Lulus Cumlaude, Perjuanganku Di Kampus Swasta Universitas labuhan Batu

Halomoan Sirait

WhatsApp Image 2024-08-14 at 15.51.02_6db9951c

Sumber foto : Rosnaini NST, Universitas Labuhan Batu

 

September 2022, aku mendaftar Magister Manajemen di Universitas Labuhan Batu yang jaraknya 30 menit dari rumahku menaiki bis umum. Aku sungguh bahagia karena di support secara keuangan oleh kakak dan mamaku. Aku mengikuti serangkaian tes yang cukup ketat secara online. Alhasil aku dinyatakan lulus di magister manajemen. Itu sungguh bahagia. Aku mengenal banyak dosen , kembali ke kampus dan mendapatkan kolega baru saya. Ibu Mardiah Purba, Rosnaini Nasution, Waslim, hingga Suheri Marzono adalah beberapa diantaranya. Kami satu angkatan berjumlah 20 orang dan kami begitu kompak dengan segala suka dan duka yang ada didalamnya. Misalnya, Suami Ibu Mardiah Purba meninggal dunia , padahal beliau baru selesai sidang doktor di kota Medan.Awal yang sungguh menyisakan duka bagi Bu Mardiah yang akhirnya membawa perhatian kepada teman teman untuk menyelesaikan ujian dan tugas kuliah yang ia lewatkan. Cerita selanjutnya, aku mendapatkan beasiswa CSEL UI dengan mendapatkan potongan biaya 50% (beasiswa parsial), namun sayang aku tidak melanjutkannya karena ketiadaan biaya untuk terbang ke Salemba UI, Jakarta.Selanjutnya saya merancang ide berbisnis media di kelas riset bisnis. Saya mendaftarkan diri ke media siber dan melemparkan tulisan saya keberbagai instansi dan stakeholders. Sungguh diluar dugaan, saya berhasil mendapatkan benefit dengan fee dan rewards yang saya terima.

Saya akan mendeskripsikan teman sekelas saya dan karakter da sifatnya yang unik. Kak Ros, seorang podcasters berbakat yang menunggu beasiswa S3. Suheri Marzono, seorang petani cabai yang pernah mendapatkan dana hibah dari Bank BI Siantar untuk peralatan pertanian. Sungguh hebat. Fica Widyasari Miswanto, seorang bankir. Nilhar Nasution, PNS yang sangat tekun kuliah. Serta Bu Mardiah Purba, Kepala Suku di kampus kami yang juga seorang guru PAUD di madrasah. Pun demikian, karakter dosen dan doktor didalamnya juga sangat menyenangkan untuk diceritakan, hingga Pak rektor yang selalu ghosting bila mendapati jam mengajar.

Saya tidak mengejar IPK, tidak seperti S1 yang sangat tergila gila mengejar nilai A. Maklum, saya lintas jurusan dan saya berkuliah S1 di Universitas Diponegoro, universitas tertua bila tak ingin dibilang ternama.2024, saya mulai dipusingkan oleh drama thesis, spp hingga biaya wisuda. Saya menjalaninya dengan ikhlas sambil bekerja diladang sawit selama 2 kali sebulan di Padang Lawas Sumatera Utara. Saya juga aktif mengikuti organisasi SMA untuk mengadakan sumbangan ke santri dan yatim piatu. Saya juga mengikuti CIC UGM, dimana saya duduk sebagai asessor jurnalis. Saya melakukan itu semua karena betapa bahagianya dunia kuliah dan mengeksplor kemampuan dalam diri kita. Sehingga teman teman sering bergurau “abang banyak project ya” saya hanya tertawa dan tersenyum tipis.

12 September saya menjalani sidang thesis dan dinyatakan lulus dengan indeks prestasi cum laude. Setelah menjalani proses seminar yang begitu melelahkan selama 2 jam dan selama 3 kali seminar hasil thesis, saya sungguh bahagia dengan keputusan dosen pembimbing dan dosen penguji saya yang baik hati. Saya sungguh bahagia dengan mereka, kebijak sanaan para doktor tersebut yang mempermudah mahasiswa. Akhirnya kami 5 lulus sidang thesis (saya tidak sendiri).

Menyandang gelar M.Si sungguh sebuah kebahagiaan, namun disaat saat terakhir saya mendapatkan plot twist dari akhir kuliah saya tersebut. Saya bertemu dengan direktur Magister Manajemen diruangannya lantai 2, dan ia menyatakan sungguh bangga kepada saya bahwa saya mahasiswa berprestasi yang mengukir banyak sekali karya selama kuliah. Saya menitikkan air mata. Terima kasih Universitas Labuhan Batu.

Saya percaya, universitas tidak hadir untuk mencari lapangan pekerjaan, namun untuk menciptakan lapangan pekerjaan, melihat peluang, hingga mampu membuka usaha sendiri dalam berwirausaha yang kreatif dan memiliki jiwa kepemimpinan.Saya percaya bahwa tidak ada perjuangan yang sia sia, tapi tidak berjuang adalah kekonyolan. Semoga kisah saya ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengukir prestasi akademik dan non akademik demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Salam

Halomoan Sirait S.I.Kom M.Si

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.