Jadikanku Yang Hari Ini

Oleh : Muhammad Rahmani Hafidzi

Aku percaya setiap episode yang telah aku lewati adalah rangkaian yang membentuk siapa aku sekarang. Banyak hal yang telah berubah karena ada tragedi yang berkesan di hidupku. Bagiku masa lalu adalah jawaban mengapa kita berdiri sekarang. Bukan berarti masa lalu harus dilupakan melainkan untuk dijadikan Pelajaran. 

Perjalananku untuk bisa berada di bangku perkuliahan tidaklah mudah. Berawal dari keragu-raguan yang menusuk benakku, Ketidaktahuan jalanan yang harus dilewati, kehilangan bahkan Krisis akan identitas diri. Inilah titik terendahku selama kehidupan. Tidak tahu siapa diriku?, Kemana akan melangkah? Dan apa yang membuatku seperti ini?. 

  1. Masa lalu yang menyadarkanku

Malam itu cukup dingin untuk menusuk kulitku. Langit gelap namun tidak terasa karena lampu yang bersinar di setiap sudut Gedung. Setelah solat isya ditunaikan aku berjalan menuju kamarku. Ketika di pesantren, setelah kami melalui rangkaian keagamaan. 

“Rafi!” Siapakah yang memanggil panggilan dekatku? Aku tau nama Rafi hanya dipanggil oleh orang-orang yang memang dekat denganku. 

“Sibuk gak?” 

“Gak sih” Sepertinya aku menyadari apa maunya di kala itu. 

“Aku mau cerita” ujarnya dengan wajah yang tidak biasanya menggambarkan sisi perianganya. 

“Ya! Boleh” 

Kami berjalan Bersama menuju kantin dan membeli sebuah roti jhon untuk kami makan Bersama. Kami berdua duduk di antara kerangka bangunan yang belum jadi sambil melihat dan menikmati suasana penghuni pesantren yang gembira selepas berjalan dari masjid. Sesuap demi sesuap kami rasakan makanan tersebut, karena tidak ada yang mau memulai pembicaraan. 

“Fi Gimana ya?” Temanku menyeletuk sebuah pertanyaan. Sebut saja ia Ebol. 

“Aku udah tau kok ceritanya” Pada saat itu aku memang sudah mendengar seribu ghosip yang membicarakan Ebol. Ia memang menjadi trending pada saat itu. Hampir setiap tongkrongan orang menyebut namanya. 

Ebol menjadi pelaku pelencengan seksual di pondok pesantren kala itu. Sebelumnya aku dan teman-temanku cukup mencurigai gerak-geriknya yang tidak seperti pertemanan pada umumnya. Ebol dan temannya, namanya Farel (nama samaran) melakukan tindakan yang dilarang oleh agama yang dia anut. Posisinya di pondok pesantren yang kami semua tinggali, memang tidak sama sekali terjamah oleh Perempuan. Dari tahun ke tahun memang selalu ada kasus pelencengan seksual namun tidak banyak, masih bisa dihitung oleh jari. 

Ebol bercerita mengenai dirinya. Ia mengaku bahwasanya dirinya tak tahan untuk melakukan tindakan impulsif tersebut. Namun yang pasti ia katakana bahwa dirinya tidak melakukan perilaku seksual yang lebih intim. Aku mengangguk dan meng-iyakan apa yang ia katakan, sampai akhirnya ia sudah mengakhiri ceritanya dengan air mata yang sedikit bergelimang. 

“Sekarang aku tanya. dari kejadian itu, kamu merasa bersalah gak?” 

“Iya, aku merasa bersalah” Jawabnya dengan intonasi yang rendah. 

“Baiklah, itu sudah bagus. Yang berbahaya adalah ketika kamu tidak menyadari kesalahanmu dan terus-terusan menyalahkan orang lain. Kalau memang kamu mendapatkan hukuman dipulangkan selama 6 bulan terima aja, karena memang itu murni kesalahanmu. Menjadi lebih baik aja, Kamu pasti bisa kok menghadapinya” Aku merasa saat itu saran itulah yang bisa ku berikan. Walau bagaimanapun perilakunya tetap salah karena telah melakukan pelencengan seksual. 

Apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya? Mengapa hal itu bisa terjadi? Itulah pertanyaan yang menghantui aku di saat menginjak kelas 12 SMA. Aku penasaran dengan keadaan batinnya yang bergerak dan membentuk perilaku yang orang menganggapnya itu adalah hal yang salah. Aku mulai bertekad untuk mencari tau kebenaran mengenai tingkah laku manusia. Dari sini lah cerita bermulai.

 

  1. Keputusan yang berat

Setelah beberapa bulan atau bahkan tahun, akhirnya aku lulus dan memutuskan untuk gap year. Pada saat itu aku memutuskan Keputusan yang cukup berat karena harus merasa tertinggal dengan teman-temanku yang berbondong-bondong untuk daftar perkuliahan di dalam pondok pesantren. Aku cukup merasa pesimis dengan Keputusanku. Aku takut akan ada penyesalan di kemudian hari. 

Selama satu tahun gap year, akhirnya aku bertekad untuk fokus menyeimbangkan ilmu agama dan hafalan qur’anku. Cukup berat! Karena kelas pondokku bisa dikatakan tinggi dengan Pelajaran yang menantang otakku untuk selalu bekerja setiap saat. Belum lagi aku harus menyeimbangkan dengan kehidupan pribadiku untuk bersenang-senang sebagai anak muda. Hampir seluruh waktuku selama satu hari aku investasikan dengan sibuk di luar kamar. 

Tahun-tahun akhirku di pondok penuh akan kegiatan. Aku mengikuti kepanitiaan besar yang mencakup di seluruh pondok. Aku menjadi sukarelawan untuk mengabdi pada acara-acara penting di sana. Tidak ada hari bagiku tanpa kesibukkan, itulah istilah yang bisa mengungkapkan diriku di pondok. 

Diselang waktu dengan kepanitiaanku yang tak kunjung habis aku mengikuti sebuah perlombaan hari Bahasa arab sedunia yang diselenggarakan oleh pondok untuk persaingan tiap daerah. Ada banyak dari komunitas santri dari seluruh indonesia yang mengikuti perlombaan itu. Begitupun lomba, mencakup pidato Bahasa arab, debat Bahasa arab, puisi Bahasa arab, dll. Aku mengikuti dua perlombaan, Debat Bahasa arab dan Pidato Bahasa arab. Awalnya aku merasa optimis akan kemenanganku di lomba pidato Bahasa arab, namun takdir berkata lain. Aku gagal di seleksi pertama pidato Bahasa arab. Namun masih ada Debat Bahasa arab, aku merasa biasa saja untuk mengatur ekspektasiku supaya tidak berlebihan. Tidak disangka, aku lolos ke tahap semifinal. Kaget. Awalnya aku dan timku berjumlah tiga orang sangat tidak menyangka bisa lolos. Singkat cerita kami menjadi juara satu saat performa final di atas panggung yang disaksikan oleh seluruh santri dari segala penjuru indonesia. 

Keputusan yang berat ku jalani berubah menjadi sekenario indah yang tak ku sangka. Banyak pengalaman yang bisa ku dapatkan ketika gap year. Namun sayangnya aku masih belum menyadari jurusan apa yang akan aku ambil ketika perkuliahan nanti? Dimana aku akan berkuliah? Inilah titik terendah di dalam hidupku. 

 

  1. Titik terendah atau pinjakan untuk melangkah? 

Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujani pikiranku. Selalu muncul kecemasan yang berlebihan tentang masa depan. Liburan semester tiba, aku membulatkan tekadku untuk tidak pulang dan mengejar cita-cita di jawa. Aku memutuskan untuk belajar ke pare selama dua minggu kurang lebih. Walau sebentar setidaknya aku belajar untuk menambah Kemahiranku dalam dalam berbahasa inggris. 

Mulus perjalananku? Tentu tidak. Disaat aku memutuskan untuk Kursus di Pare orang tuaku tiba-tiba mengatakan untuk tidak perlu pergi ke sana dan cukup belajar otodidak melalui ponsel. Perasaanku campur aduk, marah, sedih dan jengkel bercampur menjadi satu. Kala itu, aku ingin mengatakan kepada orang tuaku “Bukankah kamu sudah menyetujuinya kemaren? Kenapa harus tiba-tiba seperti ini?”. Bayangkan saja, aku hanya membawa uang sejumlah 100 ribu saja. Aku dan temanku sudah menuju pare di dalam bis sambil berdempet-dempetan. Aku merasa bahwa orang tuaku tidak bisa menghargai keputusanku saat itu. Aku tetap nekad untuk pergi ke sana. Akhirnya tergerak hati orang tuaku untuk membiayai kursusku di pare. Aku dan temanku bernafas lega karena akhirnya kita tidak hanya mengandalkan satu pemasukan saja, melainkan dua. 

Harapanku ketika setelah belajar di pare adalah setidaknya aku paham mengenai dasar Bahasa inggris yang tidak pernah diajarkan selama aku dipondok. Aku menyadari bahwa Bahasa inggris ketika perkuliahan sangat penting. Jika memang aku tidak mahir tapi setidaknya aku paham dan tau bagaimana mengucapkan Bahasa inggris yang baik dan benar. 

Tapi aku masih ragu akankah aku bisa berkuliah? 

  1. Sudah atau belum siap, Harus siap! 

Akhirnya Keputusanku bulat untuk mencari tempat berkembang yang baru. Inilah masanya aku mulai menjelajahi kehidupan dengan rasa sakit yang ku pikul selama hidup. Masih ada waktu untuk aku berpikir mengenai spesifik jurusan yang akan aku ambil. 

Sudah setahun semenjak aku memutuskan untuk tidak menginjak kampung halaman sampai benar-benar sukses. Romadhon bertemu romadhon. Kadang kala air mata menetes dan berkaca “Aku takut salah melangkah dan menyesali semua Keputusan yang telah ku ambil” sambil membatin dengan penuh emosional. 

Aku memutuskan untuk pergi ke Lombok Bersama temanku untuk merasakan hawa di sana. Aku menginap di rumahnya. Perjalananku ke Lombok tidak mudah. Bermula dari nekad pergi dengan memberhentikan truk untuk menumpang ke Pelabuhan Ketapang. Kami berharap bisa menyebrang ke Lombok tanpa harus menghabiskan banyak biaya. Sesaat sampai di Pelabuhan kami menunggu kapal yang tak kunjung juga bersandar pada bibir dermaga. Hingga pukul 09.00 pagi setelah kami penat begadang, menunggu ketidakpastian kapal yang akan kami tumpangi. 

Di saat-saat aku menelusuri pulau yang baru sekali aku injak, aku sambil berpikir keras mengenai kuliahku yang tak kunjung mendapatkan kepastiaan. Pada satu ketika, aku merasa membutuhkan psikolog untuk melakukan konseling. Dari saat itulah aku sudah memutuskan untuk memilih ilmu yang selama ini menjadi bagian diriku yang tak terpisahkan yaitu psikologi. 

Aku menyadari di setiap episode kehidupan, aku berperan sebagai psikolog kecil-kecilan yang senang untuk menjadi tempat bercerita bagi seseorang, Salah satunya Ebol. Aku bisa memahami bagaimana keadaan jiwa Ebol yang sedang bergejolak di dalam dirinya. Aku ingin memahami mengapa manusia dapat berperilaku? Apa aspek yang membentuk tingkah laku serta keadaan jiwa manusia? inilah permulaan yang besar bagiku. Ebol seakan tokoh tambahan yang diutus tuhan untuk menunjukan diriku kemana aku harus berproses. 

Keputusanku bulat untuk memperdalam ilmu psikologi. Tapi sekarang, Aku harus berkuliah dimana? Itu urusan nanti setelah aku Kembali ke pulau jawa. 

Usai sudah pulau Lombok ku jelajahi. 

  1. Inilah permulaan

17 Mei 2024, kapal kirana berlayar menuju dermaga Surabaya yang dikenal dengan tanjung perak. Aku Bersama temanku yang lain berpisah di depan jalanan yang saat itu masih gelap, belum disinari matahari pagi. Tepat pada 18 Mei 2023 pukul 2.30 pagi kami sudah tidak menyapa karena jalan kami yang berbeda. Aku berharap kami bisa bertemu Kembali di lain waktu.  

Aku menyusuri jalanan gelap tanjung perak yang suram. Jarang ada terlihat orang yang berlalu Lalang di situ. Hanya ada lampu kuning jalanan yang menerangi Langkahku untuk mencari tempat peristirahatan sementara. Setelah berjalan Panjang, akhirnya aku menemukan masjid sembari menunggu adzan subuh dikumandangkan. Awalnya aku berpikir akan tidur sebentar di masjid setelah menunaikan sholat subuh, akan tetapi justru aku di tegur satpam yang Tengah berjaga di masjid itu. 

Sialan! Aku harus melanjutkan berjalan kaki lagi. Matahari sudah mulai Terik menyinari tubuhku yang masih belum menemukan tempat untuk bersinggah sementara. Akhirnya aku teringat untuk menelpon satun-satunya kenalanku yang tinggal di Surabaya. Tak lama ia langsung datang setelah aku memberikan kepadanya Lokasi ku saat itu. 

“Halo kenapa kamu gak bilang kalau sudah di Surabaya?!”

“Saya lupa ada anda di sini hehe…” 

“Ya sudah ayo naik ke motor” 

Rasa Syukur mulai membanjiri hatiku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ketika tiada siapa lagi yang bisa membantuku. Terima kasih tuhan!

Sesampainya di rumah kenalanku, sebut saja Habibi. Aku bercerita mengenai perjuangan ku ketika menuju Surabaya. Koper dan tas yang ku bawa saja seperti memperlihatkanku seperti orang yang tidak memiliki rumah untuk tinggal. Di rumah Habibi aku disuguhi oleh beragama jenis makanan yang lezat. Ia selalu menyuruhku untuk tambah makan. 

Sampai tiba jam 16.00 aku diantar oleh Habibi menuju ke sebuah terminal bis untuk berangkat Kembali menuju Malang. Syukurlah masih ada orang baik yang membantuku saat itu. Saat perjalanan menuju Malang, aku tidak bisa lepas dari gadgetku untuk mencari kos sebagai hunian pertama ku di Malang. Sendiri. 

Malam pun tiba. Akhirnya aku menginjakan kakiku untuk pertama kalinya ke Malang. Aku langsung memesan ojek online dan mengantarkanku menuju kos pertamaku di Blimbing. Setelah sampai di kos, aku langsung melepas penat dan langsung beristirahat karena besok masih ada hal yang harus kupikirkan dengan matang, yaitu kampusku. 

Keesokan harinya aku mulai satu per satu riset mengenai kampus mana yang akan menjadi pilihanku. Mungkin Universitas Brawijaya, oh tidak! Mungkin UIN Malang, Ternyata tidak bisa juga! Sampai aku pernah hendak putus asa, mengapa aku terlambat untuk daftar di kampus yang katanya favorit?! Ya sudahlah aku harus bisa move on dengan yang sebenarnya bukan menjadi Impian utamaku. 

Tidak sengaja aku membuka Instagram dan terlintas hati ini untuk melihat-lihat kampus swasta yang ada di Malang. Tidak disangka UMM lewat di berandaku dan menayangkan pembukaan pendaftaran mahasiswa baru. Tanpa pikir Panjang aku pun mengikuti beberapa rangkaian pendaftaran dan tes masuk. Sekali lagi takdir tuhan sangatlah indah, akupun diterima di UMM sebagai mahasiswa baru di kampus swasta terbaik di Jawa Timur. Mimpi apa aku semalam? Aku awalnya putus asa kemudian berubah menjadi asa sepanjang masa. Ini adalah anugerah yang luar biasa dari tuhan yang maha esa. Ia maha tau dengan segala perjuangan yang telah aku lewatkan selama ini. 

  1. The War is Not over!

Aku mengira setelah aku diterima, jalanku akan mulus-mulus saja. Ternyata tidak semudah itu!

Aku harus membayar sejumlah uang 10 juta rupiah untuk tahap pembayaran registrasi. Dari mana aku ada uang sebanyak itu. Mau tidak mau, aku harus mengatakannya kepada orang tuaku, walaupun responnya kurang baik. Uang itu tetap dibayarkan, tapi dalam proses penyicilan. Rasa tidak enak sebagai remaja yang masih meminta uang kepada orang tuanya pun mulai bermunculan di dalam hatiku. Masih lama perkuliahan, sebaiknya aku bekerja terlebih dahulu. 

Aku mengirimkan CV dan surat lamaran ke beragam lowongan kerja. Semuanya ditolak, karena pengalaman yang tidak relevan lah sampai dighosting oleh rekruter. Kecewa itu pasti, tapi aku tidak mau berlarut dalam emosi negative yang menjadikan aku stagnan pada satu titik. Penolakan itu menjadi cambuk yang memotivasiku untuk terus berkembang dan maju. Akhirnya Tidak ada satu lowongan pun yang menerimaku sebagai pekerjanya. 

Setelah kepastian terbit, aku mulai pindah kos semakin dekat dengan kampusku. Empat kali aku pindah kos sampai menunggu kepastian dimana aku akan berkuliah. Inilah tempat terkahirku sebagai rumah yang benar-benar aku anggap rumah. Aku membulatkan tekad untuk tidak pulang ke kampung halaman sampai mengenakan pakaian wisuda ke depan rumah. 

Selama itu juga aku mulai sedikit demi sedikit belajar apa yang perlu dipersiapkan sebelum perkuliahan di mulai. Aku sudah mulai mencuri start dan memulai lebih awal dari yang lain. Aku belajar secara otodidak mengenai teori-teori apa saja yang diperlukan di psikologi. 

Aku yakin The War is not over. Jangan puas dulu dengan yang ada!

  1. Kita perintis Bukan pewaris

Tekad yang ku bentuk selama perkuliahan adalah tekad sebagai perintis yang akan menjadi tokoh utama di masa depan. Aku yakin di setiap usaha serta perjuanganku akan menjadi cerita indah yang bisa didengar oleh orang-orang setelahku. Menjadi inspirasi bagi anak muda untuk mengejar cita-citanya dengan segala keunikan tantangan yang ada di hadapan kita. 

Bermodalkan tekad dan nekad aku mampu menjadi diriku sendiri dan bersinar diantara kilauan Bintang yang bertabur di angkasa. Aku siap untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar untuk masa depan yang lebih gemilang. Sampai di titik ini banyak yang bisa ku ceritakan kepada orang setelahku untuk terus bersemangat mengejar mimpi dan jangan pernah menguburnya sampai kau mendapatkan yang lebih darinya. 

Kini aku sudah menjadi Bintang kampus, siap untuk membangun indonesia menuju Indonesia Emas 2045. 



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.