Perjuangan Meraih Impian: Sebuah Perjalanan yang Tak Terlupakan

oleh : Imam Khanafi

Aku dari sebuah desa terpencil dari kaki gunung merapi bernama Desa Kamongan yang kaya akan budaya dan tradisi, melahirkanku disambut hangat oleh keluarga kecil, aku dilahirkan dari rahim ibu 26 tahun yang lalu tepatnya pada malam hari …pada saat semua masih tertidur lelap, aku bahagia mengenal dunia, dulu aku diselundupkan dari surga ke kamar pengantin bapak ibu sehingga aku jadi penghuni bumi dan diberi nama Khanafi.

Pada tanggal 20 Mei 2015, wisuda SMKku berlangsung dengan penuh kebahagiaan dan harapan. Aku, Khanafi, adalah anak ketiga dari lima bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki di keluarga kami. Saat hari itu tiba, ada satu keinginan kuat dalam hatiku: ingin melanjutkan kuliah. Namun, aku tahu bahwa kondisi keuangan keluarga tidak memungkinkan. Kakakku masih kuliah, dan orang tuaku sudah mengatakan mereka tidak mampu membiayai kuliahku.

“Pak, Bu, aku juga ingin kuliah,” ujarku suatu malam ketika kami berkumpul di ruang tamu.

“Bapak sama Ibu setuju kamu kuliah, tapi maafkan kami, Nak, kami tidak mampu membiayai. Kalau kamu mau kuliah, kamu harus cari biaya sendiri,” jawab Bapak dengan wajah yang penuh keraguan.

Mendengar jawaban itu, aku merasa campur aduk. Aku tahu betapa besarnya keinginan mereka untuk melihat anak-anaknya sukses, tapi kenyataan berbicara lain. Akhirnya, dengan segala pertimbangan, aku memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu agar bisa mengumpulkan biaya kuliah.

Aku melamar kerja melalui salah satu penyalur di Jakarta Selatan dan mendapatkan penempatan di PT Astra Internasional HSO Jogja. Di sana, aku bekerja sebagai Admin HSO dengan tugas mengkoordinir keluar masuk unit sepeda motor Honda. Pekerjaan ini berlangsung hingga kontrakku berakhir pada November 2017. Saat itu, aku diminta untuk pindah ke kota lain, tetapi orang tuaku tidak merestui. Tanpa restu mereka, aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan itu, dan aku memutuskan untuk berhenti.

Tidak lama setelah itu, aku bergabung dengan sebuah organisasi konveksi bernama Hijab Qiyada pada Desember 2017. Di sana, aku bekerja sebagai admin gudang dan admin website. Tugas-tugasku meliputi memperkirakan kebutuhan bahan kain, menerima barang jadi, dan mendistribusikannya ke para distributor. Bekerja di sini terasa berbeda; lingkungan kerjanya sangat religius dan nyaman. Setiap pagi kami berdoa bersama, melaksanakan sholat Dhuha, dan kemudian baru memulai kerja. Selain itu, kami juga selalu sholat Dzuhur dan Asar berjamaah, ada kajian untuk karyawan putri setiap Jumat, dan pengajian khusus untuk karyawan laki-laki setiap Sabtu siang.

 

Namun, di balik kenyamanan itu, ada keinginan yang terus membara di dalam diriku: aku masih ingin kuliah. Beberapa kali aku meminta izin kepada orang tuaku untuk kuliah, tetapi jawabannya tetap sama.

“Nak, kami setuju kamu kuliah, tapi kami tidak bisa membiayainya,” kata Ibu dengan wajah sendu setiap kali aku membahas hal ini.

Hingga suatu hari, aku mendapat panggilan dari kepala sekolah SMK tempatku dulu belajar. Beliau memintaku untuk membantu mengabdi di sekolah sebagai staff TU bagian sistem informasi manajemen. Aku merasa ini adalah kesempatan baik untuk mencoba hal baru dan mungkin bisa mendekatkan diriku ke impian kuliah. Dengan berat hati, aku keluar dari Hijab Qiyada pada bulan Juli dan mulai bekerja di SMK pada awal Agustus 2018.

Pekerjaanku di SMK meliputi mengelola website sekolah, media sosial, serta menjadi admin kesiswaan. Di sini, aku mendapatkan dukungan dari lingkungan yang mendukung semangatku untuk kuliah. Akhirnya, dengan penuh tekad, aku kembali meminta izin kepada orang tuaku.

“Pak, Bu, kali ini aku benar-benar ingin kuliah. Aku akan berusaha membiayai sendiri. Mohon restu dan doanya,” pintaku dengan penuh keyakinan.

 

Setelah perbincangan panjang, akhirnya mereka merestui. Aku mendaftar kuliah karyawan di jurusan manajemen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Dengan tabungan yang seadanya dan honor 500 ribu per bulan dari pekerjaanku di SMK, aku bisa bertahan hingga semester 4. Namun, cobaan datang ketika uangku habis dan aku bingung bagaimana membayar biaya kuliah.

Aku mencoba mencari pekerjaan lain, mendaftar di berbagai tempat setiap hari, tetapi tidak ada panggilan sama sekali selama dua bulan. Saat itulah aku iseng mencari informasi tentang beasiswa. Alhamdulillah, aku menemukan informasi tentang beasiswa full daring dari pemerintah dan memutuskan untuk mendaftar.

Saat proses pendaftaran beasiswa berlangsung, aku juga mulai bekerja sebagai guru honorer di sebuah madrasah dengan honor hanya 200 ribu per bulan. Meskipun begitu, aku terus berusaha dan tetap mendaftar beasiswa. Setelah melewati berbagai tahap seleksi, mulai dari pemberkasan, ujian, hingga wawancara, akhirnya pada awal September 2022, aku dinyatakan lolos dan mendapatkan beasiswa tersebut. Perasaan bahagia dan haru memenuhi diriku. Semua perjuanganku selama ini tidak sia-sia.

Kini, aku bisa melanjutkan kuliah tanpa biaya sepeserpun, bahkan mendapatkan uang saku dan uang buku. Di samping bekerja di madrasah, aku juga bekerja sebagai penjaga toko kelontong secara freelance dan menerima undangan membaca tilawah di acara pernikahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan transportasi kuliah. Impianku akhirnya terwujud, dan aku belajar bahwa rejeki itu tidak akan salah alamat jika sudah menjadi hak kita.



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.