Kampus Swasta

Gita Fitria Anggi

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Q.S Al-Baqarah Ayat 286)

 

Mimpi. Satu kata yang memiliki kekuatan luar biasa dalam menggerakkan semangat dan tekad seseorang. Bagi sebagian orang, mimpi hanya sekadar angan yang sulit dicapai. Namun, bagi saya, mimpi adalah tujuan yang harus diperjuangkan meski jalan menuju ke sana penuh rintangan. Kisah ini adalah perjalanan saya dalam meraih mimpi untuk berjuang masuk ke kampus PTN impian.

Semuanya dimulai ketika saya duduk di bangku kelas tiga SMK. Ketika itu, saya memiliki mimpi untuk menjadi bagian dari jurusan kedokteran. Namun, sepertinya takdir berkata lain. Apalah daya saya yang salah masuk SMK. Ternyata untuk masuk ke fakultas kedokteran harus lulusan dari SMA/MA IPA. Sedangkan saya? Saya siswa dari SMK Kesehatan swasta di salah satu kota kecil asal saya. Sungguh tragis, bukan, ketika kita harus merelakan mimpi kita karena kesalahan kita sendiri.

Perlahan saya mulai sembuh, mencoba berdamai dengan diri sendiri, dan menerima keadaan bahwa untuk menjadi sukses tidak harus menjadi dokter. Saya mencoba memantaskan diri untuk merayu fakultas farmasi. Saat itu, impian saya adalah fakultas farmasi Universitas Indonesia. Saya mencoba meyakinkan diri sendiri, meskipun belum ada alumni dari sekolah saya yang berhasil masuk UI. Saya berjuang keras demi diri saya dan demi adik-adik kelas saya, agar membuka peluang untuk mereka.

Saya memilih fakultas farmasi karena latar belakang SMK saya adalah kesehatan. Sebenarnya, jurusan saya di SMK adalah keperawatan. Namun, sepertinya di sana bukan passion saya. Saya memilih fakultas farmasi karena masih berhubungan dengan kesehatan.

Alhamdulillah, nilai dan peringkat saya selalu naik selama saya di SMK. Hingga suatu saat, saya berhasil menjadi peringkat 1, pencapaian yang sangat membanggakan dan membuat kedua orang tua saya bahagia.

Saat masa pendaftaran PTN tiba, saya mantap memilih fakultas farmasi di Universitas Indonesia sebagai pilihan pertama. Saya masuk dalam kategori eligible dan mendaftarkan di Universitas Indonesia dan Universitas Sumatera Utara. Namun, saya menyadari bahwa peluang lolos di jalur SNMPTN dengan rata-rata nilai rapor 86 tidaklah besar. Maka dari itu, saya mulai mempersiapkan diri untuk belajar menghadapi SBMPTN. Saya membeli banyak buku dan latihan soal, meskipun tidak semua materi bisa saya pahami. Namun, saya tidak berputus asa dan terus belajar pelan-pelan bersama teman-teman online yang saya kenal melalui forum belajar online.

Tibalah saatnya SBMPTN. Saya mengikuti ujian di laboratorium kedokteran Universitas Sumatera Utara. Jujur, saya mengerjakan ujian dengan sebisa saya saja. Saya hanya bisa berpasrah dan berharap Tuhan akan membantu saya. 

Waktu berlalu dan hari pengumuman tiba. Sayangnya, saya tidak lolos. Ini adalah kegagalan kedua saya setelah SNMPTN. Tentu saja saya menangis dan merasa kecewa.

Tak berhenti di situ, saya mendaftarkan diri untuk ujian mandiri Universitas Sumatera Utara. Namun, saya tidak mengikuti ujian tersebut karena terlanjur membayar biaya daftar ulang di kampus swasta yang saya pilih.

Sedikit kilas balik, usaha saya tidak hanya di SNMPTN dan SBMPTN. Sebelum itu, saya sudah mendaftar sekitar 20 kali. Mulai dari beasiswa perintis ITB, jalur prestasi UGM, hingga simak UI. Namun, sepertinya saya belum pantas untuk diterima.

Kenapa tidak gap year saja untuk memantaskan diri? Saya sudah tidak kuat. Waktu terus berjalan, dan saya tidak bisa berhenti menunggu keberuntungan. Saya harus mengambil risiko.

Kegagalan itu menyakitkan, namun saya sadar bahwa ini bukan akhir dari segalanya. Dengan keyakinan dan dukungan dari orang tua, saya memilih kampus swasta yang masih muda di pulau yang berbeda. Awalnya, saya berpegang teguh pada prinsip, “Emas dimanapun tetap emas, sekalipun di dalam lumpur.”

Namun, seiring berjalannya waktu, saya mengalami kesulitan di kampus swasta tersebut, terutama karena saya mengambil prodi manajemen yang tidak sesuai dengan latar belakang saya di bidang kesehatan. Rasa penyesalan muncul, tetapi saya terus berusaha menerima keadaan.

Saya menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan organisasi dan kepanitiaan. Di semester tiga, saya mengikuti program pertukaran mahasiswa di Sulawesi. Di semester empat dan lima, saya fokus pada akademik di kampus. Saya penasaran dengan kejutan apalagi yang akan Tuhan tunjukkan kepada saya.

Dari kisah ini, saya belajar bahwa perjuangan tidak selalu berbuah manis, namun selalu berarti. Setiap kegagalan membawa pelajaran berharga. “Kegagalan adalah kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih bijaksana,” kata Henry Ford. 

Untuk teman-teman yang sedang berjuang, jangan pernah menyerah. Percayalah bahwa setiap usaha dan doa akan membawa kalian pada hasil yang terbaik, meskipun hasil itu mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Tetaplah semangat dan terus berjuang, karena perjuangan kita tidak akan pernah sia-sia. Setiap langkah kecil yang kita ambil, setiap rintangan yang kita hadapi, semuanya adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan.