Dalam kehidupan, setiap individu memiliki impian dan tujuan yang ingin dicapai. Bagi sebagian orang, mengenyam pendidikan di perguruan tinggi adalah salah satu dari banyak impian besar tersebut. Namun, perjalanan menuju kampus impian, terutama di perguruan tinggi swasta, seringkali penuh dengan tantangan dan rintangan. Kisah berikut ini menceritakan perjuanganku yang bermodal tekad dan motivasi berhasil masuk ke kampus perguruan tinggi swasta.
Aku adalah anak sulung dari enam bersaudara. Ayahku bekerja sebagai pedagang pakaian, sementara ibuku hanya sebagai Ibu rumah Tangga. Kondisi ekonomi keluarga kami bisa dibilang lumayan stabil dan cukup. Aku selalu memiliki semangat tinggi untuk belajar. Sejak kecil, aku sudah bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Memasuki masa SMA, aku mulai berpikir serius tentang rencana masa depan. Aku ingin melanjutkan studi di perguruan tinggi yang memiliki fasilitas dan kualitas pendidikan yang baik. Setelah melakukan riset, aku menemukan beberapa perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang menawarkan program studi yang sesuai dengan minat dan bakatku. Namun, aku lebih tertarik untuk masuk ke kampus luar di negeri di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir dan Universitas Al-Ahgaf, Yaman.
Aku mulai mencari informasi tentang beasiswa dan program bantuan finansial yang ditawarkan oleh beberapa lembaga. Aku menyadari bahwa beasiswa dapat menjadi jalan keluarnya untuk meraih impian tanpa membebani keluarganya. Selain itu, Aku juga aktif mengikuti berbagai lomba dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah untuk memperkuat aplikasi beasiswaku. Prestasi akademik dan non-akademik menjadi modal penting dalam perjuanganku.
Saat waktu pendaftaran tiba, Aku mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan, mengikuti seleksi, dan mengirimkan aplikasi ke perguruan tinggi luar negeri yang kuimpikan. Aku menunggu hasil seleksi tahap pertama dengan rasa ketidakpastian dan kecemasan. Saat hari pengumuman tiba, aku dinyatakan lulus seleksi untuk tahap pertama. Aku bersyukur, tapi itu jauh dari kata selesai. Masih ada satu tantangan lagi yang harus kulewati. Seleksi tahap akhir.
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Saat aku hendak berangkat untuk mengikuti seleksi, ayahku menahanku dan mengatakan bahwa beliau tidak mengizinkanku untuk kuliah ke luar negeri yang kuimpikan, namun beliau lebih berharap aku masuk ke pondok pesantren untuk belajar ilmu agama. Aku menjelaskan kepadanya bahwa kuliah di Timur Tengah tidak jauh beda dengan pondok pesantren yang notabennya mempelajari ilmu agama. Namun, ayahku tetap tidak setuju, tekadnya sudah bulat untuk tidak mengizinkanku kuliah di luar negeri kecuali setelah menuntaskan pendidikan di pesantren. Dunia seakan runtuh, kulalui hariku dengan patah semangat.
Akhirnya, setelah desakan orang tua untuk masuk pesantren, aku lalu memutuskan dengan separuh hati untuk masuk ke pondok pesantren MUDI Masjid Raya Samalanga di Bireun, Aceh. Aku memilik pesantren tersebut karena melihat ada kampus di dalamnya. Jadi sambil mondok bisa kuliah. Begitu pikirku.
Saat aku masuk pondok, aku baru tau ternyata masuk kampus diizinkan setelah menyelesaikan kurikulum tertentu. Artinya , tiga tahun lagi aku baru bisa masuk bangku kuliah. Kemudian kulewati hari dengan perasaan campur aduk yang jelas. Tak lain, aku masuk pesantren dengan separuh hati.
Tiga tahun kemudian, aku mendaftarkan diri di kampus swasta UNISAI yang bernaung di bawah Yayasan pesantren yang kumondoki. Setelah melewati berbagai penyeleksian, aku dinyatakan lulus. Walaupun aku tidak lewat jalur beasiswa, tetapi biarlah. Orang tuaku juga tidak keberatan membiayai kuliahku selama aku masih kerasan di pondok. Mudah-mudahan aku bisa mencoba keberuntungan di waktu lain dan berhasil meraih beasiswa S2 di kampus Timur Tengah dengan berkah mematuhi kedua orang tua.

