Perjalanan Menuju Impian: Menemukan Arah di Tengah Ketidakpastian

Masa-masa akhir SMA selalu menjadi waktu yang penuh gejolak bagi sebagian besar remaja. Ini adalah saat di mana kita mulai memikirkan masa depan dengan lebih serius, terutama dalam hal pendidikan tinggi. Namun, tidak semua orang memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang mereka inginkan. Sebagian dari mereka masih bimbang terkait dengan kehidupan nya setelah lulus SMA. Dan aku menjadi salah satu dari dari sebagian orang yang masih bimbnag terkait keberlanjutan pendidikan ku setelah lulus dari SMA ini.

Awalnya, aku memimpikan untuk bisa kuliah di luar negeri. Bayangan akan pengalaman baru di negeri asing tentu sangat menggoda bagi ku, seorang remaja yang haus akan petualangan. Namun, setelah mempertimbangkan berbagai faktor, terutama biaya dan persiapan yang diperlukan, aku memutuskan untuk fokus pada pilihan universitas di dalam negeri. Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi tujuan utamanya. Sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia dan lokasinya yang dekat dengan rumah, ITB menjadi pilihan yang ideal. Dengan tekad yang kuat, aku mulai mempersiapkan diri untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), sebuah tes yang akan menentukan nasib pendidikanku. Meskipun sudah memiliki target universitas, aku masih belum yakin tentang jurusan yang akan ku ambil. Ibuku, yang terinspirasi oleh kesuksesan keponakannya yang lulus dari jurusan keperawatan UGM, mendorong agar aku juga mengambil jurusan di bidang kesehatan. Namun, setelah banyak pertimbangan, aku akhirnya memantapkan hati untuk memilih jurusan Biologi di ITB. Pertimbangan ini aku ambil setelah melihat nilaiku yang terus meningkat pada mata pelajaran biologi serta aku yang pernah terpilih untuk mengikuti Olimpiade Sains di bidang biologi juga. Sayangnya, hasil UTBK tidak sesuai harapan. Aku tidak diterima di ITB, sebuah pukulan berat yang membuatku terpuruk untuk sementara waktu. Namun, aku tidak menyerah. Dengan semangat yang baru, aku bangkit dan mulai mempersiapkan diri untuk Seleksi Mandiri (SM)-ITB. Sambil mempersiapkan SM ITB, aku diam diam juga mendaftar di Universitas Brawijaya (UB) jurusan Hukum, mengikuti jejak ayahku yang merupakan sarjana hukum. Selain itu, aku juga mendaftar di Universitas Airlangga (UNAIR) jurusan Keperawatan, meskipun tanpa harapan besar untuk diterima. Pendaftaran di UNAIR ini lebih karena dorongan FOMO (Fear of Missing Out) saat melihat teman-temannya sudah diterima di berbagai universitas. Hari-hari menunggu hasil SM ITB terasa begitu panjang. Di tengah penantian itu, hasil seleksi UNAIR diumumkan, dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa aku diterima di jurusan Keperawatan. Meski bukan kampus impian atau jurusan yang diinginkan, ada rasa lega karena setidaknya aku sudah memiliki tempat untuk melanjutkan pendidikan. Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Hasil SM ITB akhirnya diumumkan, dan sekali lagi aku harus menelan kekecewaan karena tidak diterima di ITB. Kegagalan ini tentu sangat menyakitkan, terutama mengingat betapa keras aku telah berusaha. Dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan ke UNAIR atau mengambil gap year, aku merasa sangat bimbang. Di satu sisi, UNAIR dan jurusan Keperawatan bukanlah pilihan utamaku. Namun disisi lain, aku juga tidak ingin tertinggal dari teman-temannya yang sudah mulai kuliah tahun itu. Akhirnya dengan dorongan dari ayahku, aku memutuskan untuk menerima tawaran dari UNAIR. Keputusan ini bukanlah hal yang mudah. Bahkan hingga saat ini, aku masih sering berharap bisa pindah ke jurusan Biologi di ITB. Namun, aku juga berusaha keras untuk menikmati dan menjalani studi ku di jurusan Keperawatan UNAIR dengan sebaik-baiknya. Dukungan dari ibuku, yang sangat menginginkan anaknya masuk ke jurusan ini, menjadi salah satu motivasi bagiku untuk tetap bertahan dan berjuang untuk sukses.

Perjalananku dalam meraih kampus impian yang aku ceritakan disini mungkin bukan hanya aku yang mengalaminya. Impian dan harapan yang tidak selalu sejalan dengan kenyataan, dan kegagalan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses mengejar mimpi. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi kegagalan tersebut. Meskipun aku tidak berhasil masuk ke universitas dan jurusan impianku. Aku tidak mau menyerah begitu saja serta menyepelekan hidup serta jalan yang telah kuambil, melainkan aku terus mencoba dan membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru. Aku menyedari bahwa keputusan untuk menerima tawaran dari UNAIR mungkin bukanlah pilihan ideal, tetapi sisi baiknya aku melihat ini sebagai kematangan dalam mengambil keputusan dan kesiapan untuk menghadapi tantangan baru. Lebih dari itu, pengalaman ini mengajarkan ku bahwa kesuksesan tidak selalu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Terkadang, kesuksesan justru datang dari bagaimana kita mampu beradaptasi dan membuat yang terbaik dari situasi yang ada. Dengan tetap berjuang dan berusaha menikmati perjalanannya di jurusan Keperawatan UNAIR, aku ingin menunjukkan bahwa aku siap untuk tantangan lain yang lebih besar, terlepas dari keadaan yang tidak sesuai dengan rencana awal. Pada akhirnya aku menyadari, perjalanan menuju impian bukanlah tentang mencapai tujuan akhir, melainkan tentang proses pembelajaran dan pertumbuhan yang kita alami sepanjang jalan. Setiap tantangan dan kegagalan adalah kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Dan mungkin suatu hari nanti, kita akan menyadari bahwa jalan yang kita tempuh, meskipun berbeda dari yang kita bayangkan, justru membawa kita ke tempat yang lebih baik dari yang pernah kita impikan.

oleh : Siska Aurora

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.