BOLEH BALAS DENDAM ASAL DENGAN CARA YANG KEREN

Karya: Sheina Salsa Biella

“Kalau mau sukses itu usaha, kalau kamu dihina balas saja, tapi bukan membalas dengan perkelahian, tetapi jadilah seperti daun.” Ucap Ibu Sheina sembari menikmati hidangan makan malam dengan lauk yang sudah digoreng dan disantap bersama keluarga kecilnya. “Kenapa Sheina harus menjadi daun Ibu? apa maksud dari perkataan yang Ibu ucapkan?” Tanya Sheina kepada Ibunya yang kurang mengerti apa perkataan Ibunya tadi. “Saat kamu dihina, maka kamu harus menjadi seperti daun, karena daun tidak pernah membenci angin, bahkan ketika daun itu jatuh ia masih dapat bermanfaat bagi tanah dan akar. Artinya, saat kamu dihina, jangan pernah membenci orang yang kamu hina, sekalipun kamu tumbang, kamu tetap bisa menjadi orang yang bermanfaat.” Ucap Ibu Sheina sembari memberikan motivasi untuk anaknya.

Sheina adalah anak sulung dari 2 bersaudara, yang tinggal di kota yang sering disebut kota pahlawan. Dari kecil sampai beranjak usia remaja, Sheina jarang sekali keluar rumah untuk bermain, bukan berarti gadis ini tidak suka bersosialisasi, melainkan tidak mendapatkan izin dari Ibunya. “Bagaimana bisa aku mendapatkan teman kalau aku tidak boleh keluar rumah untuk bermain?” Gumam Sheina dalam hati. 

Pada saat duduk di bangku SMP lebih tepatnya di kelas 8, Sheina mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari teman kelas. Mulai dari dibenci, dikatain kotor, hingga mendapatkan pelecehan dari teman laki-laki, yang Sheina kira itu adalah hal yang biasa saja, padahal itu termasuk dalam pelecehan. Sheina hanya memendam emosinya agar bisa berteman dengan teman kelasnya, dikarenakan masih banyak tugas untuk berkelompok. Selama menempuh pendidikan SMP, Sheina harus tetap bertahan dengan perlakuan buruk dari teman kelasnya. Ingin segera lulus dari bangku SMP dan berharap tidak bertemu di satu sekolah yang sama saat Sheina duduk dibangku SMA.

Singkat cerita, selama 2 tahun Sheina memendam emosinya, akhirnya sudah selesai. Hari kelulusan SMP itu tiba, dan ini adalah hari yang ditunggu Sheina untuk segera meninggalkan dunia SMP yang serba toxic. Pada 1 tahun pertama di SMP, Sheina mendapatkan teman yang dia kira baik, ternyata pertemanan itu tidak berjalan dengan lama, dan saat duduk dibangku SMP kelas 8, mulai muncul sifat asli yang membuat Sheina merasa kurang nyaman. Perkataan kotor, suka mengejek, pilih-pilih dalam pertemanan, sungguh pertemanan yang sangat toxic.

Masuk ke jenjang SMA, Sheina berharap untuk tidak satu sekolah dengan teman kelas waktu SMP. Dan akhirnya harapan itu terkabul. Harapan selanjutnya yang dipikirkan bukan hal tentang akademis melainkan hanya ingin mendapatkan teman yang tulus. Saat Sheina masuk di bangku SMA, pada waktu itu dunia sedang dilanda wabah Covid-19, yang mengakibatkan sekolah harus dilaksanakan secara online. Dari adanya wabah Covid-19, jarak untuk bersosialisasi dengan teman baru hanya bisa dilakukan melalui media sosial, seperti WhatsApp dan Instagram. Harapan Sheina untuk mendapatkan teman SMA yang bukan hanya tulus, tetapi juga ingin mendapatkan teman yang selalu mensupport dan berharap dapat berteman melalui pertemanan yang sehat (seperti mengajak ibadah solat tepat waktu, mengaji bersama, dan selalu mengucapkan hal-hal positif). Ternyata harapan itu akhirnya terwujud, walaupun pertemanan dimulai hanya sebatas chatingan melalui WhatsApp.

Selama di SMA, Sheina tidak merasakan adanya tekanan dalam belajar, yang didapatkan adalah kesenangan untuk belajar bersama teman kelasnya. Saat merasa kesulitan dalam pelajaran, pasti ada salah satu teman kelas yang membantu, begitupun sebaliknya. Begitu indah pertemanan pada waktu SMA, yang berbeda dengan pertemanan pada waktu SMP, yang menjadi terbatasnya dalam mengekspresikan bakat karena dikelilingi oleh pertemanan yang toxic

Tetapi pertemanan yang indah itu hanya terasa 1,5 tahun, karena dalam 1,5 tahun wabah Covid-19 sudah tidak ada, dan pelajaran yang awalnya melalui online atau jarak jauh dengan bertatap dalam dunia maya, sudah menjadi pelajaran offline atau bertatap muka secara langsung. Saat di bangku SMA, sudah tidak ada pertemanan yang toxic. Sheina bisa bebas untuk mengekspresikan bakat yang dimilikinya, seperti menggambar, ikut organisasi, menjadi MC pada acara rutinan sekolah, dan bisa mendapatkan penghargaan sebagai peraih medali emas saat mengikuti olimpiade matematika, dan sebagai peraih medali perak saat mengikuti olimpiade biologi. 

Pencapaian yang sudah Sheina dapatkan, bisa dikatakan bahwa itu adalah balas dendam untuk menunjukkan kepada teman SMP yang sudah pernah membenci dirinya. “Tidak harus takut memulai sesuatu, dan buktikan kepada pembencimu bahwa kamu adalah orang yang hebat.” Gumam Sheina memberikan motivasi untuk dirinya. 

Pada saat mendekati hari kelulusan, begitu fokus untuk meraih perguruan tinggi yang diinginkan, dan berharap untuk lolos melalui jalur SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) dengan perguruan tinggi dan jurusan yang diimpikan dapat terwujud. Segala usaha Sheina upayakan untuk mewujudkan perguruan tinggi dan jurusan impiannya, yang dibantu dengan usaha orang tua untuk mendoakan anak gadisnya mendapatkan impian tersebut. Tidak lupa juga teman kelas yang selalu mensupport Sheina dari awal pendaftaran hingga proses seleksi mendoakan untuk meraih impiannya itu. Terharu sekali pada momen akhir kelulusan ini, antara berpisah dengan teman yang baik dan harus melanjutkan pendidikan untuk meraih cita-cita. 

Hari pengumuman tiba, Sheina tidak berani untuk membuka hasil pengumuman SNBP, takut mengecewakan orang tua, takut mengecewakan teman. Tetapi dilain sisi rasa takut itu Sheina hempas untuk tetap berpikir positif, bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Jika hasilnya memang yang terbaik, maka Sheina akan mendapatkannya. Tetapi jika memang hasilnya bukan yang terbaik, maka Sheina harus mengikhlaskannya. Dengan pikiran positif, Sheina meminta bantuan kepada Ibunya untuk membuka hasil pengumuman SNBP, yang pada waktu pengumuman Sheina sudah di rumah bersama Ibunya. Terlihat warna biru dengan tulisan “SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI SNBP 2023” muncul dari balik layar ponsel yang dipegang Ibu Sheina untuk membuka hasil pengumuman SNBP. Seketika Sheina dan Ibunya kaget melihat hasil pengumuman itu, antara percaya atau tidak. Ibu Sheina langsung mencium kening anak gadisnya itu, sebagai tanda ucapan rasa syukur dan tanda terimakasih bahwa sudah berusaha untuk mendapatkan perguruan tinggi serta jurusan yang diimpikan.

Pencapaian yang Sheina dapatkan tidak lain karena usaha dan dukungan dari orang terdekat terutama kepada Ibunya yang selalu mensupport dan mendoakan untuk meraih perguruan tinggi impian Sheina. Karena doa Ibu dan restu dari Ibu sudah pasti akan diijabah oleh Tuhan Yang Maha Esa. Saat ini Sheina sudah membuktikan pencapaian itu kepada keluarga dan juga temannya bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan untuk mewujudkan impian.

 

 



Yuk share artikel ini ke semua yang kamu kenal.