Pelayaran Terakhir dalam Badai Menuju Kampus Impian

By: Haeril Maulidina Hanipa

Hilang sudah satu kesempatan untuk menjadi mahasiswa. Hal yang Aku perjuangkan dengan susah payah berakhir dengan kegagalan. Nilai rapor Aku tidak cukup untuk memenuhi kriteria di kampus impian.

Aku memang tidak terlalu berharap bahwa SNBP akan menjadi jalur masukku menjadi mahasiswa, karena memang Aku lebih bersiap untuk SNBT. Sayangnya, hujan kecil tanpa suara dalam rumah yang tanpa penghuni terjadi. Tak lama, orang tuaku kembali dan melihat kondisiku. Pelukan hangat dan kata-kata mereka ditujukan untuk menguatkanku. Perasaan gagal untuk membanggakan orang tua mengakar dalam hati. Tanpa Aku sadari, Aku menangis cukup lama.

“Tidak apa-apa, kalau kamu tidak lolos pada jalur ini. Kan masih ada jalur yang lain,” kiranya begitulah kata-kata Ibu supaya anak perempuan pertamanya tidak perlu cemas. Ibuku tidak terlalu pandai untuk merangkai kata-kata hiburan, tapi aku tahu niat Ibu yang tidak ingin anaknya sedih hanya karena penolakan. 

Kini, tinggal satu kesempatan yang tersisa. SNBT akan menjadi satu-satunya kesempatan yang harus Aku menangkan. Tidak memungkinkan jika Aku yang berasal dari keluarga menengah ke bawah bertarung di jalur mandiri. Apalagi saat ini, ekonomi keluarga sedang tidak baik-baik saja.

Dengan waktu satu bulan, masa setelah semua aktivitas sekolah selesai. Aku tidak berhenti belajar, mencari informasi untuk membantuku selangkah lebih dekat dengan kampus impian. Pagi, siang, malam, Aku jejaki dengan semua pelajaran yang bisa Aku tangkap. Tidak berhenti pula Aku berdo’a supaya Tuhan mengizinkan Aku untuk menjadi mahasiswa. Kepercayaan akan usaha dan doa, membuatku terus maju. 

Pada harinya, Ayah mengantar Aku menuju medan pertempuran. Dalam perjalanan, Ayah menyuruhku untuk bersedekah sambil berdoa akan kelancaran dan kemudahan dalam menjawab soal. 

“Sudah sedekah belum?” tanyanya.

“Belum,” jawabku.

“Di depan ada perbaikan jalan, nanti kamu sedekah di sana. Jangan lupa sambil berdoa, minta kelancaran, kemudahan menjawab soal, dan menjawab soal dengan benar.” Katanya sambil melambatkan motor supaya Aku bisa memberikan sedikit rezeki untuk disedekahkan.

Setiap jalan yang kami lewati dipenuhi oleh doa dalam diriku meminta kelancaran dan kemudahan. Tidak berhenti melafalkan doa. 

Ketika sampai, ayah tidak bisa ikut masuk. Walau tidak bisa ditemani, Aku cukup percaya diri. Aku hadir satu jam lebih awal untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Sambil menunggu, Aku mempersiapkan diri dengan mengisi perutku dan beribadah dengan berdoa demi kelancaran selalu. Ketika sudah hampir saatnya, orang-orang yang mengambil tes termasuk Aku mengeluarkan dokumen yang akan dicek terlebih dahulu.

Dalam ruangan yang dingin, Aku berjuang sendiri melawan soal-soal yang diberikan, pensil pun bergerak menghitung jawaban. Hatiku terus-menerus meminta kelancaran. Semua yang Aku pelajari ditentukan pada hari ini. Apakah semua itu akan membawaku menuju Universitas atau menuju jalan yang lain?

Hari sudah sore ketika Aku selesai. Terdapat perasaan lega ketika Aku telah berhasil menjawab semua soal dengan percaya diri. 

Hari-hari menuju pengumuman, hal hanya bisa Aku lakukan hanya  berdoa untuk kelulusan. Lulus bahwa Aku terima di kampus yang kupilih. Waktu terus berjalan, semakin dekat menuju pengumuman.

Pukul 15.00 adalah waktu yang dinanti-nanti oleh semua orang sekaligus waktu yang ditakuti. Takut pada hasil yang terkadang bisa saja tidak sesuai ekspetasi. Untuk itu, Aku mengalihkan perhatian dengan menonton film. Kabur sebentar dari ketakutan akan hasil. Setelah 15 menit berlalu, Aku mengumpulkan keberanian untuk melihat hasilnya. Tangisku pecah ketika kata “SELAMAT” terlihat dalam layar handphone. Suatu kebanggaan dapat lolos di kampus impian. Tak sabar menyebarkan kebahagiaan, ucapan selamat datang silih berganti. Namun, hal tersebut tak lantas membuat Aku berada di posisi yang aman.

Aku perlu berpikir bagaimana cara untuk membayar UKT. Dengan kondisi ekonomi yang sedang terpuruk, hati ini pilu melihat diri ini memaksakan mimpinya dikala keluarga sedang berjuang untuk hidup. Hari demi hari, tak terlihat adanya kemajuan. Kekhawatiran tumbuh bersama rasa takut.

“Akankah tahun ini Aku kuliah? Haruskah Aku bekerja terlebih dahulu? Seandainya Aku menyerah pada tahun ini, mampukah Aku untuk berjuang di tahun depan?” 

Tidak berasal dari keluarga berada, membuat Aku terus menanyakan pertanyaan seperti apa ke depannya nanti. Dilema untuk kuliah hadir mengacaukan jiwa dalam diri. Sungguh kejam memang memaksakan kuliah di saat perekonomian sedang tidak baik-baik saja. Tapi, keyakinan akan pendidikan dapat mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik tidak tergoyahkan. 

Sampai pada hari terakhir pembayaran, Aku tidak kunjung mendapat dana. Sedikit sedih memang jika dilihat dari posisiku, tetapi mungkin orang tuaku tidak akan terbebani oleh perkuliahan yang akan Aku jalani. Aku sudah pasrah dan akan mencoba lagi tahun depan, jika seandainya tidak ada keajaiban.

Untungnya Aku melihat email yang dikirimkan padaku, menyisakan harapan untuk menjadi mahasiswa. Tertulis bahwa Aku mendapatkan perpanjangan pembayaran. Syukur seribu syukur, Aku dan keluarga memiliki waktu tambahan. Setelah mencari ke sana kemari, Saudara pihak Ayah mau membantu. Hari itu, aku resmi menjadi mahasiswa.

Layaknya kapal yang terombang-ambing dalam badai awan di lautan lepas hingga hampir karam. Nakhoda  berhasil mengendalikan kapal, membawanya melewati badai awan untuk sampai tujuan. Sebesar apa pun badai yang dilewati, jika takdir berkata kita bisa, maka jangan ragukan hasilnya. Apa yang ditakdirkan untuk kita, akan kita dapatkan.



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.