Pelukan di Akhir Perjalanan 

Oleh: Nessa Olivia Safitri 

Sejak kecil, hidupku sudah diarahkan oleh orang tua untuk memilih apa yang menurut mereka terbaik. Aku jarang diberi kesempatan untuk mengeksplorasi diri sendiri. Aku mencoba menggambar, tetapi ketika ibu dan kakakku mengkritik hasilnya dengan bilang, ‘Gambarmu jelek,’ sehingga aku menyerah. Saat aku suka menyanyi, ibu juga bilang bahwa suaraku tidak bagus, dan lagi-lagi, aku berhenti. Kritik-kritik yang seharusnya datang dari orang-orang yang mendukungku malah yang membuatku ragu akan kemampuanku.

Memasuki bangku SMA, aku ingin turut bergabung dalam organisasi. Namun, izin itu tak pernah kuperoleh. Rutinitasku hanya sekolah dan pulang tanpa ada arah atau cita-cita yang jelas. Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa aku sudah di kelas 12. Teman-temanku mulai sibuk mempersiapkan universitas impian mereka, sementara aku masih bingung apakah aku harus melanjutkan kuliah atau tidak. Ibuku ingin aku kuliah, karena beliau berharap ada anaknya yang kuliah reguler, dan itu aku. Aku pun setuju, meskipun tanpa tujuan yang jelas. Aku tidak memiliki keterampilan khusus yang jelas, sehingga aku tak tahu harus memilih jurusan apa. Yang ada di pikiranku saat itu hanya satu: aku harus kuliah, apapun jurusannya.

Aku sempat berharap bisa masuk kuliah lewat jalur rapor SNBP, tapi ternyata kriteria siswa eligible itu jauh dariku, sehingga aku tak lolos. Karena takut ujian, aku memutuskan untuk mencari jalur lain. Melalui informasi dari alumni, aku tahu ada jalur PMDP di Poltekkes dan SPAN-PTKIN di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Dari situ, aku mulai punya harapan baru.

Aku mendaftar PMDP di Poltekkes Kemenkes Surakarta dengan tiga pilihan jurusan. Ternyata, aku lolos tahap pertama di pilihan ketiga, yaitu jurusan D4 Akupunktur. Meskipun itu bukan jurusan yang kuharapkan, jurusan ini sesuai dengan keinginan ibuku yang berharap aku mengambil program D4.

Saat pengumuman itu keluar, air mata mengalir tak terbendung. Kami menangis, tentu saja, ada rasa kecewa karena aku diterima di jurusan yang bukan impianku. Namun, di balik tangis itu, ada secercah harapan yang mulai tumbuh—mungkin inilah jalan yang telah Tuhan rencanakan untukku.

Aku pun dilanda kebingungan; apakah melanjutkan ke tahap kedua atau menyerah saja? Waktu tiga hari terasa singkat untuk memutuskan. Keputusan untuk melanjutkan ke tahap kedua atau melepaskan kesempatan ini adalah salah satu yang paling sulit yang pernah aku hadapi.

 

Akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan. Aku pergi sendiri untuk tes kesehatan, tanpa ditemani orang tua. Meskipun sedih, di sana aku bertemu Jasmine, seorang gadis baik hati yang menemani perjalanan pulang. Karena aku memiliki riwayat mabuk kendaraan, aku diberi tempat duduk, sementara dia berdiri  karena saat itu hanya ada satu bangku kosong yang tersisa. Jasmine juga mengajariku cara naik KRL, sesuatu yang sebelumnya belum pernah kucoba.

 

Setelah tahap kedua, aku merasa lebih ikhlas dan yakin bahwa ini adalah takdir yang harus aku jalani. Aku percaya bahwa ada rencana baik dari Tuhan untukku. Aku lolos tahap kedua dan memutuskan untuk melepas kesempatan di SPAN-PTKIN agar bisa memberi peluang untuk teman-teman lain. Aku juga tidak mencoba SNBT, Simami, atau UMPTKIN. Aku mantap untuk menempuh pendidikan di jurusan akupunktur di Surakarta.

 

Sejujurnya, aku tidak banyak tahu tentang akupunktur. Pertama kali aku mendengarnya dari sebuah novel digital genre action yang menyebutkan akupunktur sebagai pengobatan dengan jarum dari China. Waktu mengisi berkas, aku memilih akupunktur setelah riset singkat, dan menemukan bahwa jurusan ini hanya ada di dua universitas negeri di Indonesia, yaitu UI dan Poltekkes Surakarta. Hal itu yang membuat aku tertarik menjadikan Akupunktur sebagai pilihan.

 

Tahun ajaran baru dimulai, dan aku mulai kuliah. Banyak hal baru yang aku temui—orang-orang hebat dan kisah inspiratif dari dosen serta teman-temanku semakin menguatkan keyakinanku bahwa aku berada di tempat yang tepat. Pada hari terakhir PKKMB, aku menerima pelukan ikhlas dari kakak tingkat panitia PKKMB yang bertugas sebagai sie tatib, yang selama ini menertibkan kami dengan suara keras. Momen itu menjadi salah satu yang ingin aku ulang. Kini, aku yakin telah membuat pilihan yang tepat. Inilah jurusanku, jurusan yang awalnya tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Prodi D4 Akupunktur Poltekkes Surakarta adalah jalan yang kini aku tempuh dengan sepenuh hati. 

 

Aku memilih D4 Akupunktur di Poltekkes Surakarta, dengan sadar dan penuh keyakinan.


Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.