Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sering menjadi sasaran perundungan. Teman-teman sekelas kerap kali mengejek saya karena mereka berpikir bahwa saya tidak mengerti apa-apa tentang pelajaran. Mereka sering mengolok-olok saya, mengatakan hal-hal buruk tentang saya di depan umum. Lebih menyakitkan lagi, saya mengetahui bahwa banyak wali murid juga berbicara negatif tentang saya di belakang. Mereka meragukan kemampuan saya dalam belajar dan sering berbisik-bisik tentang saya dalam setiap pertemuan orang tua. Pada awalnya, saya merasa bingung dan terluka dengan semua ini. Namun, saya segera menyadari bahwa jika saya terus memikirkan semua hal buruk yang mereka katakan, saya hanya akan semakin sakit hati dan kehilangan motivasi untuk belajar. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tidak peduli dan tetap fokus pada pelajaran saya. Saya tahu bahwa saya harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa mereka salah.
Ketika saya naik ke kelas 5, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Guru saya, yang menyadari bahwa saya sebenarnya memiliki potensi besar, memilih saya untuk mengajari teman-teman saya dalam mata pelajaran matematika. Ini adalah titik balik bagi saya. Meskipun saya masih sering menjadi korban perundungan fisik dan verbal, saya mulai merasakan kepercayaan diri yang baru. Saya menyadari bahwa meskipun orang lain meremehkan saya, saya memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan. Tugas mengajar ini bukan hanya membantu teman-teman saya, tetapi juga menguatkan kemampuan saya dalam matematika. Saya mulai merasakan kepuasan yang luar biasa setiap kali melihat teman-teman saya memahami konsep yang saya ajarkan. Di tengah perundungan yang tak kunjung berhenti, saya menemukan kebahagiaan dalam mengajar dan belajar.
Waktu terus berlalu, dan ketika tiba saatnya Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk memasuki SMP, saya dihadapkan pada tantangan lain. Saya mencoba mencocokkan nilai Ujian Nasional saya dengan berbagai sekolah di Jakarta. Saya berharap dapat diterima di sekolah yang baik untuk melanjutkan pendidikan saya. Namun, kenyataan berkata lain. Setiap sekolah yang saya coba, semuanya menolak saya. Saya merasa sangat kecewa dan hampir putus asa. Namun, akhirnya, saya diterima di SMPN 39 Jakarta. Ini mungkin bukan sekolah pilihan utama saya, tetapi saya merasa sangat bersyukur. Saya tahu bahwa saya harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.
Di SMP, situasinya tidak jauh berbeda. Saya masih menghadapi perundungan, dan kali ini saya juga harus berhadapan dengan rasa kesepian. Saya hanya memiliki dua hingga empat teman yang benar-benar dekat. Sering kali, saya merasa terisolasi, tetapi saya selalu berusaha untuk tetap bersyukur atas teman-teman yang saya miliki. Saya tahu bahwa memiliki teman yang sedikit tetapi setia lebih baik daripada memiliki banyak teman yang hanya berpura-pura peduli. Dari kelas 7 hingga 9, saya terus dipilih untuk mengajari teman-teman dalam bidang matematika. Hal ini menjadi sebuah rutinitas yang saya nikmati, karena setiap kali mengajar, saya merasa semakin percaya diri. Saya juga merasa bahwa saya memiliki peran yang penting di kelas, meskipun saya tidak populer. Di kelas 7, saya terpilih untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) di bidang matematika. Ini adalah sebuah kebanggaan besar bagi saya. Namun, kebahagiaan saya tidak berlangsung lama karena pandemi COVID-19 menghentikan semua kegiatan, termasuk OSN. Saya sangat kecewa, tetapi saya tidak menyerah. Saya terus belajar dan memperdalam pengetahuan saya dalam matematika, meskipun tanpa adanya perlombaan yang dapat saya ikuti.
Pada saat yang bersamaan, saya menghadapi tantangan lain dari wali kelas saya. Saat di kelas 9, wali kelas saya mengatakan bahwa piagam OSN saya bisa digunakan untuk PPDB. Saya merasa sangat senang mendengarnya, karena saya berpikir bahwa ini akan menjadi peluang besar untuk saya. Namun, ternyata itu tidak benar. Ketika saya mengetahui bahwa piagam itu tidak dapat digunakan, saya merasa sangat kecewa dan merasa dibohongi. Hal ini semakin diperparah ketika saya mendengar wali kelas saya membicarakan kelemahan saya dalam bahasa Inggris di ruang guru, di depan orang tua saya. Orang tua saya sangat marah mendengar hal tersebut, tetapi saya memilih untuk tidak merasa marah. Saya sadar bahwa kemarahan hanya akan menghalangi langkah saya untuk terus maju. Saya harus tetap fokus pada tujuan saya dan tidak membiarkan komentar negatif orang lain menghentikan langkah saya.
Ketika PPDB untuk masuk SMA dimulai, saya mendaftar di sepuluh sekolah di Jakarta, tetapi semuanya menolak. Saya merasa sangat putus asa, tetapi orang tua saya menyarankan untuk mencoba masuk ke SMK Telkom Jakarta. Meskipun saya awalnya merasa sedih karena tidak berhasil masuk ke SMA yang saya impikan, saya memutuskan untuk mengikuti saran orang tua saya. Ternyata, keputusan ini adalah keputusan yang tepat. Di SMK Telkom Jakarta, saya menemukan lingkungan yang lebih mendukung. Saya berhasil menjadi siswa berprestasi di kelas 10 dan mendapatkan beasiswa. Ini adalah pencapaian besar bagi saya, mengingat semua kesulitan yang saya hadapi sebelumnya. Saya juga mengikuti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) di bidang IT Software dan berhasil menang di tingkat kota. Ini adalah momen yang sangat membanggakan bagi saya. Meskipun ada beberapa teman yang meremehkan saya dan mengatakan bahwa saya tidak akan mampu menjalani lomba ini, saya memilih untuk tidak peduli. Saya tahu bahwa saya harus tetap fokus pada tujuan saya dan tidak membiarkan pendapat negatif orang lain menghentikan saya. Saya terus mengikuti lomba dan berhasil mendapatkan beasiswa sebagai siswa berprestasi selama beberapa bulan.
Di kelas 11, saya kembali mengikuti LKS dan juga berpartisipasi dalam lomba Data Science. Meskipun saya hanya menjadi finalis di Data Science, saya tetap merasa bangga dengan pencapaian saya. Saya tahu bahwa setiap pencapaian, besar atau kecil, adalah langkah menuju kesuksesan. Perjuangan saya terus berlanjut hingga kelas 12. Pada semester 2 di kelas 11, saya mendapatkan beasiswa yang berlangsung hingga lebih dari tujuh bulan di kelas 12. Ini adalah pencapaian yang sangat besar bagi saya

