Di Antara Harapan dan Kenyataan: Kisah Perjuangan Untuk Dapat Keterima di PTN Impian.

By Muhamad Fadel Al Rizki

Hai semunya ini adalah kisahku untuk meraih mimpiku. Perkenalkan namaku Muhamad Fadel Al Rizki, kalian bisa panggil aku Fadel, Al, atau Iki. Ini merupakan kisahku pada tahun 2022 yang ingin mewujudkan dan memperjuangkan mimpiku dengan nyata. Yups betul sekali kisah ini sudah 2 tahun berlalu dan aku ingin membagikan ceritaku ke kalian semua bagaimana aku memperjuangkan mimpiku pada tahun tersebut dan semoga ini bisa menjadi motivasi kalian untuk bisa meraih mimpi kalian.

Kisah ini berawal pada saat aku SMA, tepatnya MAN karena aku lulusan Madrasah Aliyah Negeri. Pada saat aku di MAN aku mengikuti berbagai kegiatan dan juga organisasi, seperti OSIS, Rohis, dan juga aktif dalam berbagai kegiatan acara sekolah seperti panitia marsbit, menjadi MC pembukaan KSM yang diadakan oleh kemenag, menjadi panitia inti Buku Tahunan Sekolah (BTS), serta kegiatan lainnya. Hal itu aku lakukan karena aku tentu ingin mengeksplor lebih jauh tentang kemampuan ku dan bisa ikut serta terlibat dalam berbagai kegiatan.

Tentunya dengan berbagai kesibukanku mengikuti organisasi dan kepanitian, aku tidak lupa dengan kewajibanku yakni belajar dengan sungguh-sungguh. Ketika aku duduk di kelas 10 hingga kelas 12 aku selalu ingin meningkatkan nilaiku di setiap semesternya. Hal itu aku lakukan agar ketika nanti kelas 12 aku bisa masuk ke dalam eligible. Ketika aku kelas 10 hingga kelas 12 ranking ku perlahan-lahan naik yang tadinya rankingku masuk ke dalam 10 besar, aku bisa masuk ke 5 besar bahkan ke 3 besar selama 2 semester. Tentu untuk bisa memperjuangkan ranking dan nilaiku untuk selalu meningkat tidaklah mudah bagiku dengan menyeimbangkan kesibukanku pada saat itu. Di sisi lain, aku juga mencari cara bagaimana aku bisa meningkatkan ranking dan nilaiku di setiap semesternya.

Pada saat aku kelas 10 tepatnya di semester 2 aku mencoba mencari guru private yang bisa mengajariku di pelajaran yang bagiku kesulitan untuk memahami materinya. Aku mencoba mencari guru private yang masih terjangkau harganya, karena untuk membayar les private tersebut aku harus membayar dengan uangku sendiri. Aku selalu menyisihkan uang jajanku untuk bisa membayar les private, hal itu aku lakukan karena aku tahu jika orang tuaku memiliki tanggungan pembayaran lain, dan di sisi lain juga aku tidak ingin merepotkan kedua orang tuaku. Hal ini hanya berlangsung selama kelas 10 di semester 2 saja, karena pada saat itu terjadinya pandemi covid-19 dan uang jajan yang diberikan oleh ke dua orang tuaku tidak mencukupi untuk membayar les private. Selain itu juga, uang tabunganku yang sudah habis sehingga tidak mampu lagi untuk membayar les private. Tentu hal tersebut tidaklah membuat aku berhenti bagaimana caranya untuk memahami materi, karena pada saat itu sekolah dilaksanakan secara daring dan tentu pembelajaran pada saat itu kurang efektif. Aku memahami berbagai materi dari berbagai pelajaran yang ada melalui sumber yang aku dapat, yakni dari youtube, google, bahkan langsung bertanya kepada teman. 

Tahun silih berganti dan aku sudah duduk di kelas 12. Tahun di mana penuh perjuangan, rasa takut, rasa sedih, rasa cemas, dan tentu masih ada sedikit rasa senang. Karena tahun terakhirku di sekolah akhirnya pembelajaran diadakan secara luring atau offline, walaupun pada saat itu masih 50% dan tidak bisa bertemu semua teman-teman, hanya sebagian saja yang bisa bertemu di sekolah yang jadwal sekolah luringnya sama denganku. Tahun terakhirku di sekolah menjadi tantangan bagiku untuk harus meningkatkan nilaiku, karena tepatnya di kelas 12 semester 5 menjadi kesempatanku terakhir untuk bisa meningkatkan nilaiku dan bisa mendapat kesempatan eligible.

Ujian Akhir Semester (UAS) terakhirku akhirnya sudah selesai dilaksanakan dan pembagian rapot sudah selesai dibagikan kepada para murid. Alhamdulillah nilai-nilaiku di semester ini meningkat semua dan rankingku juga ikut naik. Selama liburan semester aku menggunakan liburanku dengan mengikuti les untuk aku persiapan mengikuti SBMPTN atau sekarang mamanya adalah SNBT, atau ujian mandiri jika aku tidak keterima di SBMPTN. Hal itu aku lakukan karena aku tidak ingin terlalu berharap bisa mendapatkan eligible, karena aku tahu sainganku cukup banyak di sekolah.

Waktu begitu cepat berlalu dan di mana waktu yang ditunggu-tunggu yakni pengumuman siswa eligible akhirnya datang. Beberapa hari sebelum pengumuman siswa eligible aku sempat dipanggil oleh guru BK, beliau memberitahuku bahwa aku masuk ke list nama-nama siswa yang masuk kuota eligible. Tentu pada saat itu aku senang, tapi senang yang datang kepadaku tidaklah lama. Beliau menyuruhku untuk membantu periksa kembali nilai-nilai semua siswa dan ternyata pada saat diperiksa beliau salah memasukkan nilai satu mata pelajaran, dan karena hal itu namaku harus tersingkir dari list nama-nama siswa yang masuk ke kuota eligible. Bagaimana keadaakan aku pada saat itu, apakah sedih? tentu sangat sedih, perjuanganku selama ini hanyalah sia-sia. Tetapi aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, karena aku harus bangkit untuk memperjuangku bisa lolos di SBMPTN. Dan ketika pengumuman eligible tiba, aku sudah tidak kaget dan tidak sedih lagi karena sudah mengetahui lebih dahulu dibandingkan teman-teman lainnya. Sejak saat itu aku mulai bersungguh-sungguh belajar untuk memperjuangkan di SBMPTN.

Perjuanganku untuk dapat keterima di PTN dimulai dari sini. Sebelum aku mengikuti SBMPTN aku mengikuti jalur undangan dari Universitas Indonesia yakni PPKB UI, karena guru BK ku menyuruhku untuk mencoba daftar dan beliau juga meyakinkanku bahwa nilai rapotku bisa tembus ke PPKB UI. Karena beliau meyakinkanku, aku pun daftar dan melengkapi berbagai persyaratan, mulai dari scan nilai rapot dari semester 1-5, membuat esai, dan membayar biaya pendaftaran. Sambil menunggu pengumuman PPKB UI aku pun melanjutkan persiapanku untuk SBMPTN jika PPKB UI menolak aku. Di sela-sela aku mempersiapkan untuk SBMPTN aku juga memiliki kegiatan lain, mulai dari menjadi panitia BTS, mempersiapkan ujian praktik, ujian madrasah, serta ujian akhir. Tentu ini membuatku harus bisa mengatur waktu ku dengan segala kesibukanku. Apakah lelah? tentu sangat lelah, aku harus bangun pagi untuk sekolah sampai siang, selanjutnya pada siang hari aku harus rapat BTS, sore hingga malam aku les, lalu setelah pulang les aku melanjutkan belajar. Hal itu aku lakukan berulang selama 4-5 bulan. Tapi aku tidak ingin terlalu memikirkan lelahku, karena aku ingat alasan apa yang membuatku seperti ini, yakni masa depanku.  

Pengumuman PPKB UI akhirnya tiba, waktu di mana penuh dengan ketegangan untuk membuka pengumumannya. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 wib, waktu di mana sudah bisa mengakses pengumuman, dan saat itu aku langsung mencoba buka pengumumannya. Yups kalimat yang pertama aku lihat yakni “Maaf anda tidak dinyatakan lulus”. Bagaimana keadaanku saat itu? Tentu sedih, tapi tidak begitu sedih karena memang UI bukan tujuanku yang sebenarnya. 

Hari terus berganti, hari yang di mana ditunggu oleh siswa/I yang ada di seluruh Indonesia, yakni pendaftaran SBMPTN sudah tiba. Pada saat itu aku tidak langsung daftar, aku menunggu beberapa hari kemudian karena aku ingin mendapatkan sesi ke-2. Ketika hari yang aku tunggu telah tiba ialah waktunya aku mendaftar SBMPTN, benar saja aku mendapatkan sesi ke-2. Pada saat pemilihan universitas, tentu aku memilih kampus impianku yakni Universitas Brawijaya dengan jurusan Manajemen, dan pilihan ke dua Universitas Negeri Semarang dengan jurusan yang sama yaitu Manajemen. Selama menunggu hari di mana aku test SBMPTN, aku belajar dengan sungguh-sungguh dari pagi sampai malam dan hal ini aku lakukan terus berulang.

Hari yang ditunggu telah tiba, hari yang akan menentukan perjuanganku selama ini. Pada saat itu tentu perasaanku ada sedikit ketakutan tapi juga sangat bahagia, karena perjuanganku selama ini akhirnya sudah mau berakhir. Aku mengerjakan soal SBMPTN dengan lancar walaupun ada beberapa soal yang membuatku sulit dalam menjawabnya, tapi aku bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu tanpa ada 1 soal pun yang terlewat. Setelah menyelasaikan ujian SBMPTN, pikiranku mulai tenang walaupun ada rasa kepikiran pada saat nanti pengumuman. Tetapi aku tidak ingin terlalu memikirkan, karena aku tidak ingin terlalu lelah karena pikiranku sendiri yang selalu memikirkan hasilnya. Beberapa hari setelah ujian SBMPTN, aku pun wisuda dan dapat bisa bertemu dengan semua teman-teman angkatanku. 

Pengumuman SBMPTN pun tiba, hari penuh dengan rasa takut, tegang, dan cemas. Tapi aku harus berani membuka pengumumannya dan harus menerima hasilnya, karena setidaknya aku sudah memberikan yang terbaik dan sudah bisa berusaha untuk memperjuangkan mimpiku. Ketika jam tepat menunjukkan pukul 15.00 wib, hatiku semakin takut dan cemas karena pikiran yang ada dibenakku cuman “bagaimana nanti hasilnya, bagaimana jika aku mengecewakkan orang tua ku dan juga orang-orang sekitarku yang sudah menaruh harapan padaku untuk bisa lulus SBMPTN.” Aku pun tidak berani langsung membuka pengumumannya, aku langsung melaksanakan shalat asar terlebih dahulu dan berdoa agar hatiku sedikit tenang. Ketika aku sudah melaksanakan shalat dan berdoa, aku pun memberanikan diri untuk membukanya sendiri dahulu, dan ketika aku membuka hasil pengumumannya kalimat yang aku lihat yakni “JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT” dan tepat sekali pada saat itu ibuku masuk ke kamarku dan menanyakan hasilnya. Aku pun harus berkata jujur bahwa aku harus masih berjuang untuk dapat bisa diterima di PTN tahun tersebut. Lalu apa reaksi ibuku pada saat itu? Ibuku tentu menyemangati diriku untuk bisa berjuang kembali mendapatkan PTN impianku. Walaupun ibuku berkata begitu tapi perasaanku tidak bisa berbohong, aku sangat sedih, merasa diriku tidak berguna dan tidak bisa membahagiakan kedua orangtuaku. Hal itu berlangsung berhari-hari karena aku sangat patah hati oleh diriku sendiri karena perjuanganku selama ini hanyalah sia-sia. Aku tidak ingin berkomunikasi sama siapa pun, mengurung diriku sendiri di kamar, bahkan makan pun tidak begitu selera. Tapi karena semangat yang diberikan oleh ke dua orang tuaku, teman-teman serta guru BK aku kembali bangkit untuk bisa meraih mimpiku.

Aku pun bangkit kembali untuk memperjuangkan mimpiku walaupun pada saat itu hatiku masih terasa sedih karena ditolak SBMPTN. Aku memulai kembali dengan belajar seperti dahulu baik di les maupun sendiri. Aku benar-benar memperjuangkan di ujian mandiri dari berbagai universitas yang aku ikuti. Pada saat itu aku mengikuti ujian mandiri melalui jalur rapot yang disediakan oleh Universitas Brawijaya. Aku mengikuti ujian mandiri dari Universitas Brawijaya sebanyak 3x, karena pada saat itu UB membuka jalur mandiri sebanyak 3x. Aku benar-benar memperjuangkan UB untuk bisa keterima, karena UB merupakan kampus impianku dari dulu. Selain itu, aku juga membayar biaya pendaftaran dengan menggunakan uangku sendiri, karena aku tidak ingin merepotkan orang tua ku sendiri. Lalu bagaimana dengan hasilnya? Lagi-lagi UB menolak ku sebanyak 3x, aku benar-benar sedih karena pada saat itu ujian mandiri terakhir yang di mana kesempatan bagiku pada tahun tersebut untuk bisa lulus di UB. 

Tidak berhenti di situ aku mencoba mendaftarkan diriku di ujian mandiri universitas lain. Aku mengikuti ujian mandiri Unpad (SMUP) dan pada saat ujian mandiri berlangsung aku benar-benar sangat yakin dengan hasilku nanti, karena tipe soal yang diujikan sama dengan apa yang aku pelajari. Namun, lagi-lagi pada saat pengumuman aku ditolak. Saat itu juga aku bertanya dengan diriku sendiri, “sampai kapan aku harus berjuang?” “sampai kapan aku akan diterima?” “sampai kapan ini harus berakhir?”.  Tapi waktu untuk aku menanyakan hal itu tidak bisa lama, karna aku terbatas dengan waktu karena aku harus mengejar pendaftaran ujian mandiri yang lain. Aku mencoba daftar kembali jalur SMUP yang hanya pilihan untuk vokasi saja. Pada saat itu aku benar-benar yakin dengan hasilnya nanti karena soal yang diujikan lebih mudah dibandingkan dengan SMUP untuk S1. Tetapi aku ditolak kembali dan pada saat itu aku tidak ada waktu untuk sedih karena aku harus belajar untuk mempersiapkan 2 ujian mandiri lagi. Salah satu ujian mandiri yang waktunya sangat dekat yakni ujian mandiri Universitas Negeri Jakarta. Pada saat aku mengikuti ujiannya aku benar-benar sudah pasrah karena diriku ini yang sudah lelah mengikuti berbagai ujian yang tidak ada akhirnya. Ketika pengumuman pun perasaan ku benar saja, bahwa aku ditolak kembali karena memang pada saat mengerjakan soalnya aku tidak maksimal.

Lalu apa yang aku lakukan selanjutnya? aku terus melanjutkan mengejar mimpiku. Aku mencoba mencari cara bagaimana aku bisa keterima kampus di tahun tersebut. Aku mencoba mendaftarkan diriku untuk jalur mandiri lewat jalur rapot di Universitas Islam Indonesia (UII). Ketika daftar aku tidak bicara terlebih dahulu ke orang tua, biaya pendaftarannya pun menggunakan uang tabunganku kembali. Dan alhamdulillah ketika pengumuman aku keterima di jurusan hukum, namun pada saat itu respon serta ekspresi dari orang tuaku tidak bahagia. Aku pun menganggap hal itu tidak masalah bagiku, karena memang salahku yang tidak bicara terlebih dahulu kepada orang tua. 

Selanjutnya, aku mempersiapkan ujian terakhirku yang merupakan ini kesempatan terakhirku untuk bisa masuk ke PTN tahun ini. Ujian mandiri terakhirku ini diadakan langsung di kampus, yang mana hal itu membuat aku harus bergegas datang ke kampusnya langsung. Ujian mandiri terakhirku ini diadakan oleh UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ketika aku mengerjakan soal ujiannya aku juga sudah di titik pasrah, karena aku benar-benar sudah lelah mengikuti ujian mandiri terus menerus. Namun, pada saat pengumuman tiba alhamdulillah aku keterima, aku langsung mengabari ke dua orang tuaku dan mereka sangat bahagia atas kabar yang aku beritahu. Ketika saat itu juga, orang tuaku menyuruhku untuk ambil UIN Bandung saja sebagai tempat aku menuntut ilmu selanjutnya. Aku juga langsung mengabari guru BK ku, dan kakak-kakak yang mengajari ku di tempat les.

Namun, ketika aku mengetahui bahwa aku keterima, aku tidak begitu senang. Karena aku masih menginginkan untuk bisa keterima di Universitas Brawijaya dan bisa melanjutkan pendidikan ku di kampus tersebut. Tapi aku pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena mungkin ini merupakan jalan dan takdirku yang harus bisa aku terima. Sekarang aku sudah semester 5, tentu ini juga bukan merupakan jalan yang mudah bagiku untuk bisa melepaskan UB. Tapi aku juga bersyukur bisa melanjutkan pendidikan di tahun tersebut dan bisa menemukan banyak pelajaran yang sebelumnya belum aku dapatkan.

Aku juga memutuskan untuk tidak mengikuti ujian mandiri di tahun berikutnya karena aku ingin memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bisa mewujudkan kampus impian mereka. Aku juga yakin dengan kampus ini sekaligus pilihan orang tua ku ini bisa membawa aku menuju kesuksesan dan dapat tercapai cita-citaku. 

Ini merupakan lembaran-lembaran aku mengenai perjalanan hidupku untuk bisa mewujudkan mimpiku, namun mimpi yang tidak bisa aku raih. Aku juga belajar bahwa sesuatu yang kita inginkan tidak selamanya bisa kita raih. Ingat, mimpilah setinggi mungkin jika kamu jatuh kamu akan jatuh di bintang-bintang. Kegagalan bukanlah hal yang memalukan tapi bisa membuat langkah menuju kesuksesan. Ini akhir dari cerita aku untuk mewujudkan mimpiku pada tahun tersebut, semoga ceritaku bisa menjadi motivasi kalian untuk bisa meraih mimpi kalian. 


Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.