Oleh Anela Khasna Salsabila
Dalam kehidupan tentunya manusia tak akan terlepas dari cobaan. Selagi kita menghirup udara di muka bumi ini maka cobaan akan terus menimpa kita. Namun dibalik cobaan tersebut yang akan menjadikan diri kita sendiri sosok yang lebih kuat dalam menjadi kehidupan ini seperti kisah yang dialami oleh gadis cantik ini yang bernama Amara Salsabila. Amara merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Ia memiliki satu orang adik laki-laki. Keluarga Amara merupakan keluarga yang sederhana orang tua Amara bukanlah seorang pegawai negeri ataupun pejabat yang memiliki penghasilan tinggi. Ayah Amara bekerja sebagi buruh, ia bekerja sebagai pelayan di sebuah toko yang menjual alat-alat kendaraan bermotor sedangkan ibu Amara merupakan ibu rumah tangga. Sekarang Amara sedang menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri ia sudah menginjak kelas 12. Seperti anak-anak kelas 12 lainnya ia sudah dibuat bingung mengenai langkah apa yang akan ia ambil, yakni antara kuliah atau bekerja. Sejujurnya ia ingin sekali menempuh pendidikan di bangku perkuliahan namun mengingat ia terlahir dari keluarga yang sederhana bahkan terbilang kurang membuatnya ia berpikir lagi. Ia selalu mengingat percakapan yang pernah dilakukan bersama ibunya beberapa hari yang lalu.
“Bu, Amara pengin kuliah deh,” ucap Amara dengan menatap wajah ibunya.
“Ibu juga sebenernya ingin sekali kamu lanjut kuliah tapi melihat kondisi keuangan kita ibu gak bisa apa-apa,” balas sang ibu dengan raut wajah sedih.
Sejak saat itu Amara terus memikirkan perkataan ibunya. Tetapi, jauh di lubuk hatinya ia masih ingin sekali untuk mendapatkan gelar mahasiswa itu. Beberapa hari kemudian ia melupakan sejenak kejadian tersebut namun suatu hari terdapat informasi mengenai daftar nama-nama siswa yang masuk dalam peringkat eligible dan ternyata nama Amara Salsabila tertera dengan jelas di daftar tersebut. Ia tidak menyangka bahwa ia akan menajdi siswa eligible di sekolahnya. Amara memang siswa yang cerdas yang beberapa kali memenangkan lomba olimpiade nasional. Merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan maka dari itu, ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Siswa-siswa yang mendapatkan peringkat eligible merupakan siswa yang dapat mendaftar perguruan tinggi dengan jalur undangan atau SNBP yang melalui niali raport. Tentu saja hal ini merupakan sebuah rezeki karena tidak semua murid mendapatkan kesempatan tersebut. Amara senang dengan hal itu namun seketika ia merasa bingung dan sedih. Amara dihadapkan dengan dua pilihan. Pilihan pertama, yaitu mengambil eligible tersebut yang artinya ia akan melanjutkan pendidikan seperti yang ia inginkan atau pilihan kedua, yaitu mengundurkan diri dari eligible dan setelah lulus ia akan bekerja.
“Bu aku dapet eligible dari sekolah bu!” Ucap Amara dengan wajah yang gembira.
“Alhamdulillah Ya Allah. Ibu bangga sama kamu, ibu doain semoga kamu bisa kuliah ya,” balas sang ibu.
“Aamiin bu, tapi bapak gimana ya bu? Soalnya kan bapak juga udah pernah bilang sama Amara kalo bapak gak bisa nyekolahin Amara lagi,” ucap Amara dengan wajah sedih mengingat sang bapak yang sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia tak sanggup untuk membiayai Amara untuk kuliah.
“Nanti kita ngomong bareng-bareng sama bapak ya. Kamu juga harus doain bapak biar bapak bisa kuliahin kamu.”
“Iya bu aamiin Amara pasti doain itu kok.”
Setelah dinyatakan eligible semangat Amara semakin membara. Ia mencari-cari informasi mengenai beasiswa kuliah. Amara merasa bahwa pendidikan sangatlah penting apalagi di zaman sekarang ini mencari pekerjaan sangatlah sulit maka dari itu, ia ingin mendapatkan gelar masa depan yang ia miliki menjadi lebih baik. Selain itu, saudara-saudara Amara setelah lulus SMA mereka melanjutkan pendidikannya tidak ada yang bekerja setelah lulus SMA padahal saudara-saudara Amara juga meupakan berasal dari keluarga yang tebilang sedehana. Itu yang membaut motivasi Amara untuk berkuliah semakin kuat. Ia merasa bahwa jika mereka bisa berkuliah kenapa ia tidak bisa? Ia juga merasa bahwa banyak diluar sana orang yang terhalang ekonomi namun berhasil mendapatkan gelar sarjana.
Suatu ketika ia mendapatkan informasi mengenai beasiswa KIPK. Beasiswa tersebut diperuntukkan untuk orang yang berkuliah namun terhalang ekonomi. Setelah mengetahui adanya beasiswa tersebut Amara merasa menemukan secercah harapan ia berharap bahwa ia bisa mendapatkan beasiswa tersebut.
“Bu, aku nemu beasiswa nih bu namanya KIPK jadi, ini tuh beasiswa dari pemerintah gitu nanti UKT nya bisa gratis trus dapet bantuan biaya hidup,” ucap Amara memberitahu ibunya mengenai informasi beasiswa yang ia dapatkan.
“Oh iya? Lumayan itu ya kalo dapet bantuan hidup seenggaknya bisa meringankan keuangan kita.”
“Iya bu, tapi ini belum tau dibuka kapan tapi Amara harus nyiapin berkas-berkasnya dulu bu buat pendaftaran beasiswa ini. Nanti ibu bantu Amara ya bu.”
“Iya nanti ibu bantu ya.”
Amara mulai memikirkan jurusan dan universitas apa yang akan ia pilih karena jujur saja semuanya terasa mendadak baginya sehingga ia belum mempersiapkan semuanya. Ia pun mulai meriset-riset berbagai jurusan di internet. Akhirnya pilihannya jatuh kepada Jurusan Ilmu Komunikasi dan untuk universitas ia pilih Universitas Jenderal Soedirman karena di daerah tersebut masih terjangkau murah. Namun sebelum ia mendaftar SNBP ia mendaftar KIPK terlebih dahulu. Pada tanggal 14 Februari pendaftaran KIPK dibuka Amara pun dengan segera mendaftar di web yang sudah tersedia. Sebelumnya ia sudah menyiapkan berkas-berkas pendaftaran KIPK bersama dengan ibunya dengan mendatangi kantor kelurahan untuk meminta beberapa surat yang dibutuhkan. Semenjak beberapa hari itu hubungan Amara dan sang ayah agak merenggang. Mereka tidak bersuara ataupun mengobrol bersama. Sang ayah merupakan tipe orang yang pendiam ia sebenarnya mengetahui bahwa sang anak dan istri mengurus berkas untuk pendaftaran beasiswa dan kuliah namun ia memilih diam saja membiarkan mereka melakukannya. Setelah mendaftar KIPK hari yang dinanti pun tiba, yakni pendaftaran SNBP. Namun Amara hari berganti hari Amara dibuat bingung dan resah ia selalu bepikir “Benarkah jalan yang ia ambil?”
Saat pendaftaran SNBP Amara memilih hari terakhir pendaftaran. Amara hanya bisa pasrah dan berdoa agar apapun itu hasilnya itulah yang terbaik.
“Ya Allah aku serahkan urusanku pada-Mu apapun hasilnya beikanlah yang terbaik,” doa Amara.
Setelah menyelesaikan urusan pendaftaran ia masih tetap mencari-cari informasi mengenai KIPK. Namun sutu hari ia melihat sebuah postingan di Instagram milik @kipkuliah yang isinya memberitahukan bahwa pada tahun 2023 KIPK akan dibagi dua skema, yaitu skema satu dan skema dua. Skema satu akan mendapatkan bantuan pendidikan dan bantuan biaya hidup sedangkan skema dua hanya mendapatkan bantuan pendidikan saja. Sontak saja Amara terkejut ia mulai was-was dengan informasi tersebut. Jujur saja ia merasa geram padahal pada tahun sebelumnya tidak diberlakukan seperti itu tapi mengapa tahun ini bisa seperti itu. Sampailah Amara merasa takut bagaimana jika ia mendapat skema dua apakah orang tua Amara bisa membiayai kehidupan Amara nanti walaupun pada saati itu belum pengumuman SNBP namun ia sudah merasa takut.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan tak terasa hari pengumuman SNBP pun tiba yang bertepatan dengan Bulan Ramadhan dan Amara yang sedang menjalani Asessment Madrasah atau yang biasa disebut Ujian Akhir. Waktu pengumuman, yaitu pada pukul 15.00 WIB namun sebelum membuka pengumuman tersebut ia Salat Asar terlebih dahulu. Setelah salat ia pun membukanya.
“IBU! Amara keterima bu,” ucap Amara gembira setelah melihat tanda biru bahwa ia berhasil lulus SNBP pada pilihan pertama Ilmu Komunikasi Universitas Jemderal Soedirman. Sang ibu yang sedang memasak untuk berbuka puasa pun berlari menghampiri sang anak.
“Alhamdulillah,” balas sang ibu lalu mencium kedua pipi Amara. Jujur saja sang ibu merasa bangga pada Amara walaupun merasa terkendala ekonomi namun jauh di lubuk hatinya ia menginginkan agar Amara dapat berkuliah.
“Nanti kan sebentar lagi bapak pulang kerja nanti kamu yang ngomong ya sama bapak,” ucap sang ibu.
“Ibu aja yang ngomong sama bapak ya Amara takut barangkali bapak marah.”
“Bapak gak marah ko nanti ibu bantu ngomong ya.”
Perasaan senang, bingung, takut bercampur menjadi satu di hati Amara. Senang karena ia berhasil lulus yang secara tidak langsung membuat sang ibu bangga, bingung karena bagaimana jalan kedepannya setelah ini dan takut jika sang bapak akan marah padanya. Suara motor terdengar di depan rumah yang menandakan bapak pulang namun Amara tak langsung memberitahunya ia masih takut untuk sekadar berbicara dengannya.
“Amara,” panggil sang ibu. Amara pun berbegas menghampiri sang ibu.
“Ada apa bu?”
“Itu bapak udah pulang kamu ngomong yang baik-baik ya tadi ibu udah bilang sama bapak tapi bapak gak percaya makanya kamu yang ngomong langsung sama bapak ya.”
“Iya bu.” Amara pun menghampiri sang bapak yang sedang istirahat di kamar.
“Pak, ini pak buktinya. Amara keterima pak di UNSOED,” ucap Amara pelan sambil menyodorkan HP nya yang memperlihatkan hsil lulusnya pada sang bapak. Sang bapak pun menerimanya lalu membacanya.
“Ini beneran? Bukan hoax? Kalo itu penipuan gimana?” Bukan selamat yang ia dapatkan dan bukan raut wajah kebahagiaan pula yang ia dapatkan namun kalimat itulah yang keluar dengan ekspresi datar di wajah bapaknya. Bohong jika ia tak merasa sedih namun ia berusaha kuat dan memaklumi hal tersebut.
Setelah mendapati respon sang bapak yang seperti itu Amara memilih diam tak menjawab lalu pergi dari hadapan sang bapak. Amara pun mengabari keluarganya dan respon mereka pun sangat bahagia. Mereka memang menginginkan agar Amara pun dapat berkuliah. Di sisi lain Amara senang karena masih banyak keluarga yang sayang padanya dan mensupport dirinya. Keesokan harinya ia mendapat banyak ucapan selamat dari teman-temannya. Suatu hari saudara sepupu Amara berkunjung ke rumahnya untuk menanyakan bagaimana kelanjutannya. Amara sangat dekat dengan sepupunya ia biasa memaanggilnya dengan sebutan “Mas Kudil”.
“Gimana om mau diambil apa enggak?” Tanya sang Mas Kudil pada bapak Amara.
“Kan udah dibilangin kalo saya gak bisa ngekuliahin dia eh ko malah daftar kan bingung jadinya. Uang dari mana buat bayar kos-kosan dan makannya?”
“Yaudah kalo gitu gak usah diambil aja. Amara juga gak boleh maksain bapak kan bapak emang gak punya uang. Amara bisa kerja dulu nah nanti tahun depan kalo uangnya udah kekumpul Amara bisa daftar kuliah atau gak ya UT aja tuh yang murah dan kamu juga bisa sambil kerja,” saran Mas Kudil yang memang ia mengetahui permsalahannya.
“Tapi kalo misalnya gak diambil SNBP nya nanti sekolah Amara bakal dibacklist sama UNSOED.”
“Backlist itu apa?” Tanya sang bapak pada Amara.
“Backlist itu nanti adik kelas Amara gak bisa daftar kuliah di UNSOED. Biasanya Kepala Sekolahnya juga nanti marah.”
“Udah itu biar jadi urusan sekolah aja kamu gak usah ikut-ikut.”
“Tapi pak, nanti kalo Amara ditanyain Kepala Sekolahnya gimana?”
“Nanti bapak yang ngomong sama Kepala Sekolahnya.”
Setelah pembicaraan tersebut Amara menangis. Ia ingin sekali melanjutkan pendidikannya. Sang bapak yang melihat Amara menangis dibuat bingung jujur ia pun merasa bangga pada sang anak namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah menyelesaikan Asessment Madrasah hari bebas pun tiba yang artinya mereka sudah tidak diwajibkan untuk datang ke sekolah lagi begitu pun Amara ia menghabiskan waktunya di rumah sambil memikirkan kelanjutannya. Setelah berdiskusi dengan saudar-saudara akhirnya keluarga Amara membuat keputusan bahwa Amara pun lanjut kuliah. Sang bapak berpikir bagaimana caranya agar ia mendapatkan uang untuk membayar kos-kosan dan biaya hidup sang anaknya nanti di kota perantauan. Amara selalu meyakinkan mereka bahwa ia pasti mendapatkan beasiswa KIPK itu. Amara mulai menyiapkan berkas-berkas pendaftaran online. Ia pun sudah harus mulai mencari kos-kosan namun untungnya Amara memiliki saudara yang tinggal di Purwokerto jadi ia bisa meminta bantuan kepadanya untuk dicarikan kos-kosan. Suatu hari Amara mendapat telepon dari bapaknya.
“Amara bapak minta tolong ambilkan BPKB motor Suzuki yang ada di dompet bapak di atas lemari bapak ya nanti kamu antarkan ke toko ya,” perintah bapak Amara yang membuatnya bingung.
“BPKB buat apa pak,” tanya Amara sambil mengerutkan keningnya, bingung.
“Udah kamu bawa aja kesini sekarang ya.”
Tanpa berlama-lama Amara pun segera mengantarkan apa yang dipinta oleh bapaknya lalu pergi menuju toko dengan mengendarai motor maticnya. Ya, keluarga Amara memiliki dua motor. Selama perjalanan perasaan Amara tidak tenang ia terus memikirkan untuk apa BPKB tersebut sampai harus dibawa ke toko?
Sampailah Amara di toko tempat bapaknya bekerja ia melihat empat laki-laki disana.
“Ini pak BPKB nya,” ucap Amara sambil menyerahkan BPKB nya.
“Iya makasih ya nanti kalo jam lima sore kamu jemput bapak ya disini,” balas bapaknya yang membuatnya bertambah bingung bukankah sang bapak menggunakan motor lalu kenapa ia harus menjemputnya?
“Lho ko dijemput pak? Kan bapak pake motor.”
“Motornya bapak jual buat bayar kosan kamu, nah itu orangnya yang beli,” ucap bapaknya sambil menunjuk seorang laki-laki. Terjawab sudah pertanyaan Amara.
Akhirnya Amara pun pulang namun selama di perjalanan rasanya ia ingin menangis melihat orang tua terutama bapaknya yang berkorban menjual motor kesayangannya demi dirinya. Entah ia harus senang atau sedih di posisi ini. Setelah berada di rumah ia pun menceeritakan hal tersebut kepada sang ibu. Beliau hanya diam mendengarkan tak banyak berkomentar. Tepat pukul 17.00 sore Amara menjemput sang bapak untuk pulang kerja.
“Pak, itu yang beli motor orang mana ko bapak gak ngomong-ngomong dulu sama Amara?”
“Yang beli dari kampung sebelah itupun dijual 2 juta aja ya maklum lah motor tua. Sebenernya motor itu banyak sekali kenangannya motor itu bapak beli tahun 2005 bertepatan sama tahun kelahiran kamu. Motor itu bapak jual buat membiayai kosan kamu nanti,” jelas bapaknya membuat Amara menahan tangis. Sekarang hanya motor matic inilah yang mereka punya.
Saudara Amara yang berada di Purwokerto mengabarkan bahwa ia sudah menemukan kosan dengan harga yang paling murah. Amara dan orang tuanya pun menyetujuinya lalu membayar separuh terlebih dahulu. Setelah mendapatkan kos-kosan ia pun mulai menjalani hari-hari dengan kegiatan mahasiswa atau yang biasa disebut persiapan ospek. Amara mendapatkan informasi bahwa mahasiswa baru diharuskan untuk stay di Purwokerto mulai tanggal 25 Juli karena nanti akan ada pertemuan-pertemuan yang akan membahas ospek. Amara berdiskusi dengan orang tua mengenai kapan ia akan berangkat lalu mereka pun memutuskan tanggal 22 Juli. Pada tanggal tersebut Amara dan orang tua serta Mas Kudil dan istrinya ikut mengantar Amara. Selama perjalanan Amara masih tak menyangka bahwa ia akan meninggalkan kota kelahirannya termasuk meningggalkan orang tua. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk ia jalani karena ia baru pertama kali merantau jadi perasaan sedihlah yang ia rasakan.
Tiba di Purwokerto tepatnya di kos-kosan yang akan menjadi rumahnya juga. Amara segera membereskan barang-barangnya yang dibawa untuk dimasukkan ke dalam lemari yang sudah disediakan. Orang tua Amara berbincang dengan pemilik kosan yang bisa dipanggil “Bu Nus” sekaligus menyerahkan uang pembayaran kosan. Orang tua Amara menginap di kamar Amara satu malam sedangkan Mas Kudil, istrinya dan adik Amara menginap di hotel. Esok harinya Amara dan ibu berjalan-jalan sekaligus membeli beberapa peralatan rumah. Pada waktu siang mereka pamit undur diri. Amara berpamitan kepada orang tua dan menahan tangisan karena mulai hari ini ia akan hidup sendiri jauh dari mereka namun ia berusaha kuat agar tidak membuat mereka khawatir.
Hari-hari Amara lalui sebagai anak kos mulai dari mencari makan sendiri, mencuci baju sendiri dan hal lainnya yang belum pernah ia lakukan selama berada di rumahnya sendiri namun kali ini ia harus melakukannya. Ia juga mulai sibuk dengan beberapa tugas ospek dan beberapa juga berkumpul dengan kelompok ospek. Saat berangkat ke kosan ia tidak membawa peralatan makan seperti piring, gelas, sendok yang membuatnya harus meminjam milik ibu kos namun ia memtuskan untuk memberitahu orang tuanya dan mereka mengatakan bahwa hari minggu nanti mereka akan ke Purwokerto mengantarkan peralatan makannya. Namun sebuah insiden pun terjadi. Pada Hari Sabtu Amara menghubungi sang bapak lewat video call ingin menanyakan apakah Hari Minggu besok mereka akan jadi ke Puwokerto atau tidak.
“Pak gimana besok jadi gak kesini?” Tanya Amara melalui sambungan video call.
“Bapak mau bilang sesuatu dulu sama kamu sebelumnya bapak minta maaf karna besok kita gak jadi buat ke kosan kamu soalnya Hari Jumat kemarin ibu jatuh dari motor dan tulangnya retak, nih liat,” ucap sang bapak sambil mengarahkan kemara ke arah ibunya. Terlihat bahwa sang ibu menahan kesakitan lalu tangan kanannya diperban.
“Ya Allah itu ibu kenapa kok bisa jatuh dari motor?” Tanya Amara khawatir sekaligus ia menangis melihat kondisi sang ibu.
“Hari Jumat kemarin ibu nganterin adikmu buat beli buku di kota untuk keperluan kemah nah di jalan tanjakan adikmu gak bisa jaga keseimbangan akhirnya ibu sama adikmu jatuh,” jelas ibunya.
“Ya Allah ibuuu hiks…hiks…trus gimana tangan ibu?” Tangis Amara pun pecah mendengar cerita dari ibunya.
“Udah sempet diurut tapi makin hari malah membiru tangannya jadi mungkin nati mau dibawa ke rumah sakit. Udah kamu gak usah nangis ya ibu baik-baik aja ko. Ibu minta maafa gak jadi kesitu.”
“Hiks…hiks…hiks…gak apa-apa bu nan-ti bi-ar Amara be-li sen-di-ri. Amara pe-ngin pu-lang bu… hiks..hiks.”
“Lho ko pulang kan kamu sebentar lagi ospek. Ibu gak apa-apa udah ya kamu jangan nangis nanti ibu ikutan anngis juga nih.”
“Yaudah Amara kamu istirahat ya insya allah ibu baik-baik aja kan ada bapak sama adikmu disini yang bantu ibu kamu sehat-sehat ya disana,” nasehat sang bapak.
“Iya pak. Pak, Amara mau bilang sesuatu pak,” ucap Amara sambil menghapus air matanya.
“Mau bilang apa?”
“Uang Amara habis pak,” ucap Amara dengan nada pelan namun masih terdengar oleh orang tuanya.
“Yaudah nanti bapak transfer lagi ya. Emm info KIPK nya gimana udah ada pengumumannya belum?”
“Belum ada pak.”
“Oh gitu ya semoga cepet pengumuman ya bapak udah ngos-ngosan banget ngirimin kamu uang belum lagi harus ngebiayain pengobatan ibu.”
“Maaf ya pak. Yaudah Amara tutup telponnya ya bapak sama ibu sehat-sehat disana semoga ibu cepet sehat lagi, aamiin.”
Tepat setelah panggilan berakhir tangis Amara pun pecah seketika ia sedih melihat keadaan ibu yang mengalami kecelakaan dan nasih dirinya kedepannya. Saat bapaknya mengatakan bahwa ia sudah lelah mengiriminya uang Amara merasa bersalah. Ia bingung jika uangnya habis kemana lagi ia Hrus meminta selain bapaknya?
Hari yang ditunggu pun tiba, yaitu ospek. Pagi-pagi sekali Amara bangun dan bersiap-siap untuk menjalani hari pertama ospek. Senang rasanya dan yang pasti bangga ia bisa menjadi bagian dari mereka. Senang bertemu dengan tema-teman baru dan ia sangat menikmati momen-momen tersebut. Ospek Univeristas ditutup dengan penampilan musik yang sangat seru membuat semua mahasiswa dan panitia berebutan agar berdiri di barisan paling depan.
Esoknya merupakan hari libur yang artinya ia dapat beristirahat setelah menjalani hari yang melelahkan. Hari Minggu pagi Mas Kudil menelepon dirinya.
“Lagi apa kamu Mar?”
“Aku abis bangun tidur tadi, kenapa mas tumben banget nelpon aku?”
“Emmm kamu udah tau sesuatu belum?”
“Tau soal apa?” Tanya Amara penasaran seketika membuatnya panik dan langsung teringat dengan sang ibu,
“Soal ibu Mar.”
“Ibu kenapa mas?”
“Ibu kamu abis dioperasi kemarin tapi alhamdulillah ini udah boleh pulang,” sontak saja Amara terkejut.
“APA? Operasi? Kok gak ada yang ngomong sama Amara sih mas? Kok bapak gak ngasih tau Amara ya?”
“Karna bapak gak mau kamu khawatir soal ibu, bapak gak mau ganggu perkuliahan kamu.”
“Ya Allah tapi kan aku hiks.. anaknya, aku berhak tau dong. Trus gimana mas hiks..keadaan ibu?” Tangis Amara tak dapat dibendung lagi. Sungguh ia tak menyangka bahwa kecelakaan yang dialami oleh sang ibu membawanya ke ruang operasi.
“Kamutenang aja ibu udah boleh kok hari ini alhamdulillah juga ibu gratis operasinya karna pake BPJS. Kamu yang tenang ya nanti kalo kamu ada waktu luang kamu bisa pulang ke rumah.”
“Hiks..hiks…iya mas Amara mau pulang pengin liat ibu.”
“Iya kamu tenangis diri kamu dulu ya. Yaudah mas tutup ya telponnya.”
Panggilan pun berakhir. Amara masih sibuk dengan tangisannya yang tak kunjung berhenti. Separah itukah sampai ibunya harus dioperasi? Sakit hatinya mendengar kondisi sang ibu.
Hari-hari pun telah ia lalui Amara pun sudah pulang ke rumahnya dan tangis ia tumpahkan saat melihat sang ibu dengan tangan yang harus diperban seperti itu. Hari-hari pun ia lalui sebagai mahasiswa semester 1 namun informasi yang ia tunggu-tunggu pun tak kunjung keluar apalagi kalau bukan informasi KIPK. Setiap harinya ia berdoa agar ia dapat diterima sebagai penerima beasiswa tersebut. Entah bagaimana nasibnya jika ia menjadi penerima KIPK. Akankah ia mmeilih untuk mundur?
Setelah menjalani hari-harinya Amara merasa bahwa keputusan ia memilih kuliah adalah salah sekarang ia harus ikut memikirkan bagaimana uang untuk makannya, untuk membayar kosannya. Penyesalan ia rasakan andai saja dulu ia menuruti perkataan sang bapak untuk bekerja dulu pasti sekarang ekonomi keluarga mereka sudah membaik namun nasi telah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi. Ia tak bisa mengubah takdir.
Suatu hari teman Amara telah ditetapkan sebagai penerima skema satu beasiswa KIPK. Amara yang mendengarnya pun bergegas untuk mengecek website milik akunnya namun sayang ia belum ditetapkan. Doa terus ia panjatkan agar sama seperti temannya, yakni mendapatkan skema satu. Ia pun terus meminta doa dari orang tuanya agar ia cepat-cepat ditetapkan namun sayang seribu sayang suatu hari ia mengecek lagi websitenya ia ditetapkan sebagai skema dua penerima beasiswa KIPK. Senang dan bingung itulah perasaan Amara ia senang karena setidaknya ia mendapatkan bantuan pendidikan yang artinya ia tidak perlu membayarnya alias gratis namun bingung karena ia tidak mendapatkan bantuan biaya hidup lalu bagimana nanti? Padahal ketika berkuliah uang biaya hiduplah yang sangat dibutuhkan. Amara menangis melihat kenyataan ini segera ia menelepon orang tua untuk memberitahunya.
“Bu, Amara dapetnya skema dua bu hiks…”
“Yaudah gak apa-apa Mar seenggaknya ada bantuan,” jawab bapaknya walaupun sejujurnya ia merasa kecewa karena tidak mendapatkan skema satu dan ia harus memutar otaknya untuk mencari biaya hidup Amara.
“Bapak gimana pak? Kalo bapak gak sanggup yaudah Amara mundur aja kuliahnya gak apa-apa ko pak.”
“Lho kok mundur? Kan kamu yang minta kuliah. Bapak kan selalu ngusahain buat kamu masa kamu nyerah gitu aja sih.”
“Tapi Amara kasian sama bapak padahal gaji bapak cukup buat makan kita tapi harus ngebiayain Amara kuliah hiks…”
“Insya allah ada ko Mar uangnya. Udah kamu jangan nangis ya jangan pikirin masalah uang itu urusan bapak kamu fokus aja sama kuliahmu itu.”
Nasehat itulah yang diberikan oleh bapaknya sebelum panggilan berakhir. Sungguh Amara merasa sangat bersalah dan tidak tahu harus berbuat apa. Harapannya untuk mendapatkan skema satu kini telah hilang. Bukan Amara tak bersyukur mendapatkan skema dua hanya saja ia dibuat kebingungan.
Hari-hari telah Amara lalui cobaan datang ia lalui kini ia sudah menjalani dua semester dan hari ini ia akan pulang ke rumah karena libur telah tiba. Tak terasa ia sudah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa selama satu tahun. Amara pun akan menjalani semester tiga namun sebelum karena sudah memasuki tahun kedua ia diharuskan untuk membayar kosan. Hal itu tentu membuatnya bingung karena orang tuanya belum memiliki uang untuk membayarnya.
“Assalamualaikum aku pulanggggg,” ucap Amara senang setibanya di rumah.
“Waalaikumussalam,” ucap ibu, bapak dan adiknya lalu Amara mencium tangan sang ibu dan bapaknya.
Amara dan adiknya mengobrol bersama setelah beberapa bulan tidak bertemu. Mereka bercanda bersama meluapkan kerinduan.
“Mba coba deh liat ke belakang,” pinta adiknya yang membuat Amara menoleh kebelakang. Di belakang alias yang dimaksud adalah teras rumah ia melihat sebuah motor Vega entah miliki siapa.
“Coba tebak itu motor punya siapa?” Tanya adiknya.
“Emm punya Mas Kudil ya?” Tebak Amara.
“Bukannn itu punya kita,” jawab adiknya yang membuatnya kebingungan sejak kapan keluarga Amara memiliki motor Vega bukankah motor mereka matic?
“Hah punya kita gimana maksudnya?”
“Iya itu punya kita nah motor kita yang matic itu udah dijual trus uangnya buat beli motor Vega itu,” jelas adiknya membuat Amara terdiam seketika.
“Motro maticnya terpaksa bapak jual Mar soalnya buat bayar hutang bapak sama bayar kosan kamu kan tahun ini udah harus bayar lagi. Nah motor maticnya dijual 7 juta trus buat beli motor Vega itu 3 juta sisanya buat kosan kamu,” jelas sang bapak.
“Jadi motornya dijual lagi pak yang matic? Kan Amara gak bisa pake motor yang kaya gitu pak Amara Cuma bisa pake motor yang matic doang,” ucap Amara sedih yang masih belum menerima.
“Gak apa-apa Mar nanti kamu bisa latian pake motor itu lagian kan motor matic dijual juga buat keperluan kuliah kamu,” sambung ibunya.
“Hiks…hiks… kenapa sih semua motornya harus dijual apalagi motor matic itu Amara udah lama pake motor itu semenjak Amara masih sekolah di MAN.”
“Udah kamu gak usah nangis ya. Mau gimana lagi kita gak punya apa-apa nanti kalo kamu udah kerja udah punya gaji yang banyak nanti kamu bisa beli motor yang kamu suka. Sementara ini kamu susah-susah dulu ya nanti insya allah ada rezekinya ko,” nasehat ibunya sambil menenangkan Amara yang mennagis. Kedua kalinya motor yang mereka miliki terjual untuk membiayai kuliah Amara namun Amara merasa bersalah dan bersalah berulang kali ia mengatakan pada sang bapak untuk meminta mengundurkan diri dalam kuliah namun ditolak olehnya. Ia jadi dibuat bingung padahal sebelumnya sang bapak tidak mengijinkan ia untuk berkuliah tapi kenapa pada saat Amara sudah ikhlas untuk melepaskannya namun sang bapak malah menyuruhnya untuk bertahan. Hal itulah yang membuatnya merasa bersalah dan tak becus menjadi seorang anak ia terus memikirkan bahwa dirinya hanya beban keluarga saja. Ini memang bukan perjuangan masuk universitas namun ini adalah kisah perjuangan untuk tetap berada di universitas walaupun berbagai tantangan menerpanya mulai dari kesulitan ekonomi, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan, teman, semuanya ia hadapi. Tak mudah memang namun ia tetap menjalaninya. Amara selalu berdoa agar apapun itu hasilnya ia serahkan pada Sang Maha Kuasa sang pemilik kehidupan.

