Anisa Ghafirina Gesti 

Lomba Menulis Artikel

Perjuangan Masuk Kampus : Belajar Bangkit dari Kegagalan

Masa akhir SMA menjadi salah satu fase yang paling menegangkan dalam hidup saya. Di saat teman-teman mulai sibuk menentukan masa depan, saya juga berusaha mengejar kampus impian dengan penuh harapan. Saat itu, saya sempat merasa percaya diri karena berhasil mendapatkan predikat eligible di sekolah meskipun berada di peringkat 37 dari 69 siswa. Saya berpikir bahwa kesempatan untuk lolos ke perguruan tinggi negeri akan lebih besar. Namun ternyata, perjalanan yang saya lalui tidak semudah yang dibayangkan.

Langkah pertama yang saya coba adalah mendaftar melalui jalur SNBP. Dengan nilai dan usaha yang sudah saya persiapkan selama sekolah, saya berharap bisa langsung diterima di kampus tujuan. Saat itu, orang tua saya menyarankan untuk memilih jurusan Teknik Geofisika. Menurut mereka, jurusan tersebut tidak terlalu banyak diminati sehingga peluang untuk lolos lebih besar dan prospek kerjanya juga cukup baik. Walaupun sebenarnya dari dalam hati saya kurang tertarik dengan jurusan tersebut, saya tetap memilihnya karena saya percaya pilihan orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Namun, hasil pengumuman tidak sesuai harapan. Saya dinyatakan tidak lolos. Rasa kecewa tentu ada, terlebih ketika melihat teman-teman lain mulai mendapatkan kampus pilihan mereka. Meski sedih, saya mencoba meyakinkan diri bahwa masih ada kesempatan lain yang bisa diperjuangkan. Saat itu saya juga mulai berpikir, mungkin memang jurusan tersebut bukan jalan yang terbaik untuk saya. Bisa jadi Tuhan mengetahui bahwa hati saya sebenarnya tidak berada di sana, sehingga saya belum diberikan kesempatan untuk lolos.

Setelah pengumuman SNBP, saya mencoba dua jalur lain, yaitu SIMAMA Poltekkes dan SNBT UTBK. Pada jalur SIMAMA, saya memilih jurusan Teknologi Laboratorium Medis (TLM) di Poltekkes Jakarta III. Alasan saya memilih kampus tersebut cukup sederhana, yaitu karena lokasinya dekat dengan rumah sehingga terasa lebih realistis dan memudahkan saya untuk menjalani perkuliahan nantinya.

Di sisi lain, saya juga mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti UTBK SNBT. Pada jalur ini, saya memilih S1 Kedokteran di UNP sebagai pilihan pertama. Sejak kecil, saya memang memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Selain itu, di Kota Padang terdapat beberapa saudara dari pihak ayah saya, sehingga orang tua merasa saya akan memiliki tempat tinggal dan dukungan keluarga jika diterima di sana. Saat itu juga Fakultas Kedokteran UNP masih tergolong baru dibuka, sehingga saya berharap peluang untuk diterima akan lebih besar.

Namun lagi-lagi, hasilnya belum berpihak kepada saya. Saya kembali harus menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil diterima, baik di SIMAMA maupun SNBT. Kegagalan demi kegagalan sempat membuat saya merasa lelah, sedih, bahkan takut tidak bisa melanjutkan pendidikan di kampus negeri. Akan tetapi, saya sadar bahwa menyerah bukanlah pilihan. Saya mencoba bangkit kembali, belajar lebih giat, memperbaiki kekurangan dari tes sebelumnya, dan terus memotivasi diri agar tetap semangat.

Walaupun beberapa kali gagal, ternyata masih ada orang-orang baik yang membantu saya untuk tetap percaya pada diri sendiri. Salah satu teman SMA saya yang sudah lebih dulu diterima di SIMAMA Gizi Poltekkes Jakarta II mengetahui bahwa sejak SMA saya memang sangat ingin masuk jurusan Gizi. Teman saya tersebut kemudian memberi semangat dan memberitahu bahwa Poltekkes Jakarta II sedang membuka jalur SIMAMI dan terdapat jurusan Gizi di dalamnya. Mendengar hal itu, saya langsung merasa tertarik dan kembali memiliki harapan.

Saya pun memberanikan diri berbicara kepada orang tua bahwa saya ingin mencoba mengikuti tes SIMAMI di Poltekkes Jakarta II. Akhirnya, saya kembali mengikuti jalur mandiri tersebut dengan memilih jurusan Gizi, jurusan yang benar-benar saya minati sejak awal. Di tengah rasa cemas menunggu pengumuman, akhirnya kabar yang saya tunggu datang. Saya dinyatakan lolos. Perasaan bahagia dan haru bercampur menjadi satu karena setelah melewati banyak kegagalan, akhirnya saya berhasil diterima di jurusan yang memang saya inginkan.

Tidak hanya itu, saya juga diterima melalui jalur mandiri di UNP pada jurusan S1 Perpustakaan dan Informasi, jurusan yang sama dengan kakak saya. Selain itu, saya juga menjadi cadangan 2 di Polines jurusan D3 Konstruksi Sipil. Menariknya, pada seleksi UNP dan Polines saya tidak mengikuti tes tertulis, melainkan hanya menggunakan nilai rapor. Namun pada akhirnya, saya memilih melanjutkan pendidikan di D3 Gizi Poltekkes Jakarta II. Selain karena pengumuman kelulusannya keluar lebih awal, pilihan tersebut juga sesuai dengan minat saya sejak awal. Saya merasa bahwa jurusan Gizi adalah tempat yang paling sesuai untuk saya berkembang dan menjalani pendidikan dengan sepenuh hati.

Dari seluruh proses tersebut, saya belajar bahwa perjalanan menuju impian tidak selalu berjalan mulus. Kegagalan memang menyakitkan, tetapi dari situlah saya belajar menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih menghargai proses. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing untuk mencapai tujuan. Perjuangan masuk kampus mengajarkan saya bahwa mimpi tidak ditentukan oleh seberapa cepat kita berhasil, melainkan oleh seberapa kuat kita bertahan dan terus mencoba.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *