Oleh : Eka Khairiyah Novrada
Hidup merupakan sebuah perjuangan, namun apalah daya jika kehidupan tidak memiliki makna perjuangan. Contoh kecilnya yaitu, ketika kita lapar kita harus berjuang untuk mencarinya terlebih dahulu. Kita harus mencari beras terlebih dahulu, mencari lauknya, belum memasaknya dan mengambilnya pun butuh perjuangan. Itualah yang di namakan hidup. Namun, dalam perjuangan tidak selalu mulus sesuai dengan ekspetasi yang kita inginkan. Dalam sebuah perjuangan tentunya ada kalanya kita selalu merasa gagal dan sukses. Namun hidup tidak selalu tentang kesuksesan dan tidak selalu tentang kegagalan. Dunia terus berputar, bagaimana kita mengatasi permasalahan tersebut.
Halo teman-teman, sebeulum masuk ke pembahasan kita kali ini, izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan nama saya Eka Khairiyah Novrada, saya biasa di panggil dengan nama Eka atau Eca jika di kampus. Saya merupakan anak pertama dari 3 saudara. Saya memiliki 2 adik laki-laki, dan saya seorang anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Menjadi anak pertama, contoh yang baik baik bagi adik-adiknya tidaklah mudah. Yeahh!! Anak pertama yang selalu di tuntut untuk menjadi sempurna, apalagi saya seorang kakak Perempuan satu-satunya dalam keluarga. Tentunya hal tersebut sangat membuat orangtua saya memiliki harapan yang sangat besar kepada saya. Saya harus menjadi role model yang baik untuk adik-adik saya.
Saya bukanlah dari kalangan keluarga kaya, saya hanyalah seorang Perempuan yang berasal dari desa dan saya terlahir dari keluarga sederhana. Ibu saya hanya berjualan sosis di sekolah dan setelah pulang dari sekolah ibu saya mengumpulkan rongsokan untuk di jual Kembali. Ayah saya merupakan seorang tukang pijit. Perekonomian keluarga saya dibilang minim, Banyak orang-orang diluar saya selalu membicarakan kedua orangua saya. Mereka bilang “Ahh, anakmu mah tidak mungkin bisa keterima beasiswa di perguruan tinggi, zaman sekarang mah serba susah mau mendapatkan hal seperti itu”. Namun, kedua orangtua saya tidak pernah menanggapi orang-orang seperti itu. Orangtua saya hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Tetapi, saya merasa sedih kedua orangtua saya dikatain seperti itu oleh ibu-ibu diluar sana. Namun,saya selalui ingat kata kedua orangtua saya. “Jika kita diremehkan, kita tidak perlu membalasnya dengan remehan juga, kita harus membuktikan dan membalasnya dengan kesuksesan kita dengan cara kita sendiri”.
Walaupun saya terlahir dari keluarga sederhana, hal tersebut tidak membuat saya menjadi patah semangat untuk terus melanjutkan mengejar beasiswa demi untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Saya harus mewujudkan harapan dan cita-cita terbesar kedua orangtua saya. Kedua orangtua saya selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Kedua orangtua saya sangat ingin sekali anak-anaknya menjadi sukses dengan Pendidikan. Karena, orangtua saya yakin, dengan Pendidikan akan membawa kita lebih percaya diri, dan kita akan memiliki value dan integritas pada diri kita. Oleh sebab itu alasanya kenapa kedua orangtua saya sangat ingin anak-anaknya melanjutkakan Pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Karena kedua orangtua saya hanyalah lulusan SMA.
Waktu itu saya masih SMA, saya melanjutkan sekolah Menengah Atas saya di Pondok pesantren, yang mana pondok tersebut hanyalah pondok salafiyah, jadi bisa dibilang pondok dengan biaya yang cukup ringan. Karena saya sangat ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang santri dan juga dukungan dari ayah saya yang selalu ingin anaknya melanjutkan sekolah di Pondok pesantren.
Saat itu aku duduk di kelas 12 SMA, masa di mana orang-orang sibuk mencari informasi tentang pembukaan pendaftaran di Perguruan Negeri Tinggi. Tetapi berbeda dengan kami yang sekolah di pondok pesantren. Aku sangat ingin sekali mendaftarkan diri mengikuti test di Perguruan Tinggi Negeri, Kampus impianku. Tetapi karena kami memiliki halangan dalam mencari informasi tersebut, di dalam pondok pesantren kami tidak boleh memgang Handphone ataupun computer, jadi sangat sulit sekali memiliki kesempatan untuk mendaftar menjadi calon mahasiswa di PTN impianku. Ketika hari libur tiba, disitulah para santriwan dan santriwati di jenguk. Tetapi, aku merupakan salah satu santriwati yang tidak pernah di jenguk oleh kedua orangtuaku karena jarak antara perjalanan yang begitu jauh dan juga banyak biaya yang harus di keluarkan untuk menjengukku. Jadi, kedua orangtuaku hanya mengirim biaya finansialku saja.
Kala itu hari minggu tepatnya, seluruh santriwan dan santriwati di jenguk oleh keluarganya. Saya memberanikan diri untuk meminjam Handphone orangtua teman saya secara diam-diam, kerena jika ketahuan oleh pihak pengurus pondok tentunya saya akan mendapatkan hukuman. Lalu dengan diam-diam saya membuka handphone orangtua teman saya dan saya membuka website laman pendaftaran calon mahasiswa baru. Ternyata pendaftaran sudah di tutup kala itu. Saya sangat sedih sekali melihatnya. Ada rasa kecewa, frustasi, dan juga penyesalan tentunya. Saya sempat down selama satu minggu, saya fikir saya tidak akan mendapatkan kesemapatan untuk kuliah. Namun tiba-tiba teman satu pondok saya membangkitkan saya Kembali, dia bilang katanya saya bisa memiliki kesempatan untuk mengikuti test di perguruan Negeri yang berbasis Islam, Yaitu UIN. Setelah saya mendengar kabar tersebut, saya dan teman saya terus mencari informasi terhait pendaftaran tersebut. Kami selalu diam-diam setiap hari minggu, pada saat santriwan dan santriwati di jenguk. Kami berdua selalu meminjam handphone orangtua teman saya sacara diam-diam. Dan disaat itulah kami berdua mempersiapkan seluruh document yang harus dilengkapi untuk proses pendaftaran.
Dan pada saat kami sudah mendaftar. Selang beberapa minggu pengumuman jadwal test online pun sudah di umumumkan di Laman tersebut. Tetapi saya dan teman saya merasa bingung karena test tersebut dilaksanakan bukan weekend, test tersebut dilaksanakan pada weekday. Dengan pantang menyerah, saya dan teman saya tetap terus berusaha untuk terus mencari Solusi dari permasalahan kami. Akhirnya kami berdua memberanikan diri untuk berdiskusi dengan ustadzah pembimbing asrama kami bahwa kami sudah melanjutkan kuliah dan kami sudah mendaftarkan diri pada laman tersebut. Setelah itu saya dan teman saya punmenceritakan permaslaahan kami berdua kepada ustadzah pembimbing asrama kami. Akhirnya, dengan senang hati ustadzah kami membantu kami untuk dapat mengikuti test tersebut. Ustadzah kami bersedia meminjamkan handphone miliknya kepada kami untuk mengerjakan test tersebut. Saya sangat yakin sekali dengan kalimat “MAN JADDA WAJJADA” yang artinya “BARANG SIAPA YANG BERSUNGGUH-SUNGGUH PASTI DAPATLAH IA”. Saya mulai mengamalkan kalimat tersebut pada diri saya.
Selang beberapa minggu kemudian, saya dan teman-teman saya di nyatakan lulus dari pondok pesantren tersebut. Semua orangtua santriwan dan santriwati hadir dalam acara wisuda kami. Tetapi tidak dengan orangtua saya. Pada saat saya wisuda, orangtua saya berhalangan untuk menghadiri acara wisuda saya karena keterbatasan ekonomi. Kekecewaan dan kesedihan pun datang menghampiri saya. Tetapi disaat moment yang Bahagia ini saya tidak boleh menunjukkan kepada semua orang kalua saya sedang bersedih, saya selalu menyemangati diri saya sendiri. Pada saat acara wisuda berlangsung saya hanya di hadiri nenek dan kakek saya. Beliau merupakan adik dari alm nenek saya. Rasa Bahagia, sedih, kecewa, semuanya ada pada sata. Tetapi saya tetap harus tersenyum di depan semua orang.
Dan Ketika selang 1 minggu setelah kelulusan saya dari pondok, akhirnya pengumuman di umumkan pada laman. Rasa ragu, senang, sedih, takut, semua rasa ada pada saya saat saya ingin membuka hasil tersebut. Saya mendaftar di 3 Universitas Islam, yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sultan Maulana Hasanudin, dan UIN Raden Fatah, Palembang. Tapi, lagi-lagi itu bukan rezeki saya kali ini. Siapapun yang mendapatkan notif seperti itu pasti akan sedih mendengarnya. Yeahh!! Saya dinyatakan TIDAK LULUS dalam seleksi tersebut. Disaat itulah saya merasa sangat hancur sekali, saya rasa saya tidak memiliki kesempatan untuk kuliah “Ucap saya dalam hati”. Tetapi bagaimana saya harus memberitahukan ini kepada orangtua saya. Dengan berat hati akhirnya saya membertahukan pengumuman ini. Tetapi orangtua saya selalu ingin saya untuk tetap melanjutkan kuliah. Saya terus di paksa untuk mejadi sempurna oleh kedua orangtua saya.
Saat kedua orangtua saya mengetahui saya tidak lulus di Universitas tersebut. Orangtua saya menyuruh saya mendaftar di kampus swasta, tetapi kedua orangtua saya tidak memiliki uang untuk membiayai kuliah saya, saya sangat bingung, saya sangat frustasi kala itu, saya ingin bekerja saya. Menurut saya kuliah di kampus swasta membutuhkan biaya yang cukup banyak, sedangkan orangtua saya merupakan kategori dengan perekonomian minim. Saya sangat bingung skali. Waktu itu saya belum pulang kerumah, ssehabis lulus dari wisuda di pondok pesantren saya tinggal di rumah paman saya. Ayah saya pernah bilang kepada saya kala itu, jika saya tidak berasil keterima di Kampus manapun, saya tidak boleh Kembali kerumah, dan saya harus melanjutkan sekolah ke pondok pesantren saja. Orangtua saya tidak pernah mengijinkan saya untuk bekerja waktu itu, karena kedua oranguta saya sangat mengetahui bagaimana rasanya kerja di pabrik. Orangtua saya tidak ingin saya mendapatkan pengalaman hidup yang pahit seperti mereka. Tetapi aku sangat bingung sekali kala itu, aku hanya ingin bekerja dan membantu kedua orangtuaku untuk membiayai adik-adikku sekolah.
Hampa sekali rasanya kala itu, aku merasa aku adalah orang yang paling gagal waktu itu. Namun, tuhan berkehendak lain. Saya bertemu dengan ponakan paman saya, dia merupakan salah satu mahasiwa Atmajaya dan dia merupakan mahasiswa beasiswa prestasi. Saya mendapatkan motivasi Kembali. Dia selalu bilang kepada saya “Kamu ingin bangkit atau menyerah”. Pikirkan dengan matang saat ini, Keputusanmu hari ini sangat mempengaruhi masadepanmu. Akhirnya setelah mendapatkan motivasi Kembali saya mulai dari 0 lagi. Saya bangkit dan setiap malam saya selalu belajar dan mencari beberapa informasi kampus swasta yang membuka beasiswa. Saya memberanikan diri untuk mencoba dan bangkit Kembali, Tidak henti-henti juga saya selalu beroda kepada tuhan agar selalu mendukung saya dalam setiap Langkah yang saya lakukan. Saya mendaftar pada 2 kampus yang berbeda waktu itu. Tapi, hanya 1 kampus yang membuka beasiswa 100% kala itu. Aku sangat yakin bisa di terima di kampus itu, akhirnya saya mendaftar di 2 Kampus swata kala itu. Dan setelah selang hampir 1 bulan lamanya saya mendapatkan pannggilan untuk mengikuti test Kembali. Dan saya sempat gagal lagi waktu itu, saya di nyatakan tidak lulus di 1 kampus swasta tersebut. Tetapi saya memiliki 1 kesempatan lagi untuk dapat lulus di kampus tersebut dengan beasiswa. Harapanku sangat besar kala itu untuk dapat di terima di kampus tersebut, entah itu besiwa 50% atau 100%. Yang penting saya dapat mengabulkan harapan kedua orangtua saya untuk dapat meneruskan Pendidikan ke jenjang perguruan tinggi walaupun di Swasta.
Setelah menunggu, selang beberapa hari kemudian. Aku membuka emailku dan setelah aku membukanya. Gambar gembira dating padauk, Tidak lupa untuk mengucapkan beribu rasa sukur kepad Tuhan yang maha esa dan juga kepada diri sendiri, dan kepada keluarga tentunya yang terus memberikan doa terbaik untuk anaknya. Dan setelah membacanya saya akhirnya di nyatakan LULUS. Yang paling membuat saya semakin terharu yaitu saya berhasil dinyatakan lulus dengan beasiwa 100%. Saya yakin, Allah tidak pernah tidur. Allah akan membantu hanbanya yang sedang berusaha sekuat mungkin. Ingat “MAN JADDA WAJJADDA” yang artinya “BARANG SIAPA YANG BERSUNGGUH-SUNGGUH, PASTI DAPATLAH IA”. Dari situlah saya banyak mengetahui bagaimana arti perjuangan yang sesungguhnya, tanpa adanya kegagalan kita tidak mengetahui bagaimana rasanya mendapatkan sebuah kesuksesan.
Tidak ada yang tidak mungkin di Dunia ini selagi kita mau berusaha mewujudkan keinginan kita untuk mencapai kesuksesan, Karena kesuksesan tidak datang sendiri, tetapi kesuksesan datang dengan cara berjuang. Hidup membutuhkan perjuangan, hidup tidak akan bermakna jika tidak ada perjuangan di dalamnya. Dan setiap kesuksesan pasti ada proses, oleh sebab itu se suli-sulinya proses yang kita lakukan untuk mencapai kesuksesan, pasti aka nada hasilnya.
Sama halnya dengan perjuangan saya yang ingin sekali mewujudkan harrapan kedua orangtua saya, berkat doa, dan dukungan dari orangtua saya dan orang-orang sekitar saya. Akhirnya saya dapat terus semangat untuk melanjutkan study saya di Perguruan Tinggi Swasta. Tetapi menurut saya, perjuangan itu bukanlah hasil dari segalanya, namun dengan perjuangan tersebut merupakan awal dari perjuangan saya, saya masih terus berjuangan untuk kedepannya demi mencapai cita-cita dan harapan saya.
Semoga teman-teman dan para pembaca dapat tetap terus berusaha dan selalu berjuang untuk mendapatkan cita-cita dan keinginan nya dan dapat melanjutkan studynya di kampus impiannya. Tetap semangat terus dan pantang menyerah, dan dalam setiap usaha selalu diiringi dengan doa, karena jika usaha tidak diiringi dengan doa sama saja kita sombong kepada tuhan, dan Ketika kita hanya berdoa tanpa berusaha sama saja bohong. Dan percayalah bahwa “Manjadda wajjadda” Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapatlah dia.

