JATUH BANGUN USAHAKU MERAJUT IMPIAN 

Kisah ini bukan sekedar tentang perjalanan yang mudah, ada banyak malam yang berulang kali membuatku merasa ingin menyerah, perkenalkan aku seorang mahasiswa dari salah satu sekolah tinggi ilmu kesehatan di kota Kediri. Kota yang mungkin tidak terdengar begitu terkenalnya dikalangan mahasiswa, tapi ketahuilah sebelum menempuh pendidikan di sini aku juga pernah melewati masa susahku. Di sini aku akan sedikit menguraikan tentang perjalanan kecil menuju harapan dan mimpi-mimpiku. Cerita ini berawal dari keinginan sederhanaku untuk melanjutkan pendidikan di kampus impian, sejak duduk di bangku SMA, aku telah menyadari akan keinginanku, proses ini tidak mudah, dan aku sadar akan hal itu. Banyak yang aku persiapkan untuk mendaftar di perguruan tinggi selayaknya anak-anak yang lain, aku belajar, berusaha, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Namun, kadangkala kenyataan dan harapan tidak semestinya selalu berjalanan bersamaan, menjadi salah satu siswa eligible memang menjadi salah satu kunci untuk bisa mendaftar di kampus yang telah ku dambakan melalui prestasi, awalnya aku merasa bahwa eligible merupakan peluang besarku untuk meraih kampus impianku, namun nyatanya tak begitu, menjadi bagian dari siswa eligible saja tidak cukup untuk memenuhi syarat, begitu pun prestasi lainnya yang telah kuusahakan selama 3 tahun seakan terbuang sia-sia setelah kudapati warna merah di laman pengumuman penerimaan mahasiswa itu. Katanya merah adalah warna cinta, tapi setelah mendapatkannya aku rasa ini bukanlah cinta tetapi justru keikhlasan yang dibalut luka. Namun ditengah rasa kecewa, aku berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri, karena mungkin ini belum menjadi rezeki. Usahaku tak hanya sekali, hampir setiap malamku tersita untuk memandangi informasi pendaftaran di kampus lain yang kuminati, tak hanya sekedar memandang, ditengah hiruk pikuk dan lelahnya pikiran, aku berusaha untuk mempersiapkan kembali berkas-berkas pendaftaran selanjutnya, transkip nilai dan piagam penghargaan ku siapkan, begitupun mental yang tak mungkin kutinggalkan, aku bertekad untuk kembali mendaftar. Sempat ku merasa tertinggal kala mendapati teman-temanku sudah melangkah ke tahap selanjutnya, sedang aku masih berdiri di tempat yang sama, bagaimana aku tidak merasa tertinggal jika lagi-lagi yang kudapati adalah kegagalan. Nyatanya ditolak pendidikan rasanya jauh lebih sakit daripada ditolak percintaan. Perasaan campur aduk, antara kecewa, lelah, bahkan keinginan untuk menyerah di balik air mata sudah tak bisa lagi aku ceritakan dengan mudah. Namun, ditengah semua rasa itu, ada satu hal yang masih tersisa, yakni keinginanku untuk terus mencoba. Dengan sisa keyakinan dalam diri, meskipun yang tersisa hanyalah serpihan harapan kecil tapi aku tidak pernah benar-benar menghilangkan tekadku untuk terus mencoba. Aku perlahan berusaha bangkit, aku belajar dan kembali mempersiapkan diri, dan yang paling penting aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Aku sadar bahwa perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling cepat sampai tujuan tetapi tentang siapa yang tidak pernah berhenti di tengah jalan. Aku mungkin sempat merasa tertinggal, tetapi aku tidak pernah berhenti mencoba, aku tetap melangkah meskipun pelan, dan aku tetap berusaha meskipun aku takut. Hingga akhirnya aku sampai pada titik yang benar-benar aku harapkan, kala itu aku kembali membuka pengumuman, dengan tangan gemetar takut jika terjadi lagi penolakan, nyatanya hari itu aku berhasil, nama ku tertulis disana, aku terdiam, bukan karena karena tidak percaya, tetapi ternyata bermodalkan tekad yang masih tersisa akhirnya aku berhasil melewati perjalanan dengan hasil yang nyata. Setelah jatuh bangun kecewa, perasaan tertinggal dan sia-sia, nyatanya apa yang aku usahakan selama 3 tahun di bangku SMA berhasil mengantarkanku pada mimpi hebatku, semua penolakan dan air mata terbayarkan dengan keberhasilan. Dari sini aku belajar satu hal penting bahwa tidak ada yang sia-sia selama kita masih terus berusaha, bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang siapa yang tidak menyerah untuk terus melangkah.

Ditulis oleh: Yausy Putri Maretha

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.