JALAN YANG MEMILIHKU

oleh : Reyna Putri Prayogo

Namaku Putri. Aku adalah mahasiswa Universitas Brawijaya, jurusan Administrasi Publik. Sekarang aku sudah memasuki semester 6 dan aku bersyukur bisa berada di kampus ini.

Awal kisahku dimulai ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Aku bersekolah di MAN 2 Kota Kediri, salah satu sekolah negeri Islam favorit di kotaku. Saat itu, masa pandemi COVID-19 sudah berakhir, dan aku baru memulai kembali sekolah di kelas 3 SMA.

Di kelas itu, aku mulai banyak memikirkan masa depan mau lanjut ke mana, mau jadi apa. Namun harapanku sempat pupus karena ayahku tidak menyetujui jika aku kuliah di luar kota. Bukan karena masalah biaya, tetapi karena beliau memiliki pandangan yang cukup tegas dan tradisional. Menurutnya, kuliah di mana saja sama saja.

Aku sangat sedih sampai menangis, merasa seolah tidak punya harapan. Bahkan aku sampai jatuh sakit dan demam selama seminggu berturut-turut.

Setelah itu, aku mencoba bangkit lagi. Aku memberanikan diri untuk tetap mengikuti SNBP melalui nilai rapor, meskipun diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua. Saat itu aku sangat berharap bisa masuk kampus impianku, Universitas Gadjah Mada, karena aku ingin sekali kuliah di sana dan bercita-cita mengikuti jalur kedinasan.

Namun harapanku kembali pupus. Hasil SNBP tidak sesuai yang aku inginkan aku tidak lolos. Saat melihat hasil itu, rasanya seperti semua usaha dan harapan yang aku simpan runtuh seketika. Apalagi aku melakukannya tanpa sepengetahuan orang tua, membuatku semakin merasa sendiri. Aku menangis dalam diam. Semua rencana yang sudah aku bayangkan seolah hilang begitu saja.

Aku lanjutkan dan rapikan ceritamu supaya lebih rapi, mengalir, dan tetap mempertahankan emosinya:

Namun perjalanan itu tidak berhenti lama. Aku bukan orang yang mudah putus asa dan aku selalu berusaha pantang menyerah. Aku kembali belajar dengan tekun, memperbaiki diri, dan mencoba lagi melalui jalur UTBK.

Aku mendaftarkan Universitas Airlangga sebagai pilihan pertama. Namun harapanku kembali sirna. Aku gagal. Aku gagal lagi. Kegagalan itu tidak membuatku berhenti. Aku tetap melangkah dan mencoba jalur lain, yaitu mandiri Universitas Gadjah Mada. Aku berangkat dengan bermodal uang saku sendiri, hasil dari kerja yang aku lakukan dengan usaha sendiri.

Beberapa hari setelah ujian, pengumuman kembali datang, dan lagi-lagi aku harus menerima kekecewaan. Aku sangat kecewa pada diri sendiri dan keadaan. Aku tidak bisa mendaftar mandiri di universitas lain karena orang tuaku bersikukuh ingin aku kuliah di kota sendiri.

Namun keinginanku belum juga padam. Aku terus mencari informasi hingga menemukan bahwa Universitas Brawijaya masih membuka jalur mandiri golongan terakhir, yang biayanya disesuaikan dengan kemampuan. Dengan sisa uang yang aku miliki, aku memberanikan diri mendaftar. Aku merasa ini adalah satu-satunya jalan agar aku bisa tetap kuliah di tahun itu. Aku berdoa dalam diam, memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk dan jalan terbaik.

Entah bagaimana, seperti jawaban dari doa yang tidak pernah putus, perlahan orang tuaku mulai mengetahui tekad yang aku miliki. Mungkin aku tidak banyak bercerita, tetapi ada ikatan batin antara anak dan orang tua yang membuat mereka akhirnya mengerti. Tiba-tiba ayahku mengizinkan aku untuk kuliah di luar kota. Namun keputusan itu terasa terlambat. Semua jalur mandiri sudah ditutup, dan aku diminta untuk menunggu tahun berikutnya atau gap year.

Ayahku menyarankan untuk mengambil gap year, tetapi aku masih bimbang. Di satu sisi aku ingin segera kuliah, di sisi lain aku juga tidak ingin membuat nenekku khawatir karena beliau takut aku tertinggal dari teman-temanku. Pada akhirnya, dengan banyak pertimbangan dan air mata, aku menyerahkan semuanya pada Tuhan, berharap diberikan jalan terbaik.

Hingga akhirnya pengumuman itu tiba.

Aku diterima di Universitas Brawijaya. Aku bersyukur, sangat bersyukur. Namun sebagai manusia, aku juga masih memiliki rasa yang tidak sepenuhnya puas karena perjalanan ini tidak mudah, penuh luka, jatuh, dan harapan yang berkali-kali patah.

Aku sempat merasa menjadi manusia yang kurang bersyukur. Ayahku pernah mengatakan agar aku tidak menjadikan Universitas Brawijaya sebagai “batu loncatan”. Jika memang benar ingin di sana, maka daftar dengan sungguh-sungguh, kalau tidak, lebih baik tidak usah sama sekali daripada membuang uang.

Saat itu aku tidak mengerti cara berpikir beliau. Aku hanya merasa bingung dan berjalan dengan pikiranku sendiri. Namun pada akhirnya, aku tetap mendaftar ke Universitas Brawijaya.

Di tahun pertama aku berkuliah, aku masih mencoba jalur lain. Aku mengikuti UTBK lagi dan juga mencoba kedinasan. Namun semuanya kembali gagal. Seolah-olah perkataan ayahku benar adanya bahwa aku memang ditakdirkan untuk berada di sini, bukan menjadikannya sebagai tempat sementara.

Pelan-pelan aku mulai belajar menerima. Aku mencoba menjalani perkuliahan di Universitas Brawijaya dengan lebih tenang. Aku bertemu dengan banyak teman dari berbagai latar belakang, sesuatu yang tidak pernah aku temukan saat masa sekolah. Mereka baik, hangat, seperti malaikat yang hadir di waktu yang tepat.

Lama-kelamaan aku benar-benar merasa beruntung dan bersyukur bisa berada di fakultas dan kampus ini. Perkuliahannya terasa lebih ringan dari yang aku bayangkan. Mungkin ini adalah cara Tuhan menuntunku memberi jalan yang tidak terlalu membebani pikiranku, karena aku adalah orang yang mudah stres dan overthinking.

Aku mulai berpikir bahwa mungkin memang di sinilah tempat terbaik untukku berkembang. Bahwa mungkin suatu saat nanti aku akan bekerja sesuai dengan cita-citaku melalui jurusan ini dengan lebih lancar dan terbuka jalannya.

Aku tidak tahu rencana Tuhan ke depan seperti apa.

Tapi satu hal yang aku yakini pada akhirnya, semua akan indah pada waktunya.

Malang, tempat Universitas Brawijaya berada, kini menjadi rumah keduaku. Tempat pulang yang perlahan membuatku merasa menjadi bagian dari diriku sendiri. Semua momen yang tercipta di sana membuatku ingin menangis, bukan karena sedih, tetapi karena rasa syukur yang begitu dalam.

Sebentar lagi aku akan melanjutkan kisahku ke babak berikutnya. Aku akan segera lulus dari kampus kebanggaan, kampus yang menjadi impian banyak orang, Universitas Brawijaya.

Kampus yang mungkin bagi sebagian orang sulit untuk ditembus, namun aku diberi kesempatan untuk menjadi salah satunya. Aku berhasil masuk ke dalamnya, menjalani hari-hari di dalamnya, dan tumbuh di sana. Dan sekarang, aku hanya bisa tersenyum, mengingat semua perjalanan panjang yang telah aku lalui.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *