Perlahan Tapi Pasti

Kalau ditanya apa modal utama aku kuliah, jawabannya bukan uang, Bukan juga nilai sempurna. Yang ada cuma tekad, dan keberanian untuk tetap melangkah meski belum tahu jalannya ke mana.\

Perkenalkan aku Amel, tumbuh besar di kampung, dari keluarga yang sederhana. Bapak bukan orang berada, tapi beliau selalu mengutamakan pendidikan. Sejak kecil aku sudah punya mimpi ingin kuliah  sesuai janji bapak yang ingin menyekolahkan aku setinggi mungkin. Tapi saat aku masuk SMA, bapak mulai sakit-sakitan. Dan saat kelas 11 tepatnya pagi hari ketika aku hendak berangkat sekolah, pada 6 September 2023, bapak berpulang.

Sejak kepergian bapak, pikiran soal kuliah langsung menghilang, yang tersisa hanya satu pertanyaan “bagaimana caranya aku sukses tanpa ngerepotin ibu?” Tapi jauh sebelum itu terjadi, ada sesuatu yang tumbuh dalam diri ku sejak kelas 10 yaitu rasa ingin mandiri. Melihat bapak yang semakin lemah, aku mulai berpikir untuk tidak bergantung. Aku mulai jualan mochi di sekolah. Hasil penjualannya aku pakai sendiri untuk bayar LKS dan buku. Dari kelas 10 sampai lulus, aku tidak pernah minta uang orang tua untuk itu.

Masuk kelas 12, aku mulai sering lihat sosialisasi dan expo kampus,. Jujur ada rasa tertarik, tapi kondisi keluarga selalu jadi penghalang. Sampai suatu hari di bulan Januari, keluar pengumuman siswa eligible SNBP  dan nama aku ada di sana. Aku yang tadinya sudah mengubur niat kuliah, tiba-tiba harus mempertimbangkan sesuatu yang lebih besar. Aku konsultasi ke BK, cari tahu kampus-kampus yang biayanya terjangkau. Sebenarnya dalam hati ingin masuk PTN ternama, tapi itu artinya aku harus merantau  dan itu tidak diperbolehkan, karena aku anak tunggal dan tidak tega meninggalkan ibu sendirian. Aku daftar tanpa ekspektasi tinggi. Kalau tidak lolos, ya sudah. Tapi alhamdulillah, aku lolos SNBP di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, jurusan Sains Data, kampus yang jaraknya masih bisa dijangkau dari rumah.

Tapi kebahagiaan itu tidak lama. Ibu tidak merespons kabar kelulusanku dengan antusias. Beliau bilang, kuliah sebaiknya ditunda dulu sampai ada persiapan. Aku sadar aku menyimpan rencana ini sendiri tanpa melibatkan ibu dari awal. SNBP tidak bisa dibatalkan. Waktu itu tepat menjelang Hari Raya Idul fitri, momen yang seharusnya untuk maaf-maafan tapi aku malah bikin masalah baru. Selama tiga hari ibu mendiamkan aku, rasanya berat. Aku merasa jadi anak yang egois.

Tapi aku tidak menyerah. UKT semester pertama sebesar 3,5 juta harus terbayar, sementara tabunganku hanya 1,5 juta. Aku cari jalan lain, apply beasiswa kipk, tapi di UIN pendaftaran beasiswa kipk setelah resmi jadi mahasiswa, aku bingung akhirnya patungan bersama keluarga dan UKT terbayar. Aku resmi kuliah.

Sekarang aku sudah di semester 2. Tiap hari laju dari Pemalang ke Pekalongan, sekitar ±45 menit, pakai motor seadanya. Belum punya laptop,  kalau ada tugas jurnal atau olah data, aku kerjakan dulu di HP, lalu pinjam laptop teman untuk merapikan. Capek, iya. Tapi aku masih di sini, masih jalan. Lama-kelamaan ibu pun mulai mendukung. Beliau bahkan rela kerja keras demi menyekolahkan aku. Melihat itu, aku tidak mau menyia-nyiakan kepercayaannya.

Aku menulis ini bukan untuk ajang adu nasib.. Tapi aku percaya, di luar sana pasti ada anak kelas 12 yang sedang berada di posisi yang sama seperti aku dulu, hanya beda konfliknya. Yang merasa kondisi keluarganya tidak memungkinkan, yang takut jadi beban, yang merasa tidak layak. Rasa itu wajar. Tapi jangan biarkan rasa itu yang memutuskan segalanya. Karena kadang, yang paling dibutuhkan bukan kesiapan yang sempurna, melainkan keberanian untuk tetap melangkah.

oleh : Rizki Amalia

Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.