Seorang mahasiswa yang sekarang sudah mendapatkan beasiswa bright scholarship. Itulah saya, Ilham Kesuma. Ilham adalah mahasiswa pendidikan matematika semester 7 Universitas Bengkulu. Teringat dengan perjuangan saya meraih beasiswa ini. Banyak perasaan yang saya rasakan ketika meraih beasiswa. Awalnya, saya ingin kuliah di pulau Jawa, tepatnya di Universitas Pendidikan Indonesia atau Universitas Negeri Solo. Akan tetapi, orang tua saya tidak memiliki uang untuk membiayai kuliah saya di sana. Belum lagi, uang untuk kehidupan sehari-hari disana. Lantas, saya memilih kuliah di Universitas Bengkulu. Alhamdulillah, saya lolos di Universitas Bengkulu dengan jurusan yang saya impikan yaitu Pendidikan Matematika. Saat mau kuliah di Universitas Bengkulu, orang tua saya mempunyai kendala dalam membayar UKT. Malah, orang tua saya mempunyai banyak sekali utang saat itu. Saat itu, aku pun sedih dan memohon kepada Allah agar urusan orang tua saya dan diriku dipermudahkan selalu kedepannya. Untuk membayar UKT, orang tua rela mau pinjam duit teman nya. Dalam benak hati, saya ingin mendaftar beasiswa dan tidak menjadi beban orang tua. Saya merasa empati dalam hal tersebut.
Awalnya, saya ingin mendaftar beasiswa KIP Kuliah. Akan tetapi, saya tidak lolos beasiswa KIP Kuliah. Saya tidak boleh putus asa karena tidak lolos beasiswa KIP Kuliah. Saya mencari informasi-informasi beasiswa di WhatsApp, Instagram dan lain-lain. Kebetulan, ada kakak tingkat mengirimkan informasi beasiswa Smart Scholarship di WA. Saya berniat untuk mencoba daftar beasiswa tersebut. Saat menyiapkan berkas, saya merasa aman saja dan tidak ada kendala. Saat wawancara, saya di tes ngaji dan hafalan. Kaget awalnya, modal nekat daftar dan tidak mencari tau lebih dalam dengan kakak-kakak yang mengirimkan info tersebut. Alhamdulillah nya saya lulus saat itu. Saya merasa senang pada saat itu. Dalam benak hati, saya ingin mempertahankan akademik agar beasiswa ini tidak salah memilih saya. Nyatanya, beasiswa ini lebih berfokus untuk peningkatan agama dan perbaikan diri. Saya merasa senang mendengar hal tersebut. Meskipun beasiswa ini cuman sampai satu tahun, saya akan tetap lanjut untuk daftar beasiswa yang serupa dari YBM BRILian yaitu Bright Scholarship. Saat beasiswa Smart Scholarship sudah selesai, muncul beasiswa My Scholarship. Saya berminat untuk mendaftar My Scholarship sebelum beasiswa Bright Scholarship dibuka. Alhamdulillah saya lolos. Beberapa bulan kemudian, muncul informasi beasiswa Bright Scholarship. Nyatanya, beasiswa ini tidak berasrama. Saya merasa senang saat itu dan semakin yakin mau daftar. Saya berniat tidak mau asrama karena belum siap berpisah sama orang tua. Seleksi Bright Scholarship ternyata ketat daripada beasiswa YBM BRILian lainnya. Dengan izin Orang Tua, usaha dan Doa, alhamdulillah saya lolos beasiswa ini. Apalagi, beasiswa ini ada mengadakan sarasehan nasional di Bogor. Saya merasa tidak menyangka saat itu untuk pergi keluar kota pada pertama kalinya. Saya mengikuti berbagai pembinaan dan kegiatan dari Bright Scholarship. Kaget nya, ada info dari pihak YBM ingin mewajibkan seluruh awardee untuk berasrama pada beberapa bulan setelah penerimaan beasiswa ini. Saya merasa khawatir dan cemas karena saya baru pertama kali jauh dari orang tua dan belajar merantau meskipun rumah dan tempat asrama cuman 10 menit dari sana. Saat berasrama, saya belajar banyak hal untuk bertahan hidup. Apalagi, saya tidak ada motor dan tidak bisa membawa motor. Saat berasrama, saya akhirnya bisa membawa motor. Saya merasa Allah sudah memberikan jalan yang terbaik bagi hambanya untuk berkembang dan mendekatkan diri kepadanya
Berdasarkan perjalanan tersebut, banyak hal yang dapat saya rasakan yaitu perjuangan, ketabahan dan lain-lain. Banyak kegagalan yang pasti terjadi, nyatanya Allah memberikan jalan yang terbaik bagi hambanya. Sekarang saya tidak berasrama lagi karena masa asrama hanya satu tahun dan apa yang saya dapatkan tetap saya amalkan dan saya belajar dari hal itu.

