Karya

Kuliah Tidak Sesuai Rencana, Namun Perjuangan dan Semangatku Tetap Menggapai

Kampus Impian

Pendahuluan

Perkenalkan, namaku Anggun Millennia, seorang mahasiswa semester enam jurusan Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah Jakarta Selatan. Jika melihat posisiku hari ini, mungkin orang akan mengira bahwa perjalananku menuju bangku kuliah berjalan sebagaimana mestinya. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa langkah kecilku sampai di titik ini adalah hasil dari perjalanan panjang yang penuh penundaan dan pengorbanan.

Aku adalah anak pertama dari empat bersaudara, lahir di keluarga sederhana. Orang tuaku kini berjualan opak singkong keliling, setelah sebelumnya usaha ayahku mengalami kebangkrutan. Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat bagaimana kerasnya kehidupan harus dijalani hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari situlah aku belajar untuk tidak banyak menuntut, bahkan untuk mimpi sekalipun.

Di tengah keterbatasan itu, aku tetap menyimpan satu harapan besar: aku ingin kuliah, khususnya di jurusan hukum. Mimpi itu semakin tumbuh ketika aku menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Riyadus Sholihin Tegal, Jawa Tengah, tempat aku belajar selama hampir tujuh tahun dalam jurusan kitab. Di sana, aku belajar bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi keterbatasan.

Namun, setelah menyelesaikan pendidikanku, aku harus dihadapkan pada kenyataan bahwa mimpi itu tidak bisa langsung kugapai. Tidak ada biaya, tidak ada jalan yang pasti, dan aku hanya bisa melihat teman-temanku melangkah lebih dulu menuju kampus impian mereka. Saat itulah aku mulai memahami bahwa perjalanan menuju pendidikan tinggi bukan hanya tentang keinginan, tetapi juga tentang seberapa kuat kita bertahan ketika keadaan tidak berpihak.

Latar Belakang Perjuangan

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, aku tidak langsung melanjutkan ke bangku kuliah. Bukan karena aku tidak ingin, tetapi karena keadaan yang tidak memungkinkan. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, aku memahami betul bagaimana kondisi ekonomi keluargaku yang jauh dari kata cukup.

Aku memilih untuk diam.

Aku tidak pernah benar-benar memaksakan keinginanku kepada orang tua. Aku tahu, untuk menyekolahkan kami saja mereka sudah berjuang sangat keras. Bahkan untuk menyekolahkan aku dan adik-adikku di pesantren yang berbeda-beda, mereka harus mengorbankan banyak hal.

Tahun 2021 menjadi salah satu fase paling sulit dalam hidupku. Saat itu aku baru saja keluar dari pesantren, dengan harapan bisa mulai bekerja dan perlahan mengumpulkan biaya untuk kuliah. Namun, kenyataan tidak berjalan sesuai rencana.

Saat itu adalah masa pandemi Covid-19. Keadaan menjadi sangat sulit. Lowongan pekerjaan semakin terbatas, banyak tempat yang tutup, dan kesempatan terasa begitu sempit. Aku mencoba mencari pekerjaan, tetapi tidak semudah yang aku bayangkan. Lebih dari itu, aku tidak memiliki banyak relasi, terutama di Jakarta. Aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Bahkan untuk sekadar mencari informasi lowongan kerja pun terasa sulit.

Aku benar-benar berjalan sendiri.

Hari-hari itu terasa sunyi. Aku berusaha kuat, tetapi sering kali aku merasa bingung dengan arah hidupku sendiri. Di saat orang lain mulai melangkah maju, aku justru seperti berdiri di tempat yang sama tidak tahu harus ke mana. Namun, aku tidak punya pilihan selain tetap bertahan. Perlahan, aku mulai mencoba mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Aku menahan banyak keinginan, bekerja semampuku, dan mencoba menjaga harapan itu tetap hidup, meskipun kecil.

Hingga akhirnya, di tahun 2022, aku berada di titik di mana harapan itu kembali muncul. Aku sudah memiliki cukup untuk mulai melangkah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bahwa mimpiku untuk kuliah tidak lagi terlalu jauh.

Namun, sekali lagi, aku harus dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Di waktu yang bersamaan, adikku lulus SMA.

Dan tanpa banyak pertimbangan, aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku mengalah lagi.

Aku memilih untuk memberikan kesempatan itu kepada adikku. Aku membiarkan kembali mimpiku tertunda, untuk kedua kalinya. Aku tetap tersenyum. Aku tetap terlihat kuat. Aku tetap mengatakan bahwa itu adalah keputusan yang tepat. Namun di dalam hati, ada rasa yang tidak bisa aku ungkapkan. Seolah-olah setiap kali aku hampir sampai pada mimpiku, aku harus kembali mundur beberapa langkah. Seolah-olah harapan itu selalu datang… hanya untuk kemudian pergi lagi.

Dan di titik itu, aku mulai benar-benar lelah.

Aku mulai berpikir bahwa mungkin… aku memang tidak ditakdirkan untuk kuliah.

Namun hidup ternyata tidak berhenti sampai di sana.

Tanpa pernah aku duga, di tahun berikutnya justru datang jalan yang tidak pernah aku rencanakan sebelumnya. Aku akhirnya bisa melanjutkan kuliah—bahkan di waktu yang sama dengan adikku. Kami sama-sama menjadi mahasiswa, sama-sama berjuang di semester yang sama, meskipun dengan jurusan yang berbeda dan jalan cerita yang tidak pernah benar-benar sama.

Dan dari situlah aku mulai menyadari… bahwa di balik semua keterlambatan, penolakan, dan penundaan yang pernah aku alami, ternyata ada jalan lain yang sedang dipersiapkan meskipun bukan jalan yang sejak awal aku impikan.

 

Titik Balik: Jalan yang Tidak Pernah Direncanakan

Di saat aku mulai benar-benar berusaha mengubur mimpiku sendiri, justru hidup membawaku pada sebuah jalan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Saat itu, aku sudah tidak lagi berani berharap terlalu tinggi. Bukan karena aku tidak ingin, tetapi karena aku sudah terlalu sering merasa kecewa oleh keadaan. Setiap kali aku mencoba melangkah, selalu ada hal yang membuatku harus mundur.

Akhirnya, aku hanya mencoba menjalani hari demi hari. Namun, di dalam hati kecilku, ada satu keinginan yang tetap hidup meskipun pelan, meskipun hampir padam aku masih ingin kuliah. Aku mulai mencari-cari informasi tentang kampus. Bukan kampus impian seperti dulu, bukan jurusan hukum yang pernah begitu aku inginkan, tetapi sekadar kampus yang mungkin bisa aku jangkau. Kampus yang biayanya tidak terlalu tinggi. Kampus yang tidak menuntut terlalu banyak dari seseorang sepertiku.

Aku menurunkan standarku. Bukan karena aku tidak mampu bermimpi besar, tetapi karena keadaan memaksaku untuk realistis. Aku tidak lagi mencari yang terbaik, aku hanya mencari yang memungkinkan. Aku mencari sendiri. Tanpa relasi. Tanpa teman yang bisa aku ajak berdiskusi. Tanpa orang yang bisa aku tanyai dengan mudah. Semua terasa serba terbatas.

Bahkan untuk sekadar mendapatkan informasi saja, aku harus berusaha lebih keras dari kebanyakan orang.

Di tengah keterbatasan itu, atasanku di lembaga tempat aku mengajar mulai memperhatikan. Beliau melihat prosesku meskipun aku tidak pernah benar-benar menceritakannya secara terbuka. Beliau melihat bagaimana aku mencoba bertahan, bagaimana aku mencoba tetap berjalan meskipun pelan. Hingga akhirnya, beliau menyarankan satu kampus: Universitas Darunnajah Jakarta Selatan. Bagiku, itu hanyalah satu dari sekian pilihan yang ada. Aku tidak terlalu mengenalnya. Aku juga tidak memiliki ekspektasi besar. Yang ada dalam pikiranku saat itu hanya satu: “Yang penting aku bisa kuliah.”

Aku tidak tahu… bahwa keputusan sederhana itu akan menjadi titik balik besar dalam hidupku. Lebih dari itu, aku sama sekali tidak tahu bahwa beliau juga merupakan mahasiswa di kampus tersebut.

Aku benar-benar tidak tahu. Hari pertama kuliah itu datang.

Hari yang seharusnya menjadi awal baru dalam hidupku. Hari yang seharusnya aku jalani dengan perasaan harap dan semangat.

Namun yang aku rasakan justru sebaliknya. Aku merasa takut.

Aku merasa kecil.

Aku merasa seperti seseorang yang “tidak seharusnya ada di sana”.

Aku datang dengan membawa banyak keraguan. Dengan usia yang tidak lagi sama seperti mahasiswa baru lainnya. Dengan latar belakang yang membuatku merasa tertinggal. Dengan mimpi yang bahkan tidak sepenuhnya bisa aku wujudkan.

Aku masuk ke dalam kelas dengan langkah yang pelan.

Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku mencoba menenangkan diri, mencoba meyakinkan bahwa aku pantas berada di sana meskipun dalam hati aku sendiri belum sepenuhnya percaya.

Namun, semua perasaan itu tiba-tiba berubah dalam sekejap.

Saat aku melihat ke dalam ruangan itu… aku melihat sosok yang sangat aku kenal. Atasanku.

Beliau duduk di sana. Sebagai mahasiswa.

Di kelas yang sama denganku.

Aku terdiam.

Dunia seakan berhenti sesaat.

Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Perasaanku campur aduk kaget, bingung, canggung, bahkan sedikit takut.

Bagaimana mungkin?

Orang yang selama ini aku hormati sebagai atasan, orang yang membimbingku dalam pekerjaan, orang yang membantuku hingga bisa sampai di titik ini… kini duduk di kelas yang sama denganku sebagai teman belajar.

Aku merasa sangat kecil saat itu.

Ada perasaan tidak pantas yang tiba-tiba muncul. Aku merasa seperti seseorang yang hanya

“dibawa masuk” ke dunia yang sebenarnya bukan milikku. Namun, aku tidak punya pilihan selain tetap duduk di kursiku. Menjalani semuanya.

Menerima keadaan yang bahkan belum sepenuhnya bisa aku pahami.

Di situlah aku mulai menyadari bahwa perjalanan ini tidak akan pernah mudah.

Aku tidak hanya harus beradaptasi dengan dunia perkuliahan, tetapi juga dengan situasi yang tidak biasa belajar di kelas yang sama dengan orang yang dalam kehidupan nyataku adalah atasanku.

Aku harus belajar menahan diri. Aku harus belajar menjaga sikap. Aku harus belajar memahami batas. Tidak jarang aku merasa tertekan.

Aku harus terlihat profesional di tempat kerja, tetapi di kelas aku hanyalah seorang mahasiswa biasa. Aku harus menyesuaikan diri dengan dua peran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.

Dan di tengah semua itu, aku juga harus menerima satu kenyataan yang paling berat bagiku— aku tidak sedang menjalani jurusan yang sejak awal aku impikan.

Aku mengambil jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Bukan hukum.

Bukan yang selama ini aku doakan. Bukan yang selama ini aku bayangkan.

Untuk ketiga kalinya dalam hidupku, aku kembali mengalah. Namun kali ini, rasanya jauh lebih dalam.

Karena aku tidak hanya mengalah pada keadaan, tetapi juga pada mimpiku sendiri.

Ada bagian dalam diriku yang terasa hilang.

Ada keinginan yang harus aku kubur lebih dalam dari sebelumnya.

Namun di sisi lain, aku juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa aku telah diberikan kesempatan yang tidak semua orang miliki.

Aku berada di antara dua perasaan yang saling bertentangan bersyukur, tetapi juga terluka. Dan di situlah aku benar-benar belajar tentang arti perjuangan yang sebenarnya. Perjalanan kuliahku pun tidak pernah berjalan ringan. Aku tetap mengajar dari satu lembaga ke lembaga lain. Waktuku terbagi, tenagaku terkuras, dan tidak jarang aku pulang dengan tubuh yang lelah dan pikiran yang penuh.

Ada hari-hari di mana aku ingin menyerah. Ada malam-malam di mana aku bertanya pada diriku sendiri, “Kenapa jalanku harus seberat ini?

Namun setiap kali aku hampir menyerah, aku selalu mengingat satu hal aku sudah terlalu banyak berkorban untuk berhenti di tengah jalan. Aku sudah terlalu sering mengalah untuk menyerah sekarang.

Dan di tengah semua itu, aku mulai membangun sesuatu dari diriku sendiri Aksara Millennia. Sebuah ruang kecil yang menjadi tempatku tetap hidup, tetap berkarya, dan tetap percaya bahwa aku masih memiliki nilai, meskipun jalanku tidak sempurna. Dan di antara semua perjuangan itu, ada satu momen yang selalu membuat hatiku bergetar. Aku dan adikku kini sama-sama menjadi mahasiswa. Kami berada di semester yang sama. Dulu, aku mundur agar ia bisa melangkah lebih dulu. Kini, kami berjalan berdampingan. Tanpa rencana. Tanpa skenario. Tetapi nyata.

Dan di situlah aku akhirnya memahami… bahwa mungkin semua pengorbanan yang pernah aku lakukan, semua mimpi yang pernah aku lepaskan, dan semua rasa sakit yang pernah aku rasakan…

tidak pernah benar-benar sia-sia.

Karena pada akhirnya, aku tetap sampai di sini meskipun dengan jalan yang berbeda, meskipun dengan luka yang tidak terlihat, dan meskipun dengan mimpi yang harus aku ubah bentuknya.

 

Penutup: Makna Sebuah Kampus Impian

Perjalanan ini mengajarkanku banyak hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dulu, aku berpikir bahwa kampus impian adalah tentang tempat terbaik, jurusan yang sesuai dengan cita-cita, dan jalan yang berjalan sesuai rencana. Aku membayangkan diriku duduk di bangku kuliah jurusan hukum, belajar tentang keadilan, dan menjadi seseorang yang mampu berdiri di sisi kebenaran.

Namun, hidup mengajarkanku bahwa tidak semua mimpi hadir dalam bentuk yang sama seperti yang kita bayangkan.

Aku tidak kuliah di jurusan hukum.

Aku tidak memulai kuliah di waktu yang sama seperti teman-temanku. Aku tidak berjalan dengan jalan yang lurus dan mudah.

Aku harus menunda. Aku harus mengalah. Aku harus merelakan. Bahkan berkali-kali.

Sebagai anak pertama, aku belajar bahwa terkadang kita harus menempatkan diri bukan sebagai seseorang yang didahulukan, tetapi sebagai seseorang yang menguatkan. Aku belajar bahwa cinta kepada keluarga tidak selalu ditunjukkan dengan kata-kata, tetapi dengan pilihan- pilihan sulit yang sering kali harus diambil dalam diam.

Aku pernah berada di titik di mana aku merasa mimpiku tidak lagi penting.

Aku pernah berada di fase di mana aku berhenti berharap agar tidak terlalu sakit.

Aku pernah merasa tertinggal, merasa kecil, bahkan merasa tidak pantas untuk Kembali bermimpi.

Namun hari ini, aku berdiri di titik yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Aku adalah seorang mahasiswa. Meskipun jalanku tidak sempurna, meskipun langkahku tertatih, meskipun mimpiku harus berubah bentuk aku tetap sampai di sini.

Dan dari semua itu, aku akhirnya memahami satu hal yang sangat berharga…

bahwa kampus impian bukan hanya tentang tempat kita belajar, tetapi tentang bagaimana kita sampai di sana. Tentang air mata yang pernah jatuh diam-diam. Tentang pengorbanan yang tidak pernah diceritakan. Tentang langkah yang tetap diambil, meskipun penuh keraguan.

Kampus impian bukan hanya tentang nama besar atau jurusan yang diinginkan, tetapi tentang proses yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat.

Hari ini, mungkin aku belum berada di jurusan yang dulu aku impikan. Namun aku berada di tempat yang mengajarkanku arti perjuangan yang sesungguhnya. Dan mungkin, itulah bentuk lain dari mimpi yang dikabulkan bukan sesuai dengan yang kita minta, tetapi sesuai dengan yang kita butuhkan. Untuk siapa pun yang sedang merasa tertinggal, yang merasa mimpinya harus berhenti di tengah jalan, atau yang merasa hidupnya tidak berjalan sesuai rencana, percayalah… tidak semua yang tertunda itu hilang, dan tidak semua jalan yang berbeda itu salah. Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Dan

aku adalah salah satu bukti… bahwa mimpi yang tertunda, tetap bisa menemukan jalannya meskipun dengan cara yang tidak pernah kita rencanakan.