitkan dengan Rolex.

Sebagai salah satu merek jam tangan paling ikonik di dunia, Rolex sering dianggap sebagai simbol prestise, kesuksesan, dan status sosial.

Alih-alih menampilkan jam tangan mahal, postingan justru memperlihatkan ponsel lawas seperti Nokia dan BlackBerry sebagai alat untuk melihat waktu.

Candaan ini menggambarkan pengalaman banyak mahasiswa di masa lalu yang lebih sering mengecek jam melalui ponsel dibanding memakai jam tangan. Selain membangkitkan nostalgia, bagian ini juga menjadi pengingat bahwa fungsi utama melihat waktu tidak selalu membutuhkan aksesori mahal.

Perlu dipahami bahwa isi postingan ini dibuat untuk hiburan. Tidak ada hubungan resmi antara kampus tertentu dengan merek jam tangan tertentu. Mahasiswa dari setiap kampus tentu memiliki latar belakang ekonomi, preferensi, dan gaya hidup yang sangat beragam.

Jam tangan yang dikenakan seseorang juga tidak dapat dijadikan ukuran kemampuan finansial maupun kualitas pendidikan. Banyak mahasiswa yang memilih jam tangan sederhana karena mengutamakan fungsi, sementara yang lain memang memiliki ketertarikan pada dunia horologi.

Konten seperti ini menjadi contoh bagaimana media sosial dapat mengemas stereotip kampus menjadi hiburan yang ringan. Terlepas dari merek jam tangan yang dipakai, yang paling penting bagi mahasiswa tetaplah prestasi akademik, pengalaman organisasi, keterampilan, serta jaringan pertemanan yang dibangun selama masa kuliah.

Pada akhirnya, jam tangan hanyalah aksesori. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh merek yang dikenakan, melainkan oleh karakter, kemampuan, dan kontribusinya di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *