Kisahku Inspirasiku
Jalan di Tengah Kegelapan Menuju Terang
Nama saya Windi novika br sembiring, saya berasal dari Jambi. Di kehidupan yang hanya sekali ini aku pernah berfikir orang yang tinggi akan semakin berkuasa dan yang rendah akan semakin tertindas karena aku memandang lewat apa yang pernah aku alami. Namun ternyata sudut pandang itu bisa berubah semenjak Langkah kecil berpondasi doa dimulai.
Cerita ini dimulai dari Ketika saya masih kecil, yang masih labil dalam berfikir dan hanya tau meminta kepada orang tua saya sendiri di tengah ekonomi yang masih berkecukupan, masa dimana tangisan hanya terjadi Ketika permintaan tak bisa terpenuhi dan tak mau untuk tidur siang. Melihat baiknya orang tua yang bersedia membantu keluarga dan orang-orang yang memiliki masalah dalam ekonomi masing-masing membuatku berfikir bahwa kelak aku susah, mereka akan membantuku juga, namun semuanya berubah.
Ketika memasuki kelas 2 di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ayahku terkena stroke, Semua hidupku langsung terasa abu-abu. Peran yang menjadi tulang punggung untuk menghidupi keluarga hanya bisa duduk dan tak bisa dimengerti kosakatanya, aku berusaha memahami semua yang dimaksud ayahku namun percuma. Kami mencoba membawa ayahku ke kampung halaman untuk berobat lebih lanjut bermodalkan satu-satunya arisan ibuku dengan nominal Rp.5.000.000,00. Tak berhasilkan dengan tangan kosong, Ayahku bisa bicara dan beraktivitas normal namun kosakatanya tak terlalu mudah dipahami. Di momen ini keluarga terdekatpun tak kunjung datang selama ayahku sakit dan ternyata yang lebih sakit melihat ibu mencari pinjaman untuk kebutuhan hidup, uang sekolahku dan adikku dari banyaknya keluarga namun tak membuahkan hasil.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyaksikan ibuku menjadi buruh tani bekerja di kebun orang untuk membiayai keperluan dapur dan biaya sekolah aku dan dua adikku, di satu sisi kakakku yang baru tamat sedang mencari pekerjaan. Setahun kemudian tepat di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Handphoneku rusak dan terpaksa meminjam Handphone kakakku untuk mendapatkan informasi mengenai Sekolah Menengah Atas (SMA) yang akan ku tempuh. Saat memasuki SMA orang tuaku meminta bantuan kepada tetanggaku untuk meminta bantuan agar aku dan anaknya dapat pergi bersama supaya tidak membayar ongkos bus ke sekolah. Dan kabar baiknya tetanggaku setuju. Memasuki kelas 2 SMA anak tetanggaku sudah tamat, lalu aku dan ibuku mulai kewalahan mencari jalan untuk aku pergi ke sekolah. Setiap malam aku hanya menangis bagaimana kelanjutan hidupku aku tidak mau putus sekolah karena aku tergelar siswa yang berprestasi di sekolah dan selalu menjadi juara kelas. Di tengah tangisan tanpa suara di tengah malam aku hanya bisa berdoa meminta jalan keluar supaya bisa sekolah. Sungguh tak lama dari itu kabar baik datang ayahku dimintai untuk menjadi supir bus anak sekolah dan aku tak perlu membayar uang bus karena di potong gaji. Meskipun begitu aku sudah cukup merasa senang. Hari demi hari berlalu, Handphoneku pun mulai terperbaiki dan kini tak harus berbagi lagi dengan kakakku.
Pernah mendengar kata cinta? Ya, pastinya sudah tak asing bagi dunia ini, hal yg dimaknai sebagai hal manis dan alasan untuk menjalani beratnya hidup. Aku memulai hubungan percintaan di Sekolah Menengah Pertamaku. Meski beda sekolah namun ini menjadi salah satu alasanku untuk semangat meski beda sekolah dan usiaku 2 tahun lebih muda dari dia. Singkat cerita Ketika aku memasuki kelas 3 SMA dia memutuskan untuk langsung mencari pekerjaan ke kota lain yang cukup jauh jaraknya. Meski berat namun aku tetap harus melanjutkan pendidikanku.
Kembali ke situasi keluarga dan ekonomi, ayahku berhenti menjadi supir bus saat aku berada di semester II kelas 3 SMA. Lagi-lagi terpikir olehku bagaimana caranya untuk lanjut ke Perguruan Tinggi dengan kondisi yang seperti ini di satu sisi aku sudah keterima di kampus impiaanku yaitu Universitas Sumatera Utara. Aku juga lolos beasiswa KIPK namun biaya awal untuk ongkos serta modal awal tentu butuh biaya. Aku juga harus melakukan registrasi ulang setelah kelulusan menjadi calon mahasiswa baru, dan beberapa tahapan harus menggunakan laptop dan aku harus meminjam laptop milik orang lain untuk sesaat dan jarak dari rumahku ke rumahnya sekitar 1,5 km namun tak apa aku jalani semua asal bisa menjadi mahasiswa di kampus Universitas Sumatera Utara. Soal masalah ekonomi orang tuaku meminjam ke keluarga terdekat namun selain tak membuahkan hasil kami harus mendengar omongan yang membuat kami merasa tak pantas (sudah tau miskin,orang tuanya pun ga punya apa-apa sok mau kuliah) adalah kata-kata yang membunuh mentalku, tak tahannya melihat mata orang tuaku yang berkaca-kaca menahan hinaan itu. Bahkan orang yang sudah dibantu pun tak mengingat hal yang dulu terjadi. Lagi-lagi tangisan menjadi pelarian di tengah malam untuk melampiaskan rasa emosionalku, hanya bisa berdoa untuk meminta jalan keluarnya. Ya, tak lama dari itu aku mulai membantu kakak yang mempunyai warung kecil-kecilan yang berjualan, aku membantu untuk mendapatkan penghasilan modal awal untuk pergi ke kampus impian itu.
Tepat di depan pintu aku melihat ibuku duduk termenung sendirian seolah tak menatap apapun dengan tangan sambal memijat bagian kaki yang sakit sepulang bekerja di kebun orang. Dengan terpaksa memasang muka ceria seolah tak terjadi apa-apa aku menghampiri ibuku dan mencoba bertanya apa yang sedang dipikirkan, dengan nada gemetar ibuku berkata “Uang hasil kerja yang disimpan pun ga cukup untuk ongkos pergi,gimana nanti biaya hidupmu disana?” dengan berusaha meyakinkan aku berkata “nanti pasti ada jalannya,kalau tetap tidak ada,yaudah gak usah kuliah’’ bergegas masuk ke kamar dengan alasan ingin tidur siang, padahal menangis tak bersuara sambil melangitkan doa dan harapan berharap sang maha kuasa langsung menjawab.
Aku tak punya tempat cerita karena di satu sisi kakakku sibuk dengan dirinya sendiri dan hampir tak memandang situasi yang sedang terjadi. Aku mencoba menghubungi orang yang kusebut pacar disitu karena tak mampu memendam semua yang terjadi sendiri. Setelah lama berbincang akhirnya aku membantu dia untuk mengurus CV dan berkas-berkas lainnya supaya dia segera bekerja di sebuah PT yang cukup besar, dan ya tak lama kemudian dia mendapat panggilan dan ketrima kerja di PT tersebut. Berharap bisa membantu satu sama lain tak lama ia bekerja tak sampai satu bulan lamanya ternyata dia selingkuh dengan rekan kerjanya. Dan ya hubungan itu berakhir menyedihkan dan aku mulai menata semuanya sendirian lagi,namun tak apa meski hanya seorang mimpiku akan ku gapai agar tak setara dengan sakit masa laluku akan ku buktikan lewat Pendidikan. Namun bagaimana sekarang bahkan aku tak tahu harus apa.
Dua jenis masalah langsung menghampiriku namun aku harus tetap fokus pada masalah utama yaitu keadaan ekonomi yang sekarang menjadi penghambat utama untuk menuju kampus impian. Hari demi hari berlangsung tinggal dua hari waktu untuk mencari pinjaman untuk biayaku berangkat ke Sumatera Utara, di satu sisi barang-barang sudah tersusun rapi di dalam koper. Keesokan harinya aku sudah pasrah, sambil mencoba menyiapkan ruang untuk ikhlas jika memang ini belum menjadi porsi bagianku. Disatu sisi aku melihat ibuku pergi mencoba mencari pinjaman pontang panting tanpa merisaukan konsekuensinya namun tetap nihil.Jalan terakhir Ibuku mencoba menelfon kakak sepupuku Tak lama dari itu ibuku membawa kabar baik, kakak sepupuku ternyata bisa meminjamkan uang untuk modal awal aku berangkat kuliah dan akan diganti saat beaasiswaku cair.
Singkat cerita aku berangkat ke Sumatera Utara sendirian berpondasi doa dan harapan orang tua. Menjadi yang pertama calon sarjana di keluarga bukanlah mudah. Kecemasan dan takut gagal tentu selalu dipikirkan. Saat sampai di Sumatera Utara aku mencari kost yang budget sesuai dengan uang peganganku. Banyak hal baru yang harus aku biasakan di lingkungan baru yang membuat aku semakin ragu namun tak mau mundur, karena ini semua juga salah satu doaku. Akhirnya aku mendapat kost yang cukup dengan targetku meski harus berbagi ruang dengan teman yang lain yang tentu memiliki banyak resiko. Namun tak ku hiraukan asalkan aku punya tempat untuk tinggal.
Hari demi hari berlalu aku mulai membeli laptop bekas dengan budget sesuai beasiswa yang keluar untuk kedua kalinya. Sungguh jika mengingat semua omongan orang lain termasuk keluarga sendiri yang merendahkan keluargaku tak dipungkiri sakitnya luar biasa ditambah lagi masalah percintaan hancur di waktu yang bersamaan namun aku percaya semua aka nada jalannya asal tak berhenti berusaha dan aku menarik kesimpulan dari beberapa tahun belakangan ini “Pendidikan dan percintaan tak bisa di jalankan bersamaan, satu diantaranya harus berkorban” namun aku juga percaya dengan Pendidikan semua bisa di taklukan. Untuk cinta aku masih menunggu pribadi yang tepat datang menghampiriku.
Medan, 01 Juni 2026
(windi novika br sembiring)
