Happy Reading Guys!!!
Januari 2022, saat itu aku duduk dibangku XI SMA. Kelasku sedang jamkos, jadi aku dan teman-temanku duduk berkumpul di bawah pohon yang rindang sekedar berbincang dan bercanda tawa. Awalnya kami berbincang tentang kenaikan kelas kami nanti, dimana sebentar lagi kami akan naik kelas menjadi kelas XII. Yang artinya, kami akan mulai sibuk mengenai ujian-ujian dan mulai pusing memikiri “Setelah lulus nanti aku kemana ya?….” Banyak dari temanku yang sudah menentukan visi hidup atau tujuan mereka bakal kemana dan jadi apa. Aku hanya diam mendengarkan dan menyimak pembicaraan mereka saja. Karena apa? Aku tidak berani mengambil keputusan yang berat itu tanpa bertanya dulu kepada orangtua-ku. Singkat cerita, bel pulang telah berbuyi aku dan teman-temanku bubar dan pulang kerumah kami masing-masing. Malam harinya, aku melihat mamaku duduk diteras. Aku menghampirinya dan aku bertanya “Ma, utang kita di bank masih lama ya selesainya?” Mamaku terdiam, mungkin heran mengapa aku mendadak bertanya seperti itu dan menjawab “Masih, 5 tahun lagi… kenapa rupanya?” Aku diam dan mulai berpikir sekarang masih 2022 sementara utangnya 5 tahun lagi, berarti selesainya tahun 2027 dong. Aku kembali bertanya kepada mamaku “Berarti aku gabisa kuliah ya mak?” sambil pura-pura tertawa untuk mencairkan suasana. Mamaku menjawab “Melihat disitu ajalah” dengan jawaban yang singkat. Melihat jawaban singkat mamaku aku tidak berani bertanya lagi. Aku masuk ke kamar dan mulai merenung. Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat sangat ingin untuk berkuliah. Menjadi seorang guru, adalah cita-citaku sejak kecil. Orangtua-ku juga tau akan hal itu, dari kecil aku suka sekedar pura-pura mengajar. Terkadang aku memanggil dan membawa anak tetanggaku yang masih kecil untuk pura-pura menjadi muridku. Aku senang dan suka dalam melakukan itu. Tetapi, memikirkan keaadan ekonomi kami pada saat itu kecil kemungkinan atau bahkan bisa dibilang tidak bisa untuk berkuliah. Orangtua-ku tidak memiliki perkerjaan yang tetap. Kami hanya berjualan minyak saja, tidak memiliki lahan dan kebun. Kebutuhan kami hanya mengandalkan dari hasil jualan minyak itu saja, sementara kami juga memiliki utang di bank yang nilainya tidak sedikit. Aku juga memikirkan adik-adikku. Kami 3 bersaudara, aku anak pertama dan mempunyai 2 orang adik. Adik-adikku juga masih sekolah, kalau aku egois bagaimana nantinya dengan kebutuhan sekolah dll adik-adikku. Jadi, aku membuat plan, jika Tuhan tidak berkehendak untuk aku berkuliah maka aku akan bekerja di tempat pamanku.
Beberapa bulan kemudian, kami sudah kenaikan kelas. Dan aku duduk dibangku kelas XII. Pada suatu hari, guru kami mulai membahas tentang kuliah. Guru kami mulai bertanya “Siapa yang mau kuliah silahkan angkat tangannya”. Aku melihat rata-rata temanku mengangkat tangan, aku masih bimbang dan ragu. Tidak mau salah mengambil keputusan, jadi aku memilih tidak mengangkat tangan. Guruku mulai menotice aku dan bertanya kepadaku “Deby kenapa tidak mengangkat tangan? Mau lanjut kemana?” semua teman-teman melihat kearahku membuat aku menjadi kikuk. “Belum kepikiran dan belum ada nanya mama bu” kataku sambil senyum. “Pikiri dari sekarang ya, kalau emang mau kuliah tidak mungkin orangtua tidak mengusahakan” kata guruku. Mungkin perkataan guruku tidak salah, dari situ pikiranku mulai terbuka. Aku juga ada mengenal beberapa kakak kelasku yang kuliah gratis atau mendapatkan beasiswa. Jadi, dari situ aku rajin dan giat belajar untuk mendapatkan kategori siswa eligible.
Tibalah saat pengumuman siswa eligible, puji Tuhan aku masuk kedalam daftar siswa eligible. Aku sungguh merasa bahagia, itu artinya aku bisa mendaftar ke PTN. Aku mulai sibuk dan pusing untuk menentukan jurusanku, kalau masalah PTN-nya tentu saja aku mengambil yang dekat yaitu, UNRI. Aku tidak berani mengambil yang jauh, selain karena ekonomi kami yang minim aku juga takut dimarahi orangtua-ku. Namun, itu masih kurahasiakan dari orangtua-ku. Aku tidak berani memberitau mereka kalau aku masuk siswa eligible, aku takut mereka tidak setuju dan melarangku untuk kuliah. Jadi, aku memilih untuk merahasiakannya. Aku berencana memberitau mereka setelah aku selesai mendaftar ke PTN. Namun sialnya, ternyata ada surat undangan dari sekolah untuk orangtua yang anaknya masuk siswa eligible dan itu diwajibkan. Aku semakin bimbang. Aku berdoa dan meminta petunjuk Tuhan, Tuhan tunjukkan lah jalanmu untukku. Akhirnya, aku hanya memberitahu kepada mamaku saja. Mamaku bimbang, disatu sisi mamaku bangga dan senang karena aku bisa masuk siswa eligible dan disatu sisi mamaku bingung “Nanti biayanya dari mana, makan aja kita pasa-pasan. Belum lagi kebutuhan adik-adikmu dan utang di bank.” Aku meyakinkan mamaku dengan beasiswa. “Tenang aja ma, nanti kalau misalnya aku lulus di SNBP ini aku akan coba semua beasiswa. Udah banyak juga kok yang kuliah gratis ma.” Mamaku pun menerima undangannya tanpa membertiau kepada bapakku. Kenapa? Bapakku adalah orang yang sangat keras, kalau sekali tidak maka ya tidak. Aku tidak berani dan takut jadi aku merahasiakannya dulu.
Januari akhir, aku dan teman-temanku mulai sibuk membuat akun SNBP dan memasukkan jurusan serta PTN yang dituju. Aku konsultasi dengan guruku mengenai jurusan yang akan kupilih. Aku juga konsultasi dengan mamaku, dan mamaku menyarankan mengambil pendidikan/keguruan. Karena mamaku tau cita-citaku sejak kecil adalah menjadi guru. Setelah selesai mendaftar, mamaku berkata “Coba tanyak gurumu itu bisa ga dibantu menguurus kip-k itu dan cari-cari juga beasiswa yang lain. Karena jujur ajalah deby, kalau cuman mengandalkan uang dari jualan minyak ga sanggup mama. Kau liat sendirikan keaadan kita gimana.” Aku nangis, apa aku egois ya? apa aku salah mengambil keputusan ya? tapi aku pengen kuliah…. Aku mengiyakan perkataan mamaku.
Keesokan paginya, aku keruangan guruku dan mulai berbincang mengenai beasiswa apa saja yang tersedia. Guruku menyarankan mendaftar KIP-K, guruku memberitau apa saja persyaratannya. Pada saat pulang sekolah, aku mendaftar KIP-K itu. Aku memberitau mamaku mengenai persyaratan apa saja yang akan diurus. Aku dan mamaku pun mengurus kesana kemari. Dan akhirnya pendaftaran KIP-K sudah selesai kudaftarkan.
Maret akhir, pengumuman SNBP. Pada saat itu kami masih masuk kelas, jadi aku dan teman-temanku membukanya secara bersamaan dikelas. Merah, warna itulah yang kudapatkan. Aku gagal, aku tidak lulus mendaftar PTN melalui jalur SNBP. Jujur aku sedih dan putus asa, aku sempat berpikir Berarti aku gagal kuliah ya…. Sesampainya dirumah, aku memberitau mamaku kalau aku tidak lulus. Mamaku tetap menyemangati aku dan berkata “Gapapa, ga usah sedih. Berarti bukan disitu jalanmu, cari kian lah kerjaan. Kalau swasta ga usahlah. Ga ada uang mama.” Lalu aku berkata “Kan masih ada UTBK mak, itu juga negeri kok. Tapi harus ujian gitu.” “Ujian kemana? Mampu emang kau?” Tanya mamaku. “Ujian ke pekanbaru mak, bisanya nanti itu” Jawabku. Lalu mamaku berkata “Kalau gitu bicaralah kau sama bapak.” Malamnya, aku melihat bapakku sedang menonton tv lalu aku menghampirinya dan berkata “Pak, aku mau ujian ke pekanbaru… boleh kan?” “Ujian apa?” Tanya bapakku. “Aku mau kuliah pak, kemarin aku nyoba SNBP tapi gagal sekarang aku mau nyoba SNBT ke pekanbaru.” Jawabku. “Kapan kau coba SNBP? Kenapa diam-diam” Tanya bapakku. Mendengar pertanyaan bapakku aku melirik ke arah mamakku. Mamakku langsung menjawab “Dicobanya kemarin diam-diam, takut dia ngasih tau sama kita karna diliat uang lagi gada.” Aku lega karena mamakku membantu menjawab. “Kenapa harus takut, ga ada salahnya mencoba. Kalau kalian bilang mau kuliah, ya kami orangtua ini pun mengusahakan untuk kalian.” Duar….. Aku kaget mendengar jawaban bapakku, itu diluar dugaanku. Ternyata selama ini aku saja yg terlalu takut dan khawatir. Bapakku yang kukira tidak mendukung aku kuliah ternyata sangat mendukungku. Thanks God telah menjadikan mereka menjadi orangtua-ku. “Kapan emang pendaftarannya, daftarkan lah, mau dimana kau ambil” Tanya bapakku. “Udh buka pendaftarannya pak, kalau menurut bapak dimana lah ya ku ambil, soalnya kemarin kucoba di UNRI tapi ditolak” Jawabku. “Itulah karna diam-diam kau jadi ga lulus, di UNRI kau ambil dua-duanya?” Tanya bapakku kembali. “Iya pak” jawabku. “Coba satu ambil di luar riau satu lagi di riau” ucap bapakkku. Aku syok mendengar ucapan bapakku “Boleh emang pak? Gapapa jauh?” Tanyaku kepada bapakku. “Kenapa rupanya? Masih guru itu nya pilihanmu? UNIMED lah ambil. Itukan terkenal dengan kampus keguruan, bagus itu” Oh God, aku benar-benar menyesal kenapa kemarin harus kurahasiakan dari bapakku. Setelah perbincangan yang panjang, akhirnya aku mengambil pilihan pertama UNIMED dan pilihan kedua UNRI.
Selama 2 bulan penuh aku benar-benar gigih dalam belajar. Aku hanya bermodalkan belajar dari HP seperti melalui sosial media tiktok dan youtube. Melihat teman-temanku yang bimbel ada rasa takut dan iri. Takut mereka pasti lolos sedangkan aku enggak, iri karena mereka bisa mendapatkan itu semua. Namun aku mencoba bodoamat, aku tetap belajar dengan sungguh-sungguh. Tiap hari aku belajar dan di selingin dengan berdoa. 12 Mei adalah jadwal aku ujian di pekanbaru tepatnya di UNRI. Mamaku mulai mencari-cari tempat penginapanku nanti. Akhirnya dapat, aku disuruh di tempat kakak sepupuku supaya lebih irit juga, tidak perlu membayar uang penginapan/kost. Tibalah harinya, aku berangkat pagi dengan menggunkan travel. Sebelum aku berangkat kami berdoa terlebih dahulu. Lalu, aku menyalami kedua orangtua-ku dan memeluk mamaku. 3 jam di perjalanan, aku sampai di pekanbaru tepatnya dikost kakakku. Singkat cerita, esoknya aku ujian. Aku ujian di jam 6.30 pagi. Sorenya aku langsung pulang kerumahku.
Pertengahan juni adalah pengumuman SNBT. Sebelum aku membuka linknya, aku benar-benar berdoa Tuhan luluskan lah aku dipilihan yang mana pun. Aku kaget dan syok, Biru puji Tuhan aku lulus dipilihan pertamaku yaitu UNIMED. Aku menghubungi mamaku untuk memberitaukan kabar gembira ini, karena pada saat itu mamaku sedang berjualan. Dan yang membuat aku lebih syok lagi adalah, aku adalah satu-satunya yang lolos lewat jalur SNBT dari beberapa temanku yang mengikuti juga. Menurutku ini adalah suatu kebanggaan. Aku benar-benar berterima kasih kepada Tuhan. Kegigihan belajarku kemarin ternyata membuahkan hasil yang memuaskan. Lalu segala proses pendaftaran ulangku itu dibantu oleh bapakku. Sekali lagi aku bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah menjadikan aku sebagai anak mereka.
6 Agustus aku dan mamaku berangkat ke medan untuk mempersipakan segalanya (kost, perlengakapan kost, perlengkapan kuliah, dll). Untuk meminimalisir biaya, yang berangkat hanya mamaku saja. Aku tidak berani mempertanyakan Uangnya dapat dari mana ma? Karena aku sudah tau, bahwa itu uang hasil dipinjam dari tetangga kami. Setelah beres dengan segala perlengkapanku selama kuliah, mamaku pun pulang ke riau. Aku ingat pesan mamaku pada saat itu “Hemat-hemat ya, ingat tujuanmu kesini untuk kuliah bukan hal yang lain. Jangan ikuti temanmu yang enggak-enggak, cari uang itu susah.” Lalu mamaku pun berangkat. 3 hari PKKMB benar-benar seru, aku banyak mendokumentasikan diri dan lingkungan untuk dikirim ke orangtua-ku. Kemudian 21 agustus kami mulai masuk kuliah. Benar-benar yang ku impikan bisa merasakan bangku kuliah. Namun, aku juga masih menunggu pengumuman KIP-K. Seiring berjalannya waktu, pengumuman KIP-K telah diumumkan, aku ga lulus. UKT ku menurutku mahal untuk ekonomi kami yang kekurangan. Aku menghubungi mamaku, dari raut bicara mamaku, aku tau dia putus asa dan sedih tapi dimulut mamaku berkata “Yaudah gapapa, mungkin belum rezeki. Semangat la belajar jangan kau pikiri, kami usahakan yang terbaik untuk kalian.” Ya Tuhan ini masih awal, tapi cobaan yang datang sudah berat saja. Aku mencari-cari infomasi beasiswa dari sosial media, aku mencobanya, aku gagal. Selalu saja begitu, aku tidak pernah lulus. Aku menyerah “Tuhan, apa sebenarnya rencanamu dibalik ini semua.” Jualan minyak kami juga tidak konsisten, kadang naik kadang turun. Biaya hidupku juga sangat pas-pasan. Dalam seminggu orangtuaku hanya memberi 100.000 kepadaku. Dikota sebesar ini aku harus pandai mengatur 100k itu agar cukup selama seminggu. Kalau orangtua-ku bertanya cukup atau tidak, aku hanya menjawab “Cukup ko ma, pak” Tapi puji Tuhan semua berjalan dan terlalui juga sampai aku bisa pada semeester 6. Banyak suka dan duka yang telah kulewati walaupun lebih banyak dukanya, tapi bersyukur semua bisa terlewati. Kalau libur semester aku membantu orangtua-ku dengan bergaji ke ladang orang. Mungkin itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan mereka.
Aku sangat berharap, disuatu hari nanti ini semua bisa terbayarkan dengan aku yang suskes.. Amin. Aku bisa mengganti uang mereka dan aku bisa membiayai kehidupan adik-adikku. Aku tau mereka meminjam kesana kemari untuk biaya hidupku disni, bayar UKT ku, dan keperluanku yang lain. Belum lagi utang bank kami. Bapakku juga mencari perkerjaan ssampingan dnegan bergaji diladang orang untuk menutupi itu semua.
Sekian cerita inspiratif dari saya, itu adalah murni kisah kehidupan saya dari modal nekad untuk berkuliah sampai bisa pada semester 6 sekarang. Besar harapan saya untuk dapat menang pada lomba menulis ini. Dan benefitnya bisa saya manfaatkan untuk keperluan yang lain. Sukses buat kita semua… Terima kasih…..

