Kampus Swasta

“PERJUANGAN MERAIH KAMPUS IMPIAN”

Penulis : Khairunnisa Arifiasanti

Awal Perjalanan: Lulus SMA 2021

Tahun 2021 adalah tahun yang penuh dengan harapan dan impian bagi banyak siswa SMA di seluruh Indonesia. Tidak terkecuali untukku, seorang siswa yang baru saja menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1, penuh semangat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku memiliki mimpi besar untuk bisa kuliah di kampus ternama dengan jurusan yang bergengsi.

Sejak awal, aku sangat ingin kuliah di salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia. Mimpi ini bukan hanya mimpi semata, tetapi juga harapan keluargaku yang sangat mendukung pendidikanku. Dengan semangat yang tinggi, aku mempersiapkan diri untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Aku memilih jurusan Kedokteran di salah satu universitas ternama. Namun, nasib berkata lain.

Gagal SNMPTN: Awal Kekecewaan

Sumber : https://simkeu.ltmpt.ac.id/

Pengumuman SNMPTN tiba. Dengan hati berdebar, aku membuka laman pengumuman. Namun, kekecewaan menghampiri saat melihat namaku tidak tercantum di daftar siswa yang diterima. Rasa kecewa dan sedih bercampur aduk, namun aku mencoba untuk tidak larut dalam kesedihan. Aku tahu bahwa perjuangan ini belum berakhir. Aku masih memiliki kesempatan di jalur lain, yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Dengan semangat yang kembali menyala, aku mempersiapkan diri untuk SBMPTN. Belajar dari pagi hingga malam, mengikuti bimbingan belajar, dan mengerjakan soal-soal latihan menjadi rutinitasku sehari-hari. Aku memilih jurusan yang sama dengan harapan kali ini akan berhasil. Namun, takdir kembali berkata lain. Pengumuman SBMPTN menunjukkan bahwa aku kembali gagal.

Mencoba Kedinasan di STIS: Harapan yang Kandas

Meski rasa kecewa semakin dalam, aku tidak ingin menyerah begitu saja. Aku memutuskan untuk mencoba peruntungan di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Aku memilih STIS karena tertarik dengan dunia statistik dan melihat peluang kerja yang menjanjikan di masa depan. Persiapan demi persiapan kulakukan dengan sungguh-sungguh.

Hari tes STIS pun tiba. Aku mengerjakan soal dengan penuh keyakinan. Namun, ketika pengumuman hasil keluar, lagi-lagi namaku tidak ada di daftar yang lolos. Kekecewaan kali ini terasa lebih berat, karena ini adalah kesempatan terakhir di tahun itu untuk bisa masuk ke perguruan tinggi impian.

Universitas Muhammadiyah Surakarta: Pilihan Alternatif

Sumber : kamera HP

Dengan hati yang berat, aku harus menerima kenyataan bahwa tahun ini tidak berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri atau kedinasan. Namun, aku tidak ingin berhenti belajar. Setelah berdiskusi dengan orang tua, aku memutuskan untuk mendaftar di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan jurusan Farmasi. Meskipun bukan pilihan utama, aku percaya bahwa di mana pun aku belajar, selama aku berusaha dengan sungguh-sungguh, hasilnya akan baik.

Di UMS, aku mulai menikmati kehidupan kampus. Jurusan Farmasi ternyata cukup menarik dan menantang. Aku bertemu dengan teman-teman baru dan dosen-dosen yang inspiratif. Meski demikian, impian untuk masuk ke sekolah kedinasan belum sepenuhnya hilang dari benakku.

Mencoba Lagi di Poltekbang Surabaya: Tantangan Baru

Sumber : https://sipencatar.dephub.go.id

Tahun berikutnya, 2022, aku memutuskan untuk mencoba kembali tes kedinasan. Kali ini, aku memilih Politeknik Penerbangan (Poltekbang) Surabaya. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Aku tertarik dengan dunia penerbangan dan melihat peluang yang besar di bidang ini. Namun, tantangan yang kuhadapi kali ini lebih berat.

Tes kedinasan Poltekbang Surabaya bertepatan dengan ujian di kampus UMS. Aku harus bolak-balik antara Solo dan Semarang untuk bisa mengikuti kedua ujian tersebut. Perjalanan yang melelahkan dan tekanan dari dua ujian yang berat hampir membuatku menyerah. Ada saat-saat di mana aku merasa tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjuangan ini. Namun, di saat-saat itulah, aku merasakan keajaiban dari Allah.

Keajaiban dari Allah: Mengatasi Segala Rintangan

Di tengah rasa putus asa, aku berdoa memohon petunjuk dan kekuatan dari Allah. Aku percaya bahwa jika aku berusaha dengan sungguh-sungguh, Allah akan membantuku. Dan benar saja, di saat-saat kritis, Allah memberikan kekuatan dan keajaiban yang tak terduga.

Suatu hari, ketika aku harus menghadapi ujian di kampus dan tes kedinasan di hari yang sama, tiba-tiba jadwal ujian kampusku dimajukan. Aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kedua ujian tanpa harus memilih salah satu. Meski harus melakukan perjalanan bolak-balik yang melelahkan, aku tetap bisa mengikuti kedua ujian dengan baik.

Hari pengumuman hasil tes Poltekbang Surabaya tiba. Dengan hati yang berdebar, aku membuka laman pengumuman. Alhamdulillah, namaku tercantum di daftar siswa yang diterima. Rasa syukur dan bahagia yang luar biasa mengalir dalam hatiku. Perjuangan yang penuh liku dan hampir membuatku menyerah akhirnya membuahkan hasil.

Penutup: Pelajaran dari Perjuangan

Perjuangan untuk meraih kampus impian ini memberikan banyak pelajaran berharga dalam hidupku. Aku belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari perjalanan yang lebih berarti. Ketekunan, kesabaran, dan kepercayaan kepada Allah adalah kunci untuk menghadapi segala rintangan.

Kini, aku menjalani pendidikan di Poltekbang Surabaya dengan semangat baru. Setiap langkah dalam perjalanan ini mengajarkanku untuk tidak pernah menyerah dan selalu berusaha yang terbaik. Impian bisa diraih, asalkan kita tidak berhenti berjuang dan selalu percaya bahwa Allah akan memberikan jalan yang terbaik.