Inspirasi

Oleh: Nabila Agustin

Pendidikan merupakan salah satu bagian paling penting dalam upaya memutus mata ratai kemiskinan. Meningkatnya angka kemiskinan dari tahun ke tahun menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia sedang berada dalam keadaan yang tidak baik. Bahkan banyak kelas menengah yang pada akhirnya berada di garis kemiskinan. Akan tetapi, dengan kondisi perekonomian yang tidak begitu baik, tentunya setiap orang masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Salah satunya adalah dengan cara mencari peluang di berbagai beasiswa yang dibuka baik oleh pemerintah, yayasan, maupun perusahaan.

 Menjadi seorang mahasiwa yang berasal dari keluarga menengah ke bawah, membuat saya harus memutar otak untuk tetap bisa melanjutkan pendidikan dengan usaha sendiri. Pada banyak bab-bab dari kehidupan terkadang tidak lepas dari kegagalan. Usaha dalam mendapatkan beasiswa tentu sudah melewatkan banyak kegagalan. Tidak diterima padahal sudah melewati proses administrasi, hingga tidak menjadi pertimbangan sama sekali karena keterbatasan dalam menyusun berkas administrasi dengan baik. 

Namun, pada setiap kegagalan pasti ada keberhasilan. Kita tidak akan terus berada pada titik gagal jika mau belajar, berproses dan bertumbuh. Setelah berkali kali gagal dalam proses seleksi beasiswa, akhirnya pada semester 3 saya mendapatkan beasiswa BMM (Bantuan Belajar Mahasiswa) dari perguruan tinggi tempat saya menempuh pendidikan, yaitu Universitas Sumatera Utara. 

Kemudian, untuk dapat melanjutkan pendidikan, pada semester 5 saya kembali mendapatkan beasiswa Fempathy yang dikhususkan untuk perempuan Indonesia. Hal yang perlu digaris bawahi adalah sebelum mendapatkan beasiswa tersebutpun saya sudah mengalami kegagalan dalam proses mendapatkan beasiswa. Akan tetapi, pada akhirnya rencana Allah jauh lebih indah dari apa yang saya pikirkan. Sempat kecewa pada banyak kegagalan dan hampir menyerah. 

Namun di titik terendah saya dan kepasrahan saya kepada Allah, saya diberi begitu banyak hal hal yang tidak pernah saya bayangkan. Saya lulus beasiswa Fempathy yang memberikan benefit berupa bantuan biaya hidup dan UKT. Selain itu, saya juga lulus beasiswa Instarter dengan benefit peningkatan skill dan pelatihan kepemimpinan wirausaha. 

Selama masa perkuliahan, saya berusaha untuk tidak sedikitpun membebani orang tua, meskipun memang masih dalam tanggung jawab orang tua. Hal in dikarenakan kondisi perekonomian keluarga kami yang tidak begitu baik. Ayah yang juga sudah sering sakit, dan ibu sebagai ibu rumah tangga. 

Pada semester 7 ayah meninggal dunia. Kondisi perekonomian yang tidak begitu baik semakin terpuruk setelah kehilangan ayah. Akan tetapi, dengan adanya beasiswa, saya bisa tetap melanjutkan pendidikan. Tentunya, juga selama masa perkuliahan saya bekerja part time di semester 5, kemudian mengikuti MSIB (Magang dan Studi Independen Bersertifikat) pada semester 6.  Selain itu, saya juga mencoba magang mandiri di salah satu perusahaan swasta pada semester 3, dan bekerja kontrak sebagai Satgas PPKS (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) Universitas Sumatera Utara dari semester 3 hingga saat ini. 

Kemiskinan bukan penghalang untuk bisa melanjutkan pendidikan bagi siapapun yang mau berusaha lebih keras. Tidak lupa diimbangi dengan doa, sebab setiap segi kehidupan tidak terlepas dari takdir Allah. Kehilangan ayah pada perjalanan dalam meraih setiap impian memang cukup membuat berantakan setiap rencana hidup dan tidak jarang juga kehilangan semangat dan harapan. Namun, saya percaya pada setiap apa yang telah digariskan untuk saya adalah apa yang memang membawa saya ke arah yang ingin saya tuju.