Kampus Swasta

Oleh: Muhammad Azzami Aditia

Namaku azzam. Ceritaku bermula dari saat orangtuaku memasukanku ke SMP Negeri di Tasikmalaya yang konon katanya sekolah yang akan aku masuki ini termasuk kategori favorit. Pada saat itu aku senang karena sudah diterima di sekolah negeri tersebut. Namun, yang membuat aneh dalam pikiranku saat itu adalah adanya peraturan bagi seluruh siswa yang bersekolah di sekolah ini diwajibkan untuk tinggal di pesantren dikarenakan memang mengingat dulunya sekolah ini merupakan yayasan milik pesantren yang di dekat sekolah tersebut yang dirubah . Jadi, sekolah ini membuat aturan tersebut memiliki tujuan kurang lebih dalam rangka membalas budi terhadap pesantren tersebut sembari dengan pertimbangan yang matang bahwa jika siswa di sekolah tersebut tinggal di pesantren diharapkan akhlak siswa bisa lebih terdidik lebih religius. Dengan tujuan tersebutlah, sedikit demi sedikit bisa menerima peraturan di sekolah tersebut, dikarenakan masuk akal dan juga mudah-mudahan dengan masuknya aku ke pesantren bisa menjadikan akhlakku menjadj lebih baik.

Awal masa aku bersekolah di sekolah tersebut tepatnya kelas tujuh SMP, aku memulainya dengan semangat, karena aku tidak mau mengecewakan orangtuaku dan lagian juga inikan sekolah favorit, jadi aku harus lebih bersyukur lagi karena banyak siswa yang ingin masuk ke sekolah ini. Suatu hari disekolahku diadakan perlombaan dalam acara orientasi siswa baru. Dalam acara tersebut terdapat banyak lomba salah satunya lomba fashion show yang pesertanya merupakan perwakilan dari masing-masing kelas. Suatu waktu, fokusku teralihkan ke seorang siswi yang menjadi perwakilan kelasnya di lomba fasion show antarkelas tersebut. Paras siswi tersebut begitu cantik dan keliatan anggun bahkan aku sempat mengaguminya. Namun, aku sadar diri dengan tampang yang pas-pas an seperti ini aku tidak akan bisa mendapatkannya lagian aku juga masa awal-awal masuk harus fokus dengan pembelajaran terlebih dahulu dan jangan dulu pacaran. Dan di hari-hari berikutnya sampai selesai akhir masa kelas tujuh hari-hari ku isi dengan belajar di pesantren dan sekolah tanpa memikirkan hal-hal lain dulu.

Setelah selesai melewati masa-masa kelas tujuh, datanglah masanya kelas delapan. Dimana pada masa ini aku mulai beranikan diri untuk ikut berbagai macam organisasi seperti osis dan ektrakurikuler lainnya aku coba. Salah satu ekstrakulikuler yang aku paling minati adalah band, karena memang bakat dan minat ku serasa tersalurkan. Disinilah aku habiskan totalitasku dalam berorganisasi dibanding dengan organisasi lain. Kegiatan demi kegiatan baik itu kumpulan biasa maupun latihan rutinan aku hadiri di organisasi ini. Sampai pada suatu waktu di akhir masa kelas delapanku, aku dipercaya menjadi panitia dari osis dalam rangka pelepasan kelas sembilan sekaligus menampilkan sebuah lagu dalam acara ini. Ini merupakan tampilan pertamaku di sekolah selama mengikuti ektrakurikuler ini. Meskipun pertama kali, penampilanku bisa membuat semua siswa maupun siswi terpukau dengan penampilanku, bahkan sampai ada seorang perempuan yang katanya ngecrush sama aku. Mengetahui hal itu, aku agak sedikit penasaran, namun tidak aku hiraukan akan aku tingkatkan dulu performaku dalam segala bidang untuk membuat orangtuaku bahagia.

Berakhirnya masa-masa kelas delapan, perjalananku pun berlanjut ke kelas sembilan. Di masa ini lah aku sudah mulai mengenal cinta. Namun, meskipun sudah mulai mengenal cinta, tapi prestasiku tidak ada alasan buat turun aku tetap berusaha untuk terus meningkatkan performaku di segala bidang. Pertama-tama aku mengenal cinta adalah ketika libur sekolah dan pesantren telah tiba, semua siswa dan siswi pulang ke rumahnya masing-masing. Ketika di rumah, aku sengaja iseng-iseng mencari tau siswi yang kata orang-orang ngecrush ke aku. Aku coba tanya-tanya ke siswi-siswi di kelasku, dan akhirnya ada yang memberi tahuku. Akhirnya aku coba chat orangnya dan syukurnya dia memang ramah orangnya, karena itu memang pasti sih, cewek mana yang gak seneng ketika crush-an nya ngechat langsung ke dia. Singkat cerita akhirnya kita berkomunikasi panjang dan kini aku mengetahui namanya, namanya begitu cantik yaitu naila sesuai dengan wajahnya yang begitu cantik, lalu setelah berkomunikasi panjang kami berdua memutuskan untuk jadian.

Waktu libur telah habis, kami berdua harus mengakhiri komunikasi jarak jauh ini, sebab kami harus kembali ke pesantren sebagaimana suasana biasa yang tanpa handphone. Ketika masuk sekolah kita berdua masih malu-malu untuk bisa mengobrol bersama dan bahkan oranglain belum tau bahwa kita berdua sudah jadian. Beberapa minggu terlewati kemudian teman-teman sekelasku mengetahui bahwa aku dan naila sudah jadian. Tepat pada waktu mereka tau kita jadian, kebetulan aku sedang berulang tahun, dan lebih kebetulannya lagi waktu itu sedang mata pelajaran seni budaya yang mempelajari alat musik. Tak lama dari itu, mereka langsung menyuruhku untuk bernyanyi bareng berdua di depan kelas sembari diiringi gitar yang dimainkan oleh ku. Aku bersama naila pun terpaksa kedepan meskipun dengan rasa yang tak karuan camour aduk sedih, senang, terharu menyatu ketika itu. Jujur, pada waktu itu menjadi momen sekaligus momen terindah yang sulit terlupakan bagiku. Sebab pasangan mana yang gak mau duet nyanyi di depan kelas sembari dilihat oleh banyak orang.

Hari terus berlalu, suatu hari aku dan grup band ku dipanggil oleh pelatih untuk mengikuti lomba. Dan akhirnya kami semua menyetujui itu dan langsung berlatih setiap hari dengan sungguh-sungguh. Apalagi bagi aku sendiri merupakan suatu kesempatan untuk membuktikan kepada naila bahwa aku bisa berprestasi, karena memang sudah pada awalnya tujuan aku untuk jadian dengan dia adalah supaya ada penyemangat dalam belajar. Akhirnya setelah waktu perlombaan telah tiba kami pun tampil dengan percaya diri sehingga berhasil membawa pulang thropy buat sekolah kita. Hal ini tentunya bagi kejutan buat naila ketika aku tahu juara dalam perlombaan. Mengetahui hal itu naila memberiku hadiah yang istimewa bagiku.

Tak lama dari perlombaan tersebut, ujian akhir semester pun tiba, aku menghafal seserius mungkin supaya bisa mendapatkan rangking yang bagus. Dibalik keseriusanku tersebut, tentunya ada yang memberiku semangat yaitu orangtua dan naila sehingga pada akhirnya alhamdulillah aku mendapatkan juara kelas di akhir masa pembagian rapot. Hal ini menjadikan naila semakin menggebu-gebu dalam mencintaku.

Libur kembali tiba, komukasi jarak jauh pun kami lakukan kembali, sampai akhirnya masuk semester akhir di masa SMP. Kami pun masuk lagi namun tidak lama, karena angkatan kami dimusibahi  wabah berupa corona. Sekolah diliburkan kembali sampai waktu yang lama, bahkan angkatan kami tak sempat merayakan masa terakhir kami di sekolah. Terpaksa segala sesuatu kami lakukan secara daring, termasuk komunikasi yang aku lakukan bersama naila akan menjadi komunikasi jarak jauh terpanjang yang akan kami alami. Tentunya ada banyak rintangan yang kami alami mulai dari rasa bosan, banyak cowok yang menggoda naila dan lain sebagainya.

Singkat cerita waktu corona telah usai, kami pun melanjutkan sekolah kami di jenjang berikutnya yaitu SMA. Aku dan Naila memutuskan untuk melanjutkan sekolah di lemabaga yang sama. Bukannya kami saling memaksakan untuk saling bersama tetapi memang kami memiliki kesadaran masing-masing untuk melanjutkan lembaran pengajian yang belum beres tentunya di pesantren.

Di kelas sepuluh, perjalanan cinta kami agak sedikit terganggu dengan banyaknya kakak kelas yang menggoda naila. Hal ini menyebabkan sekolahku menjadi agak sedikit tidak benar. Belum lagi dia memiliki riwayat penyakit skoliosis yang cukup parah yang menyebabkan aku harus selalu sedia untuk menggendongnya ke uks bahkan buku yang segitu banyaknya ia bawa, aku yang bawakan. Dan ini lagi-lagi membuat pembelajaranku menjadi agak terganggu. Tak banyak cerita di kelas sepuluh yang bisa ku ceritakan, karena memang pertemuan kami masih terbatas oleh adanya peraturan. Selama masa SMA aku menjadi kurang aktif di organisasi, hanya satu ekstrakuikuler yang masih aku dalami yaitu band.

Di kelas sebelas, aku memutuskan untuk bisa berusaha meyakinkan diriku untuk menanyakan kepada naila terhadap kelanjutan hubungan kita, yang pada aslinya aku sudah muak ketika mendengar dia selingkuh dengan kakak kelas yang menggodanya. Dia lama-lama tergoda oleh kakak kelas yang tampangnya memang lumayan ganteng dan yang lebih parahnya si orangnya adalah ketua kamarku sendiri. Akhirnya, aku pun memtuskan untuk mengakhiri hubungan ku dengan naila karena sebab aku sudah terlanjur kecewa karena dia sudah mengkhianati segala pengorbanan yang sudah aku berikan. Tak berhenti di kekecewaan itu, aku terdapati kasus di sekolah akibat semua kedapatan hp temenku yang didalam hp tersebut terdapat kontenku dengan naila. Akh di skors dari sekolah dan mendapat surat peringatan. Hal ini menjadi sejarah terburuk yang pernah aku alami. Karena selain kasus itu, masih ada kasus yang berlanjut ketika teman sekelasku juga ada kedapatan membawa hp, sebab aku km, akulah yang dipanggil ke tu dan menjadi masalah kembali.

Setelah aku putus dengan naila, aku pun berfokus untuk memperbaiki prestasiku. Tak banyak prestasi yang aku dapatkan ketika masa SMA, karena memang mungkin saja terganggu oleh perjalanan cinta ku sendiri yang menjadi salah satu faktornya. Namun aku tetap berusaha memperbaiki nya. Aku mencoba mengikuti lomba-lomba nasional termasuk di band juga. Dan alhamdulillah nya band ku mendapatkan juara pertama. Dan ini menjadi penghargaan pertama ku untuk sekolah SMA ku sekaligus pembuktian bahwa orang yang buruk belum tentu buruk seterusnya. Penghargaan yang aku dapat akhirnya bisa membuatku bisa masuk ke perguruan tinggi yang favorit lewat jalur prestasi.

Dari segelintir kisah hidupku ini, bisa aku ambil hikmah bahwa yang namanya berproses ketika bercinta harus siap terhadap segala resiko. tidak bisa menyalahlan keadaan, melainkan kita yang harus selalu mengambil pelajaran dan memperbaikinya.