Nama : Sofia Aqila
Tempat / Tanggal Lahir : Jakarta, 19 Januari 2006
Mataku berkedip-kedip cepat. Beberapa buliran air secara tiba-tiba menempa wajahku. Aku menikmatinya. Tubuhku tetap duduk bersandar santai di sebuah kursi. Air hujan ini tidak membuatku beranjak menghindarinya. Aku menarik nafasku dalam. Petrichor. Bau hujan bercampur tanah. Air hujan turun di atas tanah yang kering. Kesukaanku yang pertama.
Sunyi sepi di sekitarku. Aku duduk sendirian di depan ruang aula sekolah. Menunggu hujan membasahi tubuhku dan isi kepalaku yang sedikit panas. Aku tidak keberatan sama sekali pakaianku basah kuyup setelah ini. Aku hanya membiarkan hujan jatuh begitu saja. Karena sejujurnya aku ingin menangis. Dan hujan bisa membantu menutupi wajahku. Kesukaanku yang kedua.
Hari ini, aku memiliki jadwal konsultasi mengenai jenjang karierku selanjutnya. Jenjang setelah lulus SMA. Ibu Sarah adalah konsultanku. Guru Bimbingan Konseling. Aku selalu menghormatinya dan mengikuti apapun perintahnya selama ini. Tanpa pikir dua kali, aku yakin bimbingannya mengarah kepada sesuatu yang baik. Tutur katanya mencerminkan bahwa beliau adalah tipikal “guru” yang sesungguhnya. Ekspresi wajahnya menggambarkan semangat yang gigih dan keinginan yang kuat. Menular kepada siswanya, termasuk aku.
Ibu Sarah menyarankanku beberapa strategi memilih perguruan tinggi dan program studi yang ia dapat setelah meriset dan meninjau banyak hal. Nilai-nilaiku, tingkat keketatan pilihanku, hingga pintu peluang kerja mana yang cocok denganku beliau bandingkan semuanya. Aku mendengarkannya saksama. Sibuk manggut-manggut mengiyakan perkataannya. Aku menyetujui banyak hal yang kudengar saat itu. Tapi aku berhenti mengangguk ketika aku menyadari bahwa aku melupakan satu hal penting dari semua poin-poinnya.
Aku menyeka wajahku yang basah oleh air hujan itu meskipun aku tahu wajahku akan tetap basah. Berusaha tidak membuat diriku sendiri terlalu muram dan galau. Aku harus cepat-cepat membuat keputusan. Tidak boleh terlalu berdiam diri dan bersedih hati. Keputusan yang mungkin akan memengaruhi sebagian hidupku selanjutnya.
Aku dinyatakan tidak lolos pada perguruan tinggi dan program studi yang kupilih di Seleksi Nasional Berbasis Prestasi atau SNBP kemarin. Entah nilaiku yang tidak mencukupi, strategiku yang kurang memadai, pilihanku yang terlalu melampaui, atau bahkan mungkin ketiganya. Aku harus mengikuti Seleksi Nasional Berbasis Tes atau SNBT kalau aku ingin berkuliah. Itu rencanaku saat ini.
Tapi bagi beberapa orang di beberapa tempat, ekonomi keluarga yang dimiliki tidak sepenuhnya mendukung. Sayangnya aku termasuk ke dalam beberapa orang itu. Untuk mengikuti SNBT, belajar di sekolah saja tidak cukup. Aku melihat teman-teman di sekitarku mengikuti bimbingan belajar dan latihan privat yang memerlukan uang yang tak sedikit. Aku mengamati mereka berusaha keras sama sepertiku, namun mereka tidak perlu mengkhawatirkan hal lain selain belajar.
Buliran air jatuh. Tidak hanya dari langit dan awan yang gelap. Tapi juga dari mataku yang mulai memerah. Aku sedih melihat kondisiku yang tidak didukung namun dibebani harapan yang tinggi. Aku tidak bisa membayangkan apabila nantinya aku tidak melanjutkan pendidikan tinggi ini. Aku tidak ingin berhenti belajar di saat tanganku hanya ingin menulis pengetahuan baru di bangku sekolah.
Pengetahuan baru tersebut ingin aku kuasai dengan pengalamanku sendiri. Arti pengorbanan dan perjuangan itu ingin aku dengar sendiri. Jalan-jalan yang naik-turun dan berbelok-belok itu ingin aku jalani sendiri. Hantaman deburan ombak ilmu itu ingin aku rasakan sendiri. Keindahan kesuksesan di kemudian waktu itu ingin aku ceritakan sendiri.
Aku memandangi titik-titik air hujan itu lamat. Gendang telingaku dibuat kagum oleh bunyi hujan yang menenangkan. Mulutku dibungkamnya dan hidungku sibuk mencerna bau hujan yang selalu kusukai itu. Percakapan yang kubuat di dalam otakku sendiri terhenti. Hujan tak ingin aku sibuk berkelahi batin dengan diriku sendiri. Ia mau aku sibuk memandanginya.
Namun, tak lama hujan berhenti. Ia menyudahi pertemuannya denganku. Saat itu, hujan tidak ingin berlama-lama bersamaku. Maka aku pun tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Aku langsung berlari menginjaki genangan air. Rasanya ingin segera berada di rumah. Karena saat itu, saat hujan sudah tidak turun lagi, aku mengikrarkan janji kepada diriku sendiri, aku ingin jadi manusia pintar.
_____
Malam ini, aku mencari berbagai hal yang bisa membantuku belajar melalui ponselku. Aku ingin belajar meskipun hanya melalui ponselku ini. Barang yang mungkin paling bernilai tinggi yang kumiliki. Aku mengetik dengan cepat di kolom pencarian. Aku membaca dan mencatat hal-hal penting yang kudapat.
Aku mencatat saluran-saluran youtube yang mengajarkan materi-materi, laman-laman website latihan uji coba, aplikasi-aplikasi belajar online, hingga bocoran dan prediksi soal-soal yang mungkin keluar. Aku mencari semua itu dengan satu kata spesial, “gratis”. Kuputuskan akan menghabiskan waktu untuk belajar dari semua yang ku dapat secara gratis tadi. Aku menghindari beberapa pilihan yang perlu melakukan pembayaran. Meskipun tentu saja bila dilihat kualitasnya berbeda, namun aku merasa apa yang aku lakukan tadi lebih baik dibanding hanya berdiam diri memangku nasib.
Simpanan uangku yang sedikit kugunakan untuk membeli kertas dan kuota internet sebagai salah satu tiang penopangku. Investasi leher ke atasku kali ini rela kulakukan dibarengi belajarku yang jadwalnya semakin padat setiap harinya. Waktuku semakin sedikit. Rasa malas yang menyerangku mati-matian aku menyerangnya kembali. Tidak bisa hal seremeh-temeh malas dan mengantuk kubiarkan menggagalkan rencanaku. Aku terus berusaha tergopoh-gopoh berlari mengejar materi yang belum kumengerti.
Aku menonton banyak video penjelasan materi dari berbagai saluran dan berbagai aplikasi. Aku juga mencatat banyak hal penting dari penjelasan video tadi, materi di laman artikel, maupun dari catatan orang lain di media sosial. Aku mencoba mengerjakan uji coba tes di ponselku. Puluhan uji coba ku kerjakan setiap hari untuk melatih kemampuanku. Setelah hasil uji coba keluar, aku menganalisis pertanyaan dan jawaban yang kupilih dan kucatat kembali jawaban yang salah. Setiap hari aku sibuk menyerap berbagai ilmu dan wawasan. Kesukaanku yang ketiga.
_____
Setelah menantang impian setiap hari, aku akhirnya bisa menghela nafas lega setelah pelaksanaan tes sungguhan telah selesai kukerjakan. Tak hanya telah belajar siang malam, aku juga telah berusaha menjaga kesehatanku agar tidak mengacaukan segala perjuanganku pada hari tes pelaksanaan. Doa dari keluarga, segala sanak saudara, kerabat, tetangga, teman, satu angkatan di sekolah, orang yang pertama kali bertemu langsung akrab, hingga kucing pun ku pinta doanya supaya menyertaiku dan mengantarkanku pada hasil yang ku impikan.
“Jangan buat rencana hanya satu. Buat 1000 rencana. Kalau rencana utamamu tercapai, kamu hanya tinggal perlu bahagia. Kalau tidak sesuai rencana utamamu, kamu bisa langsung pindah ke rencana cadangan berikutnya,” saran Ibu Sarah panjang lebar. Dan aku menurutinya. 100% benar. Oleh karenanya, sambil menunggu hasil keluar, aku juga tetap belajar sebagai rencana cadangan.
Apa yang harus kuperjuangkan tak berhenti sampai pada pengumuman kelulusan seleksi perguruan tinggi ini. Yang tak bisa membuatku terbaring santai ialah kehidupan di perkuliahan, pembelajaran sebagai mahasiswa, kebutuhan pembiayaan, dan banyak lainnya yang mungkin belum ku miliki saat ini. Waktu luang setelah tes seleksi kuhabiskan dengan berpikir lebih berat dibanding saat belajar penuh kemarin. Pikiranku bergelut di sekitar kegelapan ekonomi yang kumiliki. Aku tidak punya cadangan keuangan ataupun dukungan penuh dan jaminan. Sepertinya aku harus menunggu hujan datang memberiku sedikit pencahayaan.
Namun kali ini, sebelum hujan menemuiku, aku lebih dahulu menemui pencahayaan itu. Seperti halnya mencari informasi belajar gratis di ponsel, aku juga merasa bisa mencari informasi beasiswa yang sesuai denganku. Aku kembali melakukan hal yang sama yang menurutku membantu posisiku yang serba pas. Aku membaca banyak informasi dan mencatat beberapa program beasiswa yang ingin ku raih.
Aku mendaftar berbagai instansi yang mendukung. Aku merasa aku bisa asalkan pikiranku hanya penuh dengan tekad. Waktu luang setelah tes seleksi tak hanya kuhabiskan untuk berpikir, namun juga untuk berlatih wawancara beasiswa. Karena mendaftar saja tidak cukup. Aku memahami lebih dalam setiap beasiswa yang ku daftar dan bersiap-siap apabila hasil seleksi kemarin berada di pihak keberuntungan.
Dan tibalah hari pengumuman. Hari yang kutunggu sekaligus tidak kutunggu. Aku terlalu gugup sepanjang hari. Doa-doa yang kupanjatkan sejak pagi menemani kegelisahanku tanpa henti. Aku benar-benar kelelahan menahan gentar dan khawatir. Aku ingin cepat-cepat mengetahui hasilnya, tapi bahkan aku tidak sanggup memegang ponselku. Keberanian dan keikhlasan yang kukumpulkan selama ini seperti hilang ditelan hujan.
Aku membuka hasil nilainya seorang diri. Tidak keberatan sama sekali. Aku hanya menginginkan hasil baik saat ini. Sulit sekali mengarahkan jariku memencet ponsel. Gemetar tak karuan. Aku tidak bisa seperti itu sepanjang waktu. Aku meyakinkan diri sendiri. Mengatasi keraguan tersebut untuk mengikhlaskan apapun hasilnya dengan hati seluas samudera.
Setelahnya aku menekan layar dengan sedikit lebih percaya diri. Layar ponselnya menayangkan hasil tersebut. Aku membacanya teliti. Tak ingin ada satu kata pun yang terlewat. Warna layar dan tulisan penuh terabaikan. Fokusku hanya tulisan yang menyatakan bahwa:
Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SNBT SNPMB 2024 di
PTN:
333 – UNIVERSITAS PADJADJARAN
Program Studi:
333057 – EKONOMI ISLAM
_____
Kakiku berjalan perlahan memasuki gedung utama. Megah dan mengagumkan. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Melebihi imajinasiku. Mulutku rasanya ingin menganga tercengang mengamati setiap benda dari sudut ke sudut yang ada di dalam gedung tersebut. Isi kepalaku sibuk memikirkan mengapa benda-benda tersebut membuatku kagum terdiam. Di saat itu, batinku bergumam bersyukur dan berterima kasih tak henti-hentinya.
Pagi ini aku mengunjungi Kampus Universitas Padjadjaran. Meskipun ini kali pertama aku datang, berderet jadwal dan daftar hal yang harus kulakukan di sini. Mulai dari mengaktivasi kartu rekening, mengambil jas almamater idaman banyak orang, mengikuti seminar di ruangan yang begitu luas, mendatangi pameran ramai, hingga bergabung pada pertemuan yang diadakan satu jurusan. Tak lupa berfoto ria dengan berbagai kawan yang baru saja berkenalan saat itu juga sembari mengenakan jas almamater yang masih memiliki aroma pakaian baru. Kesukaanku yang keempat.
Yang tidak boleh kelewat ialah mengelilingi kampus ini dan mengamati tempatnya secara detail. Semakin detail semakin mengagumkan. Dari luar kawasan, sudah terlihat bangunan dengan banyak ruangan yang begitu agung. Di sekitarnya, penuh tanaman cantik yang memang melengkapi keindahannya. Memasuki kawasannya, lorong-lorong penuh ilmu tersebut seolah bersinar terang-benderang di pandanganku. Benda yang memiliki makna sejarah dari kampus ini memiliki nilai tinggi tak terbayangkan.
Memasuki lebih dalam kampus ini, banyak sekali ruangan yang memiliki fungsi ruangan berbeda-beda. Terdapat banyak pula ruangan yang sepertinya akan digunakan untuk kelas belajar. Di dalam kelas-kelas itu berjajar puluhan kursi dengan meja, layar yang seperti papan tulis, dan fasilitas lain yang benar-benar mendukung muridnya untuk belajar. Kampus ini juga memiliki lapangan, perpustakaan, kantin, laboratorium, perlengkapan kampus, tempat bazar dan pertunjukan seni, tempat berbagai kegiatan internal yang bermutu, hingga sarana lain yang aku yakin penggunanya bisa membukit.
Tak lepas dari kampus, aku melihat beberapa mahasiswa melangsir. Mahasiswa di sana mempunyai berbagai macam seragam, seperti jas almamater, jas fakultas, jas jurusan, seragam olahraga, terlebih jurusan kesehatan yang memiliki jas laboratorium dan jas ruangan khusus lainnya. Mereka juga membawa kartu perpustakaan dan bertumpuk-tumpuk buku acuan. Sangat terlihat gagah saat kulihat mereka melintasi ruangan dari lorong ke lorong. Sejak aku menapakkan kakiku di kawasan kampus ini, aku benar-benar hanya sibuk terpesona keelokan kampus dan seisinya. Sampai di rumah pun, aku masih membatin bahagia di dalam hati dan selalu tak sabar akan esok hari.
_____
Setiap orang mempunyai hal yang harus diperjuangkannya masing-masing. Dan setiap orang pula mempunyai caranya sendiri untuk memperjuangkan hal tersebut. Tak bisa disamakan. Hal penting untuk mengetahuinya ialah menilai diri dan kemampuan yang dimiliki, pandangan dan pemikiran diri, serta apa yang diimpikan oleh orang itu sendiri. Tak perlu membandingkan. Kadang kala pemikiran tersebut memang mengantarkan kita kepada satu hal buntu yang tak ada ujungnya. Sehingga merasa dunia berhenti detik ini juga.
Namun, ketika kita membuka mata dan menantang angin, tak memejamkan mata ketika angin terasa badai, maka serahkanlah usaha kepada hasil. Kebaikan dan perjuangan sekecil apapun tak akan pernah sia-sia meskipun kau tak akan pernah tahu. Jangan lupa jadikan keluarga dan teman terdekat sebagai tiang penopangmu yang tak pernah berhenti berdoa untukmu.
Hari ini hujan turun dan aku setiap hari masih memandanginya. Bagiku hujan adalah hadiah dari langit. Oleh karenanya, hujan selalu ku sambut dengan sukacita seolah memeluknya. Daya tarik hujan luar biasa, dibarengi emosi yang terkadang tak diduga muncul, keadaan yang sepi sunyi, tanah yang penuh genangan air, dan bau hujan yang menyejukkan rongga dada. Kesukaanku adalah tentang ia dan maknanya, hujan.

