A FUSION OF DREAMS AND REALITY (Kisah Perjuanganku Menembus SBMPTN)

Tidak semua orang lahir dalam kemudahan. Saya, Nurul Asma Rani, berasal dari keluarga sederhana di sebuah kampung kecil di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Ayahku a.k Bapak hanyalah seorang petani, sementara ibu adalah seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak perempuan pertama, saya menyadari betul bahwa melanjutkan pendidikan bukanlah hal yang mudah di tengah keterbatasan ekonomi keluarga kami.

Tahun demi tahun dimulai sejak memasuki bangku SMA, saya belajar dengan giat. Menyimpan harapan besar untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (PTN), alasannya bukan demi diri saya sendiri, tentunya demi kedua orang tua saya. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, punya uang berapa kamu sampai nekat mau kuliah? Yakin tidak berhenti di tengah jalan? Yaa mungkin lumayan membuat saya down pada saat itu. Tapi dibalik ocehan-ocehan itu, saya berpikir kalau saya terus-terusan memikirkan apa yang mereka katakan, saya akan tetap seperti ini, setiap mau memulai terus saja dianggap kecil oleh mereka. Akhirnya saya memberanikan diri dan meyakinkan diri saya. Sekali lagi bukan hanya untuk saya tetapi untuk kedua orang tua saya. 

Ketika mendengar kabar tentang SNMPTN, jalur seleksi nasional yang menawarkan kesempatan masuk PTN tanpa ujian, saya pun merasa antusias. Berbagai usaha dan doa saya curahkan, berharap bahwa saya bisa lolos melalui jalur ini. Namun, kenyataan berkata lain. Saat hasil diumumkan, saya tidak lolos. 

Kekecewaaan yang mendalam sempat menyelimuti hari-hari saya. Rasanya seperti saya ini adalah orang yang paling gagal di dunia. Namun, dibalik kekecewaan itu, saya menemukan kekuatan untuk bangkit. Saya tahu, satu kegagalan bukan akhir dari segalanya. Masih ada jalur lain yang bisa saya coba, salah satunya SBMPTN. Berbeda dengan SNMPTN, jalur ini membutuhkan usaha lebih keras karena harus melalui tes seleksi. Persiapan panjang pun dimulai. Setiap hari saya berlatih soal, memperdalam materi, dan menjaga semangat meski ada rasa khawatir tidak lolos lagi.

Namun, di tengah persiapan untuk SBMPTN, bayangan akan kegagalan SNMPTN terus menghantui saya. Bagaimana jika saya gagal lagi? Untuk berjaga-jaga, saya mendaftar di salah satu universitas swasta, meskipun saya sadar akan jauh lebih menguras biaya lagi. Kecemasan bercampur harapan, tetapi saya tahu, tidak ada jalan lain selain terus berusaha. 

Pada 23 Juni 2022, hari pengumuman SBMPTN tiba. Dengan hati berdebar, saya membuka situr resmi SBMPTN. Ketika kata ”LOLOS” muncul di layar, saya terdiam beberapa detik. Rasanya seperti mimpi. Semua kerja keras dan pengorbanan akhirnya terbayar. Saya diterima di salah satu universitas negeri yang ada di Sulawesi Selatan. 

Perjuangan ini tidak hanya tentang berhasil masuk PTN, tetapi juga tentang bagaimana saya bisa meraih kesempatan beasiswa KIP-K. Beasiswa ini benar-benar menjadi penyelamat dalam perjalanan pendidikan saya, membantu meringankan beban biaya kuliah dan hidup di perantauan. Dengan beasiswa ini, saya bisa terus melanjutkan kuliah tanpa harus membebani orang tua yang memang tidak memiliki penghasilan lebih. 

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa tidak ada kegagalan yang final, dan setiap tantangan bisa menjadi peluang untuk bertumbuh. Sebagai mahasiswa semester 5, saya kini bisa melihat kembali perjalanan dua tahun lalu dengan penuh syukur. Perjalanan ini mungkin penuh dengan rintangan, tetapi semua itu membawa saya ke tempat di mana saya berdiri sekarang sebagai seorang mahasiswa yang bangga dengan perjuangannya. 

Kisah ini bukan hanya tentang bagaimana saya meraih PTN, tetapi juga tentang bagaimana saya meraih mimpi di tengah keterbatasan. Setiap langkah dalam perjalanan ini adalah bukti bahwa selama kita tidak menyerah, harapan selalu ada. Dan untuk setiap pelajar di luar sana yang mungkin merasakan hal yang sama, ingatlah bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan menuju sesuatu yang lebih besar.

GOOD LUCK ALL!…



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.