Perpustakaan sekolah menemani waktu istirahat. Komputer perpustakaan menyala dan perangkat keluaran (monitor) menayangkan aplikasi pengolah kata yang menampilkan salah satu halaman karya tulis yang memiliki deadline bulan depan. Komputer itu hanya menyala saja. Perangkat masukan keyboard dan mouse bersiaga di atas meja tanpa ada sepasang tangan yang menggunakannya.
Aku duduk di atas meja dengan kedua tangan memegang lutut, dan wajah menghadap layar monitor. Namun tatapanku kosong. Pikiranku lebih kepada “misi-misi” lainnya yang diberikan pasantrenku, serta yang menentukanku masuk perguruan tinggi, daripada fokus mengerjakan karya tulis.
Aku terpikirkan, tidak adanya jeda istirahat setelah menyelesaikan karya tulis ini. Kami akan langsung melakukan kerja lapangan ala pasantrenku yang bernama Program Pelatihan Khidmat Jam’iyyah, disingkat PLKJ yang menjadi syarat lulus mualimin (setingkat SMA). Tapi tidak sampai disitu. Di sela-sela waktu PLKJ, kami juga berhadapan dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi atau orang-orang sering menyebutnya dengan SNMPTN (di zamannya). Itu artinya, tidak ada masa istirahat, tidak ada waktu untuk fokus mempersiapkan SNMPTN, plus aku tipe orang yang tidak bisa belajar cepat, bukan anak yang berpretasi, dan terkadang malas pula.
“Sip, pusing nih kepala.” Kataku dalam hati.
Aku yakin, akan sulit mengalahkan semua orang yang ikut SNMPTN jika seperti ini. Ya gimana tidak, menurutku SNMPTN seperti permainan bergenre battle royale, dengan peraturan tidak ada kerjasama tim, sehingga semua orang saling menjatuhkan satu sama lain. Hanya saja kali ini, masing-masing orang membawa senjata berupa kumpulan ilmu pengetahuan dan kemampuan problem solving. Jika ingin menang harus ada di peringkat yang sudah ditentukan oleh panitia, jika berada di bawah dari angka yang di tentukan, good bye. Dan persenjataanku…tingkat rendah, plus tidak ada Latihan.
Beberapa hari kemudian setelah karya tulis telah diselesai, kami semua berangkat dari Bandung ke Sumedang, dimana PLKJ dilaksanakan. Semuanya sesuai jadwal. SNMPTNnya juga sesuai dengan, yang dijadwalkan, yaitu berada di pertengahan tanggal pelaksanaan PLKJ. Jadwalnya terasa sempit. Aku hanya bisa menyelesaikan 50 halaman dari buku latihan SNMPTN yang kurang lebih memiliki 300 halaman. Ya gimana tidak, memang kesibukan PLKJ itu lumayan, dari mulai mengajar di sekolah, membuat RPP, tugas untuk mengurus masjid, dan tugas lainnya. Oh ya, by the way, aku baru bisa tidur pukul dua malam saat jadwal SNMPTN akan dilaksanakan besok. Mantap, kurang tidur, nih. Padahal harus siap-siap pukul lima pagi.
Hari tes SNMPTN akhirnya tiba. Aku dijemput ayah dengan mobil, dan sampailah di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, dimana aku akan melaksanakan tes SNMPTN. Setahuku, hanya aku saja yang melaksanakan tes SNMPTN di UIN dengan jurusan Informatika. Teman-temanku memilih perguruan tinggi lain dengan jurusan yang berbeda-beda, dan pasti jadwal yang berbeda-beda pula. Saat pertama kali sampai, aku benar-benar terpukau dengan scenery UIN Bandung. Lebih terlihat seperti kota elit dengan taman, jalanan besar, dan gedung-gedung tinggi. Aku benar-benar berharap bisa berkuliah di sini.
Setelah melakukan proses masuk ruangan hingga menggunakan komputer All in One, aku sudah mulai pesimis. Why? Pertama aku kurang tidur, kedua orang-orang yang ada di ruangan terlihat pintar-pintar, dan ketiga aku tidak ingat apa yang aku pelajari malam tadi. Dan saat memulai tesnya, beuh! Mantap-mantap soalnya (kecuali tes kompetensi dasar). Soal-soal itu seperti seekor naga yang siap mencabik-cabik dengan kuku yang tajam dan membakar tubuhku hidup-hidup. Dengan persenjataanku yang biasa saja dan latihan bertarung yang kurang. How to defeat it? Ya sudah lah, let’s see what I can do.
Sekarang aku berada di Yogyakarta sebagai acara jalan-jalan setelah PLKJ. Aku menikmati perjalanan ke sana. Meski begitu, hasil tes SNMPTN yang akan diumumkan di kemudian hari dan rasa kecewa karena…aku kesulitan saat mengerjakan tes tersebut masih menghantuiku. Kedua orang tuaku bilang, santai saja dengan hasilnya. Aku tahu mereka tidak berekspetasi tinggi dengan diriku, tapi tetap saja aku tidak mau membuat mereka kecewa, serta tidak mau menghabiskan uang orang tuaku. Meski aku tahu mereka Ikhlas dan uang itu akan menjadi amal mereka.
Hari diumumkan hasil tes tiba. Heh…. Perkiraanku benar. Yaa gimana tidak, performaku saat tes begitu-begitu saja. Aku merasa kesal tidak bisa mengalahkan orang lain. Ya aku bodoh. Not like everyone else.
Aku mencoba membeli kartu kesempatan, yaitu mengikuti SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan harga 200 ribu Rupiah. Aku memilih jurusan yang sama, namun sekarang di Universitas Padjadjaran Bandung atau UNPAD Bandung. Dan untuk sekarang tidak ada lagi kesibukan, sehingga bisa mempersiapkan untuk menghadapi tes, lebih baik daripada sebelumnya.
Hari tes SBMPTN tiba. I scared. Aku takut gagal lagi untuk kali ini, namun mencoba agar tetap optimis selama menjelang tes. Orang tuaku tidak masalah sebenarnya jika gagal lagi, karena masih ada kampus swasta. Tapi dalam hati aku ingin berhasil tes SBMPTN dan masuk UNPAD. Jika aku masuk kampus swasta, pasti akan berada di kampus yang kecil, agar mendapat harga rendah. Aku tidak berani masuk kampus swasta dengan harga tinggi karena tidak ingin memakai uang orang tuaku terlalu banyak.
Setelah menunggu aku masuk dengan suasana yang sama saat tes SNMPTN. Alat yang digunakan untuk tes juga sama. Halo komputer All in One…lagi. Lama-lama bosan aku melihatnya. Baiklah, mari coba lakukan. Aku harap kali ini berhasil lulus tesnya.
Yaa, takdir berkata sebaliknya ternyata. Aku terkalahkan lagi. Heh…. Meski orang tuaku tersenyum, aku membayangkan mereka kecewa karena kegagalanku untuk kedua kalinya. Jadi begitu…ya sudah lah. Meski memang aku diam-diam menangis lagi pada malam hari, tapi aku coba menerima takdir buruk ini. Tapi tetap, aku kesal kepada diri sendiri karena tidak ada perkembangan yang membuatku bisa lulus tes SBMPTN.
Awalnya aku ingin mengikuti tes SNMPTN tahun depan, alias beristirahat dari pendidikan formal hingga bisa mengikuti tes SNMPTN selanjutnya, sambil fokus menulis karangan dan belajar membuat video gim. Tapi orang tuaku tidak mengizinkan keputusanku. Mereka ingin aku berkuliah, meski di kampus swasta harga rendah, karena aku akan kehilangan waktu. Aku hanya menurut. Bukan hanya karena alasan mereka make sense, tapi ingin berbakti kepada orang yang telah mengurusku dari kecil. Orang tuaku adalah orang tua yang baik, selalu mendukungku, dan selalu menuntunku ke arah yang baik. Mungkin saja dengan keputusan mereka, aku bisa mendapatkan hal baik di masa depan.
Akhirnya, aku berkuliah di salah satu kampus swasta yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sekolah Tinggi Teknologi Pratama Adi disingkat STTPA dengan jurusan Informatika. Kampus kecil dengan satu gedung di lahan yang bisa dibilang setengah lapangan sepak bola atlet nasional. Nothing Fancy. Kampus tersebut masih satu yayasan dengan sekolah kursus Bahasa Inggrisku dulu, jadi biaya masuk bisa di press alias diberi diskon karena aku pernah belajar di tempat mereka. Untunglah, jadi bisa mengurangi pengeluaran orang tua. Ya, meski berhasil mengurangi biaya, orang tuaku malah memberikan sebuah laptop yang bisa dibilang, tidak berharga rendah.
Karena pemberian laptop dan tempat kuliah sekarang, aku tidak secara langsung berjanji kepada orang tuaku bahwa aku akan berusaha sebaik mungkin selama belajar di kampus kecil itu. Minimal IPK 3,5 per semester tidak boleh kurang, untuk membayar kegagalanku saat mengikuti tes SNMPTN dan SBMPTN. I’ll do my best.

