“Beasiswa tidak semata hanya dapat diraih oleh orang-orang pintar saja, tetapi juga bagi mereka yang bersungguh-sungguh mengusahakannya”. Begitulah sepenggal kalimat yang senantiasa menjadi motivasi diri ini dalam bersungguh-sungguh mengajukan pelbagai jenis beasiswa yang ada.
Tumbuh dan dibesarkan di dalam keluarga yang berekonomikan pas-pasan penerima program kartu PKH (Program Keluarga Harapan) dan Bansos BLT (Bantuan Langsung Tunai), sekaligus menjadi anak pertama dari 5 bersaudara menuntut diri ini untuk lebih mandiri atas segala ambisi dan cita-cita. Pasca lulus dari pendidikan pesantren, aku sudah bertekad untuk tidak menengadahkan tangan meminta pesangon dari Bapak dan Ibu lagi. Bapak yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan ibu yang hanya lulusan SD membuka warung es di teras rumah menjadikanku semakin tidak tega rasanya jika harus meminta uang jajan atau meminta kuliah. Keempat adikku lebih berhak rasanya untuk lebih dicukupi biaya pendidikannya kedepan. Karena bagi bapakku sendiri pendidikan pesantren sudah lebih dari cukup sebagai standar pendidikan anaknya.
Jiwaku yang gemar berdiskusi, berdebat, beretorika, dan menyukai dunia akademisi teriris pilu jikamana aku sampai tidak dapat berkuliah. Maka gapyear setahun sebelum bertekad memasuki bangku perkuliahan, benar-benar sudah kusiapkan biaya mandiri untuk masuk kuliah. Hingga dapatlah aku rezeki bekerja di daerah Mojosongo Boyolali. Menjadi penjaga sekolah dasar, mengajar les privat, dan mengajar TPA adalah jalan ninjaku guna mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Jika kalian tahu, jarak dari sekolah yang aku jaga dengan rumah di Solo adalah sejauh 30km dan pada masa itu aku tak punya motor untuk kesana kemari. Namun bersyukurnya pihak sekolah membelikanku motor inventaris untuk dapat kupakai sementara. Hingga setelah jeda setahun berlalu bekerja, akhirnya pada tahun 2019 aku dapat lolos diterima menjadi mahasiswa FAI, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Alhamdulillah setahun perkuliahan berjalan lancar. Memadukan waktu pagi-siang untuk kuliah, sore-malam untuk bekerja mengajar dan menjaga sekolah. Menempuh jarak total 40km untuk bolak-balik kuliah dengan semangat kujalani. Capek, letih, pegal, semacam gali lubang tutup lubang untuk efektifitas waktu. Tapi apalah arti semua rasa capek itu jika yang dipertaruhkan adalah biaya kuliahku. Hingga waktu tak terduga itu tiba. Ya, 2020 adalah momok bagi kita semua. Pandemi, lockdown, PHK adalah konsumsi kita di masa itu. Aku pribadi? ya, PHK dilayangkan oleh sekolahan dan berat hati kuterima, komplek tempat mengajar les private dan mengajiku juga terkena lockdown. Buram sudah pandangan, tangis dan rasa sesak memenuhi relung pikiranku. Perkuliahan baru berjalan 2 semester, dan motor inventaris juga harus kukembalikan. Darimana penghasilan kudapat lagi? Bagaimana kendaraanku pula?.
Namun hal yang paling berat dari semua itu adalah ketika harus menyampaikannya kepada kedua orang tuaku. Ekspresi tertegun nampak sudah kulihat dari pancaran bola mata mereka. Namun kukatakan bahwa aku baik-baik saja dan masih memiliki sedikit tabungan. Setidaknya pereda agar Bapak dan Ibu tidak ikut berlarut dalam sedihku karena tidak bisa membantu finansialku. Maka di fase awal masa Covid-19 itu resmi sudah statusku menjadi seorang pengangguran. Menganggur selama hampir setengah tahun kujalani dengan amat sangat berhemat. Tidak ada kata jajan, nongkrong, atau apapun lagi. Setiap hari scrolling-scrolling mencari info loker di sekitar kampus di masa lockdown laiknya mencari paku di tumpukan Jerami. Menganggur, hingga kusadari bahwa ada opsional beasiswa yang mungkin dapat kucoba ajukan guna membantu carut marut perekonomianku ini. Maka segeralah kucari info- info perbeasiswaan.
Hingga akhir semester 3, usahaku mencari-cari pekerjaan masih berujung nihil. Begitu pula ketika menemukan opening ada beasiswa UKT dari kampus dengan pembiayaan 1 semester kucoba apply dan gagal. Selang beberapa bulan ada pula beasiswa IKA UMS (Ikatan Alumni) dengan pembiayaan selama 2 semester pun kucoba apply dan gagal juga. Ada pula opening beasiswa LazizMu senilai 500.000,- juga gagal kudapatkan. Nampaknya memang belum rezeki dan keberhakkanku untuk menikmati fasilitas beasiswa-beasiswa diatas. Akhir semester ke 3 alhamdulillah aku mendapat pekerjaan sebagai marbot masjid di dekat kampus. Jarak yang hanya ratusan meter saja dengan kampus tidak mengharuskanku menggunakan kendaraan bermotor karena tidak mempunyai. Gajiku yang hanya ratusan ribu kucukup-cukupkan untuk simpanan biaya kuliah dan makan.
Semester 4 berjalan dan dapatlah informasi pembukaan Beasiswa Cendekia Baznas Batch 3. Pembiayaannya yang cukup fantastis mencakup 4 semester, yang artinya jika sampai kudapat bisa free spp hingga lulus di semester 8 bahkan masih sisa untuk tabungan. Namun hal lucunya mungkin akan kembali terjadi lagi. Bahwa aku sudah 2 kali meminta Surat Keterangan Tidak Mampu ke kantor pak lurah. Jika harus kembali lagi hampir malu rasanya meminta untuk sebuah SKTM lagi. Lalu kuberanikan untuk meminta surat tersebut dan melengkapi semua berkas pengajuan BCB tersebut dengan mental yang sudah terbiasa tertolak pengajuan.
Berselang 2 minggu pasca seleksi administrasi dan wawancara, tibalah waktu untuk pengumuman. Waktu pengumuman itu malam hari, kuniatkan untuk shalat tahajud diawal waktu dulu sembari supaya hati lebih tenang pasca wudzu agar supaya mengetahui apapun hasilnya sudah siap. Sembari pelan-pelan mencari nama diri ini dari ratusan awardee di seluruh Indonesia, sembari beristigfar, dan…. kutemukanlah nama Khoirul Arsyad Abdullah. Gembira bukan main, syukur beribu-ribu syukur, alhamdulillah dapat lolos Beasiswa Cendekia Baznas Batch 3. 4 semester akhir kujalani dengan makin semangat bekerja, belajar, dan tambahan menjadi mentor & tutor untuk kegiatan kampus. Menjadi tutor Bahasa inggris untuk adik tingkat program dari kampus dan mentor program kampus mentoring bagi adik-adik tingkat. Menjadi tutor dan mentor dengan benefit sertifikat dan yang utama adalah fee hehe.
Fasilitas beasiswa yang aku dapat mungkin adalah jawaban dari segenap rentetan ujian atas jatuh tertimpa tanggaku. Getir, parau, lunglai, pahit, memang. Namun rasa pahit dahulu seketika terlupa menjadi manis atas memori perjuangan kala itu sebab berita diterimanya beasiswaku. Hingga tepatlah aku lulus wisuda di semester 8, meski pada semester 7 sudah kuselesaikan karya tulis skripsi. Namun demi uang beasiswa tersebut bisalah kunormalisir ambisku lulus 3,5 tahun ini hehe. Berkat BCB setidaknya aku bisa concern menabung lebih daripada biasanya. Jika dahulu setiap gaji kuhabiskan dengan menutup kebutuhan makan dan kuliah, namun sekarang tabungan itu semakin bertambah lebih berkali-kali lipat karena fasilitas BCB. Tidak tanpa tujuan bahwa hasil tabungan tersebut sebagiannya dapat kubelikan motor bekas dan sisanya untuk persiapan biaya kuliah pascasarjana. Yang alhamdulillahnya dapat aku realisasikan dan masuk di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta saat ini, alhamdulillah wa syukurillah.
Kisah perjalananku mungkin tak semenakjubkan yang menakjubkan. Seperti lolos LPDP, beasiswa Unggulan, kuliah di luar negeri, atau masuk di PTN favorit. Bagiku, dapat kuliah diantara kampus swasta terbaik hingga lulus, memperoleh beasiswa nasional, dan dapat melanjutkan studi pascasarjana di antara universitas islam terbaik di Indonesia bagi si anak buruh bangunan dan Ibu rumah tangga lulusan SD ini lebih dari cukup untuk aku syukuri. Semua itu adalah hal asing yang orang tuaku tidak ekspektasikan. Dan semua itu kuperjuangkan di bawah satu tujuan besar, yaitu demi melihat sungging senyum bangga merekah di keriput pipi Bapak dan Ibu.
Bagiku setiap informasi beasiswa yang muncul adalah sebuah tantangan untuk kita ajukan. Terlebih bagi kita-kita yang tak banyak sponsor dari orang tua melainkan hanya doa tulus yang dapat mereka panjatkan. Pembukaan beasiswa bak oase di gurun tak berujungmu, bak rasi bintang dalam gelapnya pelayaranmu, dan bak sunrise dalam gigilnya pendakianmu. Ia adalah fasilitas untuk orang-orang yang membutuhkan dan mau berjuang. Semangat!

