Way to Lolos Universitas Indonesia versi lulusan pondok yang tiga tahun gagal

Hi, perkenalkan namaku Naida dan ini adalah lika-liku kisah perjalanan panjangku menuju ke PTN dan jurusan impian hingga lolos di Universitas Indonesia jurusan Administrasi Niaga. Perjalanan selama 3 tahun dengan tantangan yang berbeda-beda mulai dari menjadi santriwati yang berusaha mengejar PTN, mahasiswi saintek yang semigapyear, hingga mahasiswi cuti yang kabur dari rumahnya. Semua jenis tantangan sudah kucoba.

 

Mungkin kisah dan pemikiranku tidak sepenuhnya relate dengan semua pembaca, tetapi di sini aku hanya membagikan kisah, hal-hal, dan pikiran yang membuatku terdorong untuk terus berjuang.

 

Kisah ini berawal dari mimpiku sejak kecil yang ingin masuk Universitas Indonesia seperti mama. Waktu itu, aku pernah diajak mama ke wisuda S1 nya, lalu sempat mengambil foto di depan rektorat. Foto ini lalu dicetak dan kujadikan “jimat” yang selalu kupandang hingga saat ini sebagai motivasiku untuk terus berjuang supaya suatu hari nanti aku bisa kembali mengambil foto dengan mamaku di depan rektorat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia.

 

Namun, mimpiku ini sempat terhalang dan ditentang banyak orang karena keputusanku yang akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikanku di pondok pesantren waktu SMP dan berlanjut hingga SMA. Akan terdengar sangat sulit bagi santriwati sepertiku untuk masuk PTN apalagi sekelas UI. Rata-rata alumni pondok pesantrenku melanjutkan studinya di universitas bagian Timur Tengah, atau universitas dalam negeri yang biasanya di UIN atau swasta islam.Memang sangat susah seorang lulusan pondok untuk bersaing masuk perguruan tinggi negeri favorit karena rata-rata pondok akan lebih dominan mengajarkan ilmu-ilmu seperti bahasa dan agama sehingga pelajaran akademik mungkin banyak tertinggal dengan siswa-siswa di luar pondok. Selain itu, akses belajar di pondok sangat terbatas karena tidak boleh membawa hp, laptop, dan alat elektronik lainnya sehingga hanya belajar sekadar menggunakan buku latihan soal yang dibeli saat perpulangan santri.

 

Perjuangan Seorang Santri untuk Mengejar UTBK

 

Banyak kalimat “lulus pondok mau jadi ustadzah ya”, “ketinggian kalo masuk UI”, “alah paling ntar lanjutnya di mana”. Jujur hal itu membuat membuat amarahku semakin memuncak dan justru tercambuk untuk berusaha lebih keras. Aku yakin bahwa aku bisa menyangkal perkataan mereka suatu hari nanti. Tidak ada salahnya untuk belajar di pondok dengan mimpi ke universitas favorit, walaupun memang tantangannya berat, tetapi harus dicoba. Dan benar, ternyata sulit sekali, haha.

 

Waktu diriku kelas 11, pondokku memulangkan seluruh santriwati karena adanya pandemi Covid-19. Hal itu menjadi kesempatan besarku untuk mengejar semua materi akademik yang tertiggal. Namun, ternyata tetap tidak semudah itu walaupun aku full belajar di rumah dengan fasilitas belajar yang lengkap. Nyatanya, aku tetap harus mengejar setoran hafalanku setiap pagi,mengurus program kerja sebagai anggota organisasi, serta mau tidak mau mengerjakan tugas pelajaran bahasa dan agama yang lebih dominan dan tugasnya lebih banyak.

 

Walaupun begitu, setidaknya aku tetap memiliki waktu untuk benar-benar fokus dengan pelajaran- pelajaran umum seperti fisika, kimia, biologi, dan matematika. Waktunya sedikit, maka aku harus memaksimalkan setiap tugas dan pelajaran lewat zoom meeting. Di saat teman-temanku yang lain hanya sekadar mengerjakan tugas, mengikuti zoom tanpa memerhatikan guru, aku benar-benar memerhatikan, mencatat, memahami semua tugas yang aku kerjakan, dan melihat youtube untuk mempelajari bab yang tidak aku pahami.

 

Semua berlalu hingga kelas 12, aku akhirnya kembali ke pondok karena sudah mulai memasuki masa new normal. Aku membawa beberapa buku sumber materi dan bank soal untuk ujian penerimaan mahasiswa yang disebut UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer). Untuk semester 1 kelas 12, jujur aku baru menyicil sedikit demi sedikit seperti mulai mengerjakan soal-soal potensi skolastik yang

tidak memerlukan pengetahuan mapel sekolah. Nyatanya kegiatan sebagai seorang santri kelas 12 sangat padat, apalagi waktu itu aku belum lengser dari organisasi. Jika pengurus organisasi di sekolah hanya mengurus siswa selama di sekolah, maka pengurus organisasi di pondok mengurus santri 24 jam. Program kerja yang harus dilakukan lebih banyak dan lebih kompleks. Belum lagi hafalan dan pelajaran agama serta bahasa, kumpul kajian,dan lain-lain. Akan terlalu panjang jika dijelaskan, tetapi intinya dengan keadaan seperti ini aku semakin putus asa. Maka tiba-tiba aku kepikiran untuk mengambil jurusan yang sepi peminat di Universitas Indonesia, “yang penting bisa lolos UI”.

 

Hingga sampailah di masa “paling kritis”, yaitu semester 2 di mana berbagai tugas dan ujian saling menumpuk dan bertabrakan. Akan semakin menegangkan jika mengetahui waktu UTBK tinggal beberapa bulan. Aku memanfaatkan waktuku sebaik mungkin seperti mengikuti les, rebutan labkomputer untuk mencari informasi kampus atau jurusan dan menyicil materi, serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan rencana dan persiapan kuliahku. Jujur selain tugas dan ujian yang banyak, ada tantangan lain seperti fasilitas belajar yang terbatas. Sumber belajarku saat itu yaitu menggunakan buku “The King” dan “Wangsit Om Jero” yang isinya hanya ringkasan materi dan latihan soal. Sebenarnya sangat tidak cukup dengan hanya mengandalkan dua buku tersebut karena yang ditanyakan soal lebih kompleks dan akan sangat keberatan jika hanya membaca pembahasan dari jawaban kunci tanpa pengetahuan dasar yang kuat. Bahkan waktu satu tahunku selama kelas 11 di rumah pun tidak cukup.

 

Aku bingung bagaimana aku bertanya jika tidak paham, teman tidak paham, ustadzah pengajar materi umum hanya bertugas sampai siang dan sangat sibuk, dan les yang diadakan menurutku kurang efektif. Sedangkan pertanyaan yang aku ajukan setiap harinya selalu muncul. Ya, walaupun aku selalu menyempatkan untuk les bahkan ketika hujan badai sekalipun. Untuk les hanya diadakan di ruang kelas dan hanya menyebrang beberapa asrama, tetapi entah teman-temanku jarang sekali untuk dating ke les. Funfact, Aku adalah satu dari dua atau tiga orang dari ratusan santri kelas 12 dalam les yanh tidak pernah alpha saat les. Namun,aku masih merasa kurang efektif dalam pengajarannya dan kurang sesuai metodenya dengan siswa santri yang banyak tertinggal jauh materi umum.

 

Sebenarnya, pondok menyediakan labkomputer, tetapi akses dibuka hanya untuk try out dan mengurus pendaftaran ujian. Komputer yang disediakan di perpustakaan hanya lima buah sehingga harus berebut dan itu pun selalu diserobot oleh orang-orang yang hanya ingin membuka sosial media, nonton MV KPOP, nge-print foto artis, dan hal unfaedah lainnya. Sekalinya aku punya kesempatan dan membuka youtube pelajaran, pasti akan diganggu oleh teman-teman lain yang mengantre.

 

Sebenarnya, aku sempat masuk sebagai siswa eligible dan bisa mengikuti seleksi jalur prestasi (waktu itu namanya SNMPTN). Namun, kemungkinan untuk masuk UI dengan tidak adanya alumni yang lolos, nilai rata-rata sangat kecil (sekolahku terlalu jujur dalam memberi nilai haha), dan nol prestasi. Maka kemungkinan untuk lolos hanya -9,9999999% alias hampir tidak mungkin. Aku masih percaya dengan siswa ranking terakhir yang bisa lolos oxford melalui ujian tulis. Namun, hal yang kualami ini benar-benar mustahil karena jalur SNMPTN ini sama saja seperti jalur undangan. Jika aku lolos pun mungkin akan masuk ke Tujuh Keajaiban Dunia. Maka aku serahkan kursiku ke cadangan eligible yang mungkin masih ingin memilih kampus dan jurusan yang “masuk akal” atau masih punya kemungkinan lolos.Hal ini menguntungkan karena aku tinggal berjuang untuk belajar UTBK. Dan aku tidak menyesal mengambil Keputusan ini setelah melihat angkatanku yang lolos SNMPTN hanya 6 orang dari 100-an orang, itu pun bukan di PTN favorit.

 

Namun, tetap saja aku tidak seleluasa itu. Semester 2 terlalu banyak ujian pondok yang membuat waktu belajar utbk semakin sedikit. Sekalipun ingin ditinggalkan maka risiko yang akan didapat semakin besar. Beberapa ujian di antaranya yaitu taruna melati, amaliyah tadris, ujian tahfidz keseluruhan (5 juz), ujian lisan dan prakter bahasa arab serta agama yang mapelnya bercabang banyak, belum lagi program pondok seperti kajian, riyadhus shalihin, dan lain-lain. Lalu ditambah ujian tulis dan lisan bidang mapel umum. Tentunya sangat berat.Waktu belajar hanya sedikit.Sangat berbeda dengan siswa kelas 12 di luar sana yang mungkin mereka juga mempunyai kegiatan lain dan

ujian yang padat, tetapi aku yakin tidak sepadat di pondok dan mereka punya banyak kesempatan untuk belajar. Sekalipun mereka ketinggalan mata pelajaran, akses untuk belajar yang luas danmudah selalu ada, bisa eksplor untuk mencari lingkungan yang bagus, dan mereka bisa melakukan itu semua kapan saja.

 

Ada satu hal yang aku benar-benar benci dan semakin yakin untuk mengenyam pendidikan di universitas favorit, yaitu lingkungan belajar. Jujur hampir tidak ada waktu belajar UTBK, aku selalu menyempatkan waktu-waktu kecil untuk sekadar membaca materi, mengerjakan soal-soal. Namun sayangnya lingkungan di sini benar-benar tidak mendukung untuk belajar, pasti mereka yang melihatku belajar di waktu-waktu itu selalu menggodaku “cie belajar”, “mashaAllah rajin amat”, “woyy, dia lagi belajar woy”, lalu tertawa-tawa. Jujur hal ini benar-benar menggangguku walaupun sebenarnya kuncinya adalah tidak menghiraukan mereka. Akhirnya aku belajar diam-diam dan secara sembunyi. Jelas hal itu sebenarnya membuat konsentrasi belajarku tidak maksimal karena “takut ketauan belajar”. Rasanya ingin kabur pulang ke rumah lalu belajar. Aku heran dengan mereka yang katanya ingin masuk PTN dan jurusan favorit tanpa usaha dengan kondisi mereka yang seperti ini.Menurutku untuk menggapai sesuatu itu harus ikhtiar, tidak bisa hanya mengandalkan sholat hajad dan tahajud, atau mungkin beberapa di antara mereka terlalu mengagung-agungkan Word of Affirmation tanpa berusaha karena sudah yakin bahwa apa yang mereka katakan akan menaklukklan dunia. Hmm, atau mungkin mereka yang seperti itu lebih fokus ke ujian-ujian agama atau memang belum sadar bahwa saingan mereka di luar untuk mengikuti UTBK jauh lebih ambis,maka mereka cenderung meremehkan belajar UTBK. Rata-rata dari mereka memilih jalan lain yang lebih simple jika ketolak UTBK, sehingga hal ini bukan suatu hal yang penting.

 

Hingga tibalah waktu perpulangan santri kelas 12 dan hanya tersisa beberapa hari lagi (sebulan kurang) menuju UTBK dengan persiapanku yang mungkin hanya 20%. Walaupun sudah banyak tenaga, pikiran, mental, dan waktu yang aku kerahkan,tetapi masih saja kurang. Mungkin cara belajarku kurang efektif ditambah keadaan yang benar-benar tidak mendukung.

 

Aku memilih jurusan biologi waktu itu, padahal aku tidak suka menghafal. Passionku berada di hitung-hitungan dan penalaran. Jurusan impianku awalnya teknik kimia,tetapi karena terlalu tinggi sepertinya, aku pilih jurusan biologi yang sepi peminat. Aku semakin realistis dan tidak mau gap year atau ke kampus swasta waktu itu. Sudah tidak mempan kata orang yang “ayok pasti bisa di jurusan teknik kimia”, coba suruh mereka di posisiku sambil melihat saingan di luar sana. Hahaha. Sebenarnya, ada jurusan lain yang sepi peminat selain biologi.Yah, sepertinya agak lucu jika diceritakan. Suatu hari ustadzahku menceritakan tentang keadaan TPU dan iklim global yang ternyata sedang krisis di luar sana. Dari situ, aku mendapatkan ide untuk bekerja di bidang yang bisa menangangi hal-hal tersebut, bidang lingkungan. Kenapa tidak memilih teknik lingkungan? Jawabannya seperti yang awal, terlalu tinggi. Waktu itu orientasiku masih tidak ingin memilih kampus swasta dan stigmaku terhadap orang gapyear masih negatif.

 

Endingnya, aku tidak lolos di UTBK maupun ujian mandiri.Sangat mengecewakan. Perjuanganku selama ini benar-benar tidak berarti, tetapi jika dipikir dengan logika memang wajar saja tidak lolos. Awalnya, aku memutuskan untuk gap year semenjak aktif di Twitter dan mengenal komunitas “studytweet”. Pikiranku menjadi lebih terbuka sejak saat itu. Namun sayang pemikiran terbukaku itu dianggap “pengaruh jelek” terhadap beberapa orang seperti uti dan budheku.

 

Alasan Memilih untuk Gapyear

 

Ada alasan besar kenapa aku memilih gapyear dan lebih baik menunda untuk mendapatkan top universitas yang jauh dari daerahku. Aku memutuskan ini atas diriku sendiri, tidak karena pengaruh eksternal apa pun termasuk ikut-ikutan teman karena di angkatanku saja mungkin hanya aku yang gapyear. Sebenarnya, aku malu juga jika ingin gap year sendiri, tetapi tetap aku yakini atas dasar diriku sendiri. Studytweet juga bukan hal yang “menghasutku” untuk gapyear, aku hanya mendapat beberapa informasi yang seakan membenarkan keputusanku, memberi titik terang, dan menunjukkan

gapyear bukan seburuk itu. Tidak ada yang lebih seram dari kata ketuaan atau terlambat, kecuali penyesalan.

 

Pertama, aku ingin adaptasi dan belajar semua ilmu hardskill serta softskill yang tidak dipelajari anak- anak pondok sepertiku. Terlebih, aku tidak punya prestasi sama sekali selama di pondok. Aku ingin nantinya saat menyemplung ke dunia perkuliahan, aku tinggal mempraktekkan dan mengembangkan semua kemampuan itu. Lalu kedua, menyetarakan mapel pokok terutama mapel jurusan tujuanku seperti matematika dan fisika. Mungkin saat kuliah nanti akan diajarkan mata kuliah dasar seperti fisika dasar, kimia dasar, atau matematika dasar. Aku juga merasakan itu di semester 1 perkuliahan, tetapi tetap saja menurutku butuh “fundamental” yang kuat dalam mapel-mapel tersebut sebelum masuk kuliah.Ketiga, aku kurang yakin dengan jurusan yang kupilih sekarang. Aku tidak tau jika aku nantinya salah jurusan apakah aku bisa survive, atau bisa segampang itu untuk pindah?Mungkin aku butuh waktu setahun untuk mencoba berbagai hal baru sampai menemukan bidang apa yang cocok dan sesuai dengan minat serta potensiku. Keempat, mentalku belum sepenuhnya pulih. Iya, aku sebenarnya mengalami pembullyan secara verbal selama di pondok dan hal itu benar-benar menghambat potensiku, Sedangkan dunia perkuliahan akan menuntut kita sebagai orang yang selalu berkomunikasi, teamwork, serta public speaking. Aku tidak ingin masa kuliahku ini akan sama saja dengan masa SMA-ku yang kusesali hingga saat ini. Dan alasan terakhir yang utama, selama aku masih ada kesempatan, kenapa tidak dicoba untuk masuk ke universitas top? Menunda setahun untuk mengejar impianku tidak salah, bukan?

 

Aku ingin berkuliah di universitas top bukan sekedar gengsi, tetapi aku rasa aku memang layak. Mungkin sukses bisa dari kampus mana pun, tetapi aku ingin merasakan berkembang dalam lingkungan yang kompetitif dan mendukungku untuk berkembang.Yah, seperti yang aku rasakan di pondok, aku berada di lingkungan yang “kurang ambis” dan mungkin menganggap orang yang belajar di luar jam pelajaran adalah cupu. Aku muak dan aku rasa aku pantas untuk mendapatkan lingkungan belajar terbaik!

 

Aku merasa kuliah adalah suatu kesempatan besar yang harus disertai prinsip dan komitmen yang kuat, rasa keingintahuan yang besar, serta pemikiran yang matang untuk bisa benar-benar survive selama kuliah hingga lulus tetapi tidak sekedar status lulus. Biaya kuliah tentunya tidak murah, Maka dari itu, butuh persiapan yang matang sebelum menjadi seorang mahasiswa.

 

Intinya, keputusanku untuk gap year sudah bulat. Awalnya, mama dan utiku sudah menyetuju hingga suatu siang, seorang tante meenelpon utiku lalu mereka berbicara suatu hal yang serius dan tiba-tiba tante itu ingin berbicara padauk juga.

 

“Kamu beneran mau gapyear?”, “eman-eman banget umurmu”, “ketuaan”, “mau dari lulusan mana aja tetep bisa sukses”, “ga usah ikut-ikut temenmu”, “alah, kalau mau ngejar mapel ntar tuh kuliah diajarin mapel dasar”, “alah, kalau mau belajar gitu-gitu ntar kuliah juga diajarin”.

 

Sebenarnya, perkataan beliau tidak sepenuhnya salah, tetapi jika disesuaikan dengan keadaan serta latar belakangku sepertinya kurang sesuai. Namun sayangnya waktu itu, aku belum punya boundaries yang kuat dan belum mengenal prinsip “tidak semua apa yang orang lain katakana itu benar, semua kembali dengan dirimu dan hanya kamu yang tau tentang dirimu”. Selain itu, aku juga terbilang masih agak polos, people pleaser, dan sebagainya. Jadi perkataan tanteku ini lumayan membuat keputusanku goyah. Namun untungnya aku masih tetap ingin melanjutkan keputusanku untuk gap year dan mulai mencari kumpulan soal serta bimbel-bimbel terpecaya.

 

Namun semua kembali berubah Ketika suatu malam aku mendengar percakapan mama dan utiku melalui ponsel. “Anak ini mau jadi apa kalo gapyear? Aku ga sanggup kalau liat dia harus di kamar terus. Sakit hatiku liat dia kayak gitu, nganggur di rumah aja. Mau jadi apa nanti dia. Anak itu bermasalah. Dia malah kehasut teman-temannya untuk gapyear.” Utiku terus mengeluhkan tentang diriku sambil menangis. Hal ini benar-benar membuat diriku tergoncang apalagi jika melihat utiku

sampai menangis. Seburuk itu kah rencanaku? Lagipula, walaupun semua biaya pendidikan ditanggung mama, tetapi jika aku gapyear, aku hanya bisa tinggal di rumah uti untuk satu tahun ke depan. Waktu itu, pikiranku masih terlalu polos untuk berpikir kabur lalu bekerja. Aku tidak terbayang jika aku harus berada setahun di rumah uti dengan rasa bersalah karena sebenarnya utiku tidak ingin aku gapyear.

 

Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak gapyear lalu diterima di suatu universitas negeri yang “medioker” dengan jurusan biologi. Awalnya, aku sudah mulai berusaha enjoy dan excited untuk mencoba hal baru serta diriku yang seperti baru terlahir kembali. Namun lama-kelamaan, aku menyadari beberapa hal, dan memutuskan untuk semi gapyear atau kuliah sambil mengejar UTBK.

 

Perjalanan Semi Gapyear

 

Awal semester 1, aku sudah mulai enjoy dengan perkuliahan di kampus tersebut. Aku mulai mengikuti kepanitiaan, aktif dalam kelompok serta presentasi, berbaur dengan teman, dan bahkan sudah mempunyai sirkel hahaha. Tapi sayangnya memang sulit beradaptasi, aku tidak hanya mengalami perubahan dari sekolah ke universitas saja, tetapi juga perubahan dari pondok ke dunia luar di mana perempuan dan laki-laki berbaur, berbagai macam jenis manusia dari yang skena, boti, starboy, seleb. Semua baru aku temui dan jujur diriku masih kaget karena jelas aku terbiasa dengan lingkungan santri. Jujur pada masa ini aku berusaha untuk beradaptasi dan melawan rasa takutku untuk bergaul dengan jenis orang-orang yang aku belum temui sebelumnya. Apalagi, rasanya aku seperti baru pertama kali hidup setelah bertahun-tahun berada di lingkungan yang seakan “membungkam” diriku untuk berbicara, berekspresi, dan menjadi diriku sendiri.

 

Namun, pada akhirnya aku sukses beradaptasi dan membranding diriku sebagai orang yang ramah dan ekstrovert. Aku punya banyak teman, apalagi aku join berbagai kepanitiaan. Aku yang dulunya tidak pernah punya teman untuk bermain ke mall saat perpulangan, sekarang selalu bermain dengan teman- teman kampusku. Aku yang awalnya hanya punya teman satu orang dua orang, sekarang bahkan punya sirkel. Aku yang dulu waktu di pondok bahkan tidak berani berbicara dalam forum kecil sekali pun, akhirnya berani berbicara bahkan di depan orang banyak. Yah, walaupun masih ada banyak kekurangan yang aku bawa, tetapi setidaknya diriku sudah jauh lebih berkembang.

 

Sayangnya, hal itu membuatku justru tidak fokus dalam perkuliahan. Aku terlalu hanyut dalam dunia luar, Aku terlalu fokus untuk mengikuti berbagai kepanitiaan. Pikiranku selama kuliah hanya “habis ini main ke mana, ya, sama teman-teman?”, “wah habis ini akua da rapat”, “habis ini gimana ya ngurus proker yang belum selesai kemarin?”, “minggu depan mau healing ke mana ya?”. Yah, katakanlah seperti harimau kelaparan yang keluar dari kandangnya, maka dia hanya fokus untuk keluar mencari makan dan berkeliaran.Diriku yang sekarang benar-benar berbeda jauh dengan diriku yang dulu, pendiam dan ambisius.

 

Mungkin semester 1 IPK ku lumayan bagus, tetapi itu karena dosen yang baik serta diriku yang pintar mendapat relasi sehingga mendapat contekan. Mungkin orang tuaku melihat IPK-ku akan langsung bilang, “wah, kamu bisa!”, “wah, kamu layak di jurusan ini!”. Namun nyatanya, aku ketika kelas berlangsung saja sibuk mengerjakan proker atau bercanda dengan teman-temanku, laporan praktikum nyontek, dan belajar hanya saat ulangan dengan sistem kebut semalam. Aku menyadari hal itu dan menyesal, rasanya ingin mengulang saja dari semester 1. “Apa sekalian ikut UTBK lagi aja, ya? Aku kan gak mau di sini juga aslinya,” awalnya pikiran-pikiran itu aku tangkis mengingat mamaku sebagai single parent sudah mengeluarkan biaya banyak untuk aku masuk di kampus ini. Awalnya aku kembali melanjutkan kuliah dengan niat, selalu mencatat,dan belajar baik setiap sesudah kelas maupun sebelum kelas. Namun, lama-kelamaan aku merasakan suatu kejanggalan, “aku salah jurusan”. Yah, mungkin itu perasaan yang wajar karena banyak orang bilang seperti itu tetapi endingnya tetap lulus dengan lancar.

Namun tidak dengan aku ketika mengingat lagi perjuanganku selama ini, mimpiku dari kecil, dan semuanya. Aku masih mempunyai kesempatan untuk pindah, mengulang dari awal,eksplor,dan mendapatkan universitas lebih baik sehingga mempunyai banyak kesempatan beasiswa sehingga tidak terlalu membebani mama.

 

Dengan segala pertimbangan hingga menulis secara detail pro dan kontra di setiap keputusan, akhirnya aku memutuskan untuk semi gapyear secara diam-diam. Aku mulai mencari platform belajar yang baik serta merancang strategi belajarku. Sebenarnya waktunya sedikit kurang untuk Keputusan mendadak ini, tetapi belum terlambat, UTBK masih empat bulan lagi. Aku masih punya banyak waktu. Di minggu terakhir liburanku, aku mulai diam-diam menyicil materi UTBK dengan melihat YouTube untuk pengenalan materi dasar karena aku rasa selama belajar UTBK di pondok, materi dasar pun aku masih kurang karena tidak diajari secara sempurna.

 

Memasuki semester 2 perkuliahan, kukira akan lebih mudah menjalani belajar UTBK sambil kuliah dibandingkan dengan belajar UTBK di pondok. Ternyata sama-sama susah (ya, walaupun lebih mending sedikit). Di sini time management-ku benar-benar diuji. Namun tentunya sangat susah apalagi jurusan yang aku jalani sekarang benar-benar sangat sibuk walaupun sudah kukorbankan seluruh open requirements organisasi favorit dan berbagai kepanitiaan yang aku inginkan. Pulang kuliah yang harusnya aku jadwalkan untuk belajar, tetapi aku sudah Lelah duluan sehingga ketiduran. Atau mungkin, pulang kuliah tetapi harus langsung mengerjakan laporan praktikum atau tugas yang deadline langsung besok paginya. Saat weekend pun, aku masih sibuk tugas dan mengerjakan laprak.

 

Maka dari itu, aku membuat strategi dan mengatur ulang jadwalku supaya lebih fleksibel. Strategiku adalah langsung mengerjakan semua tugas di awal dan memanfaatkan waktu-waktu luang kapan saja setiap ada waktu luang walaupun hanya sebentar, contohnya saat pergantian kelas. Aku rela uninstall semua aplikasi sosial media yang membuatku addicted, menunda semua film dan drakor yang menarik.

 

Di sela-sela waktu kuliah, aku selalu menyempatkan drilling soal dan mempelajari pembahasannya. Ya, aku tidak sempat untuk menamatkan semua materi sedangkan waktu UTBK tidak lama lagi, maka aku akan fokus ke latihan soal dan evaluasi.Jujur ini tantangan yang cukup unik,cukup sulit untuk menahan diri mengikuti teman menggosip, bercanda, bermain, sedangkan aku diam-diam harus berusaha fokus mengerjakan soal.

 

Okay, tantangan pertama mengerjakan semua tugas di awal, tetapi sayangnya tugas kuliah rata-rata kelompok. Mungkin ini akan mudah jika dilakukan saat tugas individu, tetapi tidak dengan tugas kelompok apalagi jika sekelompok dengan orang-orang yang menunda pekerjaan. Itu sangat BEBAN untukku, karena konsekuensinya aku membuang waktu lama untuk pekerjaan itu.

 

Menjelang h-40 UTBK, aku mulai menyempatkan waktu untuk bolos kuliah. Bukan hal yang terpuji, tetapi aku nekat menyempatkannya demi mengejar beberapa bab yang menurutku masih kurang terutama di materi matematika. Apalagi, aku sebenarnya belum sepenuhnya menguasai materi matematika setelah lulus SMA karena materi yg belum sempat dikejar.

 

Jujur, masa-masa ini bahkan lebih berat tantangannya dibandingkan tahun lalu. Ya, aku dibingungkan dengan tugas kuliah yang menumpuk, ujian-ujian, serta UTBK dan sebenanrnya tidak bisa jika dibuat balance. Sehingga harus ada yang dikorbankan, ini bukan hanya sekedar membagi waktu saja, tetapi juga mental, pikiran, dan fisik. Dan aku lebih mengorbankan kuliahku.

 

Dan, langsung saja ke ending. Setelah aku mengorbankan waktu, fisik, IPK, organisasi , jati diri, bahkan pertemanan, dan juga melalui berbagai tantangan, aku gagal di UTBK dan ujian mandiri. Hatiku di hari pengunguman kegagalan itu benar-benar hancur, pikiranku tiba-tiba kosong dan hilang arah. Ini bukan hanya soal gagal, tetapi juga aku harus menerima konsekuensi atau risiko terbesar yang ternyata benar-benar terjadi.

Mau tidak mau, aku harus lanjut di kampus itu, jurusan itu. Walaupun masih ada kesempatan terakhir tahun depan, tetapi menurutku rasanya terlalu tua untuk mengulang kagi. “Baik, tidak apa-apa, masih banyak mimpi lain yang bisa dikejar jika satu mimpi terkubur,” ucapku waktu itu

 

Trying to Survive

 

Semester 3, aku mengawalinya dengan semangat yang baru, harapan baru, rencana baru, dan diriku yang baru setelah merasakan jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku bangga dengan diriku karena bisa bangkit dari keterpurukan yang menimpaku.

 

Awal semester, aku mencoba mendaftar ukm, mencari beasiswa dan info lomba, dan mengikuti berbagai course. Aku yakin aku bisa lulus tepat waktu dan tetap bisa menjadi orang sukses.Dan semua itu berjalan dengan lancar hingga bulan ke-3 di semester 3.

 

Entah, aku mulai merasakan “konsekuensi” dari apa yang aku korbankan dari semester 2 kemarin. Mungkin enggan jika dijelaskan, intinya lama kelamaan aku tertekan. Benar-benar, sejak saat itu aku hanya bisa menangis setiap pulang kuliah. Aku tau, kuliah memang berat. Namun jika kita punya tujuan yang jelas dan tau untuk apa kita di situ, maka tugas kita hanya fokus pada tujuan tanpa memikirkan faktor lain yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Namun, kali ini aku kembali hilang arah. Sebenarnya ada berbagai faktor yang mendorongku untuk istirahat sejenak atau yang paling sering dipikirkan, yaitu mencoba kesempatan terakhir.

 

Perjuangan Selama Cuti “full gapyear

 

Dengan berbagai pertimbangan, diskusi yang panjang dengan orang tua, akhirnya aku memutuskan untuk cuti dan mencoba lagi kesempatan terakhir. Utiku, yang tadinya sangat skeptis, tiba-tiba mendapat pencerahan dan menjadi sedikit lebih open minded setelah menerima semua keluhanku dan menghadapi diriku yang berani berargumen serta terbuka. Aku memprivasikan perihal cutiku ke semua orang, termasuk sahabat dekat, tetangga, dan seluruh keluarga kecuali keluarga inti seperti mama, kakong, uti, dan adikku. Ya, aku trauma dengan “hasutan” orang, maka aku lebih memilih untuk merahasiakan segala proses dan keputusanku.

 

Kesempatan ini tidak akan kusia-siakan. Aku yakin aku bisa masuk Universitas Indonesia di tahun terakhir kesempatanku. Aku mengingat diriku yang dulu beberapa kali rangking satu di kelas, mendapat skor mata pelajaran tertinggi di Angkatan, beberapa kali mendapatkan nilai 100 di Angkatan. Aku yakin, aku bisa, aku pantas. Aku bisa jika aku memaksimalkan itu semua. Aku kembali teringat masa kecilku yang selalu berikrar ingin masuk UI seperti mama.

 

Aku mempunyai waktu 6 bulan untuk belajar dengan maksimal. Pagi, siang, sore, malam. Walaupun masih ada beberapa bulan, tetapi aku sudah sadar sekali bahwa hal ini tidak bisa dilakukan secara mendadak seperti belajar sistem kebut semalam di ujian sekolah. Ini semua tentang persaingan.

 

Walaupun agenda harianku hanya belajar UTBK, tetapi itu pun sudah sangat padat. TO setiap minggu, latsol setiap hari, menghafal vocab, live class. Namun, aku benar-benar enjoy dan menikmati proses. Aku menemukan diriku yang baru dan tau cara belajar serta fokus dalam diriku. Rasanya sangat menyesal kenapa tidak ambil cuti dari semester 3 saja.

 

Setelah berbulan-bulan dengan persiapan yang matang, akhirnya aku kembali ke pertarungan. UTBK terakhir kali. Sebelum UTBK, aku menyempatkan untuk sholat tahajud, mengechat semua stranger di telegram, meminta do’a pada ojol, meminta maaf pada semua orang supaya ujianku di perlancar. Aku yakin kali ini aku bisa, persiapanku sudah matang.

Namun, terjadi sesuatu yang benar-benar di luar kendali. Pada pertengahan ujian, tiba-tiba dadaku sesak. Rasanya ingin langsung memanggil panitia ujian, tetapi aku tidak tau apa yang terjadi jika aku harus meninggalkan ujian. Apakah dijeda atau gugur. Maka aku memilih melanjutkan ujian sampai akhir dengan konsentrasi 25%. Keluar ruangan ujian, diriku benar-benar hampa. Rasanya perjuanganku selama 3 tahun percuma. Namun, aku hanya pasrah dan yakin jika Allah pasti melihat perjuanganku selama 3 tahun ini.

 

Dan, aku gagal lagi. Di UTBK terakhir. Bukan kecewa lagi, aku sudah hampa. Rasanya tuhan tidak pernah mendengarkan do’aku. Namun langsung kutepis pikiran-pikiran itu. Aku harus segera bangkit untuk menghadapi KESEMPATAN TERAKHIR, yaitu SIMAK UI. Bersedih akan membuat waktuku habis.

 

Ending but not ending

 

Setelah menunggu pengunguman SIMAK UI yang lumayan membuatku tidak bisa tidur nyenyakk, akhirnya aku mendapatkan sebuah kabar. Aku lolos di universitas impianku sejak kecil, Universitas Indonesia. Aku benar-benar tidak menyangka. Setelah tiga tahun dengan season yang berbeda-beda. Ya, walaupun pada akhirnya aku tidak bisa mengambil kesempatan ini, tetapi aku tetap tidak menyesal dengan semua ini.

 

Yah, tetapi sayangnya aku tidak bisa mengambil “kursi” tersebut karena kondisi keuangan keluargaku yang sedang memburuk. Mungkin memang sakit dan merasa percuma karena aku tidak bisa mendapatkan hal yang sebenarnya sudah aku dapatkan dan perjuangkan selama 3 tahun. Namun setelah beberapa minggu, aku mulai menerima dan menemukan titik terang di mana segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Aku yakin bahwa apa yang aku jalani selama ini tidak sia-sia karena setelah kusadari, proses dari perjalanan panjang tersebut telah membawa diriku jauh lebih berkembang dibandingkan dengan diriku di masa lalu.

 

Aku menanamkan kepada diriku untuk selalu berorientasi pada proses. “Nikmati prosesnya” mungkin adalah secercah nasehat yang selalu kalian dengar. Awalnya aku juga menganggap remeh kalimat tersebut hingga aku menyadari bahwa jika kita melakukan suatu effort dan hanya berorientasi pada hasil, jelas kita akan terlalu kecewa. Mungkin kegagalan pasti akan membuat kita kecewa, dan apa yang kita lakukan pasti tujuan utamanya untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan, tetapi kekecewaan itu akan semakin besar jika kita tidak punya alasan untuk mengatakan kalimat “tidak sia- sia”.Yah, karena hasil adalah hal di luar kendali kita, maka akan terlalu percuma rasanya jika kita hanya melihat ke hasil tanpa melihat proses yang sebenarnya secara tidak langsung membuat kita melangkah lebih maju menuju suatu kebaikan yang lebih besar.

 

Ya, aku masih ingin berjuang untuk menabung dan bertempur lagi tahun depan. Untuk siapa pun yang membaca ini, aku minta do’anya supaya aku bisa berhasil dan mempunyai tabungan yang cukup tahun depan:)



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.