Melodi kehidupan untuk mencapai kesuksesan dengan pendidikan ✨

2005 Tahun ini adalah tahun kelahiran bayi kecil yang dilahirkan dengan normal dan sehat, yang senantiasa ditunggu kehadirannya oleh kedua orangtuanya. Proses yang sulit dan panjang dalam pencarian nama dan akhirnya diberikan lah atasnya nama yang cantik nan indah artinya ‘ Anisa Amanati Haryati’.

Waktu demi waktu silih berganti akhirnya bayi mungil itu pun tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria, banyaknya teman dan hangatnya kekeluargaan dia rasakan, senyum yang tak pernah luntur terlihat jelas dari bibir nya.

‘Anisa Amanati Haryati’ yang kerap dikenal banyak orang sebagai Anisa ini merupakan gadis kecil yang nakal dan suka menganggu teman temannya, ternyata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu benar adanya, sifatnya adalah keturunan dari ayahnya.

2010

Seketika waktu sekolah pertamaku tiba, jaraknya hanya 10 meter dari rumah oleh karena itu, aku senantiasa berjalan kaki, awalnya aku tidak tertarik dengan sekolah, ternyata dengan mendapatkan banyaknya teman baru membuatku bersemangat dikemudian harinya.

Tidak membutuhkan waktu lama, gadis kecil ini sudah bisa membaca, menulis dan berhitung. Akan tetapi tetap saja, aku belum terlalu tertarik didalam dunia akademik ini, hingga saatnya wisuda TK, aku hanya diam menjadi penonton teman temanku yang berprestasi untuk maju kedepan panggung.

2012

Tahun dimana aku naik ke jenjang lebih tinggi yang kerap kita ketahui dengan ‘sekolah dasar’, aku masuk madrasah ibtidaiyah yang jaraknya juga masih dekat dari rumahku. Setiap pagi senantiasa aku diantar oleh ayahku menggunakan sepeda motor miliknya. Di jenjang ini aku sudah tertarik akan akademik, aku belajar dengan giat dan rajin, berbagai lomba aku ikuti sehingga aku bisa menjadi duta pelajar terbaik di sekolahku. Orangtuaku memang mendidikku dengan pendidikan dan kerohanian yang tinggi, berbagai macam les aku ikuti untuk bisa meraih nilai yang tinggi, dan setiap hari di sore harinya aku selalu mengaji di TPA yang jaraknya pun dekat dari rumahku.

Prinsip kedua orangtuaku menyekolahkanku yang jaraknya terjangkau dari rumah agar mereka tidak repot untuk selalu mengantar-jemputku dan aku juga bisa lebih mandiri dikarenakan aku tidak perlu berketergantungan dengan mereka, ketika aku ingin berangkat dan pulang sekolah aku bisa berjalan kaki dengan sendirinya.

2018

Di tahun ini gadis kecilpun beranjak remaja, aku memutuskan untuk masuk ke pondok pesantren yang jaraknya masih terjangkau dari rumah, walaupun seminggu sekali aku dijenguk, tapi aku bisa bertahan hingga akhir.

Disini aku banyak belajar tentang kehidupan, bagaimana aku harus mandiri, bagaimana caranya berteman dan masih banyak lagi. Lika-liku ketika SMP sangat banyak, tetapi aku sudah dibiasakan ketika kecil, sehingga aku tumbuh menjadi remaja yang kuat.

3 tahun berlalu dan aku masih ditahap yang sama yaitu menjadi santri yang berprestasi.

2021

Sekarang tibalah waktunya aku memasuki fase menjadi remaja yang matang, aku melanjutkan pendidikanku di pondok pesantren yang berbeda, dan jaraknya lumayan jauh dari rumah. Disini bukanlah hal yang baru lagi bagiku karena aku sudah mengambil pelajaran di bangku SMP.

Banyak nya teman aku dapatkan di bangku SMA ini, karena pertemanannya yang sudah dewasa jadi tidak ada lagi pertikaian antar teman. Disini aku mengalami sedikit culture shock dari berbagai aspek dikarenakan aku dari pondok pesantren salafiyah, tetapi tidak menggunakan waktu lama aku sudah bisa menyeimbangi keadaan di pondok pesantren modern ini.

Banyaknya teman yang mengundurkan diri disebabkan culture shock ini, membuatku ikut terombang-ambing dengan ombaknya. Dan pada akhirnya aku bisa sampai di dermagaku dengan selamat.

2024

Dibangku kelas akhir ini banyak sekali pikiran yang menyerangku salah satunya pikiran kemana aku harus melanjutkan hidupku. Ternyata lika liku nya baru saja dimulai di akhir bangku sekolah ini, lamunan yang sering aku lakukan dikarenakan hal ini, kesuksesan yang selalu aku bayangkan semoga sesuai dengan harapan.

Mengikuti berbagai tes untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang tinggi ini telah banyak ku lakukan, tak banyak aku mendapatkan penolakan dan tak banyak pula aku mendapatkan penerimaan.

Dari segala hal yang aku amati, setiap orang punya impian nya untuk masuk PTN favorit mereka masing-masing, tidak ada yang tidak ingin untuk bisa masuk PTN favorit, jikalau adapun mereka hanya hebat dalam hal berpura-pura karena tiap-tiap orang memiliki takdir yang berbeda

  1. Ada yang diterima di universitas impian tapi tidak di jurusan nya
  2. Ada yang diterima di jurusan impian tapi tidak universitas nya
  3. Ada yang sudah diterima di universitas tapi tidak diambil
  4. Ada yang diterima di universitas impian dan jurusan impian.

Adapun perihal kuliah, kita harus berdiskusi dengan matang berasama orangtua dikarenakan tidak semua orangtua mampu untuk langsung melanjutkan pendidikan anak nya ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai anak dan orangtua harus bisa berkomunikasi aktif dalam hal ini, sehingga bisa mencari jalan keluar yang bisa disepakati oleh pihak bersama.

Ada yang kerja untuk bisa kuliah dan ada juga yang kuliah untuk bisa kerja keduanya sama-sama baik, tidak ada yang tertinggal dalam hal apapun kita semua hanya berbeda jalan untuk bisa meraih sukses kita masing-masing.

Di bulan Juni tahun 2024 aku mencoba untuk keluar dari zona nyamanku, aku mencoba untuk daftar kuliah di luar negeri yang terkenal dengan kampusnya yang tertua dan beberapa tokoh yang terkemuka yaitu ‘Azzaitunah’ di negara Tunisia. Perjalanan yang panjang aku jalani didalam tahap pendaftaran nya ternyata tidak hanya satu kampus, di tahun ini pihak panitia Tunisia membuka pendaftaran di 6 universitas terbaik disana, pada akhirnya aku memilih universitas Kairouan untuk menjadi pilihan dan tujuanku. Berbagai tahap penyeleksian aku ikuti, dan bersaing dengan ratusan pelajar yang berasal dari sekolah terbaiyk, tetapi takdir tuhan itu nyata aku lolos dari banyaknya tahap yang ada. Sekitar 70 pelajar Indonesia lolos seleksi dan akan diberangkatkan ketika loa dari kementerian luar negeri sudah turun. Bahagia dan terharu yang aku rasakan ternyata aku bisa keluar dari zona nyaman.

Dibalik itu semua banyak sekali orang yang berpendapat “buat apa sekolah tinggi-tinggi?blm tentu dapet kerjaan siap-siap aja jualan atau ngga jual diri”.

Tetapi sebenarnya tahu tidak? Kenapa perempuan harus berpendidikan ?

Agar tidak melahirkan manusia yang memiliki pola berpikir dan mentalitas seperti ini, karena perempuan yang pintar akan melahirkan anak yang pintar.


Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.