Perjuangan yang Tertunda: Kisah Gap Year Tiga Tahun Menuju Pendidikan Tinggi

Halo, perkenalkan nama saya Azaria Salzabilla. Saya merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Pada kesempatan ini, saya ingin menceritakan sebuah pengalaman berharga dalam hidup saya, yang hingga saat ini masih terasa tidak menyangka bahwa saya bisa menjadi pribadi seperti sekarang. Setelah lulus sekolah, saya sempat mengalami masa gap year selama tiga tahun, di mana pada masa tersebut saya sering merasa putus asa karena merasa belum mencapai apa pun. Namun, pengalaman hidup yang saya jalani justru membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat. Saya berasal dari keluarga sederhana. Ketika saya duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar, kedua orang tua saya memutuskan untuk bercerai. Setelah itu, saya dan saudara-saudara saya harus tinggal bersama kakak tiri kami. Pada saat itu, saya masih belum sepenuhnya memahami arti dari perceraian. Saya hanya merasa bahwa kebutuhan saya selalu tercukupi, karena setiap kali saya membutuhkan sesuatu, ayah saya selalu berusaha memenuhinya. Kakak pertama dan kedua saya berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur SNBP (seleksi berdasarkan rapor). Pada saat itu, biaya pendidikan masih dapat tercukupi karena kedua orang tua saya masih bekerja dan memiliki penghasilan yang cukup. Sejak kecil saya termasuk siswa yang berprestasi. Ketika di Sekolah Dasar, saya berhasil meraih peringkat pertama dari kelas satu hingga kelas lima, serta beberapa kali memenangkan perlombaan. 

Ketika memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama, orang tua saya memutuskan untuk memasukkan saya ke sebuah pondok pesantren. Pada tahun pertama, saya merasa cukup nyaman dan dapat beradaptasi dengan lingkungan pondok pesantren. Namun, ketika ujian semester tiba, saya hampir tidak dapat mengikuti ujian karena biaya SPP saya belum terbayarkan sejak awal masuk. Hal tersebut terjadi karena kondisi ekonomi ayah saya yang menurun setelah beliau mengalami penipuan dari rekan kerjanya. Sejak saat itu, proses menuntut ilmu terasa semakin berat bagi saya. Banyak kekhawatiran yang muncul, terutama terkait dengan masalah biaya pendidikan. Uang saku yang biasanya saya terima sering terlambat, bahkan jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya. Setiap kali masa ujian semester datang, saya selalu dihantui rasa cemas mengenai apakah saya dapat mengikuti ujian atau tidak. Dan hari kelulusan pun tiba, saya mendapatkan nilai yang cukup memuaskan. Saya kembali melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Awalnya saya sebenarnya tidak terlalu ingin kembali ke pesantren, namun ayah saya merasa khawatir karena anak-anaknya semuanya perempuan. Oleh karena itu, beliau memutuskan agar saya tetap melanjutkan pendidikan di lingkungan pesantren. Pada masa itu, saya kembali menjalani proses belajar dengan perasaan yang kurang tenang. Saya sering memikirkan masalah biaya pendidikan, terlebih lagi adik saya juga sedang menempuh pendidikan di pesantren. Terkadang muncul rasa iri ketika melihat teman-teman yang dapat fokus belajar tanpa harus memikirkan masalah biaya. Namun, saya selalu berusaha menanamkan dalam hati bahwa semua yang terjadi merupakan kehendak Allah, dan Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuan mereka. Kemudian, pandemi COVID-19 datang dan mengharuskan para santri untuk kembali ke rumah serta mengikuti pembelajaran secara daring. Berbeda dengan kebanyakan orang yang merasa senang karena dapat belajar dari rumah, saya justru merasa khawatir karena keterbatasan ekonomi yang kami alami. Selama pembelajaran daring, saya menjadi jarang mengikuti kelas karena hp yang saya gunakan tidak cukup memadai untuk mendukung proses belajar. Akibatnya, peringkat akademik saya pun menurun.

Ketika situasi mulai membaik dan para santri diperbolehkan kembali ke pondok pesantren, saat itu saya sudah berada di kelas tiga SMA dan sedang menghadapi masa ujian. Saya berusaha mengerjakan setiap ujian dengan sungguh-sungguh. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan formal, saya tidak langsung lulus sepenuhnya karena di pesantren terdapat program wajib pengabdian selama satu tahun yang artinya saya harus menunda unutk kuliah(gapyear). Selama masa pengabdian tersebut, saya sering mendengar teman-teman berbincang mengenai kampus yang ingin mereka tuju. Beberapa di antara mereka bahkan mulai mengikuti bimbingan belajar untuk mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. Pada saat itu, sempat muncul rasa iri dalam diri saya. Namun di sisi lain, saya juga menyadari bahwa saya belum tentu dapat melanjutkan kuliah. Yang dapat saya lakukan hanyalah terus berusaha dan berdoa. Saya kemudian memberanikan diri untuk membicarakan keinginan melanjutkan kuliah kepada ayah saya. Saat itu beliau mengatakan bahwa beliau bersedia dan akan berusaha agar saya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mendengar hal tersebut, saya merasa sangat bahagia. Saya pun segera mengikuti bimbingan belajar seperti teman-teman saya. Namun di tengah perjalanan mengikuti bimbingan belajar, saya kembali harus menerima kenyataan bahwa saya tidak dapat melanjutkannya. Ayah saya menyampaikan bahwa beliau belum mampu untuk membiayai saya melanjutkan kuliah pada tahun tersebut. Saat itu saya merasakan berbagai perasaan sekaligus—marah, kecewa, dan putus asa. Saya sempat bertanya-tanya mengapa saya tidak bisa memiliki kesempatan yang sama seperti teman-teman saya. Dalam kondisi tersebut, satu-satunya hal yang dapat saya lakukan adalah terus berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam setiap urusan saya dan keluarga saya.

Beberapa waktu sebelum hari kelulusan, saya dipanggil oleh pimpinan pesantren. Pada saat itu, saya diberitahu mengenai tunggakan biaya pendidikan selama tiga tahun saya menempuh pendidikan di pesantren, yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah. Pimpinan pesantren kemudian memberikan dua pilihan kepada saya. Jika saya bersedia menambah masa pengabdian selama satu tahun lagi, maka saya diperbolehkan untuk membawa ijazah saya. Namun jika tidak, maka ijazah tersebut akan ditahan sampai seluruh tunggakan biaya dapat dilunasi. Sepulang dari pertemuan tersebut, saya tidak mampu menahan tangis. Saya merasa bingung harus mengambil keputusan seperti apa. Saya kemudian menceritakan hal tersebut kepada kakak saya. Kakak saya mencoba menenangkan saya dan meminta saya untuk bersabar, dengan harapan ayah saya masih bisa mengusahakan pembayaran tersebut. Namun pada akhirnya saya harus menerima kenyataan bahwa ayah saya belum mampu untuk melunasi biaya tersebut. Karena itu, saya memutuskan untuk menjalani gap year dan tinggal di rumah terlebih dahulu. Masa gap year tersebut menjadi masa yang cukup berat bagi saya. Saya merasa terpukul, kecewa, dan sering kali membandingkan diri dengan teman-teman saya. Ketika mereka mulai mengunggah twibbon dan kabar mengenai keberhasilan mereka masuk ke kampus impian, saya hanya bisa melihatnya sambil berusaha menguatkan diri dan terus berdoa. Tidak lama setelah itu, saya kembali menerima kabar yang semakin membuat saya terpukul. Saya mengetahui bahwa ayah saya memiliki hutang bank dengan jumlah yang cukup besar hingga beliau harus menggadaikan rumah kami. Hutang tersebut telah jatuh tempo, sementara ayah saya sudah tidak sanggup lagi untuk melunasinya. Akibatnya, rumah kami hampir dilelang oleh pihak bank. Kondisi tersebut membuat saya merasa sangat hancur. Pada saat itu saya bahkan tidak lagi berani memikirkan apakah saya masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan kuliah atau tidak. Di tengah keadaan tersebut, saya sempat merasakan kebingungan dan mempertanyakan banyak hal dalam hidup saya. Saya merasa sangat lelah menghadapi berbagai ujian yang datang bertubi-tubi. Masa itu menjadi salah satu titik terendah dalam hidup saya. 

Pada tahun kedua masa gap year saya, saya sempat merasa bingung harus mengisi waktu dengan kegiatan apa. Saya masih sangat terpukul dengan berbagai kejadian yang menimpa saya dan keluarga. Perasaan putus asa sering datang, bahkan saya sempat kehilangan harapan untuk bisa melanjutkan kuliah. Banyak waktu saya habiskan dengan melamun dan menangis, memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan. Tekanan batin yang saya rasakan juga memengaruhi kondisi fisik saya, hingga berat badan saya turun sekitar 12 kilogram dalam waktu yang relatif singkat. Namun ketika tahun kedua gap year saya hampir berakhir, saya mulai tersadar bahwa jika saya terus meratapi nasib, saya tidak akan berkembang. Dari situ saya mulai mencoba bangkit dan berpikir bagaimana cara mengisi waktu luang sekaligus menghasilkan uang. Saya sebenarnya sangat ingin bekerja, tetapi kendala yang saya hadapi saat itu adalah ijazah saya masih tertahan di pesantren sehingga saya tidak bisa melamar pekerjaan. Meskipun begitu, saya tidak ingin menyerah. Saya terus memutar otak untuk mencari cara agar tetap bisa mendapatkan penghasilan. Dari situlah muncul sebuah ide. Saya memang memiliki hobi memasak berbagai macam makanan, dan saya mulai berpikir bahwa hobi tersebut mungkin bisa menjadi peluang bagi saya. Suatu hari saya ingin makan cookies, tetapi karena saya tinggal di desa, cukup sulit menemukan tempat yang menjual cookies. Akhirnya saya memiliki ide untuk membuat cookies sendiri. Saat itu saya belum memiliki oven, sehingga saya mencoba mencari resep cookies yang bisa dibuat menggunakan teflon. Setelah menemukan resepnya, saya langsung bersemangat untuk mencobanya. Namun seperti halnya proses belajar lainnya, percobaan pertama saya gagal. Meski begitu, saya tidak menyerah. Saya terus mencoba berkali-kali sampai akhirnya berhasil membuat cookies dengan rasa yang menurut saya enak dan pas. Melihat hasil tersebut, ibu saya kemudian mengusulkan agar cookies itu dijual. Ibu juga bersedia membantu menawarkannya melalui WhatsApp kepada teman-temannya. 

Memasuki awal tahun ketiga masa gap year saya, saya mulai berjualan cookies. Alhamdulillah, ayah saya juga mendukung usaha saya dengan membelikan oven kompor. Dukungan itu membuat saya semakin semangat untuk berjualan. Saya mulai menawarkan cookies kepada teman-teman adik saya di pondok, dan ternyata mereka menyukainya. Setiap hari penjengukan tiba, pesanan cookies meningkat cukup banyak. Selain cookies, saya juga mulai menjual berbagai makanan lain seperti pizza, bolu oven, risol mayo, donat, dan makanan lainnya. Saya mencoba menjual berbagai makanan yang bisa saya masak. Seiring berjalannya waktu, pelanggan mulai berdatangan. Di antara berbagai menu yang saya jual, cookies, pizza, dan risol mayo menjadi yang paling sering dipesan. Saya mendapatkan pesanan 200 cookies untuk dibagikan ke masjid, saya terima dengan senang hati. Saya juga menjual kue kering lebaran seperti nastar, kue salju, palm cookies dan lainnya, saya sangat bersyukur banyak yang suka dengan kue buatan saya. Dari pengalaman ini, saya mulai belajar untuk lebih mensyukuri kehidupan yang sedang saya jalani. Saya percaya bahwa semua yang terjadi merupakan bagian dari proses kehidupan, dan saya yakin di balik setiap kesulitan pasti ada hikmah yang bisa saya ambil. Tidak berhenti sampai di situ, saya masih ingin mencari cara lain untuk menghasilkan uang. Saya melihat peluang ketika musim kelulusan tiba. Saya mulai mencari tutorial cara membuat buket dan mencoba membuatnya sendiri. Percobaan pertama memang belum sempurna, tetapi saya terus berlatih dan mencoba lagi. Setelah merasa cukup bisa membuatnya, saya mulai menawarkan buket tersebut melalui Instagram, WhatsApp, dan TikTok. Alhamdulillah, pembeli pertama akhirnya datang dan membeli buket buatan saya. Saat itu saya merasa sangat senang dan terharu. Ibu saya juga ikut membantu dengan menawarkan buket saya melalui WhatsApp miliknya. Selain itu, saya meminta bantuan adik saya untuk menawarkan buket kepada teman-temannya. Ternyata mereka tertarik dan langsung memesan. Alhamdulillah, total pesanan buket yang saya terima mencapai 85 pesanan. Saya sangat bersemangat mengerjakan semuanya. 

Hari demi hari saya jalani dengan penuh rasa syukur. Hingga akhirnya, di akhir tahun saya menerima kabar baik. Ayah saya mengatakan bahwa beliau akan melunasi ijazah saya dan bersedia membiayai saya untuk kuliah. Saya sangat bahagia mendengarnya. Setelah itu, saya mulai mencari informasi tentang kampus yang ingin saya tuju. Saya ingin melanjutkan kuliah di Universitas Sebelas Maret di Surakarta dengan mengambil jurusan Agribisnis. Namun saat itu saya masih bimbang, karena saya juga tertarik dengan jurusan Tata Boga yang bisa membantu mengembangkan kemampuan memasak saya. Saya kemudian meminta pendapat dari kakak-kakak saya. Kakak pertama menyarankan agar saya memilih jurusan yang benar-benar saya sukai supaya saya bisa menjalani kuliah dengan lebih ringan dan tanpa beban. Sementara itu, kakak kedua menyarankan saya mengambil jurusan Manajemen agar lebih mudah mendapatkan pekerjaan di masa depan. Agar lebih yakin dalam mengambil keputusan, saya melakukan salat istikharah dan memohon petunjuk kepada Allah agar dimantapkan hati dalam memilih jurusan. Setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil jurusan Agribisnis. Salah satu alasan saya memilih jurusan ini adalah karena bidang pertanian tidak akan pernah hilang meskipun zaman terus berkembang. Selain itu, saya juga menyukai kegiatan yang berhubungan dengan tanam-menanam. Di awal tahun 2025 saya masih menekuni kegiatan berjualan cookies dan kue kering. Namun ketika universitas yang saya tuju sudah membuka pendaftaran mahasiswa baru, saya belum juga bisa mendaftar karena ayah saya belum dapat melunasi tunggakan ijazah saya. Hingga akhirnya pendaftaran di universitas tersebut pun ditutup. Saya sangat terpukul dengan kenyataan ini. Satu-satunya jalan yang bisa saya tempuh saat itu adalah memilih kampus swasta. Ayah saya pun menyetujuinya, dan saya mulai mencari informasi kampus yang memiliki jurusan agribisnis. Dari beberapa pilihan yang saya temukan, saya mulai tertarik untuk mencoba kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta karena di sana terdapat jurusan agribisnis yang sesuai dengan minat saya.

Alhamdulillah, pada bulan Juli saya akhirnya bisa mengambil ijazah saya. Saya sangat terharu dengan rencana Allah yang begitu indah, meskipun sebelumnya harus saya lewati dengan banyak air mata. Pada bulan Agustus saya mendaftar melalui jalur CBT, dan alhamdulillah saya dinyatakan diterima. Saya tidak henti-hentinya bersyukur karena Allah telah mempermudah jalan saya untuk melanjutkan pendidikan. Meskipun sempat ada sedikit kendala dalam pembayaran uang masuk, namun alhamdulillah semuanya bisa terlewati. Sempat terbesit rasa tidak percaya diri, malu, dan takut untuk memulai perkuliahan. Saya merasa tertinggal karena teman-teman seusia saya sudah berada di semester lima, sementara saya baru memulai kuliah. Saya juga sempat khawatir tidak memiliki teman karena perbedaan usia, serta takut tidak mampu mengikuti perkuliahan dengan baik seperti mereka. Namun saya terus menanamkan pada diri saya bahwa menuntut ilmu tidak mengenal usia. Saya harus tetap fokus pada tujuan saya untuk kuliah dan meraih masa depan yang lebih baik. Pada awal perkuliahan, alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Saya sangat menikmati proses belajar di jurusan yang memang saya inginkan. Saya mampu mengikuti mata kuliah dengan baik dan mendapatkan teman-teman yang baik pula. Selain itu, saya juga mulai mencari informasi tentang berbagai beasiswa agar dapat meringankan beban biaya ayah saya. Saya juga mencoba mengikuti beberapa perlombaan secara online dan berencana untuk bekerja paruh waktu. Usaha saya berjualan cookies pun tidak berhenti sampai di situ. Saya bahkan membawa oven ke kost agar tetap bisa membuat cookies untuk menambah uang saku. Saya menjualnya kepada teman-teman di sekitar saya, dan alhamdulillah mereka menyukainya. Hal ini menjadi semangat tersendiri bagi saya untuk terus berusaha mandiri. 

Inilah akhir dari kisah perjuangan saya dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Dari perjalanan ini saya belajar bahwa segala sesuatu perlu diusahakan dengan sungguh-sungguh, namun juga harus disertai dengan doa. Karena usaha tanpa doa akan terasa sia-sia. Kini saya mulai berdamai dengan diri sendiri. Saya belajar untuk bersyukur dan menerima keadaan tanpa membandingkan kehidupan serta pencapaian saya dengan orang lain. Setiap orang memiliki waktu, jalan, dan porsinya masing-masing dalam meraih kebahagiaan serta kesuksesan. Perjalanan saya masih panjang, dan apa pun yang akan saya hadapi di masa depan, saya harus tetap kuat untuk melewatinya.

Ini adalah foto ketika saya mendapatkan pesanan 200 cookies, pesanan buket dan ketika saya ke kampus untuk mengambil almamater serta foto ktm.


ditulis oleh : Azaria Salzabilla

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.