Saya Belajar Debit-Kredit, Namun Hati ini Selalu di antara Baris-Baris Kalimat

Selama 3 tahun duduk dibangku SMK, aku belajar angka-angka, nominal yang besar, keuangan perusahaan, pendapatan dan lain sebagainya yang  bersangkutan dengan pembukuan keuangan suatu usaha. Guruku menganggapku sebagai siswa yang teliti dan pandai dalam mengatur keuangan dan teman temanku juga merasa aku lumayan pintar karena memang aku selalu juara. Aku bisa mengikuti pembelajarannya, aku selalu berusaha mencintai jurusanku kala itu.Namun,ada satu hal yang tidak mereka ketahui.Isi ransel yang penuh dengan novel,jurnal harian dan buku diary dan juga karangan karangan puisi yang selalu aku bawa.Aku sangat gemar melakukan hal hal yang berbau dengan tulisan serta karangan.Saat aku menulis dan menuangkan isi hat serta pikiranku,aku merasa duniaku lebih hidup dan aku sangat suka akan hal itu.Namun aku tetap berusaha untuk tidak ketinggalan akan jurusan yang terlanjur aku ambil pada saat SMK.

Masuk kelas 12 semester ke 2 adalah detik-detik paling menegangkan untuk semua siswa/siswi,begitu juga dengan aku.Aku sudah membayangkan bagaimana aku duduk dibangku universitas dan belajar hal yang paling aku gemari,yaitu yang berbau dengan tulisan atau sastra dan sejenisnya.Dug-dug-dug…..itu suara jantungku saat guru hendak mengumumkan siapa saja yang lolos menjadi siswa eligible yang mana kita dapat mendaftar lewat jalur SNBP/nilai raport sekolah. Dan yahh aku adalah salah satu siswi yang masuk eligible. Aku senang,bahagia dan sangat sangat bangga karena bisa mencapai hal tersebut. Dengan buru-buru, aku pulang kekos untuk menghubungi ibuku dan mengabarkan kabar baik ini.Ibuku sangat senang dan buru-buru menyuruhku untuk mendaftar ke PTN impian aku.Namun, keluargaku adalah keluarga yang kurang mampu.Ibuku dengan sangat hati hati mengatakan kepadaku “kak coba KIP kuliah ya,agar bisa meringankan biaya dari mamak,kamu tau keadaan keluarga kita bagaimana,tapi kamu tenang aja mamak bakalan usahakan kok,intinya banyak banyak berdoa ya kak”.Aku disebut kakak karena aku adalah anak pertama dari 4 bersaudara.

Mendengar itu, air mataku turun deras tanpa peringatan dan tanpa aba aba,bukan karena aku kecewa kepada orang tuaku,namun aku sedih mengapa terkadang dunia ini tidak adil pada orang yang ingin berusaha. Ekonomi adalah pembunuh harapan banyak orang,namun aku memilih untuk bangkit dan semangat demi orang tuaku dan adik-adikku.Aku mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan untuk proses pendaftaran SNBP serta mencoba nasib mendaftar KIP kuliah berharap dapat lolos untuk meringankan beban orang tua.Aku sangat semangat mempersiapkan semua berkas -berkas yang diperlukan karena aku sangat ingin masuk PTN impianku. Sebenarnya jurusanku di SMK sangat bertentangan dengan jurusan yang aku pilih di PTN ,semua orang menasehatiku agar tidak melanjutkannya karena presentase diterima sangatlah minim, ini disebut sebagai linjur atau lintas jurusan .Aku tau itu dan aku tidak menyangkalnya, namun aku siap dengan resikonya.Karena semua pilihan memang memiliki resikonya masing-masing dan bahkan disaat kita tidak memilih sekalipun.Aku selalu berdoa dan memang aku mulai overthinking dengan semua perkataan-perkataan orang -orang disekitarku.Namun apa gunanya aku memilih jurusan yang kurang aku sukai?.Cukup sekali aku salah jurusan, di PTN ini aku sangat ingin belajar sesuai dengan bakatku.

Detik-detik pengumuman sudah dekat, hati campur aduk, jantung rasanya ingin copot dan pikiran kemana-mana.Pada saat hari H pengumuman, temanku mengajak aku ke tempat yang tenang biar aku bisa luapkan semuanya kalo hasilnya merah ataupun biru, mungkin dia juga ada feeling karena memang anak SMK ditambah lintas jurusan rasanya sangat mustahil. Dan yahh ketika aku membuka portal SNBP, tanpa kata-kata, tanpa suara.Hanya adan keheningan dan air mataku yang terus menerus berjatuhan melihat hasilnya merah (ditolak). Rasanya hancur berkeping-keping, untungnya temanku ada disampingku sebagai tempatku bersandar. Dia mengatakan “gapapa del, nangis aja sepuasmu sekarang, tetapi jangan jadi nyerah atau putus asa gara gara hal ini.Kita coba sama sama UTBK ya del aku yakin kita pasti bisa”. Aku yang masih sangat sedih tidak memikirkan apa apa lagi dan mengajak temanku untuk pulang kekos karena rasanya aku hancur dan ingin tidur karena sudah sangat lelah.

Hari-hari berikutnya aku jalani dengan kurang semangat walau mamak aku sudah menyarankan agar aku mencoba UTBK. Aku sedih karena semuja orang men judge dan mengatakan “kamu sih tidak mau dengarkan saran dari kami ,bla bla bla”. Aku jadi berfikir , salah ya kita gagal? Bukannya kegagalan adalah proses untuk suksea? Memangnya semua yang kita lakukan harus langsung berhasil ya?.Kata-kata yang mereka lontarkan akan menjadi penyemangat dan motivasi buatku, aku bertekad akan belajar lebih giat lagi untuk membuktikan kebolehanku.

Aku mendaftarkan diri untuk mengikuti UTBK dengan kampus dan jurusan yang sama seperti pada saat aku mendaftar SNBP. Aku tetap menyinkronkan aku KIP Kuliah ku ke akun UTBK dengan harapan aku lolos keduanya. Hampir setiap hari aku belajar soal-soal UTBK dengan mengandalkan media belajar gratis seperti dari youtube dan google serta media sosial gratis lainnya. Digempuran teman-temanku yang bimble ,aku memilih untuk menggunakan teknik belajar dari youtube dan medsos lainnya karena tidak memiliki uang mendaftar bimble.Aku menyerahkannya kepada Tuhan namun tetap berusaha semaksimal mungkin.

Hari H ujian telah datang, aku dan kawanku pergi ke Medan dan melaksanakan ujian dengan hati – hati dan teliti,berharap bisa lulus.Singkat cerita hari H pengumuman pun tiba. Aku membuka portal SNBT (UTBK) dengan semangat dan yeiiii aku dapat biru (lulus).”Selamat anda dinyatakan lulus seleksi”.Aku sangat bahagia, senang dan bangga atas pencapaian diriku. Ternyata merah yang SNBP berikan kala itu bukanlah ahir dari semuanya, melainkan awal dari rencana indah yang tidaka tertebak oleh siapapun. Semua orang mengucapkan selamat kepadaku dan aku sangat berterimakasih akan hal itu. Dengan modal belajar dari youtube dan memperlajari soal-soal yang belum pernah aku pelajari semasa kuliah ternyata aku dapat membuktikan kebolehanku.Ibuku terharu dan menangis bangga akan hal itu. 

Setelah aku menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk kepentingan administrasi kampus, ahirnya aku resmi menjadi mahasiswa baru di Universitas Negeri Medan. Namun ternyata problem datang lagi, KIP kuliah ku tidak lolos, disitu aku hampir menyerah dan putus asa. Karena aku tau betul bahwasanya uang kuliah dan kebutuhan kuliah bukanlah sesuatu hal yang murah. Biaya hidup juga sangat mahal, aku sempat ingin mengundurkan diri karena merasa orang tuaku tidak akan sanggup membiayai semua kebutuhanku dan memutuskan untuk bekerja. Namun,ibuku menolak rencanaku dia mengatakan mungkin Tuha  memiliki rencana yang lebih baik kedepannya, doakan saja mamak ya biar bisa memenuhi semua kebutuhanmu katanya. Dan ya sampai detik ini aku tidak pernah kekurangan apapun dan tidak pernah ketinggalan dari teman-temanku. Selalu saja ada rejeki yang datang kepadaku dan kepada ibuku. Namun aku belum memiliki laptop untuk kuliah, karena memang ibuku belum mampu untuk membelinya tetapi memiliki teman yang selalu meminjamkan laptopnya kepadaku untuk mengerjakan tugas kuliahku adalah rejeki yang sangat harus aku syukuri juga.Oleh karena itu, aku memilih untuk bangki, semangat dan terus belajar berkembang, agar aku dapat menggapai apa yang aku cita citakan.


ditulis oleh : Agussabeth Adelina Pasaribu

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.