Menapak Jalan Berduri Menuju Binus : Dari Pekerja Laundry Hingga Raih Beasiswa Impian

Perjuangan menuju universitas impian apalagi universitas ternama bukanlah perjalanan yang mudah bagi aku. Bagi sebagian orang, universitas impian adalah simbol dari harapan, mimpi, dan masa depan yang lebih cerah. Begitu juga dengan aku, yang sejak kecil aku hanya tahu ketika sudah masuk sekolah ada TK, SD, SMP, SMA selanjutnya melanjutkan ke jenjang perkuliahan menuntut ilmu dan menggapai cita-cita setinggi-tingginya tanpa tahu biayanya sangat tinggi juga. Namun, perjalanan untuk mencapainya penuh liku, tantangan, dan pengorbanan bahkan yang tak terpikirkan dan terbayangkan olehku. 

Dari awal aku sudah pupus harapan semenjak lulus SMA yakin tidak bisa kuliah karena yang aku tahu kuliah itu biayanya mahal dan tidak semua orang bisa masuk kesana, aku berusaha mencari beasiswa pada awalnya namun tetap harus menyiapkan biaya di awalnya entah aku bingung dan tidak tahu arah aku buntu. Menurut ku proses belajar yang melelahkan, tidak melewati kesempatan emas, menghadapi ujian yang menegangkan, hingga melewati saat-saat penuh ketidakpastian saat menunggu hasil seleksi, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang tak terlupakan. Kisah ini adalah catatan dari setiap langkah yang aku ambil dalam mengejar mimpi tersebut, sebuah refleksi dari tekad, kegigihan, ambisi dan keyakinan bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan jika kita terus berjuang tanpa henti.

Pada awalnya aku tidak yakin bisa kuliah, kuliah dimana pun entah di universitas biasa ataupun universitas ternama. Dari kecil impian ku bisa sekolah, menggapai cita-cita setinggi mungkin,dan dapat membanggakan kedua orang tuaku, mulai SMP menuju SMA aku mulai serius belajar dan menjadi salah satu siswi yang berambisi mengikuti lomba dan setidaknya selalu mendapatkan juara kelas. Mulai dari sana aku menekadkan dan bermimpi bahwa aku pasti bisa kuliah di universitas ternama dan menjadi sukses ke depannya sesuai yang aku mau menjadi jurnalis. Namun takdir berkata lain saat mendekati ujian nasional SMA aku mengalami duka yang sangat berat, ayahku telah pergi meninggalkan dunia karena sakit yang dideritanya, dunia ku pun hancur, gelap, aku tak tahu arah, aku tidak lagi memikirkan mimpi-mimpi itu, pupus sudah semua cita-cita ku, ekonomi ku pun ikut terjun ke bawah, aku merasa sendirian, aku bingung harus ke mana dan bagaimana, aku hanya harus menjalankan hidup sebagaimana mestinya dan menguatkan ibu dan adikku, tidak lagi terpikirkan oleh ku untuk kuliah, aku hanya harus bekerja agar dapat bisa menghidupi ibu dan adikku, apapun itu demi menopang hidup kami. 

Setelah kejadian itu nilai ujian akhir ku tidak mendapatkan nilai yang memuaskan, aku terpaksa mencari kerja dan bekerja di laundry yang bisa menerima pekerja tanpa ijazah pada saat itu, aku kaget dan mencoba jalani pekerjaan itu walaupun berat, tapi beruntungnya pada saat itu aku ditawari dari sekolah ku untuk tes beasiswa di universitas ternama Universitas Pelita Harapan jurusan guru dengan pilihan penjurusan apapun karena nilai akademis ku cukup bagus tapi pada saat itu aku tidak bisa ambil keputusan akhirnya aku menolak tawaran tersebut dan aku harus bekerja untuk membiayai hidupku dan keluargaku. Singkat cerita aku bekerja penuh waktu di laundry dekat rumah tiap hari bekerja selama 12 jam demi bisa membiayai hidup, membayar tunggakan dan keperluan lainnya selama 10 bulan lamanya, setelahnya aku bekerja sebagai staff keuangan di koperasi selama 2,5 tahun di sana aku banyak sekali belajar dan mengambil ilmu secara otodidak tentang keuangan dan sistem akuntansi aku tekuni apapun tantangan dan kesulitan yang aku hadapi selagi ada youtube dan Tuhan pastinya. 

Aku pada saat itu banyak mengalami masalah juga selain aku juga di sepele kan karena hanya lulusan SMA dan banyak masalah lainnya aku mencoba bertahan demi bisa memahami alur keuangan dan sistemnya, pada saat itu aku tidak pernah ke pikiran untuk kuliah tapi sempat mencari tahu tentang perkuliahan tapi pupus juga karena menurut ku biaya adalah yang paling penting aku bukan memikirkan diriku sendiri melainkan ibu dan adikku. Aku juga sempat di pandang rendah dan di caci oleh orang sekitar terlebih teman sebaya ku karena aku tidak kuliah, aku tidak mampu seperti mereka yang kuliah tapi mental ku lama-lama terbiasa, aku bisa mengatasinya dan menjadi lebih kuat, aku sempat murung dan merasa rendah diri tapi mama ku selalu mengingatkan ku bahwa semua akan indah pada waktunya suatu saat kamu pasti mampu dan bisa kuliah sesuai apa yang kamu impikan, aku selalu menanamkan itu di otakku dan berdoa semoga terwujud. 

Impianku di SMA yaitu bisa berkuliah di Binus University karena kakak kelas dan teman sebayaku berhasil masuk Binus University dengan biaya masuk yang terbilang mahal dan lolos seleksi, tentunya aku merasa tidak mampu untuk masuk Binus University bahkan mengikuti program beasiswanya pun aku juga harus menyiapkan uang karena aku merasa rendah diri tidak dapat yang 100% padahal belum mencoba tapi sudah menyerah duluan. Sekian kalinya aku merasa rendah diri karena lingkungan sekitarku dan biaya tentunya tapi aku selalu menemukan cara untuk kembali bersemangat untuk belajar suatu hal yang baru, tukar pikiran bersama orang yang memang mengerti dengan suatu bidang tertentu, dan hal-hal yang menarik lainnya tentunya kegiatan yang tidak membuang waktuku secara sia-sia karena waktu itu mahal harganya dan kita tidak akan bisa mengulanginya lagi. 

Setelah itu pandemi covid-19 pun melanda Indonesia terjadilah badai PHK yang kurasakan di tahun 2020, pusing, cemas, takut dan keraguan yang kurasakan ditambah tidak punya penghasilan darimana pun, aku bingung harus menjalani hidup bagaimana kedepannya, bagaimana dengan keluargaku?, tapi rencana Tuhan selalu lebih indah asal kita bersabar, berdoa, berusaha serta ikhlas menjalani apa yang sudah terjadi, aku akhirnya mendapatkan pekerjaan secepat itu tanpa menganggur lama. Aku menerima pekerjaan di bidang IT 

dan bahkan aku tidak tahu dunia informasi teknologi itu seperti apa dan bagaimana rupanya, disini aku lebih banyak belajar dari sebelumnya, aku belajar keras untuk menghadapi apa yang tidak pernah aku hadapi semua aku lalui dan rasakan dari dimarahi, dimaki-maki, direndahkan, disanjung, ditinggikan, disepelekan semua menjadi satu mentalku lagi-lagi teruji dan terombang-ambing tapi aku adalah aku sebisa mungkin aku ambil positifnya dan buang negatifnya lagi-lagi Tuhan mengujiku tapi aku yakin pada diriku aku bisa berdiri dikakiku sendiri dan aku kuat menjalani ujian yang telah ditetapkan oleh semesta. 

Tuhan selalu punya rencana indah dan tepat pada waktunya, setelah 2 tahun bekerja diperusahaan ini, aku mendapatkan tawaran beasiswa penuh ke universitas yang aku mau bebas apapun itu, jujur aku terkejut dan tidak percaya apakah ini sebuah mimpi? dan aku ingat 1 tahun lalu aku pernah bercerita ke atasanku setidaknya dalam hatiku terdalam aku tetap ingin kuliah walaupun aku sudah lumayan lama tidak belajar lagi dari SMA, aku bertujuan agar memperdalam ilmu IT yang telah aku pelajari di perusahaan ini terarah setidaknya aku punya gelar yang layak dibidang IT, bidang yang ingin aku tekuni sampai tua nanti. Singkat cerita, aku menerima tawaran beasiswa dari perusahaan tempatku bekerja, beasiswa ini sebagai reward untuk aku karena sudah loyal, jujur, bertekad, mau belajar, dan berkontribusi untuk perusahaan. Aku benar-benar bersyukur pada akhirnya aku bisa memilih universitas impian dan universitas ternama di Indonesia yaitu Binus University, setelah 5 tahun lamanya aku kubur dalam-dalam untuk bisa masuk ke universitas impianku rezeki yang tidak disangka-sangka pun datang tanpa diundang. Betapa bahagianya aku menerima dan merasakan kabar baik ini, mamaku pada saat mendengar kabar ini pun langsung terharu dan bersujud syukur karena ucapan dan doanya telah dikabulkan selama ini. 

Akhirnya di tahun 2022 aku daftar di Binus University kelas online dengan mengambil jurusan Sistem Informasi. Pada saat itu aku lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa 100% uang bangunan dari Binus University dan mendapatkan beasiswa penuh dari perusahaan tempatku bekerja, bertambah lagi kebahagiaan aku sampai sekarang aku masih tidak menyangka kenapa ini semua menjadi takdirku tapi bersyukur adalah kunci. Sekarang aku menjadi mahasiswa Binus University semester ganjil yang tentunya harus ku jalani sampai wisuda. 

Perjalanan hidupku yang penuh liku dan tantangan ini menggambarkan bahwa sebuah mimpi bisa menjadi kenyataan, meskipun tampak mustahil pada awalnya. Dari kondisi yang penuh keterbatasan, kesedihan, dan ketidakpastian, perjuangan tanpa henti untuk mengatasi rintangan demi rintangan akhirnya membawa aku pada pencapaian yang diimpikan sejak lama. Keyakinan, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah meskipun dunia seolah menghimpit adalah kunci utama untuk mewujudkan impian dan aku percaya itu. Tidak ada perjalanan yang mudah, tetapi dengan doa, usaha, dan keteguhan hati, impian yang terlihat jauh di angkasa akhirnya bisa digenggam oleh ku. Kisah cerita ini mengajarkan bahwa tidak ada yang mustahil selama kita tidak menyerah, dan bahwa Tuhan selalu punya rencana indah bagi mereka yang berusaha dan bersabar. Kini, mimpiku yang dahulu tampak mustahil telah menjadi realita, dan itu menjadi bukti bahwa perjuangan dan pengorbanan tidak pernah sia-sia.



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.