MIMPI : “Merajut Ingin Meraih Impian”, Melewati Patah demi Patah Menuju Tanah Rantau

Reskhy Mulydar, itu adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya yang berarti Rezeki ibu Muli dan pak Darwis sebagai wujud syukur kelahiran anak pertama. Saya terlahir sebagai anak pertama dari empat bersaudara, salah satu diantaranya seorang laki-laki yang cukup terpaut jauh usianya. Memiliki tiga orang adik membuat saya memiliki rasa tanggung jawab sebagai contoh arah laju mereka, dan hal itu menjadi salah satu alasan bagi saya untuk terus bertumbuh kearah yang lebih baik dan menjamin.

Saya pernah membaca kutipan dalam sebuah buku Limitless mind – Jo Boaler yang berbunyi, “Salah satu hambatan bagi perubahan positif dalam keyakinan kita adalah keraguan kita terhadap diri sendiri.” Bagi sebagian orang itu hanya sekedar diksi indah dalam sebuah paragraf. Namun bagi beberapa orang itu tidaklah sekedar kata-kata, melainkan sebuah rangkulan penuh daya juang untuk mendorong perubahan.

Kita bertumbuh pada Bumi yang tidak lagi muda, zaman yang sudah jauh berbeda dengan segala bentuk kemajuannya, dan orang-orang penuh ambisi akan perubahan. Ada banyak hal dalam dinamika kehidupan yang mendorong perubahan dalam eksistensi peradaban dan hal itu adalah ‘Impian’. 

Hidup selalu penuh peristiwa tidak terduga yang pada akhirnya akan membawa kita menelusuri setiap aspek kehidupan, entah hanya sekedar berkelana pada ruang yang tidak pernah ada dalam rencana yang kita susun, atau menetap dan memulai seperti perjalanan saya beberapa tahun belakang ini. Sedari SD-SMP saya selalu berkeinginan melanjutkan Pendidikan di Universitas menjalani masa perkuliahan seperti yang saya lihat saat menjadi anak-anak.

Waktu berjalan tidak terasa membawa saya memasuki era SMA (Sekolah Menengah Atas) sebagai siswi dengan seragam putih abu-abunya. Tentu masa depan adalah hal serius yang ada dibenak saya kala itu, pikiran yang mulai berkecamuk memikirkan akan kemana saya nantinya? dan akan menjadi seperti apa?. Pola pikir yang Abstrak dan impian yang belum tertata rapi rasanya seringkali membawa saya hanyut pada pasang surut pertanyaan ‘Mau jadi apa?’. Kala itu saya hanya tahu, saya ingin melanjutkan Pendidikan ke Universitas Gadjah Mada sebagai Mahasiswi dari Fakultas Hukum dan lulus dengan gelar dambaan saya sejak dulu, S.H.

Namun kenyataannya, kita bisa saja berada pada fase berkelana terlebih dahulu. Sekedar menyimpan rapih impian itu dalam benak, sembari menata harapan baru yang sekiranya layak untuk diperjuangkan. Saya salah satu dari ribuan pendaftar ikatan dinas IPDN yang gugur dalam tes SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) dengan nilai yang cukup jauh dari target awal. Rasanya cukup mengecewakan dan belum menerima sebab perjalanan ini harapan terakhir saya setelah penolakan demi penolakan dari PTN sembari merenungi langkah saya sejauh ini. Saya mulai merenungi kembali kegagalan demi kegagalan ini, dimulai dari gagalnya SNBP dengan pilihan tunggal Universitas Gadjah Mada Prodi Ilmu Hukum, SNBT Universitas Diponegoro dan Universitas Brawijaya Prodi Ilmu Hukum, SMUB Ilmu Hukum , Mandiri Prestasi UNNES, Mandiri Prestasi UNESA, Mandiri Prestasi UNY dan terakhir IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negri).

Satu persatu saya renungi hingga saya menyadari suatu hal, kegagalan terakhir saya mungkin terjadi sebab sebuah teriakan kecil dalam benak saya yang menyerukan ingin menjadi salah satu Mahasiswi Universitas ternama Brawijaya. Kegagalan sebelumnya saya renungi sebagai sebuah tanda dari harapan dan impian yang saya abaikan, yang jeritannya meski mengema dalam dada tidak saya hiraukan. 

Hingga pada titik dimana akhir kegagalan saya membawa saya pada sebuah tangis “saya tidak dapat keduanya” itu adalah kata pertama yang keluar dari renungan saya, tentunya bersama dengan isak tangis yang saya redam sejak beberapa jam yang lalu. Beberapa hari saya hanya diam tidak begitu banyak bicara, sembari memikirkan masa depan saya, harapan kedua orang tua yang mereka titipkan kepada saya. Rasanya penuh sesal atas kegagalan berulang ini, keinginan papa yang ingin melihat saya menggenakan seragam coklat khaki itu, dan impian saya untuk merantau ke Malang sebagai Mahasiswi Universitas Brawijaya.

Dalam situasi dan kondisi seperti saat ini, merasa gagal dan tidak berarti adalah hal yang sekiranya tiap orang rasakan. Namun lagi-lagi, saya tidak menyerah. Kegagalan bertubi-tubi itu justru membangunkan semangat saya, menyadarkan akan langkah yang sudah saya tempuh sejauh ini. Kala itu bagi saya, saya harus tetap merantau ke Jawa, dimanapun itu asal di Jawa akan saya jalani, sebagai tanda saya membuka jalan untuk adik-adik saya memilih impiannya hingga ujung dunia sekalipun.

Saya bangkit membuka laptop mencari Universitas yang terbesit dibenak saya lalu dengan penuh keyakinan dan harapan, kedua Universitas dengan tempat yang berbeda itu saya langitkan harapan dan doa yang sekiranya dapat menggandeng saya, kali ini lebih erat dan penuh percaya. Setelahnya, tidak lupa untuk meminta kemudahan padaNya atas langkah yang saya mulai kembali. Saya masih ingat doa yang terus menerus saya serukan dari Awal hingg akahir “Ya Allah, pilihkan saya tempat terbaik diantara apa yang saya perjuangkan saat ini. Tempat yang dapat membuat saya bertumbuh jauh lebih baik, tempat yang membuat saya membuka lembaran baru dan mendukung perkembangan saya.” Derai lirih yang masih teringat hingga saat ini, tentang penyeruan kepadaNya dengan penuh keyakinan dan permohonan. 

Tidak lama setelahnya saya membuka kembali pendaftaran, dan benar saja tidak kunjung lama saya melihat hasilnya.

Pengumuman yang cukup menggetarkan hati saya, sebuah perasaan kosong yang masih tidak bisa saya definisikan. Hampa. Mungkin perasaan saya kala itu. Ada perasaan senang dengan membayangkan saya benar-benar mewujudkan impian yang sejak dulu ingin merantau, tetapi disisi lain ada beban tersendiri tentunya. Takut membebani orang tua yang tidak lagi muda, dan pikiran lainnya. Namun itu semua terbantahkan dengan nasehat dari nenek dan keluarga bahwa : “Rezeki itu sudah ada yang atur. Kamu pintar, Allah pasti bukakan jalan, nak.” Kalimat singkat yang dibisikkan ditelinga saya kala itu, yang hingga hari ini menjadi penenang untuk saya.

Sulwesi Selatan, Makassar dan orang-orang yang turut membersamai perjalanan saya selama ini, Kedua orang tua serta adik-adik yang memberikan kepercayaan dan dukungan penuh, Terima Kasih. Saya kini berada ditanah Rantau atas dukungan kalian, menjadi Mahasiswa Baru (MABA) Universitas Muhammadiyah Malang ditempat yang sebelumya tidak pernah ada dalam bayangan saya, kini kaki saya menapak pada setiap areanya dengan Prodi yang berhasil saya wujudkan Ilmu Hukum. Semoga kelak segala bentuk pengorbanan sejauh ini dapat saya lihat hasil baiknya berkali – kali lipat.

Terakhir sebagai penutup dari tulisan yang panjang ini, sebaik-baiknya sebuah perjuangan ialah menata kembali, meski lambat karena pincang menata satu persatu yang rasanya sudah tidak dalam genggaman lagi, bukan berarti kita tidak akan sampai. Kalau tidak hari ini, berarti giliran kita adalah besok.

 

TERIMA KASIH



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.