TERBANGNYA SI KUPU-KUPU MERAH

Duduk sendiri, terdiam di kursi teras depan rumah sambil memandang hujan yang turun malam itu. Tak terasa air matanya menetes mengingat perjuangannya bisa sampai dititik ini. 

****

Karina seorang gadis berusia 23 tahun yang tinggal di kota kecil bersama ayahnya. Ayah dan ibunya baru saja bercerai 3 tahun yang lalu. Setelah bercerai sang ibu menikah lagi dan tinggal di luar pulau yang jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Kini Karina sedang mengenyam pendidikan di salah satu universitas swasta yang berada di kotanya. Perjalanannya untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi swasta tersebut tidaklah mudah, banyak sekali lika-liku perjalanan yang harus ia lewati. 

Tahun 2020 adalah tahun terakhir dia duduk di bangku SMK sekaligus tahun dimana wabah virus covid-19 sudah merajalela di Indonesia. Keinginannya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi harus sirna karena ekonomi keluarganya sedang menurun akibat wabah tersebut. Di tahun itu juga akhirnya dia memutuskan untuk bekerja membantu perekonomian keluarganya. 

Sebagai anak tunggal yang tidak memiliki saudara kandung dia harus merelakan keinginannya untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Rasa iri sempat melanda melihat teman-teman seusianya duduk di bangku perkuliahan sedangkan dia harus bekerja. Setelah 7 bulan bekerja Karina memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memilih berjualan di depan rumahnya. Usaha yang dia bangun akhirnya perlahan-lahan mulai ada peningkatan dan diteruskan oleh ayahnya. 

Hampir 10 bulan usahanya untuk menjual jajanan dan minuman di depan rumahnya berjalan lancar. Ditahun itu juga yaitu tahun 2021 dia sempat ingin mendaftar di salah satu universitas swasta yang ada di Jogjakarta yaitu universitas impiannya sejak dulu bersama temannya yang juga ingin melanjutkan di universitas tersebut, tetapi dilarang oleh kedua orangtuanya dengan alasan “jangan kuliah jauh-jauh kamu itu anak tunggal perempuan, kuliah yang dekat sini saja”.

Dia sempat kecewa dengan alasan penolakan kedua orangtuanya untuk melanjutkan ke universitas impiannya, tapi balik lagi dia tidak memiliki saudara kandung, sempat terbersit di pikirannya mungkin orangtuanya tidak ingin jauh dari anak perempuan semata wayangnya ini.

Di tahun yang sama pula saudara sepupunya memberitahu sekaligus menawarkan kuliah dengan program beasiswa di salah satu universitas swasta di kotanya. Saudaranya mendapatkan informasi tersebut dari bosnya yang kebetulan salah satu dosen di universitas tersebut. Awalnya dia tidak mau dan memilih untuk bekerja karena masih kecewa dengan kedua orangtuanya dan universitas tersebut bukan universitas impiannya. 

Satu Minggu kemudian dia menghubungi saudara sepupunya dan mau mendaftar di universitas tersebut. Awalnya pendaftaran berjalan dengan lancar sampai pada pengumuman dia tidak di terima karena pada waktu itu universitas tersebut sedang masa peralihan. Sudah ketiga kalinya dia kecewa, jika ditanya apakah dia putus asa jawabnya iya dia sempat putus asa waktu itu.

Setelah pengumuman itu akhirnya dia fokus bekerja dan tidak mau lagi memikirkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Semua teman-temannya sudah banyak memberikan informasi pendaftaran mahasiswa baru di berbagai universitas yang ada di provinsinya, tetapi dia sudah terlanjur menikmati kehidupannya sekarang yaitu bekerja. Ibarat kupu-kupu dia tidak mau terbang lebih tinggi lagi karena takut jatuh di lubang yang sama.

Hampir 1 tahun setelah lulus dari SMK dia bekerja, dia sudah tidak peduli dengan apa itu kuliah, apa itu wisuda dengan predikat terbaik, dan lain sebagainya. Kupu-kupu merah yang dulunya berani terbang jauh melewati berbagai rintangan di depannya walaupun itu bukan jalur yang semestinya, kini hanya terbang di jalur yang sama setiap harinya tanpa ada rintangan besar di depannya. 

Tahun 2022 dia mendapat telfon dari salah satu dosen di universitas yang dulu dia pernah daftar namun tidak lolos beasiswa. Dosen tersebut menawarkan kuliah dengan program beasiswa lagi padanya. Dia belum berani mengiyakan tawaran tersebut karena masih takut, tetapi di sisi lain keinginannya untuk kuliah kembali lagi setelah melihat anak dari bos tempat dia bekerja lulus dengan predikat terbaik di universitas impiannya. 

Dua hari setelah percakapan di telfon itu akhirnya dia memberanikan diri untuk mendaftar di universitas itu lagi dan mengambil salah satu program studi yang di bilang bukan keinginannya tapi keinginan dari kedua orangtuanya. Setelah beberapa kali gagal akhirnya dia lolos beasiswa di universitas tersebut. Dia merasa sangat bahagia karena bisa lolos di universitas tersebut walaupun bukan universitas impiannya dan bukan program studi keinginannya. 

Dua tahun sudah dia mengenyam pendidikan di universitas tersebut. Dia menjalaninya dengan penuh semangat dan memotivasi dirinya kupu-kupu yang jatuh akan bangkit lagi, walaupun di terjang angin yang kencang dia tetap berusaha untuk terbang mencapai tujuannya, begitu juga dengan dirinya walaupun diterjang berbagai rintangan dalam hidup dan beberapa kali gagal melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi akhirnya dia bisa melewatinya dengan usahanya sendiri.

 

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.