S-1 PGSD
Universitas Negeri Surabaya
Perkenalkan saya Syafrizal Isnain Maulana, izinkan saya untuk berbagi tips dalam perjuangan saya meraih kampus impian. Sebelumnya saya adalah siswa berprestasi di SMA, berbagai juara lomba ku dapat baik nasional maupun lokal, SMA saya adalah SMAN 1 Kedungadem terletak jauh dari Kabupaten Bojonegoro. Saya di sekolah sangat dikenal oleh bapak/ibu guru dan adek adek kelas.
Perjuangan saya dimulai dari kelas 10, untuk masuk jalur SNBP saya mengikuti berbagai perlombaan olimpiade untuk memudahkan dalam meraih kuota di jalur SNBP dan Alhamdullilah saya berhasil dan ibu saya merestui untuk berkuliah di Universitas Negeri Surabaya.
Pendaftaran SNBP tanggal 14-28 februari dibuka, saya sama ibu disuruh memilih S-1 PGSD UNESA saya mengikutinya, tetapi dalam hati kecil saya berhaarap memilih S-1 Pendidikan Fisika dan S-1 Teknik Fisika. Hari pendaftaran saya tanggal 16 pukul 8.45 saya pergi ke BK Bersama teman satu kelas untuk mentapkan pilihan dan melakukan pendaftaran. Disinilah saya mengerti bahwa doa ibu adalah sesuatu yang kita harus lakukan, saat pendaftaran saya menelepon ibu saya, kata-katanya seperti dibawah ini
Saya : “buk aku gamau PGSD nanti mentok jadi guru SD, aku milih Pend. Fisika dan Teknik Fisika buk”
Ibu : “nak kalau di PGSD memudahkan mu mendapatkan pekerjaan dan melanjutkan profesi ibu mu nak”
Saya : “gabisa buk aku ingin ke ke yang ada unsur fisika-fisikanya kan passion ku di SMA itu buk, terus aku ingin ke Teknik karena nantinya bisa jadi guru dan ikut ke perusahaan. Pagi ngajar di Sekolah, malam kerja di perusahaan untuk mendapatkan uang dan membahagiakan ibu dan bapak”
Ibu : “aku gak ingin nak uang banyak, yang ibu inginkan setiap hari bertemu dengan mu nak”
Saya : “gapapa buk biar ibu ga diremehkan orang lagi”
Ibu : “sudah nak ibu nangis, terserah mu pilih apapun ibu gabisa jadi contoh, gabisa memberikan yang terbaik, gabisa semuanya. Ibu gagal jadi orang tua” (dengan nada terisak tangis karena nada bicara dan omongan saya)
Saya : “iya buk”
Saya menutup telepon dan menangis di ruang BK, dan saya menceritakan kepada guru BK saya seperti apa komunikasi tadi dan saya disarankan untuk selalu menuruti ibu mu, karena dengan mengikuti maka akan diiringi dengan doa-doanya dan lebih cepat mendapatkan pekerjaan. Saya menuruti saran dari guru BK saya (Bu Hanif dan Bu May) dan merasa lebih lega dari sebelumnya.
Hari hari mendekati pengumuman, saya semakin takut dengan kegagalan dan melihat data ada 1688 pendaftar saya pasrah dengan kenyataan jika gagal dan mengikuti SNBT. Disitulah doa-doa ibu ku dijabah oleh Allah Swt. Beliau setiap selesai solat selalu berdoa untuk anaknya lolos, walaupun dalam hatinya ada ketakutan bila gagal.
Hari pengumuman tiba dan saya diterima di Universitas Negeri Surabaya Prodi PGSD. Isak tangis mengiringi ibu, bapak, bude dan semuanya nangis. Akhirnya saya mendapat banyak WA dari guru saya bahwa restu dan doa ibu adalah hal paling manjur di dunia, saya seperti merasa bersalah terhadap ibu dan setelah solat ashar saya meminta ampun kepada Allah Swt. bahwa saya pernah meragukan doa ibu dan tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh ibu ku sebelumnya bahwa “ridha Allah tergantung terhadap ridha orang tua”
Inilah kisahku yang selalu diiringi doa ibu ku dalam setiap langkah ku.

