Setelah lulus sekolah, masa depan tidak langsung terasa seperti jalan yang jelas. Ia lebih menyerupai ruang kosong, terasa terlalu luas, dan jujur saja, sedikit membingungkan. Tidak semua orang langsung tahu ingin menjadi apa, dan aku termasuk di antaranya. Sementara itu, pertanyaan yang sama mulai datang dari berbagai arah, seperti: “Mau kuliah di mana?” Awalnya terdengar sederhana, tapi semakin sering diulang, semakin terasa seperti dorongan halus yang memaksaku segera menentukan langkah, bahkan ketika aku sendiri belum benar-benar memahami ke mana ingin pergi.
Media sosial perlahan berubah seperti papan pengumuman raksasa yang mengerikan ketika aku mencoba melihat jejak alumni-alumni sekolah. Setiap kali membuka layar, yang muncul adalah kelulusan mereka, tangkapan layar pengumuman, dan foto teman-teman yang sudah mengenakan almamater kampus dengan bangga. Satu per satu seolah sudah menemukan jalannya masing-masing. Tanpa benar-benar kusadari, muncul perasaan aneh. Hati ini terasa takut tertinggal, takut menjadi satu-satunya yang masih berdiri di tempat yang sama. Pada titik itu, kuliah mulai terasa bukan sekadar pilihan, melainkan sesuatu yang seakan harus dilakukan agar tidak terlihat berbeda dari yang lain.
Namun di tengah dorongan itu, keraguan perlahan ikut tumbuh. Aku mulai melihat sisi lain yang jarang dibicarakan dengan lantang. Ada lulusan perguruan tinggi yang masih berjuang menemukan tempatnya di dunia kerja. Ada pula cerita tentang salah jurusan, tentang mimpi yang ternyata tidak berjalan searah dengan kenyataan. Semua itu membuatku berhenti sejenak dan berpikir lebih jauh. Jika bahkan mereka yang sudah menempuh pendidikan tinggi masih harus mencari arah, lalu sebenarnya apa arti kuliah itu sendiri? Benarkah ia jalan yang pasti menuju masa depan?
Pada akhirnya aku merasa terjebak di antara dua ketakutan yang sama besarnya. Di satu sisi, ada rasa takut tertinggal jika tidak segera melanjutkan kuliah seperti kebanyakan orang. Namun di sisi lain, ada juga kekhawatiran memilih jalan yang keliru, jurusan yang tidak tepat, waktu yang terbuang, atau biaya yang tidak sedikit. Pikiran-pikiran itu terus berputar, membuat keputusan terasa semakin berat. Sampai akhirnya aku mulai menyadari satu hal sederhana, bahwa mungkin memang benar, tidak ada pilihan hidup yang benar-benar bebas dari risiko.
Setelah memikirkan semua itu cukup lama, perlahan cara pandangku mulai berubah. Mungkin selama ini aku melihat kuliah terlalu sempit, seolah-olah ia hanya tentang gelar dan pekerjaan setelahnya. Padahal, ada kemungkinan lain yang sering terlewat. Kampus bisa menjadi ruang untuk belajar banyak hal, bukan hanya dari buku, tetapi juga dari orang-orang dengan latar belakang dan pemikiran yang berbeda. Pendidikan mungkin tidak selalu menjamin kesuksesan, tetapi setidaknya ia bisa membuka wawasan, mempertemukan kita dengan sudut pandang baru, dan memberi kesempatan untuk menemukan arah hidup yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Dari pemahaman itu, keputusanku perlahan menjadi lebih jelas. Jika aku memilih kuliah, itu bukan semata karena tekanan dari lingkungan atau karena takut tertinggal dari orang lain. Aku ingin menjadikannya sebagai langkah untuk terus belajar dan mengenal diriku lebih jauh. Kuliah mungkin bukan jawaban atas semua pertanyaan tentang masa depan, tetapi setidaknya ia bisa menjadi pintu yang membuka lebih banyak kemungkinan.
Pada akhirnya aku mulai melihat kampus bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai awal dari perjalanan yang lebih panjang. Banyak orang mengira bahwa kuliah otomatis membawa kesuksesan atau bahkan kekayaan, padahal kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Justru di sanalah kita belajar membuka mata lebih lebar tentang dunia, tentang peluang yang ada, tentang tantangan yang nyata, dan berbagai kemungkinan yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya.
Masa depan memang tidak pernah sepenuhnya pasti, tetapi keberanian untuk melangkah setidaknya memberi alasan untuk tetap berharap. Kuambil pensil dan buku, kutuliskan kampus impian, kuraih nilai setinggi mungkin, dan tentunya kuluangkan waktu untuk mengangkat tangan, berdoa di sepertiga malam untuk semua yang kuupayakan.
“Kalaupun kuliah tidak menjamin kesuksesan, aku tetap akan memilih menggapai sekeras mungkin dan menjalaninya, agar suatu hari nanti aku tahu, bahwa aku pernah berani memberi diriku kesempatan, dan tidak akan menyesalinya.”
(Oleh: Rafa Adrienne)

