Awal perjuanganku buat masuk PTN impianku dimulai sejak aku menduduki kelas 10 SMA. Sebagai anak kedua, dari dulu aku selalu melihat kakakku sukses dengan mimpi-mimpinya yang tinggi, memasuki SMA Negeri favorit, PTN favorit bahkan hingga memenangkan berbagai lomba. Sedangkan mimpiku sendiri bisa dibilang cukup jauh dan berlawanan dengannya. Aku memasuki SMA kabupaten dan mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Terdapat satu buku yang memantik salah satu dari sekian banyak mimpiku yang lain, yaitu buku “Laut Bercerita” karya ibu Leila. Aku sadar bahwa lewat menulis suatu peristiwa akan menjadi kekal, lewat menulis suatu mimpi dan ide dapat tersampaikan. Serta lewat menulis pula kita bisa menyalakan api perjuangan.
Tulisan tentu tercipta lewat rangkaian kata yang padu, harmonis, dan sembunyi yang dipelajari utamanya melalui sastra, yaitu sastra bahasa yang sedari lahir saya gunakan, bahasa Indonesia. Tulisan dapat memutus maupun menghubung harapan hidup, tulisan merupakan bagian dari sastra. Hal diatas hanya sebagian dari berbagai alasan hingga akhirnya aku memilih prodi impianku. Sastra Indonesia, Universitas Padjadjaran.
Tak ayalnya para remaja lain, saya pun memiliki perjalanan tersendiri dalam mencari jati diri saya. Saya terombang-ambing dalam pemilihan jurusan yang ingin saya masuki ketika saya termasuk salah satu murid eligible. Perjuangan saya untuk memasuki list siswa eligible pun bisa dibilang cukup sulit, saya bukan murid yang langsung bersinar, saya bahkan tidak memasuki ranking sepuluh besar pada awal kelas sepuluh semasa pandemi.
Bagi kalian yang memegang prinsip kejujuran lebih penting dibandingkan hasil, percayalah dan jangan pernah menyerah dalam belajar, jangan pernah berhenti bertumbuh dan berusaha. Hal itu yang saya lakukan dan saya terapkan, di sisi mengejar ketertinggalan akademik saya, saya pun mengikuti organisasi MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas).
Apakah itu membuat saya menjadi tertinggal dalam akademik saya? tentunya tidak, justru itu menjadi dorongan saya untuk belajar dan berusaha menjadi lebih baik lagi karena justru, dalam organisasi banyak sekali bintang yang lebih bersinar dari saya, banyak bintang yang bukan hanya saja bersinar, tetapi juga memberikan kehangatan kepada orang disekitarnya. Dan hal itu menjadi motivasi bagi diri saya juga untuk terus bertumbuh menjadi lebih baik setiap harinya.
Saya mulai memasuki ranking 10 besar pada awal semester dan mulai mendorong diri saya dan meyakini bahwa saya mampu mendorong diri saya lebih dari diri saya yang kemarin. Hingga pada akhirnya saya mampu memasuki ranking 3 besar, yaitu rank 2 pada akhir kelas 12 semasa sekolah menengah atas saya, dan hingga saya akhirnya diumumkan menjadi salah satu siswa yang diberikan kesempatan mencoba memasuki kampus impian menggunakan jalur rapot.
Kembali lagi ke masalah utama, penentuan jurusan. Saya mulai mendengar dan mencari tahu jurusan yang ingin dimasuki oleh teman seangkatan saya. Akuntansi, ekonomi, ilmu politik, banyak jurusan hingga universitas bergengsi yang mereka pilih dan hal itu pada awalnya membuat saya merasa kecil dan memikirkan pilihan saya untuk memilih prodi sastra Indonesia. Hingga bahkan di akhir pendaftaran jalur rapot, saya akhirnya memilih jurusan yang cukup memiliki banyak peminat, yaitu bisnis digital sebagai pilihan pertama dan prodi sastra indonesia saya posisikan di pilihan kedua.
Tak lupa usaha batiniyah pun saya lakukan, saya berdo’a di sepertiga malam serta meminta arahan bagi jurusan yang saya pilih, hingga hari penentuan pun tiba. Saya tertolak oleh universitas impian dengan prodi pilihan saya. Saya sedih, saya mulai merasa ragu akan kemampuan saya. Hingga keesokan harinya pun saya masih berusaha menyemangati diri saya dan mengikuti les dan bertemu dengan teman saya yang sama halnya tertolak jalur SNBP seperti saya. Ada kalimat yang menguatkan saya bahkan hingga akhir untuk mengikhlaskan prodi awal yang saya pilih.
“Tuhan tau bahwa kita bisa menjangkau hal yang lebih jauh, tuhan tau bahwa kita mampu untuk bertarung lagi di jalur yang lain sehingga Ia mentakdirkan kita di posisi kita saat ini”. Kalimat yang diucapkan olehnya selalu saya ingat tiap kali saya mulai meragukan diri saya kembali dan merasa ingin menyerah di tengah proses perjuangan saya.
Saya pun akhirnya membulatkan tekad dan setiap hari berjuang untuk mengejar prodi yang menjadi mimpi masa kecil saya, prodi sastra Indonesia di universitas impian saya, Universitas Padjadjaran. Setiap hari saya berlatih soal latihan UTBK, mengikuti les dan latihan tryout baik dari dalam les maupun tryout luar tempat les. Hingga akhir pun sebelum melaksanakan UTBK saya menaruh kembali harapan saya dan berdo’a di perjalanan hingga sebelum memulai mengerjakan soal UTBK.
Masa menunggu hasil UTBK saya isi dengan hal positif, mulai mendekatkan diri saya kembali dengan keluarga, terutama kedua adik saya, mencoba belajar memasak resep makanan baru dan juga memanggang kue dan bolu. Tak terasa hari pengumuman pun tiba, sedari 30 menit sebelum pengumuman saya menunggu dengan hati gelisah dan terus-terusan melirik jam dinding, pesan dari teman saya mulai banyak berdatangan, ada yang mendapat ucapan selamat hingga kalimat afirmatif yang meneguhkan hati menambah tingkat kecemasan saya.
Setelah mengucap doa saya pun memberanikan diri untuk membuka hasil pengumuman, dan syukur saya ucapkan, muncul tulisan berwarna hijau dan qr code di sisi kiri tulisan, kaget dan sedih bercampur jadi satu namun yang saya lakukan selama kurang lebih 5 menit di dalam kamar adalah membaca ulang hasil pengumuman. Saya pun berlari turun ke bawah dan memberitahukan ibu saya yang sedang duduk di sofa bahwa saya diterima di prodi pilihan saya, sastra Indonesia. Saya pun menyalami ibu saya dan beliau merangkul saya erat sambil menelepon ayah saya yang saat itu sedang jauh berada di Malang untuk memberitahukan berita bahagia tersebut.
Kini tepat kurang lebih sebulan setelah kejadian mengharukan tersebut, saya akhirnya dapat menggunakan almamater universitas impian saya dengan jurusan impian saya. Saya yakin hal diatas yang saya rasakan barulah titik awal saya untuk memulai sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih lagi untuk saya capai, dan hal itu dimulai dari fakultas ilmu budaya prodi sastra Indonesia, dimulai dari saya, dan dimulai dari langkah yang saya pilih hari ini.
Akhir kata akan saya tutup dengan salah satu kutipan dari buku berjudul “Kitab Omong Kosong” karya bapak Seno Gumira Ajidarma :
“Anakku, seorang juru cerita hanyalah sebuah cermin sebetulnya, ia tidak pernah melahirkan sesuatu yang tidak ada, ia hanya mencerminkan kembali kehidupan di depannya”.

