Setiap individu adalah pemeran utama dalam perjalanan hidupnya masing-masing. Setiap orang memiliki impian dan tujuan yang ingin dicapai, meskipun berbagai rintangan dan tantangan selalu hadir di sepanjang perjalanan. Melalui kisah ini, saya ingin berbagi pengalaman bahwa kesungguhan dalam berjuang akan selalu membuahkan hasil yang baik. Seperti pepatah Arab yang berbunyi من جد و جد yang berarti “barangsiapa bersungguh-sungguh, ia pasti akan berhasil.” Semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi positif bagi para pembaca yang saat ini tengah berjuang untuk mencapai impian mereka.
Saya menghabiskan enam tahun di Rumah Tahfidzh, Tasikmadu tempat saya menimba ilmu agama, mempelajari kitab, dan menghafal Al-Qur’an. Sementara itu, saya juga mengikuti pendidikan formal melalui homeschooling. Ketika memasuki kelas 3 SMAI Al-Azhaar Tulungagung, saya mulai memikirkan masa depan, terutama mengenai perguruan tinggi. Namun, pada saat itu, sebagai santri yang tidak memiliki akses ke handphone, saya kesulitan mencari informasi mengenai pendaftaran di perguruan tinggi negeri (PTN). Untungnya, orang tua saya sangat mendukung dan membantu saya mendaftar ke beberapa PTN, termasuk UIN Malang dan UIN Surabaya.
Di saat yang bersamaan, saya pergi ke sekolah saya di Tulungagung untuk persiapan ujian kelulusan selama tiga bulan. Saat ditanya oleh orang tua saya tentang jurusan yang ingin saya ambil, saya sempat bingung. Saya pun mengatakan kepada orang tua bahwa saya ingin masuk jurusan Psikologi, karena saya berpikir menjadi seorang psikologi akan memungkinkan saya membaca pikiran orang lain dan terlihat asik. Selain itu, setelah enam tahun mondok, saya ingin mencoba hal yang berbeda dan ingin mengejar impian saya sejak SD untuk kuliah di kampus impian.
Namun, pada akhirnya saya mendapat kabar bahwa saya tidak lolos seleksi UIN karena email informasi masuk ke spam. Meski begitu, orang tua saya tidak menyerah dan memutuskan untuk mendaftarkan saya ke Universitas Brawijaya, kampus yang dikenal sebagai “Kampus Biru.” Setelah ujian sekolah selesai, orang tua saya datang ke Tulungagung dengan pesan yang cukup mengejutkan. Ayah saya meminta saya untuk pergi ke pondok pesantren Tarbiyatul Qur’an “Ar-Rahmah” guna menyelesaikan hafalan 10 juz sebagai syarat memperoleh syahadah (sertifikat) yang dibutuhkan untuk melanjutkan kuliah. Meskipun berat, saya menerima tantangan tersebut. Setibanya di sana, saya disambut dengan kehangatan, tetapi juga dengan tanggung jawab besar. Setiap hari saya berfokus pada hafalan, mengulang-ulang ayat-ayat Al-Qur’an hingga larut malam. Terkadang, saya merasa lelah, tetapi motivasi untuk menyelesaikan hafalan dalam waktu singkat mendorong saya untuk terus berusaha. Saya tahu, memiliki hafalan Al-Qur’an adalah anugerah yang tidak dimiliki semua orang, dan ini adalah kesempatan berharga. Tidak mudah, tentu saja. Saya pernah merasa terluka ketika teman saya berkata, “Untuk apa ikut tes syahadah, kan kamu yang ingin kuliah, bukan aku.” Ucapan itu membuat saya terdiam dan merenung. Namun, saya tidak membiarkan kata-kata itu mematahkan semangat saya. Sebaliknya, saya menjadikannya bahan bakar untuk lebih giat berusaha.
Pada akhir pekan, Alhamdulillah, saya berhasil menyelesaikan ujian hafalan 10 juz dan mendapatkan syahadah. Dengan syahadah tersebut, saya mendaftar ke Universitas Brawijaya melalui jalur prestasi hafalan. Akademik saya tidak terlalu unggul, sehingga hafalan ini menjadi satu-satunya kelebihan yang bisa saya andalkan. Saya memilih jurusan Psikologi sebagai pilihan pertama dan Sastra Cina sebagai pilihan kedua.
Setelah berkas pendaftaran selesai, saya hanya bisa berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Saya juga rutin melaksanakan shalat Tahajjud, memohon agar diberikan jalan yang terbaik untuk masa depan saya. Ketika tiba hari pengumuman, saya dan keluarga sudah siap di depan laptop. Meskipun pengumuman diundur hingga sore hari, saya tetap optimis. Setelah Ashar, saya memasukkan data, dan Alhamdulillah, doa saya terkabul. Saya diterima di Universitas Brawijaya, meskipun bukan di jurusan Psikologi, melainkan Sastra Cina.
Meski sempat merasa khawatir karena harus mempelajari bahasa yang belum pernah saya pelajari sebelumnya, saya bersyukur dan berusaha beradaptasi dengan baik. Sampai saat ini, saya masih bertahan dan menikmati proses belajar di jurusan tersebut. Kisah ini mengajarkan saya bahwa usaha keras yang tidak disertai doa dan tawakkal kepada Allah SWT, akan sia-sia. Oleh karena itu, perjuangan saya untuk meraih kampus Impian sejak usia SD ini tidak hanya tentang kerja keras, tetapi juga tentang keyakinan dan doa yang tak pernah putus.
BUKTI KTM

