GAPYEAR BUKAN BERARTI TERLAMBAT

Kisah ini bermula saat saya masih duduk di bangku SMK. Saya duduk di bangku SMK Negeri 47 Jakarta jurusan Akuntansi dan Keuangan Lembaga. Awalnya saya lebih memilih SMK daripada SMA karena menurut saya jika lulus dari SMK akan lebih siap untuk terjun ke dalam dunia kerja. Saat di SMK, saya selalu aktif mengikuti organisasi baik di dalam sekolah maupun di luar.

Ketika saya naik ke kelas 12, ada pengumuman tentang siswa eligible. Sangat di luar ekspektasi saya, nama saya masuk dalam daftar siswa eligible. Siswa eligible ini merupakan siswa yang direkomendasikan dan termasuk persyaratan untuk mengikuti SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi). Awalnya memang saya masih bingung, setelah lulus dari SMK mau langsung bekerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Setelah masuk ke dalam daftar siswa eligible, semangat saya terpacu untuk mengejar PTN. Terlebih ketika saya melihat teman-teman lain yang begitu semangat mengejar PTN, bahkan mereka yang tidak masuk daftar siswa eligible pun ikut semangat untuk mengejar PTN impian mereka masing-masing.

Niat saya untuk masuk ke dalam perkuliahan belum diketahui oleh orang tua saya. Ketika di rumah, sambil kami santai menikmati makan malam saya mengutarakan niat saya untuk mengejar PTN kepada mereka. Mereka tidak langsung menjawab dan sedikit terlihat bingung. Beberapa hari kemudian, orang tua saya berkata bahwasanya saya diminta untuk bekerja terlebih dahulu, selanjutnya baru bisa kuliah sambil kerja. Sedikit semangat dan harapan saya untuk mengejar PTN mulai berkurang, tetapi saya masih bertekad untuk tetap melanjutkan kuliah.

Ketika mengurus berkas untuk mendaftar SNBP di ruang BK (Bimbingan dan Konseling), saya sambil mengobrol dengan guru BK. Saya menceritakan tentang niat saya untuk masuk PTN. Tahun ini saya mau mengejar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di sela-sela obrolan, guru menyarankan saya untuk gapyear agar bisa merasakan dunia kerja. Tetapi saya tetap mengikuti nafsu dan tekad saya untuk mengejar PTN.

Sebelumnya di pertengahan Bulan Februari, setelah selesai mengikuti rangkaian ujian terakhir yaitu Ujian Sertifikasi Profesi, saya mulai mempersiapkan CV, SKCK, dan beberapa dokumen lain sebagai berkas persyaratan melamar pekerjaan. Saya mulai melamar pekerjaan dari awal Maret 2023, untuk berjaga-jaga bila tidak diterima di PTN.

Kembali pada pendaftaran SNBP tadi. Terdapat dua pilihan jurusan untuk jalur SNBP. Saya memilih jurusan S1-Akuntansi pada pilihan pertama dan S1-Manajemen pada pilihan 2. Selain mengikuti SNBP, saya juga mengikuti SPAN PTKIN (Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Tak tanggung-tanggung, tahun tersebut saya “All In” pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada jalur SPAN PTKIN saya memilih S1-Pendidikan Agama Islam dan S1-Manajemen Dakwah. Saya sebenernya memprioritaskan pada jurusan Pendidikan Agama Islam, tapi karena di jalur SNBP tidak ada jurusan keagaaman (hanya jurusan umum), maka yang saya prioritaskan adalah jurusan akuntansi sama seperti jurusan ketika saya di SMK. 

Ketika pengumuman SNBP dan SPAN PTKIN, semuanya menolak saya untuk lolos. Bersyukur di pertengahan Bulan Maret, saya sudah mendapat panggilan pekerjaan di salah satu perusahaan. Tetapi tidak putus semangat dan harapan, saya mendaftar jalur SNBT (Seleksi Nasional Berbasis Tes). Berharap masih ada kesempatan dan peluang saya untuk masuk PTN. Di SNBT saya memilih jurusan sama seperti jurusan SNBP. Berkas sudah siap, saya upload, lalu slip pembayaran pun sudah dibayar. Tetapi saya tetap melamar pekerjaan, kekhawatiran dan kewaspadaan saya bertambah ketika tertolak di SNBP dan SPAN PTKIN.

Hari tes UTBK dimulai pada pertengahan Mei. Entah dari mana, saya seperti mendapat isyarat untuk meneruskan bekerja dan menunda kuliah. Saya merasa sepertinya saya juga teralu memaksakan kehendak dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Karena memang dari awal, kurang mendapat restu dari kedua orang tua dan guru.

Di samping kegagalan tersebut, terdapat hikmah yang luar biasa. Kini saya merasakan liku-liku dunia kerja. Saya tetap niat untuk mengejar PTN di tahun berikutnya. Mendapat sebuah nasihat dari guru saya, beliau berkata,”Tidak perlu risau dan tidak perlu bingung. Semua sudah ada takaran rezekinya masing-masing. Terkadang memang untuk mendapatkan lompatan yang lebih tinggi, kita harus sedikit mundur ke belakang”. Nasihat ini membuat saya tenang dan lapang dada.

Saya mendapat pengalaman bekerja selama ±15 bulan. Saya berniat tahun depan akan mengikuti SNBT dan bertekad harus lolos. DI sela-sela jam istirahat bekerja, saya memakai waktu tersebut untuk latihan soal-soal UTBK, melalui buku, website, youtube, dan media sosial lainnya. Saya percaya ini merupakan bagian dari ikhtiar saya, karena tuhan akan memprioritaskan mereka yang ikhtiarnya lebih besar.

Tiga belas bulan lebih telah berlalu, saya mempersiapkan diri dan juga berkas-berkas untuk pendaftaran SNBT. Tahun ini saya tidak lagi mengincar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tapi saya mengincar Universitas Negeri Jakarta. Saya mengambil jurusan S1-Pendidikan Agama Islam pada pilihan pertama dan S1-Pendidikan Ekonomi.

Syukur, bahagia dan haru yang tak dapat terbendung saat waktu pengumuman kelulusan tes SNBT, tak tanggung-tanggung ternyata saya lolos langsung pada pilihan pertama. Dari sini saya bisa mengambil bebrapa hikmah yang sangat berharga yang mungkin tidak semua orang bisa mendapatkan ini. Pertama adalah jangan terlalu memaksakan kehendak dan terlalu mengikuti hawa nafsu dan selalu dengarkan perkataan orang tua dan guru. Selanjutnya yang kedua adalah serahkan semua urusanmu kepada Yang Maha Mengatur, karena ia adalah sebaik baik pengatur, Tuhan Semesta Alam. Karena tuhan memberi kepada kita adalah sesuatu yang baik dan sesuai ama kita bukan apa yang kita mau, tuhan memberi di waktu yang tepat bukan di waktu sesuai kemauan nafsu kita.



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.