Di Antara Deretan Angka dan Harapan

Kisah Perjuangan Intan Surya Putri 

Pagi itu, di awal kelas 10, suasana ruang kelas terasa lebih serius dari biasanya. Beberapa siswa tampak memperhatikan dengan seksama, sementara yang lain mengobrol pelan di belakang. Intan duduk di barisan kedua dekat dinding, pandangannya terpaku pada papan tulis depan kelas. Seorang perwakilan dari Ruangguru sedang memberikan sosialisasi tentang SNBP dan bagaimana pentingnya peningkatan nilai dari semester 1 hingga 5.

 

“Jadi, adik-adik, kalau ingin lolos SNBP, kalian harus konsisten meningkatkan nilai dari semester satu sampai semester 5,” kata perwakilan itu, suaranya penuh semangat.

 

Kalimat itu terpatri di benak Intan. Ia tahu betul apa yang diharapkan darinya tak hanya dari dirinya sendiri, tetapi juga dari keluarganya. Sebagai anak tertua, Intan merasa ia harus menjadi teladan. Saat itulah, ia memutuskan untuk tidak main-main lagi dengan pendidikannya.

 

Di kelas 10, Intan bertekad untuk meraih prestasi tertinggi. Namun, perjuangan tersebut penuh dengan tantangan dan pengorbanan. Di tengah pandemi Covid-19, pembelajaran tatap muka digelar secara terbatas, dan saat harus belajar daring, sering kali materi sulit dipahami. Intan teringat malam-malam panjang ketika ia terpaksa harus mengulang materi sendiri hingga larut malam, sementara teman-temannya mungkin sudah terlelap.

 

Kerja kerasnya tidak sia-sia. Di semester 1, ia berhasil meraih juara 2, dan di semester 2, ia naik menjadi juara 1. Di balik senyumnya, ada rasa lega karena bisa membuktikan bahwa usahanya tidak sia-sia.

 

Masuk kelas 11, Intan merasa lebih percaya diri. Ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan lomba untuk menunjang peluangnya lolos SNBP. Jadwalnya penuh dengan latihan dan persiapan lomba. Ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) ekonomi sampai tingkat kabupaten sayangnya ia tidak lolos ke tingkat provinsi. Selain itu, ia juga mengikuti lomba ekonomi di Edu Expo yang diadakan secara online. Setiap Sabtu, ia menjaga kantin kewirausahaan sekolah, di mana ia belajar mengelola keuangan dan berwirausaha. Di tengah segala kesibukannya, Intan tetap menjaga prestasi akademisnya. Ia berhasil menjadi juara 3 kelas dan umum IPS  di semester 1 dan juara 2 kelas dan umum IPS di semester 2.

 

Namun, memasuki kelas 12, segalanya terasa lebih sulit. Intan mulai merasakan tekanan yang lebih besar. Setiap pagi saat membuka mata, ia merasakan ketegangan di dadanya. Targetnya bukan hanya sekadar mempertahankan prestasi, tetapi juga memastikan dirinya bisa lolos SNBP. Namun, meski nilainya berhasil naik, Intan keluar dari 3 besar di kelas dan umum IPS. Siang itu, ketika pulang ke rumah, Intan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Air matanya mengalir deras, tak terbendung. Ia merasa semua usahanya selama ini tidak cukup. Tadi di sekolah, ia berusaha terlihat tegar saat namanya tidak diucapkan. Di hari itu Intan menghiasi wajahnya dengan senyuman, tapi di dalam hatinya, ada perasaan takut yang menggerogoti, takut kalau ia akan mengecewakan semua orang, terutama keluarganya.

 

Malam harinya, setelah shalat, Intan berdoa kepada Allah SWT. “Ya Allah, kalau hari ini hamba gagal, izinkan hamba lolos jalur SNBP ya, Allah, sebagai ganti dari kesedihan ini,” ucapnya lirih, meneteskan air mata. Saat itu, ia menyadari bahwa semua ini bukan hanya tentang mengejar nilai, tetapi juga tentang mengatasi ketakutannya sendiri.

 

Di tengah kesedihan dan kekecewaannya, Intan tetap fokus pada persiapan SNBP. Ia sibuk mengecek rasionalisasi jurusan yang ingin ia pilih, mempertimbangkan segala kemungkinan dengan hati-hati. Sambil mempersiapkan SNBP, Intan juga mulai mencari informasi tentang berbagai beasiswa. Sebagai anak dari keluarga sederhana, ia tahu bahwa meski berhasil lolos SNBP, pembiayaan pendidikan di luar kota bukanlah hal yang mudah bagi keluarganya.

 

Intan mencoba berbagai beasiswa, mulai dari beasiswa KIP-K, hingga beasiswa Glow & Lovely. Setiap malam, ia menghabiskan waktunya untuk mengisi formulir, menulis esai, dan mengumpulkan berbagai dokumen pendukung. Di setiap beasiswa yang diikutinya, ada harapan besar untuk meringankan beban orang tua. Namun, sayangnya, satu per satu hasil beasiswa yang diharapkan tidak berpihak padanya. Meski demikian, Intan tidak menyerah. Kegagalan itu ia jadikan sebagai motivasi untuk terus berjuang dan berusaha lebih keras.

 

Akhirnya, ia memutuskan untuk memilih Sastra Indonesia di Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai pilihan pertama, dan Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai pilihan kedua.

 

Hari pengumuman SNBP akhirnya tiba, tepat pada 26 Maret 2024. Dengan jantung berdebar, Intan membuka halaman pengumuman di ponselnya. Hatinya hampir terhenti saat membaca bahwa ia tidak lolos di pilihan pertamanya, USU. Namun, ketika melihat namanya tercantum sebagai salah satu yang diterima di USK, ia merasa lega. Sebuah perasaan syukur mengisi hatinya. Meskipun tidak sesuai harapan awal, Intan tetap merasa bangga. Ia berhasil lolos SNBP, melewati semua kesulitan yang dihadapinya.

 

Di akhir perjalanan panjang ini, Intan menatap masa depannya dengan optimisme baru. Ia sadar bahwa hidup tidak hanya tentang deretan angka dan nilai, tetapi juga tentang bagaimana kita bangkit dari kegagalan dan terus berjuang untuk mencapai mimpi. Dan dengan keyakinan itu, ia melangkah ke depan, siap untuk menghadapi babak baru dalam hidupnya.  Sekarang, Intan sudah berada di Banda Aceh, melanjutkan perjuangannya. Jauh dari orang tua, membuatnya semakin kuat dan bersemangat membawa gelar ke kampung halaman.



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.